Tuesday, December 6, 2011

Jauhilah Perbuatan Mengumpat, Memfitnah dan Buruk Sangka Supaya Terselamat Daripada Kemurkaan Allah SWT

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Űłْمِ Ű§Ù„Ù„Ù‡ِ Ű§Ù„Ű±َّŰ­ْمنِ Ű§Ù„Ű±َّŰ­ِيْم

Segala puji bagi Allah, Tuhan sekelian alam. Selawat serta salam buat junjungan mulia Nabi Muhammad SAW keluarga serta para sahabat dan pengikut yang istiqamah menuruti baginda hingga ke hari kiamat.

Sahabat yang dirahmati Allah,
Nabi SAW bersabda maksudnya : “Tahukah kamu apa ghibah itu? Para sahabat menjawab : “Allah dan RasulNya lebih mengetahui”. Baginda bersabda : “Menyebut-nyebut sesuatu tentang saudaramu hal-hal yang dia tidak sukai”. (Hadis Riwayat Muslim)

Sebagai pengajaran marilah kita meneliti satu kisah benar berlaku di pinggiran Kota Madinah akibat daripada perbuatan suka mengumpat dan memfitnah.

Dikisahkan dari Amr bin Dinar, bahawa sesungguhnya di kota Madinah ada seorang lelaki yang memiliki saudara perempuan yang tinggal di pinggiran kota Madinah. Pada suatu hari saudara perempuannya itu menderita sakit, ia datang untuk menjenguknya dan mendapat ia sudah meninggal dunia, iapun mengiringinya sampai ke perkuburan apabila jenazah dikebumikan telah selesai, kemudian iapun segera pulang kembali kepada keluarganya ke rumahnya, namun setelah sampai di rumahnya ia teringat bahawa dompet  sahabatnya telah jatuh ke liang kubur dan tertanam bersama mayat saudaranya itu.

Kerana mengingat isi dompet itu sangat penting, maka ia bermaksud akan menggali kuburan saudara perempuannya itu. Setelah mendapatkan izin dari ibunya dan saudaranya yang lain ia segera menggali kuburan, lalu ia mengangkat sebagian tutup liang lahat dengan sangat hati-hati.

“Celaka, aduh celaka ………!” Kata orang itu setelah melihat keadaan liang lahat, maka orang yang mengikutinya segera bertanya: “Ada apa yang berlaku, sehingga engkau kelihatan terperanjat dan bilang celaka, ceritakanlah kepadaku apa yang terjadi dengan saudaramu itu?”

Maka berceritalah ia, bahawa di dalam liang kubur tampak nyalaan api yang sedang menyala-nyala, lalu ia segera menemui ibunya untuk menanyakan perbuatan apa yang telah diperbuat oleh saudara perempuannya itu, ibunya berkata :

“Saudara perempuanmu itu selalu mendatangi pintu tetangganya dan mendengarkan apa yang dibicarakan oleh tetangganya itu (mengumpat), kemudian ia menyebarkan fitnah kepada para tetangganya yang lain."

Setelah mendengarkan penjelasan  ibunya, maka lelaki itu segera mengetahui bahawa saudara perempuannya itu suka mengumpat dan menyebarkan fitnah sehingga menyebabkan ia mendapatkan seksa kubur. Itulah akibat orang yang suka mengumpat dan menyebarkan fitnah yang kelihatannya mudah dan mengasyikkan dan menyenangkan orang yang mengumpat.

Dari Hudzaifah r.a, katanya Rasulullah SAW telah bersabda : “Tidak akan pernah masuk syurga orang yang suka mengumpat”. (Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim)

Apabila Allah SWT telah membuka hijab di antara alam barzakh dengan alam dunia, telah terlihat kubur orang yang suka mengumpat dan memfitnah ini kejadian luar biasa berlaku "mayat dibakar" ini bermakna tanda kemurkaan Allah SWT. kepada jenazah tersebut. Ini adalah contoh kematian su'ul khatimah.

Sesungguhnya berbicara itu mudah, tetapi berat menanggung akibatnya. Mulut ini bagaikan muncung teko yang hanya mengeluarkan isi teko. Apapun yang kita katakan lebih menunjukkan siapa sebenarnya diri kita. Misalnya, penghinaan kita terhadap seseorang lebih menunjukkan kehinaan diri kita sendiri dibandingkan kehinaan orang yang kita hina. Kritik dan komen yang kita sampaikan kepada seseorang itu jika tidak hati-hati lebih memperlihatkan kedengkian kita kepada kelebihan diri orang tersebut.

Perkataan yang baik adalah sifat seorang mukmin. Hendaknya setiap orang memastikan bahawa kata-kata yang akan diucapkannya benar-benar baik. Apabila kita tidak yakin akan dapat mengeluarkan kata-kata yang baik, diam itu lebih baik. Berkata yang baik tentunya akan lebih bermanfaat dibandingkan diam. Akan tetapi, menghindari akibat dari perkataan yang kurang baik akan lebih utama dibandingkan kita cuba berbicara yang akan mendatangkan keburukan kepada diri sendiri maupun orang lain.

Nabi SAW bersabda maksudnya : “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah berbicara yang baik-baik atau diam”. (Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim)

Alangkah ruginya apabila waktu kita habis untuk sekedar bual-bual kosong hal-hal yang tidak penting. Terkadang kita tidak boleh memastikan apakah pembicaraan yang kita lakukan itu bermanfaat atau tidak. Bahkan, sering kita tidak berdaya untuk menghindar dari pembicaraan yang berisi fitnah, mengumpat dan menghina orang lain .

Semoga Allah SWT mengkaruniakan kepada kita kemampuan untuk menjaga lidah agar selalu berbicara yang bermanfaat.

Berdasarkan Al-Quran dalam surat Al-Hujuraat ayat 6 yang berkaitan dengan larangan berburuk sangka dan mengumpat . Firman Allah SWT maksudnya :  “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu”.

Sesuatu perkara yang cukup merbahaya berlaku dizaman ICT dan alam siber sekarang ini berita fitnah dan menjatuhkan aib seseorang boleh disebarkan di seluruh dunia hanya dengan beberapa perkataan dan tulisan, hinggakan orang yang difitnah tidak berupaya menjawabnya dan terpaksa menerima dan menaggung malu yang amat sangat. Berita palsu menuduh seseorang berzina dan meliwat tanpa membawa empat orang saksi yang adil akan membuat seseorang terpaksa menaggung dosa besar dan perlu dihukum dengan hukum qazab dirotan 80 kali dikhalayak ramai. Jika hukum qazab itu tidak dikenakan keatas mereka yang menuduh dan menyebarkannya di dunia ini maka mereka semua akan diazab dengan azab yang lebih berat dan lebih dahsyat di hari akhirat nanti. Umat Islam yang tidak ada kena mengena dengan fitnah tersebut tiba-tiba mereka mempercayainya dan sebarkan pula fitnah tersebut akan mendapat saham yang sama iaitu mendapat dosa besar.

Nabi SAW bersabda maksudnya : " Tidak masuk syurga orang yang suka menyebarkan fitnah ." (Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim)

Hal ini sesuai dengan Al-Quran berdasarkan surat Al-Hujuraat ayat 11, firman Allah SWT  yang maksudnya : “Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olokkan kaum yang lain (kerana) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olokkan) dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olokkan) wanita-wanita lain (kerana) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olokkan) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim”.

Hal ini sesuai dengan Al-Quran berdasarkan surat Al-Hujuraat ayat 12 , firman Allah SWT maksudnya : “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggumpat sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang”.

Dalam surah an-Nuur ayat 15, firman Allah SWT maksudnya :“(Ingatlah) di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit juga dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja, padahal dalam pandangan Allah itu soal besar”.

Firman-Nya lagi dalam surah an-Nuur ayat 23 yang bermaksud : “Sesungguhnya orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik, yang lengah (tidak teringin untuk melakukan perbuatan keji) dan beriman (dengan tuduhan berzina), mereka kena laknat di dunia dan akhirat dan bagi mereka azab yang besar”.

Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT berdasarkan surah al-Israa ayat 36 yang bermaksud :“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggunganjawabnya”.

Sahabat yang dimuliakan,
Nabi SAW bersabda maksudnya : “Barangsiapa mengintai-intai keburukan saudaranya semuslim, maka Allah akan mengintai-intai keburukannya. Barangsiapa diintai keburukannya oleh Allah, maka Allah akan mengungkitnya (membongkarnya) walaupun dia melakukan itu di dalam (tengah-tengah) rumahnya”. (Hadis Riwayat Ahmad)

Rasulullah sangat membenci orang yang mengumpat, hingga baginda menegaskan bahawa kata-kata umpatan itu apabila dicampur dengan air laut akan mencemarkannya. Ini adalah gambaran tentang betapa bahaya dan besarnya dosa mengumpat. Sebab mengumpat dapat membatalkan pahala amal kebajikan seseorang. Di sisi lain, syaitan masih merasa mampu dan besar harapan untuk menghancurkan umat manusia sepanjang masa selagi masih ada kesempatan untuk membuat mereka bersedia mengumpat sesamanya. Padahal ketika melihat Allah disembah oleh umat manusia dengan pelaksanaan solat, syaitan sudah merasa putus asa. Itulah bahaya mengumpat, memfitnah, berprasangka buruk dan mencari kesalahan orang lain.

Dari Abi Musa r.a, dia telah berkata : “Aku pernah bertanya kepada Rasulullah : “Ya Rasulullah, muslim manakah yang lebih utama?” Jawab Rasulullah : “Orang yang kaum muslimin selamat dari gangguan lisan dan tangannya”. (Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim)

Di dalam Islam ada terdapat beberapa perkara sahaja yang dibenarkan mengumpat diri seseorang dengan tujuan supaya dapat menyelamatkan seseorang atau pun untuk  menegakkan kebenaran.

Terdapat enam (6) perkara yang tidak diharamkan mengumpat iaitu :

Pertama, At-Tazallum , iaitu kerana di zalimi atau untuk mencari keadilan.

Yaitu, mengkhabarkan akan kejahatan orang yang zalim kepada Qadi atau pihak berkuasa agama supaya menghukumnya.

Atau, mengkhabarkan akan kejahatan Qadi yang zalim kepada Sultan, supaya menghukumkannya. Maka, yang demikian itu harus (boleh).

Kedua , iaitu kerana mencari pertolongan kerana mahu menolak kemungkaran, dan mahu menolak perkara-perkara maksiat supaya perkara itu jadi baik.

Ertinya, harus (boleh) mengkhabarkan akan kejahatan orang kepada pihak berkuasa agama atau Sultan kerana sebab meminta tolong untuk menolakkan kejahatan orang itu.

Dan, harus (boleh) pula mengkhabarkan akan kejahatan orang yang berbuat maksiat kepada pihak berkuasa agama atau kepada Sultan kerana sebab meminta tolong supaya mengembalikan orang yang berbuat maksiat itu kepada berbuat kebajikan.

Ketiga, Al-Istifta’ , iaitu meminta fatwa daripada Mufti.

Yakni, harus (boleh) mengkhabarkan kejahatan orang kepada Mufti kerana menuntut fatwa kepadanya, seperti berkata seorang kepada Mufti,

“Bapa ku atau saudara ku, ia menzalimiku dengan berbuat kejahatan kepadaku. Apa hukumannya, dan apakah ada jalan yang boleh melepaskan aku daripada kejahatan tersebut?”

Seperti apa yang diriwayatkan daripada perempuan yang bernama Hindun. Maka dia telah menceritakan  hal suaminya, Aba Sufyan kepada Nabi SAW dengan katanya;

“Bahawasanya Aba Sufyan lelaki yang kikir (kedekut). Padahal ia tiada memberi akan daku dan akan anak ku makanan dan pakaian yang memadai akan daku. Dan, adakah harus (boleh) aku mengambil akan makanan atau pakaian itu dengan tiada ia mengetahui akan yang demikian itu?"

Maka, Sabda Nabi SAW : “Ambil olehmu akan makanan dan pakaian itu yang memadai akan dikau dan akan anakmu dengan yang makruf (kebaikan), dan jikalau tiada ia mengetahui akan yang demikian itu sekalipun.”

Keempat , iaitu mengingatkan orang Islam akan kejahatan.

Ertinya, harus mengkhabarkan kejahatan seseorang kepada orang muslim daripada kejahatan orang itu.

Apabila kalian lihat akan seseorang baru menuntut ilmu kepada seseorang yang sesat atau jahat. Padahal, ia berulang pergi pada orang yang ahli bidaah. Yakni orang yang tiada baik iktiqadnya atau orang yang tiada baik agamanya.

Maka harus kalian khabarkan kepadanya akan kejahatan orang itu supaya jangan ia diberi kepercayaan kepadanya atau supaya jangan ia bersahabat dengan dia kerana bersahabat dengan orang demikian itu membawa kepada membinasakan akan agama.

Begitu juga dalam kalian ingin memilih kepimpinan,  sekiranya calun pemimpin tersebut tidak amanah, suka mengambil rasuah, membuat maksiat dan dosa-dosa besar maka perlu diberitahu peribadinya kepada orang ramai supaya dia tidak dipilih menjadi pemimpin. Ini tidak dikira mengumpat kerana demi menjaga kemaslahatan umat Islam.

Jikalau bertanya seseorang untuk dijadikan saksi itu, jikalau kalian ketahui orang itu jahat. Maka harus kalian khabarkan akan kejahatan orang itu.

Jika orang yang berkehendak mencari calun isteri. Maka bertanya ia kepada kalian akan perempuan yang hendak diperbuatnya isteri itu. Padahal, ia adalah perempuan yang jahat perbuatannya. Maka harus kalian khabarkan akan kejahatan perempuan itu.

Jika seseorang berkehendak mencari isteri, jika bakal suaminya lelaki yang jahat maka kalian hendaklah beritahu bapa perempuan tersebut akan peribadi jahat lelaki tersebut.
Sabda Nabi SAW maksudnya : “Sebutkan oleh kamu akan orang yang Fajir, yakni orang yang fasik itu akan kejahatan yang ada di dalamnya itu supaya menjauhi akan dia itu oleh manusia.”

Kelima, mengenalkan seseorang dengan sebutan yang kurang baik,  misalnya 'Mat Tempang', dikampung tersebut ramai nama Mat tetapi bila disebut nama 'Mat Tempang' maka ianya mudah dikenali. Bukan menghinanya tetapi ianya sudah menjadi kebiasaan.

Keenam,harus menyebutkan akan kejahatan orang yang telah masyhur akan fasiqnya itu, seperti orang yang masyhur dengan berzina. Atau, yang masyhur dengan berliwat. Atau, orang yang masyhur dengan meminum arak. Atau perkara-perkara mungkar yang lain.

Dan, kata Hasan Al-Basri rahimahullahu Taala,“Tiga orang tiada haram atas orang yang mengumpat bagi mereka itu.Pertama : Orang yang bidaah.  Kedua :  Orang yang Fasik yang menzahirkan ia akan maksiatnya itu
Dan Ketiga : Raja-raja yang zalim. Maka tiada haram atas seseorang menyebutkan akan pekerjaannya yang zalim itu.”

Sahabat yang dikasihi,
Marilah kita menjauhkan diri kita daripada segala bentuk fitnah, buruk sangka dan mengumpat, kerana semua perbuatan tersebut adalah dosa besar dan akan memasukkan seseorang itu kedalam neraka Jahanam. Dosa-dosa tersebut akan dibalas oleh Allah SWT di dunia lagi atau di saat kematiannya akan ditunjukkan oleh Allah SWT berlaku keatasnya su'ul khatimah nauzubillahiminzalik.

Monday, December 5, 2011

Terdapat Dua Ciri Untuk Menjadi Golongan Yang Bersyukur dan Sabar.

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Űłْمِ Ű§Ù„Ù„Ù‡ِ Ű§Ù„Ű±َّŰ­ْمنِ Ű§Ù„Ű±َّŰ­ِيْم

Segala puji bagi Allah, Tuhan sekelian alam. Selawat serta salam buat junjungan mulia Nabi Muhammad SAW keluarga serta para sahabat dan pengikut yang istiqamah menuruti baginda hingga ke hari kiamat.

Sahabat yang dirahmati Allah,
Amr bin Syu'aib daripada ayahnya, daripada datuknya berkata : Nabi SAW bersabda yang bermaksud : "Dua jenis sifat, siapa yang memiliki kedua-duanya maka di catat di sisi Allah sebagai ahlu syukur (golongan yang bersyukur) dan sabar. Pertama, jika ia dalam hal agama selalu memperhatikan orang yang lebih tinggi untuk meniru dan mengikutinya, dan dalam hal dunia selalu melihat kepada orang yang lebih rendah daripadanya sehingga ia dapat bersyukur kepada Allah."

Hadis ini mengajar kita agar berusaha memiliki sifat zuhud, disamping qana'ah dan reda atas qadak dan qadar daripada Allah SWT. Dengan wujudnya sifat-sifat tersebut boleh membawa kepada rasa tenang dan sejahtera dalam melayari kehidupan. Orang yang bersifat seperti sifat tadi sebenarnya orang yang kaya kerana keperluannya dapat dikawal dan tidak perlu menadah tangan kepada orang lain, kaya secara batiniah itulah sebenarnya kaya yang hakiki.

Nabi SAW menjelaskan bahawa terdapat dua ciri-ciri golongan yang bersyukur dan sabar adalah seperti berikut :

Pertama, jika ia dalam hal agama selalu memperhatikan orang yang lebih tinggi untuk meniru dan mengikutinya.

Kedua , dalam hal dunia selalu melihat kepada orang yang lebih rendah daripadanya sehingga ia dapat bersyukur kepada Allah."

Huraiannya :

Pertama, jika ia dalam hal agama selalu memperhatikan orang yang lebih tinggi untuk meniru dan mengikutinya.

Dalam masaalah ibadat dan keagamaan dia akan melihat mereka yang lebih baik daripada dirinya sendiri, sentiasa berlumba-lumba untuk melakukan ibadah, amal soleh dan amal kebajikan. Merasai tidak puas-puas melakukan ketaatan kepada Allah SWT dan sentiasa menjadikan orang-orang soleh dan para ulama sebagai ikutan untuk melakukan ketaatan dan kebaikan.

Daripada Abdullah bin Mas’ud katanya Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam bersabda : "Tiada hasad dengki yang dibenarkan melainkan dalam dua perkara seseorang yang dikurniakan Allah harta yang banyak, lalu ia menyedekahkan harta itu dalam perkara-perkara yang hak dan benar. Sehinggalah hartanya habis dan seorang yang di kurniakan Allah dengan ilmu, lalu ia mengamalkan ilmunya itu serta mengajarkannya kepada orang lain. (Hadis Riwayat Bukhari).

Dalam hal seperti ini kita tidak dilarang jika berhasad dengki untuk mendapat kebaikan di sisi Allah Subhanahu Wataala.  Malah ada kalanya dituntut oleh syarak. Firman Allah Subhanahu Wataala dalam surah Al-Hadid, ayat 21:-

Maksudnya : "Berlumba-lumbalah kamu mengerjakan amal-amal yang baik untuk mendapat keampunan dari Tuhan kamu, dan mendapat syurga yang bidangnya luas segala langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-rasulnya yang demikian ialah limpah kurnia Allah, diberikannya kepaa siapa yang dikehendakinya dan Allah sememangnya mempunyai limpah kurnia yang besar.

Orang mukmin akan sentiasa berfikiran positif di atas sedekah dan pengorbanan orang-orang kaya sehingga dia pun berniat dan berhajat untuk melakukan sedekah dan pengorbanan jika dikurniakan oleh Allah SWT harta dan kekayaan.

Sabda Nabi SAW yang bermaksud, "Seorang hamba yang dikurniakan Allah ilmu dan niat yang ikhlas, ia berkata, 'Seandainya aku memiliki harta, nescaya aku akan beramal sebagaimana yang diperbuat oleh si polan (golongan yang diberikah harta dan ilmu).' Dengan niatnya tersebut, maka pahala kedua-dua hamba ini sama."
(Hadis Riwayat Tirmizi).

Kedua , dalam hal dunia selalu melihat kepada orang yang lebih rendah daripadanya sehingga ia dapat bersyukur kepada Allah.

Untuk melahirkan kesyukuran di atas nikmat Allah SWT dia akan melihat dibawah iaitu keatas orang-orang fakir miskin, orang-orang cacat anggota dan mereka-mereka yang sedang menderita menghadapi penyakit yang serius.

Dengan dia memerhatikan orang yang fakir miskin dan anak-anak yatim yang memerlukan bantuan kewangan dan tidak mencukup untuk menyara kehidupan, begitu juga jika dilihat pula dinegara luar seperti di Sudan dan Somalia manusia mati kebuluran kerana tidak mempunyai makanan yang mencukupi,akan menimbulkan keinsafan dirinya bahawa dia masih boleh makan dan minum dengan sempurna. Masih memiliki harta dan pekerjaan yang mampu menyara dirinya dan ahli keluarganya.

Melihat orang kurang upaya yang buta dan cacat anggota akan melahirkan rasa bersyukur kerana anggotanya cukup sifat dan sempurna. Betapa besarnya nikmat mata yang diberikan oleh Allah SWT kerana dapat melihat keindahan ciptaan Allah SWT. Begitu juga jika dibandingkan mereka yang uzur dan menderita menghadapi penyakit yang berbahaya seperti HIV dan barah dia akan insaf dan sedar betapa nikmatnya , nikmat sihat yang dikurniakan oleh Allah SWT.

Firman-Nya bermaksud: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu dan jika kamu mengingkari (nikmat Ku), maka sesungguhnya azab Ku sangat pedih.”
(Surah Ibrahim, ayat 7).

Rasulullah SAW  bersabda yang bermaksud :
"Siapa yang tidak bersyukur dengan pemberian yang sedikit, dia juga tidak akan bersyukur dengan pemberian yang banyak. Siapa yang tidak mensyukuri manusia, bererti dia juga tidak mensyukuri Allah. Memperkatakan nikmat Allah adalah tanda syukur, dan mengabaikannya adalah kufur. Berjemaah itu dirahmati, sedangkan berpecah belah itu mengundang azab."
(Hadis Riwayat Ahmad dalam Musnad Ahmad)

Laksanakanlah sepenuhnya konsep syukur dalam aktiviti harian kita agar sentiasa cemerlang serta dapat membawa kebaikan kepada manusia lain. Ingatlah, bersyukur bukan setakat berkata 'alhamdulillah' tetapi bersyukur yang sebenarnya nampak penghayatan dalam kehidupan.

Tanda kita bersyukur diatas nikmat rezeki  yang dikurniakan Allah SWT. kita laksanakan zakat, sedekah dan amal jariah. Tanda kita bersyukur diatas nikmat kesihatan tubuh badan dan akal fikiran kita melaksanakan ibadah dan amalan soleh dan sentiasa mentaati Allah dan Rasul-Nya. Dan tanda kita bersyukur diatas nikamat ilmu pengetahuan yang kita peroleh adalah kita pergunakan ia untuk menegakkan Islam dan melaksanakan peraturan hidup yang diturunkan Allah SWT. dan menjauhi larangan-Nya. Ilmu tersebut di amalkan dan disebarkan kepada orang lain.

Sahabat yang dikasihi,
Marilah sama-sama kita berusaha bersungguh-sungguh supaya kita semua termasuk di dalam golongan mereka yang bersyukur dan sabar yang dirahmati dan di redai oleh Allah SWT. Jika kita memiliki dua ciri-ciri tersebut yang dinyatakan di atas maka kita akan terpilih menjadi golongan tersebut. Tetapi jika kita berburuk sangka dengan Allah SWT, sentiasa mempersoalkan qadak dan qadar dan mengeluh panjang di atas ujian dan cubaan daripada Allah SWT maka kita akan menjadi golongan yang dimurkai oleh Allah SWT. dan akan mendapat azab dan seksaan daripada-Nya.

Ingatlah bahawa segala kesusahan dan penderitaan di dunia ini adalah bersifat sementara dan jika kita sabar dan tenang menghadapinya maka yakinlah bahawa setiap kesusahan itu ada kemudahan dan kebahagiaan. Allah SWT tidak akan sia-siakan doa dan hajat para hamba kepada-Nya.









Sunday, December 4, 2011

Tafsir Surah Al-Maun Ayat 4-7

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Űłْمِ Ű§Ù„Ù„Ù‡ِ Ű§Ù„Ű±َّŰ­ْمنِ Ű§Ù„Ű±َّŰ­ِيْم

Segala puji bagi Allah, Tuhan sekelian alam. Selawat serta salam buat junjungan mulia Nabi Muhammad SAW keluarga serta para sahabat dan pengikut yang istiqamah menuruti baginda hingga ke hari kiamat.

Sahabat yang dirahmati Allah,
Solat adalah ibadah yang terpenting dan akan mula-mula ditanya di hari akhirat. Jika betul solatnya dan diterima maka amalan-amalan lain akan di terima tetapi sebaliknya apabila solatnya tidak di terima maka amalan-amalannya yang lain akan ditolak oleh Allah SWT. Solat yang bernilai disisi Allah SWT adalah solat yang di laksanakan dengan khusyuk kepada Allah SWT.

Firman Allah SWT :

فَوَيْلٌ لِلْمُŰ”َلِّينَ (4)Ű§Ù„َّ۰ِينَ هُمْ Űčَنْ Ű”َلَۧŰȘِهِمْ ŰłَŰ§Ù‡ُونَ (5
Ű§Ù„َّ۰ِينَ هُمْ يُ۱َۧۥُونَ (6)
وَيَمْنَŰčُونَ Ű§Ù„ْمَۧŰčُونَ (7)

Maksudnya : "Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang solat, (iaitu) orang-orang yang lalai dari solatnya, orang-orang yang berbuat riak, dan enggan (menolong dengan) barang berguna."(Surah al-Maun ayat 4-7)


Asbabun Nuzul surah al-Maun ayat 4 -7
Ibnu Abas r.a memaparkan bahawa keempat-empat ayat ini diturunkan berkenaan dengan dengan kaum munafik yang riak melakukan solat jika berada ditengah-tengah kaum muslimin. Namun jika kaum muslimin tidak ada, mereka meninggalkan solat. Selain itu, mereka enggan memberikan pinjaman kepada kaum muslimin." (Hadis Riwayat Ibnu Munzir)

Firman Allah SWT :
فَوَيْلٌ لِلْمُŰ”َلِّينَ (4)Ű§Ù„َّ۰ِينَ هُمْ Űčَنْ Ű”َلَۧŰȘِهِمْ ŰłَŰ§Ù‡ُونَ (5

Maksudnya : "Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang solat, (iaitu) orang-orang yang lalai dari solatnya" (Surah al-Maun ayat 4-5)

Allah SWT mengungkapkan satu ancaman iaitu celakalah orang-orang yang mengerjakan solat dengan tubuh dan lidahnya tidak sampai ke hatinya. Dia lalai tidak menyadari apa yang diucapkan lidahnya dan yang dikerjakannya oleh sendi anggotanya. Ia rukuk dan sujud dalam keadaan lalai, ia mengucapkan takbir tetapi tidak menyadari apa yang diucapkannya. Semua itu adalah hanya gerak geri biasa dan kata-kata hafalan semata-mata yang tidak mempengaruhi apa-apa, tidak ubahnya seperti robot.

Terdapat banyak tafsiran dan kupasan tentang maksud “lalai” dalam ayat ini. Secara umumnya terdapat tiga tafsiran yang dibuat oleh ulama tafsir iaitu :

Pertama :  Melalai-lalaikan solat dengan sengaja sehingga habis waktunya (solat dikerjakan dengan mengqadakannya) ataupun lalai untuk mengerjakan solat iaitu tidak melakukan solat terus kerana malas.

Kedua : Lalai semasa solat iaitu tidak khusyuk . Iaitu tidak hadir hati dalam solat. Dalam solat teringat perkara-perkara diluar solat yang tidak ada kena mengena dengan solat. Malahan, bukan sahaja tidak hadir hati dalam solat, tetapi maksud perbuatan dan lafaz dalam solat pun tidak diketahui atau difahami. Jauh sekali untuk dihayati atau dijiwai.

Ketiga :  Lalai kerana tidak melaksanakan segala ikrar dan janji yang dibuat di dalam solat. Dalam solat berbagai-bagai ikrar dan janji dibuat. Diantaranya dia berikrar bahawa segala solatnya, ibadahnya, hidup dan matinya  hanyalah kerana Allah SWT. Tetapi selesai sahaja solat , janji itu dilupakan. Buat kerja seolah-olah Tuhan itu tidak wujud atau tidak nampak apa yang dilakukannya.

Walau bagaimana pun , kalau di kaji betul-betul ketiga-tiga tafsiran di atas, maka punca sebenar yang akan di dapati adalah kerana ketiadaan khusyuk dalam solat. Tidak khusyuk semasa mengerjakan solat adalah kerana tidak khusyuk di luar solat. 

Sekiranya seseorang itu khusyuk diluar solat iaitu taat dan patuh kepada perintah Allah SWT dan menjauhi larangan-Nya, maka khusyuk itu sudah pasti berterusan dan akan dibawa ke dalam solat. Ertinya, orang yang khusyuk dalam hidupnya diluar solat akan merasa khusyuk dalam solat. Hanya apabila di dalam solat, rasa khusyuknya lebih subur dan lebih tajam kerana solat itu ada rukun dan disiplinnya.

Bagi orang yang khusyuk, tidak timbul masalah cuai untuk mengerjakan solat hingga habis waktunya kerana orang yang khusyuk itu selalu menanti-nanti dan menunggu-nunggu waktu untuk bersolat. Menunggu solat itu baginya seperti menunggu untuk bertemu kekasih.Tidak juga timbul hati tidak hadir dalam solat atau teringat perkara-perkara lain diluar solat kerana orang yang khusyuk itu hatinya sentiasa bergelora dengan Tuhannya.

Tidak menunaikan ikrar dan janji semasa diluar solat adalah kerana berpunca kerana hatinya tidak hadir dan tidak merasai khusyuk . Apabila hati tidak khusyuk, segala janji yang dibuat hanyalah di lidah semata-mata. Paling tinggi, akal mungkin turut serta dalam membuat ikrar dan janji tersebut. Tetapi hati tidak ada peranan kerana tiada khusyuk. Khusyuk itu perkara hati. 

Oleh itu ikrar dan janji berkenaan dibuat tanpa komitmen dan kesungguhan kerana hati tidak dilibatkan dan tidak dibawa bersama. Ertinya ikrar dan janji itu tidak dibuat dari hati. Janji yang bukan dari hati bukan janjilah namanya. Tidak hairanlah kenapa janji hanya tinggal janji.

Khusyuk yang dituntut dari manusia bukan hanya ketika dalam solat. Allah SWT bukan wujud dalam solat sahaja. Allah SWT wujud setiap masa dan ketika. Oleh itu kita perlu khusyuk sepanjang masa. Orang yang khusyuk dalam solat itu ialah orang mukmin yang berjiwa Tauhid. Orang yang rasa cinta dan takutnya dengan Tuhan sentiasa mencengkam jiwa dan hati nuraninya. Rasa-rasa ini dibawanya ke mana-mana sahaja dia pergi. Lebih-lebih lagilah dalam solatnya.

Solat yang tidak lalai itu adalah solat yang khusyuk yang sentiasa mempunyai rasa bahawa dia melihat Allah SWT (sifat ihsan) . Jika sekiranya dia tidak dapat melihat Allah SWT maka dia akan yakin sepenuhnya bahawa Allah SWT sentiasa memerhatikan solatnya. Bermula dari takbiratulihram hinggalah kepada salam dia sentiasa memahami maknanya dan tuntutan kalimah yang diucapkannya. Inilah solat yang tidak lalai, solat yang benar-benar khusyuk.



Firman Allah SWT :

Ű§Ù„َّ۰ِينَ هُمْ يُ۱َۧۥُونَ (6)

Maksudnya : "Orang-orang yang berbuat riak." (Surah al-Maun ayat 6)

Dalam ayat ini Allah menambah penjelasan tentang sifat orang pendusta agama iaitu: mereka melakukan perbuatan-perbuatan lahir hanya semata kerana riak tidak terkesan pada jiwanya untuk meresapi rahasia dan hikmahnya.
Riak ialah penyakit hati yang paling ditakuti Rasulullah SAW menimpa umatnya kerana ia boleh berlaku dalam pelbagai keadaan, hatta ketika menunaikan solat yang sepatutnya dilakukan dengan ikhlas.

Kerisauan itu dinyatakan Rasulullah SAW dalam sabda bermaksud: "Sesungguhnya yang paling ditakutkan daripada apa yang aku takutkan menimpa kalian adalah asy syirkul ashghar (syirik kecil). Sahabat bertanya: "Apakah dimaksudkan syirik kecil itu? Baginda menjawab: Riak." (Hadis riwayat Imam Ahmad)

Riak ialah memperlihat atau menyempurnakan ibadat dengan tujuan mendapat pujian serta perhatian orang lain seperti solat dan puasa.

Baginda SAW bersabda yang bermaksud: "Mahukah kalian aku beritahu sesuatu yang lebih aku takutkan daripada Dajal? Kami katakan: 'Tentu.' Baginda bersabda: 'Syirik yang tersembunyi iaitu apabila seseorang mengerjakan solat lalu dia menyempurnakan solatnya kerana melihat seseorang memandangnya'." (Hadis Riwayat Ibnu Majah)

Firman Allah SWT :
وَيَمْنَŰčُونَ Ű§Ù„ْمَۧŰčُونَ (7)

Maksudnya : "Dan enggan (menolong dengan) barang berguna." (Surah al-Maun ayat 7)

Dalam ayat ini Allah menambahkan lagi sifat pendusta itu iaitu; mereka tidak mahu memberikan barang-barang yang diperlukan oleh orang-orang yang memerlukannya, sedang barang itu tidak sepatutnya ditahan. Penahanan barang-barang  tersebut adalah mencerminkan kerendahan budi dan tidak mempunyai akhlak Islam.

Keadaan orang yang membesarkan agama berbeda dengan keadaan orang yang mendustakan agama, kerana yang pertama nampak dalam tata kehidupannya iaitu bersikap yang jujur, adil, kasih sayang, pemurah dan lain-lain.

Sedangkan sifat pendusta agama ialah membenci anak yatim, tidak mahu bersedekah kepada fakir miskin, riak, curang, aniaya, takabur, kikir, memandang rendah orang lain, tidak mementingkan yang lain kecuali dirinya sendiri, bangga dengan harta dan kedudukan serta tidak mau mengeluarkan sebahagian dari hartanya, baik untuk keperluan perseorangan maupun untuk masyarakat.

Sahabat yang dikasihi,
Marilah sama-sama kita menghayati perintah Allah SWT dalam ayat di atas iaitu tidak lalai dalam solat dan sentiasa khusyuk , tidak riak dalam amal ibadah dan amal soleh yang kita lakukan kepada Allah SWT dan tidak bakhil untuk memberi bantuan dan sumbangan kepada orang-orang yang memerlukannya samaada wang ringgit atau barang keperluan.

Saturday, December 3, 2011

Orang Mukmin Akan Berhati-hati Memilih Pemimpin Kerana Semuanya Akan di Pertanggungjawabkan di Hari Akhirat

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Űłْمِ Ű§Ù„Ù„Ù‡ِ Ű§Ù„Ű±َّŰ­ْمنِ Ű§Ù„Ű±َّŰ­ِيْم

Segala puji bagi Allah, Tuhan sekelian alam. Selawat serta salam buat junjungan mulia Nabi Muhammad SAW keluarga serta para sahabat dan pengikut yang istiqamah menuruti baginda hingga ke hari kiamat.

Sahabat yang dirahmati Allah,
Setiap amalan hidup kita daripada sekecil-kecilnya hingga sebesar-besarnya semuanya akan di hisab di hari akhirat nanti. Tidak sedikit pun akan dibiarkan oleh Allah SWT, jika baik, mulia, dan mendatangkan manfaat akan diberi balasan pahala yang setimpal malahan mungkin akan dilipat gandakan oleh Allah SWT akhirnya menuju ke syurga. Begitu juga jika buruk, bermaksiat dan mendatangkan mudarat maka ianya akan dihisab dan dibalasi dengan dosa dan akhirnya akan mendapat balasan neraka.

Firman Allah SWT maksudnya : "Maka sesiapa berbuat kebajikan seberat zarrah, nescaya akan dilihatnya (dalam surat amalnya).'' (Surah al-Zalzalah ayat 7).

Manusia adalah sebaik-baik makhluk ciptaan Allah SWT. yang mempunyai akal fikiran. Mereka mampu menentukan dan membezakan sesuatu perkara sama ada baik atau buruk dan sama ada ia menjadi suruhan atau larangan-Nya.

Oleh sebab itu, manusia bukanlah dicipta dengan sia-sia ataupun tanpa matlamat dan tujuan. Bahkan mereka dijadikan untuk beribadah kepada Penciptanya yang merupakan tujuan utama kehidupan ini.

Manusia perlu bijak menyesuaikan aktiviti dan amalannya dengan tujuan hidup yang jelas bersesuaian dengan fitrah dan kehendak Tuhan. Ini kerana segala perbuatan mereka itu akan dinilai dan dibalas sama ada dosa atau pahala, walaupun kebaikan dan kejahatan yang mereka lakukan hanyalah sebesar zarrah atau sebesar biji sawi sekalipun.

Sedangkan sekecil-kecil perbuatan pun mendapat balasan, apatah lagi jika ia melakukan sebesar-besar perbuatan. Sudah tentu syurga atau neraka adalah tempat yang sesuai bagi mereka. Walau bagaimanapun, kebanyakan mereka alpa dan hanya mengejar kehidupan duniawi sahaja sedangkan balasan akhirat adalah lebih indah dan kekal abadi.

Ini dijelaskan oleh Allah SWT. dalam surah an-Nisa ayat 134 yang bermaksud: "Sesiapa yang mahukan pahala (balasan) dunia sahaja (maka rugilah ia), kerana di sisi Allah disediakan pahala (balasan) dunia dan akhirat. Dan (ingatlah) Allah sentiasa Mendengar lagi sentiasa Melihat.''

Dosa dan pahala ialah balasan mereka yang melakukan sesuatu untuk memenuhi matlamat ibadah atau sebaliknya dalam bentuk zahir dan batin, gerak anggota atau gerak hati.

Persoalan balasan baik dan buruk ini ditimbulkan semata-mata mahu mendidik umat Islam supaya melakukan sesuatu yang tidak bercanggah dengan kehendak agama, seterusnya dapat menjamin kebahagiaan hidup masyarakat seluruhnya dengan undang-undang dan peraturan Ilahi.

Sahabat yang dimuliakan,
Salah satu tanggungjawab besar yang perlu kalian mengambil perhatian adalah cara kalian memilih pemimpin. Kalian pasti akan ditanya dan kalian tidak akan dapat melarikan diri di akhirat nanti. Jika betul cara kalian membuat pilihan maka kalian akan terselamat daripada azab yang besar nanti dan jika kalian tersilap atau kalian memilih hanya berdasarkan nafsu dan emosi, kalian tidak melihat syarat-syatar dan ciri-ciri yang Islam gariskan maka kalian akan ditanya, bertanggungjawab dan akan mendapat seksaan yang azab disediakan oleh Allah SWT.

Dalam zaman moden ini tangan kalian cukup memainkan peranan yang penting. Tangan dan jari-jari yang kalian gunakan untuk memangkah dan membuat pilihan akan menjadi saksi dihadapan Allah SWT bahawa siapakan pemimpin yang telah di pilih? Jika tersalah pilih pemimpin tersebut tidak akan dapat menolong kalian dan masing-masing akan dipertanggunjawabkan di atas kesalahan yang telah dilakukan.

Pengertian amanah bererti menempatkan sesuatu pada tempatnya yang wajar, seperti sesuatu kedudukan tidak diberikan kecuali kepada orang yang betul-betul berhak dan yang betul-betul mampu menunaikan tugas dan kewajipannya dengan benar.

Diriwayatkan daripada Abu Hurairah r.a katanya: Rasulullah SAW  membaca ayat ini: "Yang bermaksud: 'Pada hari itu bumi menceritakan beritanya'. Kemudian baginda bertanya:" Adakah kamu tahu apakah yang akan diberitahu oleh bumi itu nanti?"

Para sahabat menjawab:" Allah SWT. dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui."

Baginda SAW. bersabda: "Sesungguhnya berita yang akan disampaikan oleh bumi ialah bumi menjadi saksi terhadap semua perbuatan manusia, sama ada lelaki ataupun perempuan terhadap apa yang mereka lakukan di atasnya."
Bumi akan berkata: 'Dia telah melakukan itu dan ini pada hari itu dan ini'. Itulah berita yang akan diberitahu oleh bumi."
(Hadis riwayat Imam Tirmizi). 

Bukan setakat bumi yang akan menjadi saksi tetapi tempat mengundi, peti undi, pencil yang digunakan, hari, masa, tahun,  anggota-anggota lain seperti mata, kaki, telinga , hidung dan kakitangan SPR yang bertugas akan menjadi saksi kepada setiap individu yang membuat pilihan.

Sekiranya kita telah mengundi selama 5 penggal maka setiap penggal akan di hisab satu persatu dan penyiasatan dan pengadilan cukup teliti dah halus hinggakan tidak ada satu pun perkara akan tercicir.

Ketika itu dimanakah kalian hendak meminta pertolongan kerena kesilapan orang yang kalian pilih? Pemimpin yang kalian pilih telah melepaskan diri, dia juga tidak terlepas dengan kesalahan dan kesilapan yang dia lakukan.

Firman Allah dalam surah Al-Imran ayat 161 yang bermaksud : " Tidak mungkin seorang Nabi mengkhianati dalam urusan rampasan perang itu, maka pada hari kiamat dia akan datang membawa apa yang dikhianatinya; kemudian tiap-tiap diri akan diberi pembalasan tentang apa yang ia kerjakan dengan (pembalasan) setimpal, sedangkan mereka itu tidak teranayai ".

Apakan syarat-syarat pemimpin yang telah Islam tetapkan? Syarat-syarat tersebut adalah seperti berikut :

1. Pemimpin mestilah orang beriman dan bertakwa dan terikat kesetiaan kepada Allah.  

2. Mempunyai akhlak Islam tidak terlibat dengan rasuah, jenayah, konsperasi mengaibkan seorang muslim, isterinya menutup aurat dan berpegang teguh dengan ajaran Islam.

3. Bersikap jujur dan amanah dan tidak menzalimi rakyat dengan tidak berlaku adil di dalam pembahagiaan kekayaan hasil bumi dengan melanggar perjanjian yang telah dipersetujui bersama.

4. Mengutamakah rakyat tidak  mengutamakan kroni dan kelompok tertentu di dalam pembahagian projek, jawatan dalam pentadbiran dan sumbangan kebajikan atau subsidi.

5. Pemimpin terikat dengan peraturan Islam, boleh menjadi pemimpin selama ia berpegang pada perintah syariat. Ketika mengendalikan urusannya ia harus patuh kepada adab-adab Islam, khususnya ketika berurusan dengan rakyat dan dengan negara lain.

6. Pembawa Amanah dan mendaulatkan undang-undang Islam, tidak menolak hukum hudud dan tidak memperkecilkan kemapuan syariat Islam dalam mentadbir negara. Pemimpin menerima kekuasaan sebagai amanah dari Allah SWT yang disertai dengan tanggungjawab yang besar. Al-Quran memerintahkan pemimpin melaksanakan tugasnya untuk Allah SWT dan menunjukkan sikap baik kepada rakyatnya sebagaimana Firman Allah SWT maksudnya :

“Iaitu orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka, nescaya mereka mendirikan solat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat yang makruf dan mencegah perbuatan yang mungkar, dan kepada Allah-lah kembali segala urusan.” (Surah Al-Hajj, ayat 41).

Pemimpin seharusnya memperlakukan manusia secara adil dan tidak berat sebelah tanpa mengira suku bangsa, warna kulit, keturunan dan lain-lain. Al-Quran memerintahkan agar kaum muslimin berlaku adil bahkan ketika berurusan dengan para penentang mereka.

Firman Allah SWT maksudnya : “Sesungguhnya Allah memerintahkan kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum antara manusia supaya kamu berlaku adil.” (Surah An-Nisa’, ayat 58).

Firman-Nya lagi yang bermaksud : “Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum mendorong kamu berlaku tidak adil. Berlaku adillah, kerana adil lebih dekat kepada takwa.” (Surah Al-Ma’idah, ayat 8.)

“Hai orang-orang yang beriman, jadilah kamu benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi kerana Allah walaupun terhadap dirimu sendiri, ibu-bapa, dan kaum kerabatmu, sama ada ia kaya atau miskin, kerana Allah akan melindungi.” (Surah An-Nisa’, ayat 135).

Selain memenuhi prinsip keadilan yang menjadi asas tertegaknya masyarakat Islam. Pemimpin Islam juga mesti menyelesaikan pelbagai perbezaan pendapat atau pengaduan orang ramai. Hak rakyat untuk bersuara dan menyatakan pandangan atau menegur pemimpin perlulah di ambil perhatian. Pemimpin tidak boleh bersilap kasar dan keras (tidak kena tempat) dengan memaksa rakyat dengan kekerasan (memaksa rakyat dengan keputusannya). Pemimpin Islam tidak boleh hanya melaungkan selogan-selogan kosong untuk mengutamakan rakyat tetapi apabila berlaku perbezaan pendapat dengan rakyat mengambil sikap tidak mahu bertolak ansur.

7. Pemimpin yang dipilih mestilah mengutamakan pendidikan Islam sebagai asas untuk menguatkan akidah dan akhlak Islam, bukannya pemimpin yang menggalakan hiburan melampau batas, tidak kawal rancangan television yang merosakkan akidah umat Islam dengan cerita hantu dan tahyul, membina banyak pusat-pusat hiburan, kelab malam, meluluskan lesen-lesen judi dan arak dan membiarkan dan menggalakkan pergaulan bebas lelaki dan wanita. Pemimpin yang gemar pada hiburan dan melanggar syariat perlu segera ditukar.

Kalian semua boleh menilainya, jangan mudah menerima berita fitnah yang mengaibkan ulama dan membenci pendakwah Islam  yang banyak diwar-warkan akhbar arus perdana dan propaganda menentang hukum-hukum Islam.

Sahabat yang dihormati,
Mungkin ada bertanya bangaimana disatu-satu tempat itu tidak terdapat ciri-ciri pemimpin Islam yang dinyatakan di atas? Sedangkan kita perlu buat pemilihan?
Jika kesemua calon didapati tidak mempunyai ciri-ciri yang layak untuk memegang kerusi tersebut, maka seorang muslim hendaklah memilih calon yang paling kurang mudarat atau bahayanya terhadap rakyat dan umat dibandingkan yang lain. 

Ini berasaskan kaedah syarak “Mudarat yang lebih besar dihilangkan dengan mudarat yang lebih ringan”, atau “Memilih bahaya yang paling ringan”. 

Kaedah ini dipakai apabila kita berhadapan dengan pilihan yang kesemua buruk, maka kita memilih apa yang mudarat atau bahayanya itu paling minima. 

Allah menyebut dalam al-Quran: (maksudnya) “Mereka bertanya kepadamu (Wahai Muhammad), mengenai (hukum) berperang dalam bulan yang dihormati (bulan haram); katakanlah: “Peperangan dalam bulan itu adalah berdosa besar, tetapi perbuatan menghalangi (orang-orang Islam) dari jalan Allah dan perbuatan kufur kepadaNya, dan juga perbuatan menyekat (orang-orang Islam) ke al-Masjid Al-Haraam, serta mengusir penduduknya dari situ, (semuanya itu) adalah lebih besar lagi dosanya di sisi Allah, dan (ingatlah), angkara fitnah (kerosakan) itu lebih besar (dosanya) daripada pembunuhan (semasa perang dalam bulan yang dihormati)…” (Surah al-Baqarah ayat 217). 

Ayat ini jelas memberitahu bahawa dosa-dosa itu walaupun besar, namun nilainya tidak sama. Ertinya, apabila bertembung kita memilih atau menentukan yang paling kurang bahaya atau mudaratnya supaya tindakan kita dapat meminimakan bahaya.
 
Pemimpin (calun) yang kurang mudarat (kurang bahaya)  itu ciri-cirinya adalah :
1. Pemimpin yang ada perjanjian dengan pemimpin Islam untuk berkongsi kuasa dan matlamat yang sama iaitu membenteras rasuah dan menghapuskan ketidak adilan kepada rakyat.

2. Bersetuju memberi hak yang lebih luas dari segi agihan kekayaan dan membenarkan  rakyat bersuara dan berhimpun secara aman .

3. Bersetuju untuk memulihkan dan memperkasakan sistem keadilan di dalam setiap bidang kementerian dalam kerajaan  yang dibentuk. Terutama untuk menghapuskan tangkapan tanpa perbicaraan.

4. Pemimpin tersebut hendaklah menghormati hak umat Islam yang termaktub di dalam perlembagaan dan undang-undang syariat.

Jika pemimpin tersebut mempunyai ciri-ciri tersebut maka boleh dipilih sebagai sokongan untuk menguatkan pemimpin Islam yang akan mentadbirkan negara.

Nabi SAW semasa hijrah daripada Mekah ke Madinah pernah meminta tolong lelaki Yahudi yang baik peribadinya untuk menunjukkan jalan pintas ke Madinah supaya perjalanan baginda dan Saidina Abu Bakar tidak tergendala dipertengahan jalan daripada gangguan kafir Quraisy Mekah. Dalam keadaan kita kurang kemampuan dan kekuatan ketika ini boleh digunkan kekuatan orang bukan Islam untuk membantu kita untuk mencapai matlamat utama keredaan Allah SWT.

Sahabat yang dikasihi,
Marilah kita bermuhasabah dan lihat balik segala amalan kita sebelum ini yang mungkin tanpa kita sedari telah memberi saham kepada pemimpin yang gagal melaksanakan hukum-hukum Allah SWT dan masih kuat mempertahankan undang-undang ciptaan manusia. Mungkin kita banyak dipengaruhi oleh akhbat arus perdana yang banyak menyelewengkan fakta dan banyak menabur fitnah. Kali ini berilah peluang kepada saudara-saudara kita yang berusha dan bekerjakeras untuk menegakkan keadilan Islam dan menghidupkan roh pendidikan Islam yang telah lama di tinggalkan. Yakinlah apa yang kalian lakukan ini untuk mendaulatkan Islam akan mendapat rahmat dan keberkatan di sisi Allah SWT. 

Jika kalian ditanya nanti di akhirat apakah usaha dan peranan kalian untuk menegakkan hukum-hukum Allah?  Kalian bisa menjawab bahawa kalian telah menggunakan tangan kalian untuk membuat pemilihan terbaik. Kalian tidak akan ditanya samaada berjaya atau tidak yang penting tugas dan tanggungjawab kalian telah kalian penuhi. Ini adalah jihad dan pengorbanan kalian yang besar disisi Allah SWT. Buatlah sesuatu perubahan dan berdoalah kepada Allah SWT semoga Allah SWT mengizinkan ISLAM berkuasa memerentah dan mentadbirkan negara mengikut syariat Allah SWT.






Friday, December 2, 2011

Hamba Allah Yang Bersyukur Terselamat Daripada Ujian Allah SWT

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Űłْمِ Ű§Ù„Ù„Ù‡ِ Ű§Ù„Ű±َّŰ­ْمنِ Ű§Ù„Ű±َّŰ­ِيْم

Segala puji bagi Allah, Tuhan sekelian alam. Selawat serta salam buat junjungan mulia Nabi Muhammad SAW keluarga serta para sahabat dan pengikut yang istiqamah menuruti baginda hingga ke hari kiamat.

Sahabat yang dirahmati Allah,
Setiap orang yang beriman akan diuji oleh Allah SWT samaada dia hendak bersyukur atau tidak di atas nikmat rezeki yang dikurniakan-Nya. Sesiapa yang bersyukur dan reda dengan takdir Allah SWT akan terselamat daripada ujian-Nya dan sesiapa yang kufur tidak bersyukur dan tamak haluba akan mendapat kemurkaan Allah SWT dan azab yang akan ditimpakan ke atasnya.

Daripada Abu Hurairah r.a. Rasulullah SAW bersabda yang bermaksud :
“Bahawa sesungguhnya ada tiga orang daripada Bani Israil yang masing-masing mempunyai kekurangan. Seorang daripadanya berpenyakit sopak , seorang botak dan yang seorang lagi buta. Allah menguji mereka , dengan mengutuskan malaikat.

Malaikat itu datang kepada si sopak dan bertanya :
“Apakah sesuatu yang paling engkau inginkan?”
Si sopak menjawab , “Saya menginginkan paras yang tampan dan kulit yang cantik, serta hilang penyakit yang menyebabkan orang jijik untuk mendampingiku.”
Maka malaikat itu lantas mengusap si sopak dan kemudian hilangkan penyakit yang menjijikan itu serta ia di beri paras yang tampan, dan kulit yang cantik.
Malaikat itu bertanya lagi, “Harta apa yang paling engkau mahukan?”
Si sopak menjawab , “Saya ingin menjadi usahawan penternak unta yang berjaya.”
Kemudian dia di beri unta yang sedang bunting sepuluh bulan, dan malaikat tadi berkata :
“Semoga Allah memberi berkah dan rahmat atas apa yang kau terima”

Kemudian malaikat itu pergi kepada si botak dan bertanya :
“Apakah yang paling kau inginkan?”
Si botak menjawab : “ Rambut yang rapi dan hilangnya penyakit yang menjadikan orang jijik kepadaku ini.” Malaikat lantas mengusap si botak dan selepas itu hilanglah penyakit dan tumbuhlah rambut yang cantik rapi di kepalanya. Malaikat bertanya lagi, “Harta apa yang paling kau inginkan?” si botak menjawab, “Saya ingin menjadi usahawan penternak lembu yang maju.” Kemudian dia diberikan lembu yang sedang bunting dan malaikat tadi berkata, “Semoga Allah memberi berkah dan rahmat atas apa yang kau terima.”

Kemudian malaikat pergi pula kepada si buta dan bertanya, “Apakah sesuatu yang paling kau inginkan?” si buta menjawab, “Allah mengembalikan penglihatanku sehingga aku dapat melihat.” Malaikat lantas mengusap si buta dan Allah mengembalikan penglihatan si buta. Malaikat itu bertanya lagi, “Harta apa yang paling engkau mahukan?” si buta menjawab, “Saya ingin menjadi penternak kambing.” Kemudian dia diberikan kambing yang sedang bunting.

Lama-kelamaan unta, lembu dan kambing milik mereka berkembang biak sehingga memenuhi satu kawasan. Lantas datanglah malaikat sebagai ujian daripada Allah. Malaikat itu menyamar sebagai seorang yang berpenyakit sopak seperti keadaannya dulu sambil berkata, “Saya seorang miskin dan telah kehabisan bekal di tengah perjalanan dan tidak menggantung harap kecuali kepada Allah s.w.t. kemudian kepadamu. Saya benar-benar meminta pertolongan kepadamu dengan izin Allah yang telah memberi engkau paras yang tampan dan kulit yang halus serta kekayaan. Saya meminta kepadamu seekor unta untuk bekal melanjutkan perjalanan saya.”

Si sopak berkata,”saya tidak dapat memberikan apa-apa kepadamu.” Malaikat itu berkata,”Kalau tidak salah saya, saya penah kenal denganmu, bukankah kamu dulu orang yang mempunyai sakit sopak dan orang-orang jijik kepadumu, dan bukankah kamu dulu orang miskin lalu Allah memberi rahmat kepadamu? “ si kaya yang sebelumnya sopak itu berkata, “Sesungguhnya saya mempunyai harta kekayaan ini daripada nenek moyang saya.” Malaikat berkata, “Jika kamu berdusta maka semoga Allah s.w.t. mengembalikan kamu seperti keadaanmu semula.”

Kemudian malaikat datang kepada si botak dengan menyerupai orang yang berpenyakit botak sepertinya dahulu dan berkata seperti apa yang diperkatakan kepada si sopak. Si botak menjawab seperti si sopak. Kemudian malaikat itu berkata, “Jika kamu berdusta,semoga Allah menjadikan kamu seperti keadaan asalmu.”

Malaikat meneruskan perjalanannya ke tempat si buta dengan menyerupai orang buta seperti keadaan si buta dan berkata, “Saya seorang msikin dan telah kehabisan bekalan. Saya benar-benar minta pertolonganmu dengan izin Allah yang telah mengembalikan penglihatanmu, iaitu saya meminta satu ekor kambing untuk bekalan dalam melanjutkan perjalanan saya.”

Si buta menjawab, “Saya dulu juga seorang yang buta kemudian Allah mencelikkan penglihatan saya. Dan dulu Allah memberi kekayaan seperti ini, maka ambillah apa yang kau inginkan. Demi Allah, saya tidak akan menghalangmu daripada mengambil apa jua yang kau kehendaki kerana Allah.” Mendengar jawapan ikhlas itu, malaikat itu berkata, “Peliharalah harta kekayaanmu, sebenarnya kamu hanyalah diuji dan Allah benar-benar redha terhadap kamu dan Allah telah memurkai kedua-dua kawanmu.”

(Hadis Riwayat Bukhari)

Kisah yang di ceritakan oleh Rasulullah SAW  ini adalah pada zaman Bani Israil bagaimana Allah SWT. telah menguji umat terdahulu. Pengajaran dan moral dari kisah ini adalah untuk kita semua mengambil iktibar sebagai umat Rasulullah SAW Ujian Allah SWT tetap berlaku kepada setiap hamba-hamba Allah SWT  yang mengaku beriman Allah SWT dan rukun-rukun Iman yang lain. Ujian Allah SWT. ini datang dalam berbagai bentuk bergantung sejauh mana hubungan hati kita dengan Allah SWT.

Apabila Allah SWT memberikan kekayaan dan kemewahan harta benda di jalan yang tiada di sangka-sangka , adakah kita tetap menjadi hamba Allah SWT yang bersyukur?
Apabila Allah SWT  menguji kita dengan kesempitan hidup dan tidak mempunyai harta, adakah kita akan menjadi hamba Allah SWT yang tenang dan bersabar?
Apabila Allah SWT. menguji kita dengan kesakitan (penyakit) adakah kita redha dengan ketentuanNya , dan berusaha dan berikhtiar untuk mencari ubatnya ?

Jawapannya ada pada diri kita sendiri, “ tepuk dada tanya iman”. Kita kena melatih hati dan pemikiran kita supaya positif setiap masa dan ketika dan sentiasa baik sangka dengan Allah SWT . Meyakini bahawa setiap peristiwa yang berlaku semuanya menggandungi ikhmah dan kebaikan, segala ujian Allah SWT. ini adalah untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan kita pada Allah SWT.

Sahabat yang dikasihi,
Pengajaran-pengajaran yang boleh di perolehi daripada kisah di atas adalah seperti berikut :

1. Anjuran untuk berlemah lembut dan memuliakan orang-orang yang lemah dan miskin, memenuhi keperluan mereka, tidak melukakan hati mereka dan tidak menghina mereka.

2. Allah SWT. pasti menguji hamba-hambaNya untuk mengetahui antara mereka siapa yang bersyukur dan kufur nikmat, siapa yang soleh dan ingkar.

3. Kita wajib bersyukur dengan nikmat Allah SWT dan dilarang kufur serta mengingkari nikmat.

4. Malaikat mampu datang dan menyamar sebagai manusia dan lainnya.

5. Kisah ini menjelaskan keutamaan bersedekah.

6. Bakhil dan kedekut adalah perbuatan yang di cela oleh Islam.

Jauhi Sifat Tamak dan Panjang Angan-angan.

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Űłْمِ Ű§Ù„Ù„Ù‡ِ Ű§Ù„Ű±َّŰ­ْمنِ Ű§Ù„Ű±َّŰ­ِيْم

Segala puji bagi Allah, Tuhan sekelian alam. Selawat serta salam buat junjungan mulia Nabi Muhammad SAW keluarga serta para sahabat dan pengikut yang istiqamah menuruti baginda hingga ke hari kiamat.

Sahabat yang dirahmati Allah,
Daripada Anas bin Malik r.a. berkata : Rasulullah SAW bersabda maksudnya : " Dalam semua perkara pada anak Adam yang akan menjadikan mereka tua adalah dua perkara : Tamak dan angan-angan." (Hadis Riwayat Bukhari - dalam al-Sahih 11/243 dan Muslim dalam al-Sahih 2/724 no. 1047 dan Abu al-Laith al-Samarqandi dalam kitabnya Tanbih al-Ghafilin)

Berdasarkan hadis diatas jelaslah kepada kita bahawa ada dua perkara yang menyebabkan anak Adam tua . Perkara tersebut adalah seperti berikut :

Pertama : Tamak

Kedua : Angan-angan.

Huraiannya :

Pertama : Tamak.

Manusia yang menjadikan dunia sebagai  matlamat hidupnya akan bersikap tamak haluba dan tidak akan bersyukur di atas nikmat dan rezeki yang dikurniakan oleh Allah SWT. Dia akan terus mencarai habuan dunia tidak kita samaada ianya halal atau pun haram yang penting harta yang diingininya itu mesti dapat dan matlamat yang dituju perlu dicapai.

Nabi SAW bersabda maksudnya : "Seandainya anak Adam mempunyai dua lembah emas nescaya dia masih mahukan yang ketiga dan tidak ada yang dapat menutup keinginan anak Adam kecuali tanah, dan Allah akan menerima taubat sesiapa yang bertaubat. Dan sesungguhnya Allah menjadikan harta ini hanya untuk menegakkan sembahyang yang dikeluarkan untuk zakat."

Sifat tamak terhadap harta ini Allah SWT ceritakan dalam al-Quran adalah kisah Qarun di zaman Nabi Musa a.s. Firman Allah SWT maksudnya : “Dia (Qarun) berkata: 'Sesungguhnya aku hanya diberi (harta itu), semata-mata kerana ilmu yang ada padaku." (Surah al-Qashash ayat 78)

Qarun bersifat tamak dan ujub  kerana dia merasakan bahawa harta yang banyak yang dia miliki adalah hasil daripada kepandaiannya mengumpulkan harta dan perniagaan yang dia usahakan, sedangkan asalnya dia adalah seorang yang miskin dan tidak memiliki apa-apa kepandaian. Berkat daripada pertolongan dan doa Nabi Musa a.s yang menyebabkan Allah SWT mengurniakan harta yang banyak kepadanya. Ini adalah ujian daripada Allah SWT untuk melihat adakah Qarun hendak bersyukur dan taat kepada-Nya.Kerana sifat tamak dengan harta yang dimilikinya dan sifat ujub maka dia enggn membayar zakat dan menentang perintah Allah SWT yang diwahyukan-Nya kepada Nabi Musa a.s..akhirnya Qarun dibinasakan oleh Allah SWT, dia dan hartanya ditelan bumi dengan izin Allah SWT.

Firman Allah SWT maksudnya : "Dan belanjakanlah sebahagian daripada apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian pada salah seorang antara kamu, lalu ia berkata :'Ya Tuhanku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian) sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orng-orang yang soleh" (Surah al-Munafiqun ayat 10)

Oleh itu jauhilah sifat tamak dengan harta kerana harta yang ada di dunia adalah pinjaman sementara ianya tidak kekal yang kekal adalah apabila harta tersebut di sedekahkan, di infak dijalan Allah SWT dan dikeluarkan zakat.

Orang yang bersifat tamak tidak mahu membayar zakat dan tidak suka bersedekah, akhirnya harta yang disimpan itu akan dibinasakan oleh Allah SWT. hidupnya tidak akan bahagia dan sering menghadapai bala dan musibah.

Kedua : Angan-angan.

Panjang angan-angan atau banyak berhayal menyebabkab seseorang berada dialam fantasi bukan lagi realiti. Sedangkan ini adalah racun yang berbahaya apatah lagi angan-angan tersebut tidak kesampaian di samping membazir masa sahaja . Lantas, dia sentiasa rugi dalam kehidupannya dan menempuh kehinaan. Sebaliknya mereka yang bercita-cita dan disertakan dengan perlaksanaan mengikut strategi dan buah fikiran yang baik sudah tentu akan mengecapi kejayaan. Angan-angan adalah racun dalam kehidupan dan musibahnya jauh lebih banyak daripada manfaatnya.

Oleh itu hendaklah kita menggantikan sifat panjang angan-angan dengan manfaatkan waktu lapang dengan beribadat. Waktu yang lapang juga digunakan untuk membaca buku-buku agama, membuat kerja-kerja kebajikan, berdakwah dan melaksanakan amar makruf nahi mungkar , ziarah orang sakit , solat sunat, berzikir dan menuntut ilmu.

Ingatlah masa adalah kehidupan, tidak berlalunya sesaat masa itu menandakan  sudah habisnya sebahagian daripada kehidupan kita. Semakin berlalunya hari ini bermakna kita semakin hampir dengan kematian.

Sebagaimana firman Allah SWT yang bermaksud:"Demi Masa! Sesungguhnya manusia itu dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal soleh dan berpesan-pesan dengan kebenaran serta nasihat-menasihati dengan kesabaran".
(Surah al-'Asr ayat 1-3)

Ayat ini secara tidak langsung menjelaskan bahawa pentingnya menjaga masa lapang dan dapat dimanfaatkan sepenuhnya. Di samping itu, pesanan Allah SWT. tentang keberuntungan bagi mereka yang menjaga masanya dan memanfaatkan masa hidupnya dengan perkara-perkara yang membawa kepada kebaikan.

Juteru itu janganlah kalian habiskan masa dengan berangan-angan untuk masuk syurga tanpa beramal soleh, untuk menjadi kaya tanpa berusaha atau pun ingin ternama dan disanjung tinggi oleh manusia. Sesungguhnya panjang angan-angan adalah mainan syaitan dan mengikut hawa nafsu. Jangan meletakkan kalian di zon selesa dan suka kepada hayalan yang tidak berfaedah seperti cerita angan-angan 'mat jenin'. 

Jangan jadikan harimu berlalu tanpa manfaat dan jangan kalian tanamkan harta kalian ditempat yang tidak berfaedah. Sebab usia itu terlalu singkat untuk di sia-siakan , dan harta itu terlalu sedikit untuk kalian simpan dalam hal-hal yang tidak berguna. Alangkah ruginya jika orang yang berakal menghabiskan waktunya dengan melakukan hal-hal yang dia tidak oleh mengambil manfaat dan kebaikannya, dan membelanjakan hartanya dalam hal-hal yang tidak menghasilkan pahala dan ganjaran. Hidup kalian di dunia ini terlalu singkat oleh itu gunakan sepenuhnya ilmu, masa, tenaga dan harta yang ada demi mencari keberkatan dan  keredaan Allah SWT.

Sahabat yang dikasihi,
Marilah kita muhasabah dan mujahadah diri kita supaya kita mampu melawan nafsu yang suka kepada sifat tamak  kepada harta, kedudukan , pangkat dan puji-pujian manusia. Pada masa yang sama jauhi angan-angan kosong , hayalan dan duduk rehat-rehat tanpa berusaha dan bekerja. Orang mukmin sifatnya diwaktu siang seperti singa bekerja keras mencari nafkah , berdakwah dan berjihad dijalan Allah SWT kemudian diwaktu malam menjadi abid bertahajjud, berdoa , bermunajat hingga menitiskn air mata penyesalan. Jika kalian jauhi dua sifat mazmumah tersebut kalian akan berbahagia di dunia dan akhirat.

Akhirkata ingatlah pesanan Saidina Ali bin Abi Talib k.wj. : "Yang aku sangat khuatirkan atas kamu dua perkara iaitu panjang angan-angan dan menuruti hawa nafsu, kerana panjang angan-angan itu dapat melupakan akhirat , dan menuruti hawa nafsu itu menghalangi daripada kebenaran (hak)."

Wednesday, November 30, 2011

Amalkanlah Tiga Sunah dan Kesukaan Nabi SAW

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Űłْمِ Ű§Ù„Ù„Ù‡ِ Ű§Ù„Ű±َّŰ­ْمنِ Ű§Ù„Ű±َّŰ­ِيْم

Segala puji bagi Allah, Tuhan sekelian alam. Selawat serta salam buat junjungan mulia Nabi Muhammad SAW keluarga serta para sahabat dan pengikut yang istiqamah menuruti baginda hingga ke hari kiamat.

Sahabat yang dirahmati Allah,
Nabi SAW bersabda maksudnya : “Tiga perkara yang disukai oleh ku daripada dunia 1. Wanita yang halal 2. wangian 3. rasa seronok dalam solat.” (Hadis Riwayat Ahmad, Hakim dan Baihaqi- hadis hasan)

Berdasarkah hadis di atas terdapat tiga kesukaan Nabi SAW di dunia ini.

Perkara tersebut adalah seperti berikut :

Pertama : Wanita yang halal (isteri-isteri yang solehah)

Kedua : Wangian.

Ketiga : Rasa seronok dalam  solat.

Huraiannya :

Pertama : Wanita yang halal (isteri-isteri yang solehah)

Kedatangan Islam yang dibawa oleh Rasulullah SAW sebenarnya telah meletakkan darjat yang tinggi kepada kaum wanita. Di zaman jahilaiah wanita dijadikan barang dagangan, bila sudah tidak berguna akan dibuangkan begitu sahaja. Di zaman jahiliah juga apabila seorang wanita melahirkan anak perempuan maka keluarga tersebut akan mendapat aib yang besar dan mereka akan membunuh anak perempuan tersebut. Islam telah meletakkan darjat yang sama di antara wanita dan lelaki dari segi amal soleh, pahala dan takwa, sesiapa yang lebih tinggi takwanya kepada Allah SWT maka dia lebih mulia di sisi Allah SWT  tidak kira  samaada dia seorang lelaki atau  wanita.

Nabi SAW bersabda maksudnya : “Bermula dunia ini ialah kesukaan dan keseronokan dan sebaik-baik kesukaan itu ialah perempuan yang solehah.”(Hadis Riwayat Ahmad dan Muslim)

Dalam hadis yang lain Nabi SAW bersabda maksudnya :

“Mahukah kamu aku beritahu dari hal sebaik-baik barang yang perlu disimpan oleh seorang lelaki?” Iaitu isteri yang solehah. Jika suami melihat kepadanya dia akan gembira , jika suaminya menyuruh sesuatu dia akan taati dan jika suami tiada di rumah dia akan menjaga harta suaminya dan memelihara kehormatan dirinya.” (Hadis Riwayat Ibnu Majah)

Setiap lelaki yang normal memerlukan wanita untuk dijadikan isteri kerana dengan perkahwinan yang sah akan melahirkan cinta dan kasih sayang semata-mata kerana Allah SWT. kerana cinta adalah anugrah Allah SWT. Cinta yang suci adalah warisan syurga yang mana Nabi Adam a.s rasa kesunyian di syurga lalu dijadikan Siti Hawa untuk dijadikan isteri baginda di syurga. Lahirlah cinta dan kasih sayang  sebagai fitrah kurniaan Allah SWT.

Cinta dan kasih sayang baginda kepada wanita solehah yang menjadi isteri-isteri  baginda,  kerana mereka membantu baginda dalam perjuangan menegakkan Islam dimuka bumi ini. Kasihnya baginda kepada mereka kerana kesemua meraka menjadi penenang hati, pendorong semangat, dan memberi nasihat-nasihat yang berguna ketika baginda menghadapi saat getir perjuangan menegakkan agama Allah ini penuh dugaan dan tribulasi.

Bayangkan betapa sedihnya baginda di atas kematian isteri yang pertama lagi tercinta Siti Khadijah  yang banyak membantu dan berkorban dikala masyarakat dan kaum keluarganya  menolak dakwah baginda. Siti Khadijah telah mengorbankan seluruh hartanya semata-mata untuk berjihad dijalan Allah SWT.

Nabi SAW memberi amaran tidak mengaku umatnya kepada lelaki bujang yang tidak suka berkahwin (tidak suka wanita) sedangkan dia berkemampuan. Nabi SAW juga menggalakkan bagi lelaki yang sudah berkahwin untuk berpoligami dengan syarat berkemapuan dan bertanggungjawab kerana baginda berbangga umatnya yang ramai di hari akhirat nanti.

Suka kepada wanita (sebagaimana Nabi SAW menyukainya) perlulah mengikut peraturan Islam dan akhlak Islam iatu perlu menjurus kepada pernikahan yang sah untuk menjadi suami isteri . Perkahwinan adalah sunah Rasulullah SAW yang penting untuk melahirkan zuriat keturunan yang sah kearah pembinaan keluarga Islam, masyarakat Islam dan daulah Islamiah.

Ahli saikologi ada menyatakan, "Cinta yang diucapkan selalu di antara lelaki dan wanita sebelum mereka berkahwin akan mengurangkan cinta tersebut apabila mereka mendirikan rumah tangga." Memang benar kata-kata tersebut kerana sebahagian besar perceraian yang berlaku sekarang ini adalah mereka-mereka yang bercinta berlebihan sebelum berkahwin.

Kedua : Wangi-wangian.

Rasulullah SAW adalah mempunyai tubuh yang bau yang wangi dan segar yang semula jadi. Wangian ini melebihi wangian yang wujud di dunia ini. Anas r.a menceritakan :

Ù…Ű§ ŰŽÙ…Ù…ŰȘ ŰčÙ†ŰšŰ±Ű§ Ù‚Ű· ÙˆÙ„Ű§ Ù…ŰłÙƒŰ§ ÙˆÙ„Ű§ ŰŽÙŠŰŠŰ§ ŰŁŰ·ÙŠŰš من Ű±ÙŠŰ­ Ű±ŰłÙˆÙ„ Ű§Ù„Ù„Ù‡

Maksudnya: “Aku tidak pernah menghidu wangian anbar, kasturi dan apa jua wangian yang lebih wangi dari bau Rasulullah SAW.”
(Hadis Riwayat  Bukhari Muslim)

Walaupun begitu baginda tetap memakai minyak wangi yang dipanggil sukkah (Hadis Riwayat Abu Daud – sanad hasan).

Jika seseorang diberi wangian seperti minyak wangi, bedak dan sebagainya maka disunat dia menerimanya. Nabi SAW diriwayatkan dalam hadis bahawa baginda tidak menolak pemberian minyak wangi (Hadis Riwayat Bukhari).

Nabi SAW bersabda:

من Űč۱۶ Űčليه Ű±ÙŠŰ­Ű§Ù† ÙÙ„Ű§ ÙŠŰ±ŰŻÙ‡

Maksudnya : “Sesiapa yang dipelawa minyak wangi janganlah dia menolak.” (Hadis Riwayat Muslim)

Memakai wang-wangian adalah sunah Rasulullah  SAW terutama ketika solat dan bersama masyarakat ketika menjalankan tugas, kerana Islam tidak suka umatnya berada di dalam keadaan berbau badan atau peluh kerana bauan ini boleh menyakitkan hidung sesiapa yang mendekatinya.

Wangi-wangian ini adalah khusus untuk kaum lelaki bukannya wanita.

Nabi SAW bersabda maksudnya: "Wangian lelaki apa yang jelas baunya dan tersembunyi warnanya dan wangian perempuan apa yang tersembunyi baunya dan nyata warnanya. (Hadis Riwayat Tirmizi dan Ahmad- hasan)

Diluar rumah atau bersama orang yg bukan mahram hendaklah wanita memakai wangian yang baunya untuk diri sendiri dan tidak dihidu oleh orang lain .

Dilarang sama sekali memakai minyak wangi sehingga di hidu oleh lelaki yg bukan mahram.

Nabi SAW bersabda:

ŰŁÙŠÙ…Ű§ Ű„Ù…Ű±ŰŁŰ© ۧ۳ŰȘŰč۷۱ŰȘ ÙÙ…Ű±ŰȘ ŰšÙ‚ÙˆÙ… Ù„ÙŠŰŹŰŻÙˆŰ§ Ű±ÙŠŰ­Ù‡Ű§ فهي ŰČŰ§Ù†ÙŠŰ©

Maksudnya: "Mana-mana wanita yang memakai wangi-wangian dan lalu pada sekumpulan manusia supaya lelaki tadi itu menghidu bau wanginya maka wanita tadi medapat dosa zina." (Hadis Riwayat Tirmizi dan Ahmad- hasan)

Bukanlah wanita itu dilarang sama sekali menggunakan bau-bauan bila dia keluar tetapi yang dilarang adalah yang sehinggu dihidu oleh orang sekilingnya. Janganlah wanita itu meninggalkan bau-bauan sehingga menyebarkan bau yang tidak elok kepada sekitarnya.

Ketiga : Rasa seronok dalam  solat.

Rasulullah SAW  merasakan solat adalah penyejuk matanya, rasa seronok dan tenang sekali kerana dalam solat terbina hubungan hati kita dengan Allah SWT.

Rasulullah menganjurkan umatnya melaksanakan ibadat solat tepat pada waktunya. Baginda SAW pernah ditanya oleh Ibnu Mas’ud: “Apakah amalan yang paling afdal? Jawab Baginda: Menunaikan solat tepat ada waktunya. Kemudian Ibnu Mas’ud bertanya lagi:
Selepas itu, apa pula? Jawab Baginda: Berbuat baik kepada kedua-dua ibu bapa. Akhirnya Rasulullah ditanya lagi: Kemudian, apa lagi? Ujar Baginda: Berjihad pada jalan Allah.” (Hadis riwayat Bukhari)

Antara hikmah solat ialah mendidik umat hidup dengan budaya ‘tepat pada waktunya’ sekali gus menggambarkan pentingnya masa dalam kehidupan seorang muslim. Di samping itu, ibadat solat juga melatih umat hidup secara tertib dan berperaturan.

Fungsi solat juga sebagai penawar ketenangan hati di samping membersihkan jiwa dan raga daripada sebarang kekotoran.

Rasulullah SAW menegaskan bahawa solat adalah penyejuk mata hati baginda. Kesan yang paling besar terhasil daripada pelaksanaan ibadat solat dengan penuh khusyuk dan ikhlas, ia berupaya menghalang seseorang muslim daripada keinginan melakukan kemungkaran, baik tindakan mahupun perkataan.

Allah berfirman yang bermaksud: “Dan dirikanlah solat (dengan tekun), sesungguhnya solat itu mencegah daripada perbuatan yang keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingati Allah adalah lebih besar (faedahnya dan kesannya) dan (ingatlah) Allah Maha Mengetahui akan apa yang kamu kerjakan.” (Surah al-Ankabut, ayat 45)

Firman ini secara jelas menegaskan solat penawar atau jalan penyelesaian ampuh untuk mencegah amalan tidak bermoral dan jenayah yang membarah dalam kehidupan manusia sejagat. Dalam erti kata lain, ibadat solat tonggak mewujudkan keharmonian dan kesejahteraan hidup umat Islam.

Sesaat seorang hamba Allah berdiri tegak menunaikan ibadat solat, dia tidak boleh menoleh ke kanan mahupun kiri melainkan meluruskan pandangan wajahnya ke arah tempat sujud.

Mereka juga terikat dengan ikrar dibaca dalam solat, inilah solatku dan ibadatku, hidupku dan matiku hanya untuk-Mu ya Allah Tuhan sekalian alam.

Ibadat solat jika dilaksanakan dengan sempurna dan ikhlas akan memantulkan ketenangan hati, keimanan mapan dan ketrampilan akhlak yang terpuji.

Nabi SAW sentiasa melaksanakan solat tahajud hingga bengkak-bengkak kaki baginda kerana seronoknya baginda bersolat .

Sungguh Nabi SAW  solat malam hingga kedua tapak kakinya merekah. Dalam satu riwayat Aishah berkata kepada Nabi SAW.: “Mengapa engkau melakukan hal ini wahai Rasulullah, padahal Allah telah mengampuni dosa-dosamu yang telah lalu dan yang akan datang.” Baginda bersabda: “Apakah aku tidak ingin menjadi hamba yang sangat bersyukur?”
(Hadis riwayat Bukhari di dalam Sahih al-Bukhari)

Sekarang kita bandingkan amalan Rasulullah SAW. ini dengan diri kita sendiri yang bergelumang dengan dosa dan amat kurang sekali melakukan ibadah kepada Allah SWT untung nasib belum dipastikan samada syurga atau neraka. Kenapa kita tidak mahu bersungguh-sungguh dalam melaksanakan solat tahajjud ini? Adakah kita menganggap diri kita sebanding atau lebih baik daripada Rasulullah SAW?

Salah satu ciri-ciri orang mukmin adalah dia merasakan cukup seronok apabila masuk waktu solat dan dia akan solat berjemaah di masjid atau disurau sebagaimana seronoknya Nabi SAW terhadap ibadah solat.

Sahabat yang dimuliakan,
Marilah kita mengikut sunah dan kesukaan Nabi SAW dia atas tiga perkara di atas. Kita cinta kepada wanita iaitu isteri kita, kita berikan sepenuh cinta dan kasih sayang, beri nafkah yang cukup dan memberi pendidikan Islam sehingga menjadi isteri solehah , kita suka memakai wangi-wangian yang harum setiap masa dan menjadikan solat itu sebagai amalan harian yang menyeronokkan hati kita samaada solat fardu atau sunat dan kerjakannya hingga merasa khusyuk kepada Allah SWT.






Tafsir Surah Al-Jin Ayat 6

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Űłْمِ Ű§Ù„Ù„Ù‡ِ Ű§Ù„Ű±َّŰ­ْمنِ Ű§Ù„Ű±َّŰ­ِيْم

Segala puji bagi Allah, Tuhan sekelian alam. Selawat serta salam buat junjungan mulia Nabi Muhammad SAW keluarga serta para sahabat dan pengikut yang istiqamah menuruti baginda hingga ke hari kiamat.

Sahabat yang dirahmati Allah,

Firman Allah SWT :
وَŰŁَنَّهُ كَŰ§Ù†َ ۱ِŰŹَŰ§Ù„ٌ مِنَ Ű§Ù„ْŰ„ِنْŰłِ يَŰčُÙˆŰ°ُونَ Űšِ۱ِŰŹَŰ§Ù„ٍ مِنَ Ű§Ù„ْŰŹِنِّ فَŰČَۧۯُوهُمْ ۱َهَقًۧ)
 
Maksudnya : "Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan.(Surah al-Jin (72) ayat 6)

Dalam ayat ini Allah SWT menyatakan pengakuan jin bahawa ramai manusia berlindung   kepada laki-laki jin sehingga menyebabkan jin-jin itu bertambah ganas dan durhaka serta dapat dengan mudah menyeret orang-orang yang berlindung kepada mereka untuk berbuat kejahatan. Maksudnya, ketika orang-orang itu berlindung kepada jin kerana takut kepadanya dan tidak berlindung kepada Allah SWT, maka jin akan menghinakan mereka; dengan segala keberanian dan meningkatkan penganiayaan terhadap mereka.

Tafsir Jalalain Surah Al Jin ayat 6 menyatakan :

"Dan bahawasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan (memohon perlindungan)  kepada beberapa laki-laki di antara jin di dalam perjalanan mereka sewaktu mereka beristirahat di tempat yang menyeramkan, lalu masing-masing orang mengatakan, aku berlindung kepada penunggu tempat ini dari gangguan penunggu lainnya yang jahat (maka jin-jin itu menambah bagi mereka) dengan permintaan perlindungannya kepada jin-jin itu (dosa dan kesalahan) kerana mereka mengatakan, bahawa kami telah dilindungi oleh jin anu dan orang anu."

Asbabun Nuzul Surah al-Jin ayat 6.

Ibnu Saad mengetengahkan sebuah hadis melalui Abu Raja' dari kalangan Bani Tamim yang menceritakan, bahawa sesungguhnya aku menjadi penggembala kambing milik keluargaku dan aku menanggung beban pekerjaan mereka semuanya. Ketika Nabi SAW. telah diutus, kami keluar dari kalangan keluarga kami melarikan diri. Sewaktu kami sampai di suatu padang, sebagaimana biasanya yang dilakukan oleh pemimpin-pemimpin kami, iaitu apabila kami kemalaman, maka pemimpin (syekh) kami mengatakan, "Sesungguhnya kami berlindung kepada penunggu lembah ini dari gangguan jin pada malam ini." Maka kami pun mengatakan hal yang serupa. Lalu ada suara yang ditujukan kepada kami seraya mengatakan, 
 
"Sesungguhnya jalan keluar bagi laki-laki ini ialah mengucapkan kesaksian, iaitu bahawa tiada tuhan selain Allah dan sesungguhnya Muhammad adalah Rasulullah. Kesaksian itu siapa pun yang mengucapkannya, nescaya darah dan harta bendanya selamat." 

Lalu kami kembali, dan langsung masuk Islam. Abu Raja' mengatakan, sesungguhnya aku berpendapat bahawa ayat ini diturunkan berkenaan dengan peristiwa yang dialami oleh aku dan teman-temanku, iaitu firman-Nya, "Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambahkan bagi mereka dosa dan kesalahan..." (Surah al-Jin ayat 6 dan seterusnya) 

Dalam riwayat yang lain Abu Raja' berkata bahawa orang-orang jahiliah sering berdoa; "Kami berlindung kepada jin penguasa lembah ini." Namun salah seorang berkata, bahawa jalan untuk meraih keselamatan, adalah bersaksi bahawa tiada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Rasul-Nya. Siapa yang bersaksi demikian, harta dan keselamatan jiwa orang yang mengucapkannya pasti aman. Kemudian turunlah ayat ini." (Hadis Riwayat Ibnu Saad. Lihat Ibnu Katsir 6/188-189 dari Ibnu Saad dalam ath-Thabaqat 7/139)

Dalam tafsir Fi Zilalil Quran Asy-Syahid Sayyid Qutb rahimahullah berkata :

"Firman Allah SWT maksudnya : "Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan.(Surah al-Jin (72) ayat 6)

Ini merupakan isyarat dari makhluk jin kepada satu kepercayaan yang lumrah dalam masyarakat jahiliah dan masih terus lumrah hingga ke zaman ini di dalam berbagai  masyarakat, iaitu kepercayaan yang menganggap makhluk jin itu mempunyai kuasa di atas alam bumi dan manusia, mempunyai qudrat kuasa mendatangkan manfaat dan mudarat dan menguasai kawasan bumi, laut dan udara dan sebagainya hingga menyebabkan kaum musyrikin memohon perlindungan kepada ketua jin yang menjaga sesuatu wadi dari kejahatan orang-orangnya yang jahat apabila mereka hendak bermalam di padang gurun atau tempat yang sunyi. Setelah itu barulah mereka tidur dengan aman.

Syaitan itu dapat mengongkongi hati manusia kecuali mereka yang di lindungi Allah sahaja terselamat dari kongkongannya. Orang yang bergantung kepada syaitan adalah musuh-Nya, malah syaitan akan menyakiti manusia dan menyusahkannya. Kumpulan jin itu sendiri menceritakan apa yang berlaku."

Sahabat yang dimuliakan,
Banyak hadis-hadis daripada Nabi SAW menyatakan bahawa syaitan dan jin-jin kafir adalah musuh Allah SWT dan musuh orang-orang mukmin yang mana mereka akan menyesatkan manusia dan menjerumuskan kepada syirik dan melakukan dosa besar kepada Allah SWT.

Bomoh-bomoh yang menggunakan syaitan dan jin-jin kafir sebagai khadam adalah merupakan wali syaitan yang ramai menyesatkan umat Islam kepada amalan syirik dan kurafat. Mereka menggunakan sihir, santau dan pemujaan untuk mendatangkan penyakit (dengan izin Allah)  kepada orang beriman dan membuat ramalan-ramalan palsu  untuk memecah belahkan perpaduan umat Islam mengatakan orang tersebut melakukan santau dan sebagainya.

Nabi SAW bersabda maksudnya : “Barangsiapa datang kepada tukang tenung (bomoh), kemudian dia membenarkan perkataannya, maka sembahyangnya tidak diterima oleh Allah selama 40 hari.” (Hadis Riwayat Muslim).


Bomoh yang menggunakan khidmat jin atau syaitan ini selain mengubati mereka yang sakit, ia juga  menawarkan khidmat tanam susuk, serikan wajah, ilmu pengasih, pelaris perniagaan, pendinding diri (menggunakan bahan-bahan yang telah dipuja), mandi bunga, semahan darah ayam hitam atau kambing hitam (baru buka gelanggang silat atau rumah baru) dan berbagai-bagai amalan syirik yang amat dilarang keras oleh Nabi SAW.

Firman Allah yang bermaksud: “Wahai orang beriman! Sesungguhnya arak, judi, penyembahan berhala dan bertilik nasib (menggunakan khidmat bomoh) adalah najis (haram) dan ia daripada perbuatan syaitan.”(Surah al-Maidah, ayat 90)


Sahabat yang dikasihi,
Marilah sama-sama kita beriman dan bertakwa kepada Allah SWT, yakinlah syaitan dan jin-jin kafir adalah musuh kita yang nyata dan jauhkan diri kita daripada mereka dan mintalah perlindungan Allah SWT daripada gangguan, hasutan dan godaan mereka.
 
Firman Allah SWT maksudnya : "Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah kamu ke dalam agama Islam dengan selengkapnya; dan janganlah kamu menurut jejak langkah syaitan; sesungguhnya syaitan itu musuh bagi kamu yang terang nyata. (Surah al-Baqarah (2) ayat 208)
 
Jauhkan diri daripada berjumpa bomoh yang menggunakan khidmat jin atau syaitan, jika kita menghadapi sakit berpunca daripada gangguan makhluk halus maka jumpalah pakar perubatan Islam yang menggunakan ayat-ayat al-Quran dan doa dan jampi-jampi yang diambil daripada amalan Nabi SAW. dan para sahabat. Dengan ini  kita akan dapat menyelamatkan akidah kita daripada di pesongkan oleh para bomoh yang mencari keuntungan dan kepentingan diri.

Amalkanlah zikir al-Mathurat yang di susun oleh al-Imam Syahid Hasan al-Banna yang dihimpunkan daripada beberapa ayat-ayat al-Quran dan doa-doa amalan Nabi SAW waktu pagi dan petang. Amalkanlah waktu lepas subuh dan lepas asar atau magrib supaya lidah dan hati kita hidup dengan zikir dan mengingati Allah SWT dan dapat terhindar daripada gangguan jin dan syaitan.

Selain daripada berzikir banyakkan membaca al-Quran di dalam rumah kita supaya malaikat rahmat akan sentiasa hadir mendengan bacaan al-Quran dan syaitan akan menjauhkan dirinya jika para malaikat sentiasa bersama kita, insya Allah.