Monday, February 14, 2011

Tafsir dan Kelebihan Surah Al-Kafirun

Sahabat yang dirahmati Allah,
Surah ini diturunkan di Makkah mengandungi enam ayat menyatakan dengan jelas tidak ada tolak ansur darisegi akidah dan ibadah dengan orang-orang kafir. Surah ini ditujukan kepada  kaum musyrikin, yang kafir kerana mereka tidak mau menerima seruan dan petunjuk kebenaran yang dibawakan Nabi Muhammmad S.A.W. kepada mereka.

ŰšِŰłْمِ Ű§Ù„Ù„َّهِ Ű§Ù„Ű±َّŰ­ْمَنِ Ű§Ù„Ű±َّŰ­ِيم

قُلْ يَۧ ŰŁَيُّهَۧ Ű§Ù„ْكَŰ§Ùِ۱ُونَ (ÙĄ)Ù„Ű§ ŰŁَŰčْŰšُŰŻُ مَۧ ŰȘَŰčْŰšُŰŻُونَ (Ùą)وَÙ„Ű§ ŰŁَنْŰȘُمْ ŰčَِۧۚŰŻُونَ مَۧ ŰŁَŰčْŰšُŰŻُ (ÙŁ)وَÙ„Ű§ ŰŁَنَۧ ŰčَِۧۚŰŻٌ مَۧ ŰčَŰšَŰŻْŰȘُمْ (Ù€)وَÙ„Ű§ ŰŁَنْŰȘُمْ ŰčَِۧۚŰŻُونَ مَۧ ŰŁَŰčْŰšُŰŻُ (Ù„)لَكُمْ ŰŻِينُكُمْ وَلِيَ ŰŻِينِ (ÙŠ)

1. Katakanlah: “Hai orang-orang kafir!”.

2. aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah.

3. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah.

4. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah.

5. dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah.

6. Untukmulah agamamu, dan untukkulah agamaku.

 (Surah al-Kafirun ayat 1-6)


Asbabun Nuzul surah ini :
Telah diriwayatkan bahwa Walid bin Mugirah, 'As bin Wail As Sahmi, Aswad bin Abdul Muttalib dan Umaiyah bin Khalaf bersama rombongan pembesar-pembesar Quraisy datang menemui Nabi SAW. menyatakan, "Hai Muhammad! Marilah engkau mengikuti agama kami dan kami mengikuti agamamu dan engkau bersama kami dalam semua masalah yang kami hadapi, engkau menyembah Tuhan kami setahun dan kami menyembah Tuhanmu setahun.

Jika agama yang engkau bawa itu benar, maka kami berada bersamamu dan mendapat bagian darinya, dan jika ajaran yang ada pada kami itu benar, maka engkau telah bersekutu pula bersama-sama kami dan engkau akan mendapat bagian pula daripadanya".

Baginda S.A.W.  menjawab, "Aku berlindung kepada Allah dari mempersekutukan-Nya".

Lalu turunlah surah Al Kafirun sebagai jawapan terhadap pelawaan mereka.

Kemudian Nabi SAW pergi ke Masjidilharam menemui orang-orang Quraisy yang sedang berkumpul di sana dan membaca surah Al Kafirun ini, maka mereka berputus asa untuk dapat bekerja sama dengan Nabi SAW. Sejak itu mulailah orang-orang Quraisy meningkatkan permusuhan mereka ke pada Nabi dengan menyakiti baginda dan para sahabatnya, sehingga tiba masanya hijrah ke Madinah.

Dalam ayat-ayat ini Allah memerintahkan Nabi-Nya agar menyatakan kepada orang-orang kafir, bahwa "Tuhan" yang kamu sembah bukanlah "Tuhan" yang aku sembah, kerana kamu menyembah "tuhan" yang memerlukan pembantu dan mempunyai anak atau ia menjelma dalam sesuatu bentuk atau dalam sesuatu rupa atau bentuk-bentuk lain yang kau dakwakan.

Sedang aku menyembah Tuhan yang tidak ada tandingan-Nya dan tidak ada sekutu bagi-Nya; tidak mempunyai anak, tidak mempunyai teman wanita, tidak beranak dan tidak diperanakkan dan tidak menjelma dalam sesuatu tubuh. Akal tidak sanggup menerka bagaimana Dia, tidak ditentukan oleh tempat dan tidak terikat oleh masa, tidak memerlukan perantaraan dan tidak pula memerlukan penghubung.

Maksudnya; perbedaan sangat besar antara "tuhan" yang kamu sembah dengan "Tuhan" yang aku sembah. Kamu menyakiti tuhanmu dengan sifat-sifat yang tidak layak sama sekali bagi Tuhan yang saya sembah.

Sahabat yang dimuliakan,

قُلْ يَۧ ŰŁَيُّهَۧ Ű§Ù„ْكَŰ§Ùِ۱ُونَ (ÙĄ)

1. Katakanlah (Wahai Muhammad): "Hai orang-orang kafir!

"Katakanlah," – olehmu hai utusanKu – kepada orang-orang yang tidak mau percaya itu: "Hai orang-orang kafir!" (ayat 1).

Hai orang-orang yang tidak mau percaya. Menurut Ibnu Jarir panggilan seperti ini disuruh sampaikan Tuhan oleh Nabi-Nya kepada orang-orang kafir itu, yang sejak semula berkeras menantang Rasul dan sudah diketahui dalam ilmu Allah Ta'ala bahwa sampai saat terakhir pun mereka tidaklah akan mahu menerima kebenaran. Mereka menantang, dan Nabi  S.A.W. pun tegas pula dalam sikapnya menantang penyembahan mereka kepada berhala, sehingga timbullah suatu pertandingan siapakah yang lebih kuat semangatnya mempertahankan pendirian masing-masing. Maka pada satu waktu terasalah oleh mereka sakitnya pukulan-pukulan itu, mencela berhala mereka, menyalahkan kepercayaan mereka.

Maka bermuafakatlah pemuka-pemuka Quraisy musyrikin itu hendak menemui Nabi. Mereka bermaksud hendak mencari, "damai". Yang mendatangi Nabi itu menurut riwayat Ibnu Ishaq dari Said bin Mina – ialah al-Walid bin al-Mughirah, al-Ash bin Wail, al-Aswad bin al-Muthalib dan Umaiyah bin Khalaf. Mereka kemukakan suatu usul damai: "Ya Muhammad! Mari kita berdamai. Kami bersedia menyembah apa yang engkau sembah, tetapi engkau pun hendaknya bersedia pula menyembah yang kami sembah, dan di dalam segala urusan di negeri kita ini, engkau turut serta bersama kami. Kalau seruan yang engkau bawa ini memang ada baiknya daripada apa yang ada pada kami, supaya turutlah kami merasakannya dengan engkau. Dan jika pegangan kami ini yang lebih benar daripada apa yang engkau serukan itu maka engkau pun telah bersama merasakannya dengan kami, sama mengambil bahagian padanya." – Inilah usul yang mereka kemukakan. Tidak berapa lama setelah mereka mengemukakan usul ini, turunlah ayat ini;

ÙĄ)Ù„Ű§ ŰŁَŰčْŰšُŰŻُ مَۧ ŰȘَŰčْŰšُŰŻُونَ (Ùą)وَÙ„Ű§ ŰŁَنْŰȘُمْ ŰčَِۧۚŰŻُونَ مَۧ ŰŁَŰčْŰšُŰŻُ (ÙŁ)وَÙ„Ű§ ŰŁَنَۧ ŰčَِۧۚŰŻٌ مَۧ ŰčَŰšَŰŻْŰȘُمْ (Ù€)وَÙ„Ű§ ŰŁَنْŰȘُمْ ŰčَِۧۚŰŻُونَ مَۧ ŰŁَŰčْŰšُŰŻُ(Ù„)لَكُمْ ŰŻِينُكُمْ وَلِيَ ŰŻِينِ

2. aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah.

3. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah.

4. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah.

5. dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah.

6. Untukmulah agamamu, dan untukkulah agamaku.

Menurut tafsiran Ibnu Katsir yang disalinkannya dari Ibnu Taimiyah erti ayat yang kedua:

"Aku tidaklah menyembah apa yang kamu sembah," ialah menafikan perbuatan (nafyul fi'li) ertinya bahawa perbuatan begitu tidaklah pernah aku kerjakan.

"Dan tidak pula kamu menyembah apa yang aku sembah." (ayat 3). ertinya persembahan kita ini sekali-kali tidak dapat  di gabungkan atau di satukan. Kerana yang aku sembah hanya Allah kan kalian menyembah kepada benda; iaitu kayu atau batu yang kamu perbuat sendiri dan kamu besarkan sendiri.

"Dan aku bukanlah penyembah sebagaimana kamu menyembah." (ayat 4).

"Dan kamu bukanlah pula penyembah sebagaimana aku menyembah." (ayat 5).

Maka selain dari yang kita sembah itu berlain; kamu menyembah berhala , aku menyembah Allah Yang Maha Esa, maka cara kita menyembah pun lain pula. Kalau aku menyembah Allah maka aku melakukan solat di dalam syarat rukun yang telah ditentukan. Sedang kamu menyembah berhala itu sangatlah berbeda dengan cara aku menyembah Allah. Oleh sebab itu tidaklah dapat pegangan kita masing-masing ini didamaikan;

"Untuk kamulah agama kamu, dan untuk akulah agamaku." (ayat 6).

Soal akidah, di antara Tauhid Mengesakan Allah, sekali-kali tidaklah dapat dikompromikan atau dicampur-adukkan dengan syirik. Tauhid kalau dicampurkan dengan syirik, ertinya ialah kemenangan syirik. Tauhid itu akan tosak dan tidak boleh diterima.

Syaikh Muhammad Abduh menjelaskan perbedaan ini di dalam tafsirnya; "Dua jumlah kata yang pertama (ayat 2 dan 3) adalah menjelaskan perbedaan yang disembah. Dan isi dua ayat berikutnya (ayat 4 dan 5) ialah menjelaskan perbedaan cara beribadat.

Tegasnya yang disembah lain dan cara menyembah pun lain. Tidak satu dan tidak sama. Yang aku sembah ialah Tuhan Yang Maha Esa, yang bersih daripada segala macam persekutuan dan perkongsian dan mustahil menyatakan diriNya pada diri seseorang atau sesuatu benda.

Allah, yang memberi  kurniaNya kepada siapa jua pun yang tulus ikhlas beribadat kepada-Nya. Dan Maha Kuasa menarik ubun-ubun orang yang menolak kebenaranNya dan menghukum orang yang menyembah kepada yang lain.

Sedang yang kamu sembah bukan itu, bukan Allah, melainkan benda. Aku menyembah Allah sahaja, kamu menyembah sesuatu selain Allah dan kamu persekutukan yang lain itu dengan Allah. Sebab itu maka menurut aku, ibadatmu itu bukan ibadat dan tuhanmu itu pun bukan Tuhan. Untuk kamulah agama kamu, pakailah agama itu sendiri, jangan pula aku diajak menyembah yang bukan Tuhan itu. Dan untuk akulah agamaku, jangan sampai hendak kamu campur-adukkan dengan apa yang kamu sebut agama itu."

Al-Qurthubi meringkaskan tafsir seluruh ayat ini begini:

"Katakanlah olehmu wahai UtusanKu, kepada orang-orang kafir itu, bahwasanya aku tidaklah mahu diajak menyembah berhala-berhala yang kamu sembah dan puja itu, kamu pun rupanya tidaklah mahu menyembah kepada Allah saja sebagaimana yang aku lakukan dan serukan. Malahan kamu persekutukan berhala kamu itu dengan Allah. Maka kalau kamu katakan bahwa kamu pun menyembah Allah jua, perkataanmu itu bohong, kerana kamu adalah musyrik. Sedang Allah itu tidak dapat dipersyarikatkan dengan yang lain. Dan ibadat kita pun berlain. Aku tidak menyembah kepada Tuhanku sebagaimana kamu menyembah berhala. Oleh sebab itu agama kita tidaklah dapat di gabungkan atau dipersatukan.

"Bagi kamu agama kamu, bagiku adalah agamaku pula." Tinggilah dinding yang membatas, dalamlah jurang di antara kita."

Surah ini memberi pedoman yang tegas bagi kita pengikut Nabi Muhammad bahwasanya akidah tidaklah dapat di gabungkan kerana Tauhid dan syirik tak dapat dipertemukan. Kalau yang hak hendak dipersatukan dengan yang batil, maka yang batil jualah yang menang.

Sahabat yang dikasihi,
Dalam hadis-hadis Nabi S.A.W yang lain ada menceritakan fadilat dan amalan baginda yang membaca surah ini semasa solat-solat sunat .

Berkata Ibnu Katsir dalam tafsirnya:

Tersebut dalam Shahih Muslim, diterima dari Jabir bin Abdillah, bahwa Rasulullah S.A.W. membaca Surat al-Kafirun ini bersama Surat Qul Huwallaahu Ahad di dalam sembahyang sunnat dua rakaat sesudah tawaf.

Dalam Shahih Muslim juga, dari Hadis Abu Hurairah, bahwa Rasulullah S.A.W. membaca surah ini dan Qul Huwallaahu Ahad pada sembahyang dua rakaat sunnat Fajar (sebelum solat Subuh).

Demikian juga menurut sebuah hadis yang dirawikan oleh al-Imam Ahmad dari Ibnu Umar, bahwa Nabi S.A.W. membaca kedua surah ini dua rakaat Fajar dan dua rakaat sesudah Maghrib, lebih dari dua puluh kali.

Sebuah hadis diriwayatkan oleh al-Imam Ahmad dari Farwah bin Naufal al-Asyja'iy, bahawa beliau meminta pertunjuk kepada Nabi S.A.W. apa yang baik dibaca sebelum tidur. Maka Nabi S.A.W. menasihatkan supaya setelah beliau mulai berbaring bacalah Qul Yaa Ayyuhal Kaafiruun, sebab dia adalah satu pernyataan diri sendiri bersih dari syirik.

Dan telah kita jelaskan bahwa Qul Yaa Ayyuhal Kaafiruun, sama dengan seperempat dari al-Quran. Surah ini mengandungi larangan menyembah yang selain Allah, mengandungi pokok akidah, dan segala perbuatan hati. Dia selari dengan Qul Huwallaahu (Surah al-Ikhlas)

Marilah sama-sama kita memahami dan hayati tafsir dan maksud yang terdapat dalam surah al-Kafirun ini supaya kita dapat menjaga akidah kita supaya tidak syirik kepada Allah S.W.T. Dalam bab akidah dan tauhid kita langsung tidak boleh berkompromi atau bertolak ansur kerana akidah ini adalah hak Allah S.W.T yang tidak boleh disekutukan dengan perkara-perkara syirik kepada-Nya.

Sunday, February 13, 2011

Salam Maulidur Rasul

Memahami dan Menghayati Sirah dan Perjuangan Rasulullah S.A.W. Adalah Sifat Orang Mukmin.

Sahabat yang dirahmati Allah,
Setiap tahun apabila sampai saja 12 Rabi'ul awal umat Islam diseluruh dunia akan menyambut hari keputeraan Nabi Muhammad S.A.W.

Tidak ada satu pun biografi kehidupan seseorang di dunia ini selengkap biografi Rasulullah SAW.

Kita boleh menyemaknya mulai dari masa pernikahan Abdullah dan Aminah -ayah bunda baginda sampai dengan wafatnya. Kita boleh mengenal jelas waktu kelahirannya, masa kecil dan masa mudanya. Apalagi setelah baginda diangkat sebagai Nabi dan Rasul, dengan terperinci.

Biografi baginda merupakan sejarah lengkap kehidupan seorang manusia yang dimuliakan dengan risalah Allah, yang tidak terlepas dari sisi-sisi kemanusiaannya· Maka sangatlah relevan bila Allah SWT memerintahkan agar individu Muhammad SAW diteladani dan dijadikan rujukan hidup umat manusia.

Firman Allah S.W.T  maksudnya : “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (iaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (Surah al Ahzab ayat 21).

 Di jelaskan dibawah salasilah dan keturunan Rasulullah S.A.W.

1. Nasab keturunan Rasulullah saw
Muhammad bin Abdullah bin Abd al Muttalib (asy-Syaibah) bin Hashim (Amru) bin Abd Manaf (al Mughirah) bin Qusai (Kilab) bin Murrah bin Kaab bin Lui bin Ghalib bin Fihr (Qurais pada beliau dinasabkan qabilah ini) bin Malik bin Nadhar (Qais) bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah (Amir) bin Alias bin Mudhar bin Nizar bin Ma’ad bin Adnan (anak kepada Nabi Ismail as).Nasab ini disepakati semua ahli sirah.

2. Kelahiran Rasulullah saw
Baginda S.A.W. dilahirkan pada hari Isnin 12 Rabi'ul awal tahun gajah bersamaan dengan 20 atau 22 April tahun571 masihi. Disebut tahun gajah kerana Abrahah al Asyram menyerang Mekah dan cuba meruntuhkan Kaabah, tetapi Allah menghancurkan tentera Abrahah dengan mengutuskan burung ababil seperti yang termaktub dalam surah al Fil.

Rasulullah S.A.W. telah dilahirkan di Syi’ab Bani Hashim. Lahir dalam keadaan yatim, bapanya Abdullah meninggal semasa ibunya mengandung dua bulan. Datuknya Abdul Muttalib memeliharanya. Adat resam arab, mereka mencari penyusu dari kawasan pendalaman, Baginda s.a.w diserahkan kepada Bani Saad bin Bakar iaitu Halimah binti Abi Zuaib suaminya al Harith bin Abdul al Qira (Abu Kabhsyah)

3. Peristiwa Pembedahan dadaNabi S.A.W.
Imam Muslim telah meriwayatkan hadis dari Anas ra bahawa Rasulullah telah didatangi Jibril as ketika baginda sedang bermain main dengan anak-anak lain. Jibril memegang baginda dan merebahkannya lalu dibelah dadanya dan dibawa keluar hati dan dikeluarkan segumpal darah dari dalamnya, dengab berkata; inilah bahagian tempat syaitan bersarang, setelah dicucikan hati baginda di dalam sebuah talam emas dengan air Zamzam, setelah itu disembuhkan semula badannya dan dibawa semula Rasulullah ke tempat anak-anak tadi, manakala anak-anak lain berlarian menemui ibunya Halimah menceritakan dengan kata mereka “Muhammad telah dibunuh” Apabila menemuinya semula mereka dapati baginda kepucatan.

4. Ibunya wafat dan dipelihara oleh datuknya
Selepas peristiwa pembedahan dada, Halimah ketakutan lalu segera menyerah Baginda kepada ibunya, ketika itu baginda berumur 5tahun. Baginda di bawah penjagaan ibunya selama setahun.Ibunya wafat semasa kembali dari menziarahi kubur bapanya di Yasrib. Ibunya dikebumikan di Abwa’. Rombongan ziarah disertai oleh baginda, khadamnya Ummu Aiman dan datuknya Abdul Muttalib. Selepas kematian ibunya baginda dipelihara oleh datuknya dengan penuh kasih sayang sehingga datuknya wafat, ketika itu baginda berusia 8 tahun.

5. Di bawah penjagaan bapa saudaranya Abi Talib
Abi Talib telah memikul tanggungjawab menjaga anak saudaranya dengan sebaik-baiknya, malah beliau lebih memberi keutamaan kepada baginda dari anak-anaknya sendiri dengan keistimewaan, penghormatan dan sanjungan dalam tempoh lebih dari 42 tahun. Beliau menyokong, melindungi dan membenarkan baginda bahkan sanggup bergaduh untuk baginda.

Beberapa peristiwa penting sebelum di utus menjadi Rasul :

1. Baginda memelihara kambing.
Baginda pada usia remajanya bekerja sebagai pengembala kambing keluarga Bani Saad dan di Mekah pula mengambil upah dari penduduk Mekah.

2. Bertemu Pendeta Buhaira
Semasa berusia 12 tahun, baginda keluar bersama bapa saudaranya berniaga ke Syam, ketika sampai di Basrah, seorang paderi bernama Jarjis yang dikenali sebagai Buhaira keluar untuk menemui mereka dan memuliakan mereka sebagai tetamu. Semasa bertemu dengan mereka lalu Buhaira memegang tangan baginda dan beliau berkata; inilah penghulu dunia sejagat, inilah orang yang diutuskan Allah sebagai rahmat untuk sekelian alam. Abi Talib bertanya dari mana tuan dapat matlumat ini? Buhaira menjawab tahukan kamu semasa kamu sampai di ‘al Aqabah’ semua batu dan pokok tunduk sujud kepadanya, sujud ini hanya berlaku kepada seorang Nabi sahaja, dan aku kenali pada baginda ‘Khatam al Nubuwwah’ penutup kenabian, ianya terletak di belakang baginda di bawah tulang duyung bentuknya seperti epal, semua sifat-sifat baginda tersebut dalam kitab kami. Seterusnya Buhaira meminta Abi Talib membawa baginda segera pulang ke Mekah dan jangan bawanya ke Syam kerana takut tindakan jahat Yahudi untuk membunuh baginda.

3. Peperangan al Fujjar
Peperangan ini berlaku ketika baginda berumur 14 atau 15 tahun. Berlaku antara gabungan Quraisy dengan Kinanah lawan gabungan Qais bin Ilan dengan Hawazin. Baginda terlibat dalam peperangan ini dengan menolong bapa saudaranya dengan menyediakan dan menghulurkan anak-anak panah kepada bapa saudaranya.

4. Perjanjian al Fudhul
Perjanjian ini telah diadakan pada bulan Zulkaedah. Kaum Quraisy yang terlibat antaranya Bani Hashim, Bani Zuhrah bin Kilab, Bani Tim bin Murrah, Abu Talib, Asad bin Abdul Uzza dan Baginda juga turut serta dalam perjanjian, mereka semua berkumpul di rumah Abdullah bin Jad’aan. Antara isi perjanjian semua bersetuju dan berjanji untuk memihak kepada sesiapa sahaya yang dianiayai, dan bertindak terhadap penganiaya, hingga dapat dikembalikan hak kepada tuannya.Baginda turut memuji perjanjian tersebut dengan sabdanya “Daku telah menyertai satu perjanjian yang dilangsungkan di rumah Abdullah bin al Jad’aan, perjanjian yang menyenangkan hatiku, lebih dari kesenanganku kepada unta-unta gemuk, sekiranya aku dijemput semasa di dalam Islam nescaya daku beri persetujuan segera.”

5. Meniaga harta Khadijah dan berkahwin dengan Khadijah
Setelah perkhabaran tentang kebaikan, kejujuran dan ketinggian akhlak Rasulullah sampai kepada Khadijah, tanpa berlengah beliau mengantar utusan, menawarkan kepada baginda untuk keluar berniaga dengan hartanya ke Syam. Beliau menjanjikan perkongsian yang lebih baik dari apa yang pernah ditawarkan oleh peniaga lain kepada baginda. Rasulullah menerima tawaran Khadijah dan baginda ditemani oleh budak suruhan Khadijah yang bernama Maisarah dalam perniagaan ke Syam.

Selepas Rasulullah kembali dari perniagaan di Syam harta Khadijah semakin bertambah dan berkat serta dijaga oleh Baginda dengan penuh amanah. Laporan yang diterima dari Maisarah tentang budi pekerti yang mulia, perwatakan yang lurus serta kebijaksanaan mengurus perniagaan, lalu Khadijah menyatakan hasratnya untuk berkahwin dengan Baginda kepada teman rapatnya Nafisah binti Manbah. Nafisah berjumpa denganRasulullah menyatakan hasrat Khadijah ingin berkahwin denganya. Baginda bersetuju untuk berkahwin dengan Khadijah. Baginda pun memberitahu bapa-bapa saudaranya persetujuannya untuk berkahwin dengan Khadijah lalu bapa-bapa saudara baginda pergi meminang Khadijah kemudian berlangsunglah perkahwinan antara Baginda dengan Khadijah. Semasa perkahwinan umur Baginda 25 tahun dan Khadijah 40 tahun. Kesemua anak-anak Baginda adalah dari Khadijah r.a kecuali Ibrahim dari Mariah al Qibtiyah. Baginda berkahwin lain hanya selepas Khadiyjah r.a wafat.

6. Pembinaan semula Kaabah dan isu tahkim antara kabilah.
Semasa Baginda berusia 35 tahun telah berlaku banjir yang besar di Mekah, air deras mengalir ke arah Kaabah dan hampir-hampir meruntuhkan seluruh struktur binaan Kaabah. Pihak Quraisy bersetuju membina semula Kaabah dan mereka membahagikan tugas binaan Kaabah mengikut kabilah. Setelah selesai pembinaan semula Kaabah, timbul perbalahan yang hampir membawa kepada peperangan antara kabilah tentang siapa yang sepatutnya meletakkan hajarul aswad pada tempatnya sehinggalah Abu Umaiyah bin al Mughirah memberi cadangan untuk menerima penyelesaian dari orang yang pertama masuk ke dalam masjid melalui pintu besar dialah yang akan menjadi hakim.

Dengan izin Allah, Rasulullah lah orang yang pertama masuk ke dalam masjid melalui pintunya, lalu mereka melaungkan itu pun al Amin, kami semua setuju dengan penyelesaian Muhammad. Baginda membentang sehelai kain dan meletakkan hajarul aswad di atas kain, lalu baginda memanggil ketua-ketua kabilah memegang hujung kain seterusnya meminta mereka mengangkatnya sehingga sampai tempatnya, seterusnya baginda sendiri mengangkat hajarul aswad dan meletaknya di tempat kedudukan asal hajarul aswd. Semua kabilah redha dengan cara penyelesaian Muhammad.

Kehidupan baginda sangat kompleks, menyangkut segala aspek kehidupan, sehingga tidak ada satu sisi pun dari kehidupan manusia yang terlepas dari sisi kehidupan baginda.Nabi S.A.W. adalah seorang suami terbaik dari beberapa orang isteri, seorang ayah terbaik dari beberapa orang anak, seorang datuk terbaik dari beberapa orang cucu, seorang mertua terbaik dari beberapa orang menantu, seorang menantu terbaik dari beberapa orang mertua, seorang pemimpin yang adil, seorang panglima yang cerdas, seorang politikus yang ulung, seorang yang paling berjaya dalam dakwahnya, dan kesemuanya itu dilandasi dengan keagungan akhlak baginda.

Firman Allah S.W.T. maksudnya : “Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (Surah al-Qalam ayat 4)

Biografi baginda juga merupakan petunjuk jelas dan mudah dilaksanakan dalam kehidupan bagi umat manusia dalam menjalankan tugasnya sebagai khalifah dan pelaksana hukum Allah (Al Quran) di muka bumi ini.

Aisyah r.ha. menyimpulkan : “Akhlak Rasulullah adalah Al Qur’an”

 Al Imam Asy-Syafi’i mengatakan, “Apa yang baginda perbuat adalah apa yang baginda fahami dari al Quran.”

Oleh sebab itu, memahami biografi baginda merupakan bahagian yang tidak terpisah dari memahami Islam itu sendiri, kerana ia adalah saksi nyata, saksi hidup dari buah iman dan keyakinan yang mantap terhadap Dinul Islam, yang terjelma pada sosok pemimpin teladan yang agung, juga tercermin dalam kehidupan generasi pertama yang tumbuh hidup ditangan didikan baginda sendiri.

Biografi Rasulullah SAW ini kita kenal sekarang dengan istilah sirah nabawiyah.

 Apabila kita katakan as-sirah, sudah menjadi kesepakatan umat  dimaksud adalah as-sirah an-nabawiyah ertinya sejarah hidup Rasulullah SAW dan perjuangan hidup baginda.

Bersabda Rasulullah SAW: “Tidak beriman seseorang (dengan sempurna) di antara kalian kecuali aku lebih dicintai dari pada dirinya sendiri, orang tua dan seluruh manusia.”

Pada dasarnya pembahasan Sirah Nabawiyah mencakup 3 perkara pokok :

1. Sejarah kehidupan Rasulullah SAW sejak tanda-tanda kenabian (sejak lahir) sampai wafatnya.

2. Sejarah kehidupan para sahabat yang beriman dan berjihad bersama baginda.

3. Sejarah penyebaran Dinul Islam yang dimulai turunnya Al ‘Alaq di gua Hira sampai berduyun-duyun umat manusia di jazirah Arab memasuki Islam.

Sahabat yang dimuliakan,
Al Quran merupakan sumber pokok kajian sirah nabawiyah, kerana al- Quran merupakan data paling tepat untuk catatan semua peristiwa-peristiwa penting yang pernah terjadi di alam ini.

Yang menuturkannya adalah satu-satunya saksi sejarah yang masih hidup dan tidak akan pernah mati, bahkan Allah sendirilah pemprogram semua peristiwa sejarah itu· Tetapi Al Quran sendiri tidak secara terperinci memuat peristiwa-peristiwa sejarah, hanya secara global saja· Oleh  itu kita tidak hanya cukup bersandar pada Al Quran saja dalam kajian sirah nabawiyah ini, tetapi perlu dibantu oleh sumber hadis dan pandangan sahabat-sahabat baginda.

Untuk memahami sunnah yang lebih terperinci terdapat  para ulama hadis dengan cara periwayatan yang sangat cermat, seperti 6 kitab utama dalam ilmu hadis iaitu Sahih Bukhari, Sahih Muslim, Sunan Abu Dawud, Sunan An-Nasa’i, Sunan Ibnu Majah, dan Sunan At-Tirmidzy. Juga Muwaththa’ Imam Malik dan Musnad Imam Ahmad boleh dijadikan sumber kajian sirah.

Sebagai umat Islam yang yakin dengan sunnah Nabi S.A.W. kita boleh merujuk dari kitab-kitab sirah seperti Sirah Ibnu Hisyam karya Abu Muhammad Abdul Malik Ibn Ayyub Al Humairy (213 atau 218 H), dan kitab-kitab sirah yang lain.

Ciri-ciri sirah nabawiyah sangat terkait dengan huraian dalam  al Qur’an dan as-sunnah, kerana ketiganya adalah bersepadu yang tidak terpisahkan.Kerana baginda di utus untuk memberi rahmat kepada sekelian alam dan menjadi contoh ikutan.

Dengan dasar ini maka secara langsung merupakan senjata yang ampuh dan kuat untuk menangkis setiap serangan yang dilancarkan oleh musuh-musuh Islam yang selalu berupaya melontarkan syubuhat (kerancuan-kerancuan) tentang kebenaran risalah dan kenabian Muhammad SAW.

Mereka (Yahudi dan Nasrani) bertujuan supaya kalimat kedua dari dua kalimat syahadat hanya menjadi hanya ucapan dibibir saja. Penjelmaan di hadapan seorang muslim dalam kehidupannya yang jelas dalam kehidupan yang patut dicontoh sebagai penghayatan dari ayat 21 surat Al-Ahzab, sehingga mendapatkan contoh yang nyata dalam pelaksanaan Dinul Islam.

Akan tetapi sayangya, sejarah hidup Rasulullah SAW dan sambutan yang dilaksanakan setiap tahun pada tarikh keputeraan Rasulullah S.A.W. hanyalah  laungan semata-mata tidak ada inisiatif untuk melaksanakan.

Kajian sirah nabawiyah membantu dalam menelaah kitabullah (al Quran), merasakan rohnya dalam memahami pesan-pesannya. Dengan demikian Al Quran mudah difahami dengan benar, baik secara menyeluruh.

Banyak sekali ayat-ayat Al Qur’an yang tidak boleh difahami atau ditafsirkan secara benar kecuali dengan merujuk kepada sirah nabawiyah yang berkaitan dengan ayat-ayat itu.

Sebagai contoh surat al-Anfal. Surat ini hanya boleh difahami dan boleh diambil pengajarannya manakala kita baca sirah nabawiyah tentang perang Badar.

Kajian sirah nabawiyah memberikan manhaj (metod) yang jelas bagi para dai untuk meneruskan perjuangan mulia para Nabi dan Rasul. Juga memberikan gambaran susunan agenda kerja dakwah secara lebih terperinci dan jelas.

Dalam perjalanan dakwah Rasulullah SAW, di kenal dua fasa  dakwah :

Pertama : Fasa Makkiyah (selama baginda berdakwah di Makkah).

1. Penekanan dengan penyampaian dan penyebaran dakwah, baik secara rahasia ataupun secara terang-terangan, dimulai dari keluarga terdekat, sebagai penyelamatan manusia dari kesesatan kepada petunjuk yang terang, mengeluarkan umat manusia dari kegelapan jahiliyah kepada cahaya Islam yang terang benderang.

2. Penekanan dengan mendidik / mentarbiah orang-orang menerima dakwah dan beriman kepada dakwah baginda, mentazkiyah dan menyucikan jiwa mereka, untuk membentuk asas masyarakat Islami dengan jalan: -mengajarkan Dinul Islam -menlaksanakan Islam dalam kehidupan mereka. -memperdalam makna ukhuwah islamiyah di antara mereka -saling berwasiat dengan hak dan kesabaran

3. Berusaha untuk tidak memberikan perlawanan secara fisikal terhadap gangguan dan rintangan dakwah, cukup dengan jihad dakwah. Padahal musuh-musuh Islam menyerangnya dengan berbagai kekuatan fisikal. Bahkan Khabab ibn Al-Arot ra pernah mengadu kepada Rasulullah SAW tentang seksaan yang diderita oleh sahabat yang lain. Sahabat Khabab lalu mengusulkan agar kaum muslimin diizinkan memberikan perlawanan fisikal atau Rasulullah berdoa kepada Allah untuk kehancuran orang-orang kafir. Tapi baginda menganggap tindakan itu sebagai langkah tergesa-gesa dan hendak cepat berjaya.

4. Terus bergerak dengan dakwah, tidak tertumpu pada Makkah saja, hijrahnya beberapa orang ke Habasyah, perginya baginda ke Tha’if, usaha baginda untuk menjalin hubungan dengan jemaah haji yang datang ke Makkah di musim haji merupakan bukti amanah baginda dalam menyampaikan Risalah Islam.

5. Kesinambungan kerja dalam meletakkan strategi dan langkah-langkah untuk masa depan dakwah Islamiyah. Seperti mengadakan perjanjian dan sumpah setia (bai’at) dengan orang-orang Yatsrib; kemudian mengutus Musab bin Umair kepada mereka untuk mengajarkan al- Quran dan Islam; berusaha memiliki perhubungan dengan kabilah-kabilah di luar kota Makkah untuk mencari suaka politik dan tempat berlindung; Dan akhirnya baginda hijrah ke Yathrib/Madinah dengan strategi yang sangat rapi dan matang.

Kedua : Zaman Madaniyah (selama baginda berdakwah di Madinah)

1. Penekanan dalam pemantauan proses penyampaian dakwah, tarbiah dan tazkiah kepada orang-orang yang menerima dakwah dengan cara penyampaian al- Quran, mengajarkannya dan menerapkannya dalam kenyataan hidup mereka. Juga kepentingan pembangunan masjid sebagai tempat pembinaan umat, mempersaudarakan antara orang-orang Ansar dan Muhajirin serta terus mempererat hubungan persaudaraan di antara mereka.

2. Penuh perhatian dengan berdirinya suatu tatanan masyarakat atau tata perlembagaan masyarakat Islami (daulah) setelah ketiga unsurnya sempurna, iaitu: - adanya asas masyarakat yang beriman, hal ini sudah baginda persiapkan sejak diutusnya Musab bin Umair ke Yatsrib sebelum Hijrah. - adanya asas  negara yang aman, di mana kota Yathrib sangat sesuai kalau dilihat dari berbagai aspeknya, di samping sebagai realisasi petunjuk Allah dalam mimpi baginda (mimpi seorang Nabi merupakan wahyu yang benar). - adanya aturan hidup yang jelas, iakni syariat Islam yang terus mengatur perhubungan kemasyarakatan.

3. Penekanan pada melaksanakan syar’at Islam bagi seluruh lapisan masyarakat tanpa pandang bulu, baik untuk perseorangan atau masyarakat secara umunya. Malah baginda menegaskan, puteri baginda tercinta pun tidak akan lepas dari hukum tersebut, apabila ia melanggar.

4. Berusaha mengadakan perdamaian dengan musuh-musuh Islam yang mahu berdamai dan berusaha untuk hidup berdampingan dalam suatu tatanan masyarakat Islami.

5. Menghadapi musuh-musuh Islam yang berusaha menyerang dengan jalan melakukan peperangan, mengadakan latihan ketenteraan serta terus mengadakan  pasukan mujahidin yang siap tempur bila saja baginda arahkan. Sebagai contoh adalah kisah Hanzalah. Beliau tidak sempat mandi junub setelah malam pengantinnya kerana mendadak ada penggilan jihad menuju Uhud. Di dalam perang Uhud sahabat Hanzalah syahid. Malaikatlah yang memandikan beliau sebelum akhirnya dikebumikan oleh kaum muslimin.

6. Merealisasikan Islam sebagai dakwah yang sempurna dan rahmat untuk sekelian alam  dengan cara mengirim utusan-utusan dan surat-surat dakwah ke berbagai daerah atau negara tetangga serta menerima tamu-tamu dari utusan negara lain sebagai bukti bahwa dakwah beaginda untuk seluruh umat manusia.

7. Kajian sirah nabawiyah termasuk aktiviti ilmiah kita yang bernilai ibadah. Ayat 21 surat al-Ahzab secara jelas memerintahkan kita mengikut peribadi  Rasulullah SAW. Tidak mungkin kita boleh mengambil contoh daripada baginda sekiranya kita tida mengenal, mengkaji dan memahami sirahnya. Dalam kaidah syarak sering kita jumpai: “Untuk menyempurnakan suatu yang wajib perlu kepada perkara itu, maka perkara itu menjadi wajib"

8. Dengan mempelajari sirah nabawiyah, umat Islam secara tidak langsung mempunyai panduan yang benar dan jelas dalam diri dan kehidupan baginda. Sahabat-sahabat pula adalah satu generasi al-Quran terbaik yang dihasilkan daripada madrasah dan tarbiah Rasulullah S.A.W.

Sahabat yang dihormati,
Sempena kita menyambut hari keputraan Rasulullah S.A.W. di panggil Maulidur Rasul, maka marilah kita menghayati cara hidup, perjuangan dan pengorbanan baginda S.A.W.  sebagai Rasul utusan Allah S.W.T. dalam kehidupan kita.

Jadikanlah baginda sebagai idola dan ikutan sepanjang zaman kerana dengan kita mengikut sunnah dan perjuangan baginda ini sebenarnya tidak terpisah dengan iman dan ajaran Islam. Cinta kita kepada Rasulullah S.A.W. akan mendapat cinta Allah S.W.T. kerana sesiapa yang mencintai kekasih Allah, dia akan akan mendapat cinta daripada Allah S.W.T.

Cintailah Rasulullah S.A.W.



Dari Usman bin Affan dari Abbas, Rasulullah bersabda, “Aku adalah orang yang paling awal dibangkitkan dari kubur pada hari kiamat yang tiada kebanggaan. Bagiku ada syafaat pada hari kiamat yang tiada kemegahan. Bendera pujian di tanganku dan nabi-nabi keseluruhannya berada di bawah benderaku. Umatku adalah umat yang terbaik. Mereka adalah umat yang pertama dihisab sebelum umat yang lain. Ketika mereka bangkit dari kubur, mereka akan membuang tanah yang ada di atas kepala mereka. Mereka semua akan berkata, ‘Kami bersaksi bahawa tiada Tuhan melainkan Allah dan kami bersaksi bahwa Muhammad itu Rasulullah. Inilah yang telah dijanjikan oleh Allah serta dibenarkan oleh para rasul’.”

Ibnu Abbas berkata, “Orang yang pertama dibangkitkan dari kubur di hari kiamat ialah Muhammad. Malaikat Jibril akan datang kepadanya bersama seekor Buraq. Israfil pula datang dengan membawa bersama bendera dan mahkota. Izrail pula datang dengan membawa bersamanya pakaian-pakaian surga.”

Malaikat Jibril akan menyeru, “Wahai dunia! Di mana kubur Muhammad?” Bumi menjawab, “Sesungguhnya, Tuhanku telah menjadikan aku hancur. Telah hilang segala lingkaran, tanda dan gunung-ganungku. Aku tidak tahu dimana kubur Muhammad.”

Rasulullah bersabda, “Lalu diangkatkan tiang-tiang dari cahaya dari kubur Nabi Muhammad ke awan langit. Maka, empat malaikat berada di atas kubur.” Israfil bersuara, “Wahai roh yang baik! Kembalilah ke tubuh yang baik!” Maka, kubur terbelah dua. Pada seruan yang kedua pula, kubur mula terbongkar. Pada seruan yang ketiga, ketika Rasulullah berdiri, beliau telah membuang tanah di atas kepala dan janggut beliau. Rasulullah melihat kanan dan kiri. Beliau dapati, tiada lagi bangunan. Beliau menangis sehingga mengalir air matanya ke pipi.

Malaikat Jibril berkata kepada Rasulullah, “Bangun wahai Muhammad! Sesungguhnya kamu di sisi Allah di tempat yang luas.” Rasulullah bertanya, “Kekasihku Jibril! Hari apakah ini?” Jibril menjawab, “Wahai Muhammad! Janganlah kamu takut! Inilah hari kiamat. Inilah hari kerugian dan penyesalan. Inilah hari pembentangan Allah.”

Rasulullah berkata, “Kekasihku Jibril! Gembirakanlah aku!” Jibril bertanya, “Apakah yang kamu lihat di hadapanmu?” Rasulullah berkata, “Bukan seperti itu pertanyaanku.” Jibril berkata, “Adakah kamu tidak melihat bendera kepujian yang terpacak di atasmu?” Rasulullah berkata, “Bukan itu maksud pertanyaanku. Aku bertanya kepadamu akan umatku. Di mana perjanjian mereka?” Jibril berkata, “Demi keagungan Tuhanku! Tidak akan terbongkar oleh bumi daripada manusia, sebelummu?” Rasulullah berkata, “Niscaya akan, kuatlah pertolongan pada hari ini. Aku akan mensyafaatkan umatku.” Jibril berkata, “Tungganglah Buraq ini wahai Muhammad dan pergilah ke hadapan Tuhanmu!”

Malaikat Jibril datang bersama Buraq ke arah Rasulullah. Buraq meronta-ronta, lalu Jibril berkata kepadanya, “Wahai Buraq! Adakah kamu tidak malu dengan makhluk yang paling baik dicipta oleh Allah? Sudahkah Allah perintahkan kepadamu agar mentaatinya?” Buraq menjawab, “Aku tahu semua itu. Akan tetapi, aku ingin dia mensyafaatiku agar memasuki surga sebelum dia menunggangku. Sesungguhnya, Allah akan datang pada hari ini dalam keadaan marah. Keadaan yang belum pernah terjadi sebelum ini.” Rasulullah bersabda kepada Buraq, “Ya! Sekiranya kamu berhajatkan syafaatku, niscaya aku memberi syafaat kepadamu.”

Setelah berpuas hati, Buraq membenarkan Rasulullah menunggangnya lalu dia melangkah. Setiap langkahan Buraq sejauh pandangan mata. Apabila Rasulullah berada di Baitul Maqdis di atas bumi dari perak yang putih, malaikat Israfil menyeru, “Wahai tubuh-tubuh yang telah hancur, tulang-tulang yang telah reput, rambut-rambut yang bertaburan dan urat-urat yang terputus-putus! Bangkitlah kamu dari perut burung, dari perut binatang buas, dari dasar laut dan dari perut bumi ke perhimpunan Allah Yang Maha Perkasa.

Roh-roh telah diletakkan di dalam sangkakala. Di dalamnya ada beberapa tingkat dengan bilangan roh makhluk. Setiap roh, akan didudukkan berada di dalam tingkat. Langit di atas bumi akan menurunkan hujan dari lautan kehidupan akan air yang sangat pekat seperti air mani lelaki. Dengan demikian, tersusunlah tulang-tulang, urat-urat memanjang, daging kulit dan bulu akan tumbuh. Sebagian mereka akan kekal ke atas sebagian tubuh tanpa roh.

Allah berfirman, “Wahai Israfil! Tiup sangkakala tersebut dan hidupkan mereka dengan izin-Ku akan penghuni kubur. Sebagian mereka adalah golongan yang gembira dan suka. Sebagian dari mereka adalah golongan yang celaka dan derita.” Malaikat Israfil menjerit, “Wahai roh-roh yang telah hancur! Kembalilah kamu kepada tubuh-tubuhmu. Bangkitlah kamu untuk dikumpulkan di hadapan Allah.”

Allah berfirman, “Demi keagungan dan ketinggian-Ku! Aku kembalikan setiap roh pada tubuh-tubuhnya!” Apabila roh-roh mendengar sumpah Allah, roh-roh pun keluar untuk mencari jasad mereka. Maka, kembalilah roh pada jasadnya. Bumi pula terbongkar dan mengeluarkan jasad-jasad mereka. Apabila semuanya sedia, masing-masing melihat.

Rasulullah duduk di padang pasir Baitul Maqdis, melihat makhluk-makhluk. Mereka berdiri seperti belalang yang berterbangan. 70 umat berdiri. Umat Rasulullah merupakan satu umat. Rasulullah berhenti memperhatikan ke arah mereka. Mereka seperti gelombang lautan. Jibril menyeru, “Wahai sekalian makhluk, datanglah kamu semua ke tempat perhimpunan yang telah disediakan oleh Allah.”

Umat-umat datang di dalam keadaan satu-satu kumpulan. Setiap kali Rasulullah berjumpa satu umat, beliau akan bertanya, “Di mana umatku?” Jibril berkata, “Wahai Muhammad! Umatmu adalah umat yang terakhir.” Apabila nabi Isa datang, Jibril menyeru, “Tempatmu!” Maka nabi Isa dan Jibril menangis.

Rasulullah bertanya, “Mengapa kamu berdua menangis.” Jibril berkata: “Bagaimana keadaan umatmu, Muhammad?” Rasulullah bertanya, “Di mana umatku?” Jibril menjawab, “Mereka semua telah datang. Mereka berjalan lambat dan perlahan.”

Apabila mendengar cerita demikian, Rasulullah menangis lalu bertanya, “Wahai Jibril! Bagaimana keadaan umatku yang berbuat dosa?” Jibril menjawab, “Lihatlah mereka wahai Muhammad!” Apabila Rasulullah melihat mereka, mereka gembira dan mengucapkan selawat kepada beliau dengan apa yang telah Allah muliakannya. Mereka gembira kerana dapat bertemu dengan beliau. Rasulullah juga gembira terhadap mereka. Rasulullah bertemu umatnya yang berdosa. Mereka menangis serta memikul beban di atas belakang mereka sambil menyeru, “Wahai Muhammad!” Air mata mereka mengalir di pipi. Orang-orang zalim memikul kezaliman mereka. Rasulullah berkata, “Wahai umatku.” Mereka berkumpul di sisinya. Umat-umatnya menangis.

Ketika mereka di dalam keadaan demikian, terdengar dari arah Allah seruan yang menyeru, “Di mana Jibril?” Jibril berkata, “Jibril di hadapan Allah.” Allah berfirman di dalam keadaan Dia amat mengetahui sesuatu yang tersembunyi, “Di mana umat Muhammad?” Jibril berkata, “Mereka adalah sebaik umat.” Allah berfirman, “Wahai Jibril! Katakanlah kepada kekasih-Ku Muhammad bahwa umatnya akan datang untuk ditayangkan di hadapan-Ku.”

Malaikat Jibril kembali di dalam keadaan menangis lalu berkata, “Wahai Muhammad! Umatmu telah datang untuk ditayangkan kepada Allah.” Rasulullah berpaling ke arah umatnya lalu berkata, “Sesungguhnya kamu telah dipanggil untuk dihadapkan kepada Allah.”

Orang-orang yang berdosa menangis karena terkejut dan takut akan azab Allah. Rasululah memimpin mereka sebagaimana pengembala memimpin ternakannya menuju di hadapan Allah. Allah berfirman, “Wahai hamba-Ku! Dengarkanlah kamu baik-baik kepada-Ku tuduhan apa-apa yang telah diperdengarkan bagi kamu dan kamu semua melakukan dosa!”

Hamba-hamba Allah terdiam. Allah berfirman, “Hari ini, Kami akan membalas setiap jiwa dengan apa yang telah mereka usahakan. Hari ini, Aku akan memuliakan siapa yang mentaati-Ku. Dan, Aku akan mengazab siapa yang durhaka terhadap-Ku. Wahai Jibril! Pergi ke arah Malik, penjaga neraka! Katakanlah kepadanya, bawakan Jahanam!” Jibril pergi berjumpa Malik, penjaga neraka lalu berkata, “Wahai Malik! Allah telah memerintahkanmu agar membawa Jahanam.” Malik bertanya, “Apakah hari ini?” Jibril menjawab, “Hari ini adalah hari kiamat. Hari yang telah ditetapkan untuk membalas setiap jiwa dengan apa yang telah mereka usahakan.” Malik berkata, “Wahai Jibril! Adakah Allah telah mengumpulkan makhluk?” Jibril menjawab, “Ya!” Malik bertanya, “Di mana Muhammad dan umatnya?” Jibril berkata, “Di hadapan Allah!”

Malik bertanya lagi, “Bagaimana mereka mampu menahan kesabaran terhadap kepanasan nyalaan Jahanam apabila mereka melintasinya sedangkan mereka semua adalah umat yang lemah?” Jibril menjawab, “Aku tidak tahu!” Malik menjerit ke arah neraka dengan sekali jeritan yang menggerunkan. Neraka berdiri di atas tiang-tiangnya. Neraka mempunyai tiang-tiang yang keras, kuat dan panjang. Api dinyalakan sehingga tiada kekal mata seorang dari makhluk melainkan bercucuran air mata mereka (semuanya menangis). Air mata sudah terhenti manakala air mata darah manusia mengambil alih. Anak-anak mulai beruban rambutnya. Ibu-ibu yang memikul anaknya mencampakkan mereka. Manusia kelihatan mabuk padahal mereka sebenarnya tidak mabuk.

Hari kiamat adalah waktu terakhir semua manusia, tidak ada lagi kesempatan untuk bertaubat, padahal Allah Maha Pengampun. Satu-satunya penolong hanyalah syafaat Rasulullah, dan syafaat itu berlaku untuk umat Rasulullah S.A.W yang mengikuti sunnahnya. Oleh karena itu, marilah kita cintai dan ikuti Rasulullah mulai sekarang sebelum datangnya hari kiamat itu, jangan menganggap hari akhir itu masih lama datangnya, tidak usah menunggu tanda-tanda kiamat dahulu untuk bertaubat, karena dosa sebesar apa pun akan diampuni olah Allah mumpung hayat masih di kandung badan. Semoga kita terhindar dari keganasan malaikat Malik dan Neraka Jahannam.

Amin Ya Rabb Al-'Alamin…
 
(Di petik daripada tulisan Nur Muslimah)

10 Ciri Berada Dalam Kebaikan



1. Mendapat ilmu yang memberi manfaat utk DUNIA & AKHIRAT .
2. Diberi kefahaman dalam AGAMA .
3. Kenal & mampu utk mebezakan antara perkara yg HAK & BATIL .
4. Dijodohkan dengan ISTERI yg SOLEHAH @ SUAMI yg SOLEH .
5. Dikurniakan anak-anak yg SOLEH & SOLEHAH .
6. Dimurahkan dgn keberkatan rezeki .
7. Dianugerahkan dgn kesihatan pd tubuh badan & kesejahteraan AKAL FIKIRAN .
8. Dikurniakan UMUR yg panjang dlm berbuat amal kebaikan & kebajikan .
9. Dapat hidup ZUHUD & WARAK terhadap dunia .
10. Terdorong utk BERJUANG & BERJIHAD .

Rasullullah SAW bersabda maksudnya : "Apabila kebaikanmu membuatmu merasa gembira, & keburukanmu membuatmu berasa dukacita, engkau adalah orang mukmin "
( Hadis Riwayat Ad Dhiya daripada Abu Umamah r.a.)

:: gambar sakadar hiasan ::

(Di petik daripada tulisan Nur Jihan Mohd Basir)

Saturday, February 12, 2011

Menyambut Hari Memperingati Kekasih ( Valentine's day) Hukumnya Haram di Sisi Islam

Sahabat yang dirahmati Allah,
Di dalam Islam terdapat perayaan yang disyariatkan oleh Allah S.W.T. iaitu Hari Raya Aidilfitri dan Hari Raya Aidiladha.

Anas bin Malik r.a berkata: Nabi S.A.W.  pernah datang ke Madinah sedangkan penduduknya memiliki dua hari raya. Pada kedua-duanya mereka bermain-main (bergembira) di masa jahiliah. Lalu baginda bersabda: “Sesungguhnya Allah telah menggantikan kedua-duanya bagi kamu semua dengan dua hari yang lebih baik, iaitu hari raya Aidiladha dan Aidilfitri.” 
(Hadis riwayat Nasaai) 

Selepas kurun ke 3 Hijrah, pelbagai hari perayaan telah ditambah ke dalam kalendar umat Islam seperti Maulidur-Rasul, Israk Mikraj, Maal Hijrah, Nuzul al-Quran dan lain-lain lagi.

Namun demikian apa yang mendukacitakan adalah umat Islam pada zaman kini telah mula merayakan hari-hari perayaan yang langsung tidak berkaitan dengan umat Islam malah ianya berasal dari budaya serta agama golongan yang ingkar kepada perintah Allah S.W.T. seperti sambutan Tahun Baru Masehi, Christmas, Deepavali , Thaipusam, Hari Halloween
dan juga Hari Memperingati Kekasih (Valentine's day) yang sedang kita perbincangkan ini.

Terdapat larangan daripada baginda S.A.W. untuk meniru budaya orang bukan Islam dan bagi mereka yang meniru budaya seperti ini ditakuti mereka akan tergolong bersama dalam golongan tersebut. Sabda Nabi S.A.W. maksudnya : "Barangsiapa menyerupai satu kaum, maka dia termasuk golongan mereka." (Hadis riwayat Abu Dawud)

Hadis Nabi S.A.W yang lain bermaksud : "“Sesiapa yang reda dengan kufur maka dia menjadi kufur"

Sahabat yang dimuliakan,
Tarikh 14hb Februari merupakan hari yang dianggap keramat oleh pasangan-pasangan yang sedang berkasih. Hari yang dikenali sebagai Hari Memperingati Kekasih (Valentine's day) dianggap sebagai satu masa untuk mengisytiharkan ketulusan cinta kepada pasangan masing-masing. Maka pada 14hb Februari pasangan-pasangan kekasih ini akan memakai pakaian-pakaian yang terbaik dan sebaiknya hendaklah ia berwarna merah, bertukar-tukar hadiah dan seeloknya adalah bunga ros berwarna merah. Pasangan-pasangan kekasih ini juga akan bercanda di merata-rata tempat sehingga terjadilah adengan-adengan maksiat yang bertentangan dengan syarak demi untuk membuktikan kasih dan sayang mereka yang tidak ternilai harganya.

Setiap tahun juga para ulamak mengingatkan kepada umat Islam agar menghindari menyambut Hari Memperingati Kekasih (Valentine's day)  ini namun ianya tidak di hiraukan oleh golongan remaja dan muda-mudi umat Islam, mereka tetap menyambut dan meraikannya.

Oleh itu untuk menyedarkan umat Islam terutama mereka yang sedang bercinta sebenarnya hari tersebut mempunyai kaitan dengan sejarah agama Kristian, sejarah Rom Kuno dan sejarah mereka bergembira kerana kejatuhan kerajaan Islam Andalusia di Sepanyol . Hari Memperingati Kekasih tidak ada kena-mengena dengan umat Islam malah hukum menyambutnya adalah haram.
Terdapat 3 pendapat kenapa orang Kristian menyambut Hari Memperingati Kekasih (Valentine's Day) :

Pendapat Pertama : Claudius II beranggapan bahawa anggota tentera yang muda dan masih bujang adalah lebih tabah dan kuat ketika berada di medan peperangan berbanding dengan mereka yang telah berkahwin. Justeru itu Cladius II menghalang para pemuda dari berkahwin. Namun demikian St.Valentine menentangnya dengan keras dan beliau telah melakukan upacara pernikahan terhadap para pemuda-pemuda Rom secara sulit. Aktiviti St. Valentine ini akhirnya dapat diketahui oleh Cladius II lalu beliau mengarahkan St. Valentine ditangkap dan dihukum gantung pada 14 Februari 269 M.

Pendapat Kedua : Mengaitkannya dengan pesta sambutan kaum Rom kuno sebelum kedatangan agama Kristian yang dinamakan Lupercalia. Lupercalia merupakan upacara penyucian diri yang berlangsung dari 13hb hingga 18hb Februari.


Pendapat Ketiga :  Ia dirayakan sempena kejatuhan Kerajaan Islam Andalusia di Sepanyol. St. Valentine merupakan individu yang telah memainkan peranan penting dalam usaha menjatuhkan kerajaan Islam pada masa itu. Disebabkan sumbangan beliau itu, St. Valentine dianggap sebagai kekasih rakyat. 14 Februari 1492 merupakan tarikh kejatuhan Islam di Sepanyol dan dianggap pada hari itu hari kasih sayang kerana mereka menganggap Islam adalah agama yang zalim.


Sambutan Hari Memperingati Kekasih (Valentine's day)  ini merupakan satu upacara yang berhubung-kait dengan agama Kristian dan Rom Kuno sebagaimana yang telah penulis paparkan di atas. Justeru itu bagi mereka yang menyambut hari tersebut ditakuti dia tergolong dalam ke dua golongan tersebut sebagaimana yang telah disabdakan oleh Rasulullah s.a.w. di atas. Apabila seseorang itu merayakannya bermaksud untuk mengenang kembali peristiwa kematian St. Valentine dan menyambut peristiwa yang berlaku semasa Rom Kuno jelas akan menjejaskan akidah Islam, maka tidak disangsikan lagi bahawa perbuatan tersebut boleh menyebabkan pelakunya terkeluar dari agama Islam.

Sambutan Hari Memperingati Kekasih juga seolah-oleh kita reda dengan kegembiraan orang Kristian merayakan kemenangan mereka menjatuhkan Kerajaan Islam Andalusia di Sepanyol yang mana sejarah terlah menceritakan ratusan ribu umat Islam disembelih, masjid ditukar menjadi gereja dan hukum-hukum Islam telah ditukar dengan hukum-hukum menurut agama meraka. Adalah sesuatu yang amat memalukan jika kita bersekongkol dengan orang kafir  untuk meraikan hari tersebut. Jika ini berlaku maka kita telah mendedahkan diri kita untuk mendapat kemurkaaan Allah S.W.T kerana terang-terang perayaan tersebut menentang hukum-hukum Allah S.W.T.


Sahabat yang dikasihi,
Apabila dia tidak bermaksud sedemikian dan menyambut Hari Memperingati Kelasih (Valentine's day)  sekadar untuk bersuka-ria maka dia sebenarnya telah melakukan suatu kemungkaran yang besar kerana sambutan hari tersebut menyerupai perbuatan golongan yang durhaka kepada Allah S.W.T.

Tambahan pula sambutan ini turut diikuti dengan perbuatan-perbuatan yang bertentangan dengan syarak seperti pergaulan bebas diantara lelaki dan perempuan, membuang masa dengan berpeleseran ke tempat-tempat yang tak tentu hala malah mencurigakan dan membazir wang dengan memberi hadiah yang mahal-mahal.

Tentang hukum menyambut Hari Memperingati Kekasih (Valentine's day) , Syaikh al-‘Utsaimin berkata: “Maka bila dalam merayakan Hari Valentine tersebut bermaksud untuk mengenangkan kembali St. Valentine, maka tidak diragukan bahawa orang itu telah kafir. Dan jika tidak bermaksud begitu namun sekadar ikut-ikutan kepada orang lain, maka orang itu telah melaksanakan dosa besar.”

Tidak dapat dinafikan pergaulan bebas ketika sambutan hari tersebut  ini membuka pintu perzinaan sedangkan Allah S.W.T. memerintahkan kita untuk menutup segala ruang yang boleh menyebabkan terjadinya perzinaan. Firman-Nya yang bermaksud : "Dan janganlah kamu menghampiri zina, sesungguhnya zina itu adalah satu perbuatan yang keji dan satu jalan yang jahat (yang membawa kerosakan)." ( Surah al-Israa’ ayat 32)

Sebagaimana yang telah dilaporkan dalam akhbar arus perdana, Pengasas Pusat Kebahagiaan Wanita dan Remaja (Kewaja), Yahaya Mohamed Yusof telah menegaskan bahawa kes remaja hamil anak luar nikah meningkat pada akhir Februari dan awal Mac. Beliau berkata: “Sebahagian besar remaja yang ditempatkan di Kewaja mengadu mereka lupa diri ketika menyambut Hari Memperingati Kekasih atau Valentine’s Day. Mereka keluar berpasangan dan berpesta sehingga larut malam, kemudian mengambil pil khayal hingga tidak sedar terlanjur lalu hamil.”


Harus kita ingat bahawa golongan yang memusuhi Islam, akan sentiasa berusaha menanamkan benih-benih kesesatan dalam jiwa umat Islam supaya mereka jauh dari jalan yang lurus lagi diredai Allah S.W.T.. Firman-Nya yang bermaksud : "Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak sekali-kali akan bersetuju atau suka kepadamu (wahai Muhammad) sehingga engkau menurut agama mereka (yang telah terpesong itu). Katakanlah (kepada mereka): "Sesungguhnya petunjuk Allah (agama Islam itulah petunjuk yang benar)". 
(Surah al-Baqarah ayat 120)

Oleh itu mereka mempopularkan sambutan Hari Memperingati Kekasih (Valentine's day)  ini di negara-negara Islam dan menampakkan sambutannya sebagai satu perkara yang begitu romantis serta indah bagi pasangan-pasangan yang ingin membuktikan perasaan cinta mereka. Inilah sebenarnya sikap syaitan yang sentiasa berusaha untuk menyadur perbuatan maksiat agar kelihatan seperti satu perkara yang baik dan diamalkan oleh manusia tanpa rasa berdosa. Firman-Nya yang bermaksud : "Iblis berkata: 'Wahai Tuhanku! Kerana Engkau telah menjadikan daku sesat, (maka) demi sesungguhnya aku akan memperelokkan segala jenis maksiat kepada Adam dan zuriatnya di dunia ini, dan aku akan menyesatkan mereka semuanya kecuali di antara zuriat-zuriat Adam itu hamba-hambaMu yang dibersihkan dari sebarang syirik".(Surah al-Hijr ayat 39-40)

Bersandarkan kepada hujah-hujah di atas maka para ulamak telah merumuskan bahawa sambutan Hari Memperingati Kekasih (Valentine's day)  adalah diharamkan bagi seluruh umat Islam. Jawatankuasa Fatwa Majlis Kebangsaan Bagi Hal Ehwal Agama Islam Malaysia kali ke-71 yang bersidang pada 22 hingga 24 November 2005 memutuskan: “Bahawa amalan merayakan Valentine’s Day tidak pernah dianjurkan oleh Islam. Roh perayaan tersebut mempunyai unsur-unsur Kristian dan amalannya yang bercampur dengan perbuatan maksiat adalah bercanggah dan dilarang oleh Islam. Oleh itu amalan meraikan Hari Memperingati Kekasih tidak digalakkan oleh agama Islam”.

Oleh itu marilah sama-sama kita berkempen kepada semua umat Islam agar meninggalkan amalan songsang ini dan jangan sekali-kali merayakannya kerana dikhuatiri akan menjejaskan akidah kita sebagai umat Islam. Jika kita berdiam diri dan tidak memberi nasihat kepada umat Islam, remaja dan muda mudi kitaakan bahaya perayaan tersebut ditakuti bala yang turun nanti bukan saja menimpa kepada orang yang melakukan maksiat tetapi kita juga akan turut mendapat kesannya. Gunakanlah masa terluang kita untuk menambahkan ilmu yang bermanfaat disurau-surau atau di masjid-masjid supaya kita sentiasa mendapat taufik dan hidayah dan rahmat daripada Allah S.W.T.


Friday, February 11, 2011

Mencari Pasangan Isteri Yang Solehah

Sahabat yang dirahmati Allah,
Setiap makhluk diciptakan Allah berpasang-pasangan. Begitu juga Allah S.W.T.. menciptakan manusia ada lelaki dan wanita. Kedua-duanya saling memerlukan antara satu sama lain.Oleh itu Islam menggalakkan umatnya mengikat tali perkahwinan yang sah supaya akan melahirkan zuriat keturunan. Nabi S.A.W. merasa bangga apabila melihat umatnya ramai di hari akhirat nanti, berbondong-bondong masuk ke syurga. Perkahwinan adalah Sunnah Nabi S.A.W. dan baginda tidak mengaku sebagai umatnya apabila ada di kalangan mereka enggan berkahwin tanpa mempunyai alasan yang dibenarkan oleh syarak.

Persoalannya adalah bagaimana seorang muslim dapat mengenalpasti ciri muslimah sebelum berkahwin, kerana ia diperintahkan untuk menundukkan pandangan (shaddul bashar) terhadap wanita? Seorang yang soleh akan tetap menjaga ketinggian akhlak dan mengelakkan perhubungan yang tidak diizinkan syarak.

Sabda Rasulullah S.A.W. yang bermaksud : “Nikah itu adalah sunnatku, maka barangsiapa yang benci kepada sunnatku, nescaya telah membenci aku.”

Sabda Nabi S.A.W. yang bermaksud : ”Ambillah isteri, kerana beristeri lebih membuka pintu rezeki bagi kamu.”
(Hadis Riwayat Thusiy)

Sabda Nabi S.A.W. yang bermaksud : “Barangsiapa yang mampu untuk berumahtangga, maka hendaklah ia berkahwin kerana yang demikian itu dapat memelihara mata dan menjaga kemaluan. Dan barangsiapa yang tidak mampu maka hendaklah ia berpuasa kerana puasa itu adalah dapat menahan keinginan (hawa nafsu).”

Nabi S.A.W. bersabda maksudnya : “Jika yang datang meminang kepada kamu orang yang kamu percaya tentang agamanya dan amanahnya, maka sebaik-baiknya kamu kawinkanlah saja. Jika tidak, dikawatirkan akan menjadi fitnah di atas muka bumi dan kecelakaan yang besar.”

Sahabat yang dimuliakan,
Terdapat beberapa perkara yang perlu diperhatikan bila memilih jodoh.

1. Mengetahui akhlak dan tingkahlaku muslimah dalam kehidupan harian.

Kehidupan harian yang dilalui setiap individu yang beriman dan beramal soleh digambarkan melaliu ciri-ciri berikut iaitu :

a. Ibadah yang khusyuk.

b. Berpakaian menutup aurat yang sempurna.(menutup seluruh tubuh melainkan muka dan dua tapak tangan).

c. Cara percakapannya tidak dibuat-buat (mengada-ngada).

d. Menjaga pandangannya (tidak melingas matanya memandang, terutamanya melihat pemuda yang bukan mahramnya).

e. Bergaul dengan semua muslimah dengan akhlak yang baik.

Dari Abu hurairah bin Amr bin Ash r.a., Rasulullah S.A.W. telah bersabda maksudnya :
”Dunia ini laksana perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan adalah isteri yang solehah.”

Firman Allah S.W.T. yang bermaksud : “Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji pula. Wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik pula”.
(Surah an-Nur ayat 26)

Sabda Rasulullah S.A.W. yang bermaksud : “Wanita itu dikawini kerana hartanya atau kecantikannya, keturunannya atau agamanya, maka hendaklah kamu memilih yang mempunyai agama yang kukuh, nescaya kamu akan bernasib baik.”

Dari hadis Rasulullah S.A.W.  di atas, ada empat kriteria utama yang perlu dipertimbangkan dalam memilih jodoh, iaitu:

(1) Agama

Hendaklah isteri itu seorang yang solehah dan berpegang teguh kepada agama. Termasuk ke dalam kategori agama adalah baik budi pekertinya, akhlaknya. Inilah sebaik-baik pilihan.

(2) Kecantikan

Manis atau cantik rupanya; ini juga sering dituntut oleh orang kerana dengannya akan terpelihara diri dari mencari yang lain, sebab tabiat manusia biasanya tiada puas dengan isteri yang buruk rupa. Jika disebutkan supaya memilih yang teguh agamanya bukanlah bererti melarang memilih yang cantik rupanya.

(3) Keturunan baik

Hendaklah wanita itu dari golongan keturunan yang baik, maksudnya dari kaum yang terkenal menjaga urusan agamanya dan termasyhur dengan perjalanannya yang lurus. Sebab wanita dari rumahtangga yang seumpama itu akan memelihara dan mendidik anak-anaknya pada jalan yang diredhai oleh Allah dan Rasul-Nya.

(4) Harta

Ada juga yang memilih jodoh kerana calon isteri atau suami mempunyai harta yang banyak. Inipun tidak dilarang. Tetapi sebaik-baik pilihan adalah kerana agama. Janganlah harta menjadi perkara yang paling penting dalam urusan pemilihan calun isteri kerana harta akan habis dan harta juga boleh menyebabkan seseorang lupa pada tanggungjawabnya kepada Allah jika tidak diuruskan dengan baik.

Pertimbangan lain (dari Bimbingan Mukmin, Imam al Gazali )

Imam al Ghazali r.a. dalam bukunya “Bimbingan Mukmin” menuliskan beberapa tambahan kriteria dalam hal memilih jodoh.

• Masih Gadis

Sebaiknya calon isteri itu seorang gadis untuk lelaki yang bujang. Jika lelaki itu sudah berkahwin tidak ada masaalah mengawini janda.

Berkata Rasulullah S.A.W.kepada Jabir yang baru berkahwin dengan seorang janda: “Mengapa tidak berkahwin dengan gadis yang boleh engkau bergurau senda dengannya.”

• Bukan keluarga yang dekat

Hendaklah wanita itu bukan dari kerabat yang dekat, sebab yang demikian itu akan mengurangkan syahwat. Berkahwin dengan kaum kerabat juga tidak meramaikan persaudaraan dengan umat Islam yang lain sedangkan Islam mengalakkan meramaikan hubungan persaudaraan kekeluargaan.

• Ringan maskawin dan hantaran tidak terlalu tinggi.

Rasulullah S.A.W.  memberi cara mudah bagi laki-laki untuk mengetahui akhlak calon isterinya dengan mengetahui besar kecil mas kawin yang dimintanya. Seorang wanita yang kuat agamanya tentu tidak akan membebani calon suaminya dengan mas kawin yang mahal harganya. Tetapi dia akan menunjukkan jalan bagi suaminya jalan yang mudah untuk segera menikah.

Sabda Nabi S.A.W.  yang bermaksud : ”Sebaik baik wanita yaitu yang paling murah permintaan mas kawinnya.”
(Hadis Riwayat Thabrani)

Dalam zaman sekarang ini masaalah yang besar di alami oleh pasangan yang ingin berkahwin adalah kerana kos perkahwinan yang tinggi dan hantaran yang ditetapkan oleh pihak wanita juga tinggi, akibatnya ramai yang membujang dan telah membuka ruang pintu perzinaan kerana hajat mereka untuk berkahwin telah dihalang dengan hantaran yang tinggi. Oleh itu umat Islam perlulah merubah budaya adat yang meletakkan hantaran yang tinggi dan cuba meringankan beban pihak lelaki dengan meletakkan kos hantaran yang paling berpatutan.

Tidak mandul.

Hendaklah ia mengetahui, bahwasanya wanita itu dapat melahirkan anak, kiranya diketahui kemandulannya atau dapat diketahui pihak wanita mengalami ketumbuhan dirahimnya atau menghidapi barah pangkal rahim maka ikut kebiasaannya penyakit tersebut menyebabkan kesukaran untuk mengandung, maka hendaklah ia menahan diri dari berkawin dengannya.

Langkah-langkah menemukan jodoh.

1. Langkah utama adalah berdoa, memohon kepada Allah S.W.T, kerana Dialah yang menciptakan manusia berpasang-pasangan .

Firman Allah S.W.T. maksudnya : "Wahai sekalian manusia! bertaqwalah kepada Tuhan kamu yang telah menjadikan kamu (bermula) dari diri yang satu (Adam), dan yang menjadikan daripada (Adam) itu pasangannya (isterinya - Hawa), dan juga yang membiakkan dari keduanya - zuriat keturunan - lelaki dan perempuan yang ramai. Dan bertaqwalah kepada Allah yang kamu selalu meminta dengan menyebut-nyebut namaNya, serta peliharalah hubungan (silatur-rahim) kaum kerabat kerana sesungguhnya Allah sentiasa memerhati (mengawas) kamu." (Surah an-Nissa ayat 1)

Permohonan kepada Allah S.W.T. dengan meminta jodoh yang diredhai-Nya, merupakan keperluan penting manusia kerana kejayaan manusia mendapatkan jodoh berpengaruh besar dalam kehidupan dunia dan akhirat seseorang.

2. Harus berikhtiar. Ada beberapa cara untuk mendapatkan jodoh, dengan tetap berpegangan kepada syariat Islam:

1- Melalui orang tengah, antara lain :

a- Orang tua.

Seorang muslim atau muslimah dapat meminta orang tuanya untuk mencarikannya jodoh dengan menyebut kriteria yang ia inginkan. Pada masa Nabi s.a.w. baginda dan para sahabat-sahabatnya segera mengawinkan anak perempuan mereka.

b- Guru (pendidik).

Seorang muslim dan muslimah tidak ada salahnya untuk minta tolong kepada gurunya agar dicarikan jodoh yang sesuai dengannya. Ini adalah salah satu upaya dalam mencari jodoh.

c- Sahabat dekat.

Seorang muslim atau muslimah dapat meminta kepada sahabat dekatnya untuk dicarikan jodoh. Sebagai gambaran, kita melihat perjodohan antara Nabi S.A.W. dengan Khadijah r.h.

Dimulakan dengan tertarik dan minat Khadijah r.h kepada pribadi baginda yang pada saat itu menjadi usahawan pada perusahan perniagaan yang dipegang oleh Khadijah r.h. Melalui Nafisah sebagai orang tengah akhirnya Nabi s.a.w.mengawini Khadijah r.h.

Sahabat yang dikasihi,
Terdapat beberapa langkah-langkah yang perlu diambil sebelum perkahwinan

1. Disunnatkan melihat bakal isteri sebelum berkawin,

Sabda Rasulullah S.A.W. maksudnya : “Apabila Allah telah mentakdirkan cinta dalam diri seseorang dari kamu, hendaklah dia melihat kepadanya (wanita) kerana yang demikian itu lebih terjamin untuk mengeratkan perhubungan antara keduanya.”

Dalam hal ini berdua-duaan dilarang dalam ajaran Islam. Bukankah berdua-duaan itu sama saja dengan mendekati zina. Jika masing-masing sudah sesuai maka segera saja melamar dan meneruskan perkahwinan.

2. Pertunangan (Khitbah)

Khithbah adalah meminang (melamar) yaitu permintaan seorang laki-laki kepada anak perempuan orang lain untuk dikahwini, sebagai pendahuluan pernikahan, namun belum berupa aqad nikah. Pertunangan merupakan permintaan dan janji untuk mengadakan perkahwinan.

Dalam melakukan pertunangan ini perlu diperhatikan adab-adabnya, antara lain :

- Tidak boleh (haram) meminang pinangan orang lain.

Umar bin Khattab berkata dalam hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim : Nabi s.a.w. melarang sebagian kamu menawarkan atas penawaran sebagian yang lain, dan tidak boleh seseorang meminang pinangan saudaranya hingga peminang sebelumnya meninggalkannya atau mengizinkannya.

- Peminang (laki-laki) tetaplah orang lain bagi wanitanya (bukan mahram).

Oleh kerana pertunangan ini bukanlah aqad nikah, maka status peminangan masih tetap sebagai orang lain bagi yang dipinang (bukan mahram), dan tidak diperkenankan untuk berkhalwat atau berdua-duaan.

- Dianjurkan menemui dan memberi hadiah.

Pertemuan yang sopan bagi laki-laki yang meminang dan wanita yang dipinang ialah dengan kehadiran mahram wanita, karena hal tersebut akan menambah kemudahan untuk saling mengenal. Dengan pemberian hadiah dari peminang kepada wanita yang dipinang diharapkan akan mempererat lagi tali silaturrahim di antara mereka.

Sahabat yang dikasihi,
Marilah kita melaksanakan cara Islam dalam kita mencari jodoh. Buangkanlah cara-cara barat atau jahiliah yang tidak mementingkan tata susila dan adab-adab Islam. Jauhilah cara-cara atau perbuatan yang boleh membawa kepada menghampiri zina kerana Allah S.W.T melarang hamba-Nya untuk mendekati zina.

Perbutan menghampiri zina (takrabul zina) ini cukup jelas di firmankan oleh Allah S.W.T. di dalam al-Quran surah al-Israk ayat 32 yang bermaksud : "Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan seburuk-buruk jalan."

Nabi S.A.W bersabda maksudnya : “Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari kiamat, maka jangan sekali-kali dia berkhalwat dengan perempuan yang tidak ada bersamanya mahramnya, (kerana) sesungguhnya syaitan adalah orang ketiga bersama kedua mereka itu.”
(Hadis riwayat Ahmad)