Showing posts with label Surah al-Ashr. Show all posts
Showing posts with label Surah al-Ashr. Show all posts

Thursday, December 2, 2010

Kebaikan dan Fadhilat Surah Al-Ashr

Sahabat yang dirahmati Allah,

Firman Allah:بسم الله الرحمن الرحيموَالْعَصْرِ (1) إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (2) إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ (3) [العصر : 1 - 3]

”Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal soleh dan nasihat menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran.”. (Surah Al-Ashr ayat 1-3)

Allah s.w.t memulakan ayat ini dengan bersumpah dengan menyebutkan waktu “Ashar” yang merupakan sebahagian dari masa. Hal demikian mengisyaratkan betapa pentingnya masa dalam kehidupan manusia, sejauhmana manusia cuba menfaatkan masa yang berfaedah di dalam kehidupannya di dunia ini.. Bila mereka dapat memanfaatkan umur mereka di dunia ini dengan perkara yang diredhai oleh Allah s.w.t, maka baiklah yang akan mereka perolehi di akhirat nanti. Tetapi jika mereka gagal dalam memanfaatkan hidup di dunia ini dengan melakukan maksiat dan dosa maka mereka akan tanggung akibatnya di hari akhirat nanti.

Olehnya itu Allah menyatakan  bahwa seluruh manusia berada dalam kerugian. Maksudnya adalah orang-orang yang menyia-nyiakan kesempatan umur yang Allah telah berikan kepada mereka. Adapun orang-orang yang dapat  memanfaatkan kesempatan umur mereka, maka mereka itu tidaklah masuk dalam golongan orang-orang yang dikategorikan sebagai orang-orang yang rugi.  Kerana setelah Allah s.w.t menyebutkan bahwa seluruh manusia berada dalam kerugian, Dia memberi pengecualian dari golongan manusia tadi. Siapa golongan yang dikecualikan itu ?. Mereka itu adalah golongan yang mampu menggabungkan antara 4 perkara iaitu :

1. Iman

2. Amal soleh.

3. Dakwah dan

4. Sabar.

Sahabat yang dimuliakan,
Ciri-ciri yang diceritakan di dalam surah ini adalah ciri-ciri orang Mukmin yang mana ianya terangkum kepada empat asas penting iaitu beriman, beramal soleh , berdakwah dan sentiasa bersabar. Huraian untuk ciri-ciri tersebut adalah seperti berikut :

Pertama : Iman.
Beriman kepada Allah s.w.t dan rukun-rukun iman yang enam adalah perkara pokok yang mesti ada pada diri seorang Muslim. Tanpa ada ciri pertama ini seseorang tidak dikira sebagai seorang Muslim. Asas inilah yang ditanam oleh Rasulullah s.a.w kepada sahabat-sahabat baginda dan setiap orang-orang yang baru memasuki Islam.

Namun iman yang dimaksud tidaklah akan tumbuh bersemi dalam jiwa seorang tanpa  ilmu pengetahuan. Olehnya, ilmu dalam agama adalah merupakan perkara penting yang mesti dimiliki oleh siapa saja yang ingin menjadi seorang Muslim.

Tanpa ilmu, maka keinginan untuk menjadi Muslim yang sempurna tidak akan berjaya.  Sebaliknya, dengan ilmu, maka Allah akan memudahkan jalan seorang menuju Syurga-Nya. Allah berfirman

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ [المجادلة : 11]
Maksudnya : ”Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat (di atas mereka yang tidak berilmu).”. (Surah al Mujaadilah ayat 11).

Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda maksudnya
:مَنْ يُرِدْ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ
”Barangsiapa yang Allah hendaki kebaikan baginya, niscaya Ia akan menjadikannya faham terhadap agama ini.” (Hadis Riwayat Bukhari)

Allah berfirman;قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ [الزمر :
9]
“Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.”. (Surah az Zumar ayat 9).

Allah berfirman;إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ [فاطر : 28]
”Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama (orang-orang yang berilmu).”. (Surah Faathir ayat 28)

Demikianlah kedudukan ilmu dalam agama yang mulia ini. Ia adalah sesuatu yang menempati urutan pertama, karena hanya dengannyalah iman akan tumbuh dalam jiwa seseorang. Namun, hal yang harus diingat bahwa ilmu tidaklah akan datang tanpa usaha atau pergi belajar dengan guru yang murshid. Untuk mendapatkannya diperlukan usaha, pengorbanan dan kesabaran.

Olehnya itu, Rasulullah bersabda :إِنَّمَا الْعِلْمُ بِالتَّعَلُّمِ
“Ilmu itu hanyalah boleh  diperoleh dengan belajar.” (Hadis Riwayat Baihaqi)

Maka ketika seorang telah melakukan upaya yang sungguh-sungguh dan ikhlas untuk mempelajari ilmu agama ini, ketika itulah Allah akan memberikan berbagai macam hikmah-Nya kepada orang tersebut, sebagaimana firman-Nya;

وَاتَّقُوا اللَّهَ وَيُعَلِّمُكُمُ اللَّهُ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ [البقرة : 282]
 “Bertakwalah kepada Allah; niscaya Allah akan mengajarmu; dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu.”.
(Surah al Baqarah; 282).

Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda;
مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ
 “Barangsiapa yang menempuh sebuah jalan untuk menuntut ilmu agama, niscaya Allah akan mudahkan baginya satu jalan menuju Syurga-Nya.” (Hadis Riwayat Tirmidzi)

Kedua : Beramal soleh.
Perkara kedua yang mesti ada bagi seorang yang menginginkan kebahagiaan adalah beramal soleh. Amal soleh adalah buah dari ilmu. Ilmu tanpa amal ibarat sebuah pohon yang tidak berbuah dan tidak bermanfaat. Bahkan Allah  sangat murka kepada orang-orang yang tidak mengamalkan ilmu (hal-hal wajib) yang telah diketahuinya.

Allah berfirman
;يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ(2)كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ(
3)
”Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat?. Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan. (Surah Ash-shaf ayat 2-3).

Seorang Mukmin adalah orang yang menggabungkan antara ilmu dan amal soleh. Sesiapa yang berilmu sedangkan dia tidak amalkan ilmu tersebut di hari akhirat akan mendapat azab yang dahsyat.

Dari Abu Yazid Usamah bin Zaid bin Haritsah r.a yang berkata, "Aku mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda yang bermaksud : 'Seseorang didatangkan pada hari Qiyamat, lalu dilempar ke Neraka. Maka keluarlah isi perutnya. Dengan isi perut yang keluar itu ia berputar-putar seperti himar yang mengitari porosnya. Para penghuni Neraka berkumpul di dekatnya, seraya mengatakan, 'Wahai si Fulan! Apa yang terjadi padamu? Bukankah (dulu) kamu memerentah kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang mungkar?' Ia menjawab, 'Ya, memang dulu aku memerintahkannya kepada yang ma'ruf , namun aku tidak melaksanakannya dan mencegah dari yang mungkar, namun aku melanggarnya'."
(Hadis Riwayat Muttafaq Alaih)

Ketiga : Berdakwah.
Setelah iman dan amal, perkara ketiga yang mesti dijalani oleh orang-orang Mukmin adalah berdakwah, menyebarkan Islam yang mulia ini untuk kemanfaatan seluruh alam.

Dakwah, menyebarkan dan menyampaikan risalah ini ke seluruh dunia adalah tugas utama dan tanggungjawab terbesar yang harus dipikul oleh setiap Muslim Mukmin yang yakin akan kehidupan di hari akhirat kerana tugas ini adalah tugas yang laksanakan oleh Rasulullah s.a.w.

Allah s.w.t.  berfirman;

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ
 “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang maaruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.” (Surah Ali Imraan ayat 110)

Dakwah adalah merupakan kewajiaban yang Allah ta’ala bebankan kepada nabi-Nya dan kepada seluruh pengikutnya. Allah s.w.t. berfirman;

تَبَارَكَ الَّذِي نَزَّلَ الْفُرْقَانَ عَلَى عَبْدِهِ لِيَكُونَ لِلْعَالَمِينَ نَذِيرًا
 “Maha Suci Allah yang telah menurunkan Al-Furqaan (Al Qur’an) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam,” (Surah Al-furqaan ayat 1)

Firman Allah s.w.t
قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي
 “Katakanlah: “Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata.” (Surah Yusuf ayat 108)

Kita wajib menyampaikan dakwah ini walaupun satu ayat terutama kepada ahli keluarga kita, jiran tetangga, rakan-rakan pejabat dan masyarakat seluruhnya sekadar kemampuan kita kerana Nabi s.a.w menyatakan sampaikanlah (dakwah)  daripadanya  walaupun satu ayat.

Allah ta’ala berfirman;

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
 “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma`ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (Surah Ali Imraan ayat 104).

Berkata Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah :.“Maksud dari ayat ini adalah; wajib bagi sebahagian dari ummat ini memfokuskan dirinya secara sungguh-sungguh dalam melaksanakan dakwah di jalan Allah, meski tugas ini -pada hakiaktnya- merupakan tanggung jawab seluruh kaum Muslimin sesuai dengan kadar kesanggupan mereka masing-masing." {Tafsir al Quran al ‘Adzhiim, (2/91) }

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda;

مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ
 “Barangsiapa diantara kalian yang menyaksikan sebuah kemungkaran, hendaklah ia merubahnya dengan tangannya. Jika ia tidak mampu  maka hendaklah ia mengubahnya dengan lisannya. Dan jika ia masih belum mampu, maka hendaklah ia membencinya didalam hati; yang demikian itulah serendah-rendahnya iman.”.(Hadis Riwayat Muslim)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda;

إِنَّ الدَّالَّ عَلَى الْخَيْرِ كَفَاعِلِهِ
 “Seorang yang menunjuki saudaranya sebuah kebaikan, akan mendapat pahala yang sama dengan kebaikan yang dilakukan oleh orang tersebut.” (Hadis Riwayat Tirmidzi)

Kerja-kerja dakwah ini sungguh mulia kerana jika dibiarkan kemugkaran dan gejala sosial berlaku merata tempat tanpa ada usaha-usaha positif maka kita semua akan menanggung dosanya. Jika Allah s.w.t hendak turunkan bala maka semua kita akan terkena tanpa kita orang baik atau orang melakukan maksiat. Oleh itu tugas ini tidak boleh diabaikan langsung.

Keempat : Sabar.
Sifat sabar adalah salah satu sifat mahmudah, seorang Mukmin akan menghiasi akhlaknya dengan sifat sabar dan sentiasa tenang menghadapi dugaan dan musibah.

Firman Allah s.w.t yang bermaksud :"Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar"
(Surah al-Baqarah ayat 153)

"Sesungguhnya orang-orang yang bersabarlah sahaja yang akan disempurnakan pahala mereka dengan tidak terkira"(Surah az-Zumar, ayat10).

Seterusnya Allah s.w.t. juga berfirman: "Dan berilah khabar gembira kepadaorang-orang yang sabar; (Iaitu) orang-orang yang apabila mereka ditimpa oleh sesuatu kesusahan, mereka berkata: 'Sesungguhnya kami adalah kepunyaan Allah dan kepada Allah jualah kami kembali.' Mereka itu ialah orang-orang yang menerima selawat dari Tuhan mereka serta rahmat-Nya dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk-Nya."(Surah al-Baqarah, ayat 155-157).

Tidak ada balasan yang setimpal untuk mereka yang bersabar melainkan Syurga Allah s.w.t. Oleh kerana Allah s.w.t. bersifat sabar kepada makhluk-Nya maka sifat yang mulia ini amat disukai oleh Allah s.w.t jika dimiliki dan diamalkan oleh para hamba-Nya ketika hidup di dunia ini.

Sahabat yang dikasihi,
Marilah sama-sama kita hayati maksud dan tuntutan surah Al-Ashr walaupun hanya mengandungi 3 ayat tetapi cukup berkesan mendidik hati kita untuk beriman kepada Allah s.w.t. dan tuntutan untuk kita melaksanakan tanggungjawab kita dalam kehidupan.

Surah ini menjadi bahan wasiat para sahabat ketika mereka bertemu dan hendak berpisah. Abu al Madinah ad Daarimiy –radhiyallahu ‘anhu- berkata;

كَانَ الرَّجُلَانِ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا الْتَقَيَا، وَأَرَادَا أَنْ يَتَفَرَّقَا، قَرَأَ أَحَدُهُمْ سُورَةَ: وَالْعَصْرِ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ، ثُمَّ سَلَّمَ أَحَدُهُمَا عَلَى الْآخِرِ أَوْ عَلَى صَاحِبِهِ ثُمَّ تَفَرَّقَا
 “Dahulu bila ada dua orang sahabat Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- berjumpa dan keduanya hendak berpisah, maka salah seorang dari mereka membaca surah al Ashr, lantas ia mengucapkan salam, kemudian keduanya pun berpisah.”(Hadis Riwayat. at Thabraani, lihat “Silsilah al Ahaadiits as Shahiihah”)

Imam as Syaafi’e –rahimahullah- berkata;“Andai saja tidak turun satupun surah melainkan surah ini, niscaya cukuplah surah ini bagi manusia.” (Kitab bertajuk Ruuh al Ma’aani, oleh al Aluusi)