skip to main |
skip to sidebar
Soalan Ke Tujuh Puluh Satu : Berdoa adalah senjata orang mukmin, oleh itu bolehkan ustaz jelaskan waktu-waktu mustajab doa supaya doa kita di makbulkan oleh Allah SWT.
Jawapan :
Apabila kita ingin berdoa maka carilah waktu-waktu mustajab doa kerana waktu tersebut paling hampir dengan Allah SWT dan pintu rezeki dari langit terbuka luas.
Terdapat beberapa waktu-waktu mustajabnya doa.
Pertama : Satu pertiga malam
Waktu satu pertiga malam adalah di antara jam 3.30 pagi atau jam 5.00 pagi sehingga ke waktu sebelum Subuh.
Nabi S.A.W bersabda maksudnya: "Allah SWT turun dari Arasy-Nya ke langit yang pertama, (iaitu langit dunia) di sepertiga malam, seraya berfirman kepada para malaikat yang menjaga langit pertama, "Adakah di antara hambaKu yang berdoa? Aku akan perkenankan. Adakah di antara hamba-Ku yang memohon keampunan? Nescaya akan aku ampunkan dosanya". (Hadis Riwayat Muslim)
Kedua : Sewaktu hujan turun,
Ketika hujan turun pintu rezeki dari langit sedang terbuka luas.
Ketiga : Waktu pasukan tentera bertempur.
Keempat : Waktu mendirikan solat.
Sabda Nabi SAW yang bermaksud : "Berdoalah pada waktu mustajab doa iaitu sewaktu pasukan tentera bertempur, waktu mendirikan solat dan ketika hujan turun".(Hadis Riwayat Abu Daud).
Kelima : Waktu di antara dua khutbah khatib pada solat Jumaat.
Nabi SAW bersabda maksudnya : “Sesungguhnya saat yang mustajab (berdoa) itu diantara duduk imam antara dua khutbah hingga selesai sembahyang Jumaat.” (Hadis Riwayat Muslim dan Abu Dawud)
Keenam : Sepanjang hari Jumaat juga terdapat waktu mustajab doa.
Nabi SAW. bersabda yang bermaksud : "Pada hari Jumaat itu, ada satu waktu yang apabila seseorang hamba memohon kepada Allah sesuatu, maka akan diberikan-Nya".(Hadis Riwayat Bukhari).
Ketujuh :.Selepas mengucapkan 'Amin' apabila selesai membaca surah al-Fatihah.
Nabi SAW bersabda yang bermaksud : "Apabila imam mengatakan 'Amin', maka ucapkanlah 'Amin'. Sesiapa yang mengucapkan 'Amin' bersama dengan para malaikat, diampunkan dosa yang telah lalu." (Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim)
Kelapan : Tempoh masa dari azan hingga iqamat, dan juga sewaktu bilal telah iqamat untuk solat, dan sewaktu masuk ke dalam saf.
Sabda Nabi SAW. yang bermaksud : "Tidaklah ditolak doa di antara azan dan iqamah." (Hadis Riwayat Tirmizi).
Kesembilan : Setiap sujud di dalam setiap waktu solat.
Rasulullah SAW. bersabda yang bermaksud : "Tidaklah seorang hamba sujud sekali kepada Allah kecuali Dia akan menulis baginya satu kebaikan dan menghapus satu keburukan daripadanya dan meninggalkan satu darjat. Oleh itu, perbanyakkan sujud." (Hadis Riwayat Ibnu Majah dengan sanat yang sahih).
Sabda Nabi SAW yang bermaksud : "Tidak ada sesuatu perbuatan hamba yang lebih disukai Allah daripada tatkala Allah melihatnya sedang sujud sambil membenamkan wajahnya ke dalam tanah (debu)" (Hadis Riwayat At-Tabrani di dalam Al-Ausat)
Kesepuluh : Waktu Dhuha.
Waktu Dhuha ialah waktu setelah berakhirnya masa tahrim (28 minit selepas waktu syuruk). Solat Duha adalah solat memohon dimurahkan rezeki.
Malahan di antara fadhilat solat Dhuha ialah memurahkan rezeki.
Doa selepas solat dhuha : "Ya Allah, Sesungguhnya waktu dhuha itu dhuhaMu, Kecantikannya kecantikanMu, Keindahannya keindahanMu, Kekuatannya kekuatanMu, Kekuasaannya kekuasaanMu, Perlindungannya perlindunganMu.Ya Allah, Jika rezeki masih dilangit turunkanlah, Jika dibumi keluarkanlah, Jika sukar permudahkanlah, Jika haram sucikanlah, Jika jauh dekatkanlah.Berkat waktu dhuha, KecantikanMu, KeindahanMu, KekuatanMu, KekuasaanMu,Limpahkan kepadaku segala yang telah Engkau limpahkan, kepada hamba-hambaMu yang soleh."
Kesebelas : Selesai solat fardu.
Ditanya kepada Rasulullah SAW., 'Doa manakah yang didengar (Allah)' Sabda baginda, "Doa itu mustajab pada waktu malam dan selesai solat fardu." (Hadis Riwayat Tirmizi).
Kedua belas : Sepanjang perjalanan semasa bermusafir.
Sabda Nabi SAW yang bermaksud : "Tiga bentuk doa yang pasti dimakbulkan Allah, iaitu ; doa orang yang teraniaya, doa orang yang bermusafir dan doa ibu bapa terhadap anaknya." (Hadis Riwayat Abu Daud).
Marilah sama-sama kita perbanyakkan berdoa dan bermunajat kepada Allah SWT tanda kita reda dan bersyukur di atas nikmat dan rahmat yang telah diberikan oleh Allah SWT kepada kita semua. Mereka yang sombong tidak suka berdoa dan mengharap belas kasihan daripada Allah SWT, tetapi seorang mukmin yang bertakwa akan sentiasa lidahnya berzikir dan berdoa mengharap pertolongan , rahmat dan kasih sayang-Nya.
Perempuan dalam konteks laki-laki ada dua macam yaitu wanita mahram yang memiliki hubungan sangat dekat atau perempuan bukan mahram. Wanita bukan mahram ada tiga macam: dewasa, anak kecil dan usia lanjut.
Dalam syariah Islam, berjabat tangan antara lelaki dan perempuan yang bukan mahram hukumnya haram (dilarang). Kecuali apabila wanita bukan mahram tersebut sudah tua. Sedangkan bersalaman atau bersentuhan dengan wanita yang mahram, maka hukumnya harus.
Hukum Jabat Tangan (Bersalaman) :
1. Hukum Jabat Tangan dengan Perempuan Mahram
2. Hukum Jabat Tangan dengan Wanita Bukan Mahram
2.a. Hukum Jabatan Tangan dengan Wanita Tua Anak Kecil Bukan Mahram
2.b. Hukum Jabatan Tangan dengan Wanita Muda Bukan Mahram
3. Pendapat Yusuf Qardhawi seputar Jabat Tangan dengan Wanita
4. Hukum Jabat Tangan dengan Wanita Bukan Muhrim Menurut 4 (Empat) Madzhab
1. HUKUM JABAT TANGAN DENGAN PEREMPUAN MAHRAM
Berjabatan tangan/bersalaman, bersentuhan dengan perempuan yang mahram hukumnya harus. Berdasarkan sebuah hadis riwayat Abu Daud dan Tirmidzi, bahwa Nabi Muhammad pernah mencium putrinya Fatimah dan Fatimah juga pernah mencium Nabi apabila Nabi datang ke rumahnya..
Hadis ini menjadi dalil ulama untuk menetapkan bolehnya berjabatan tangan antara lelaki dengan wanita mahram. Kerana, kalau bersentuhan boleh, maka bersalaman juga boleh kerana jatab tangan menjadi bagian dari bersentuhan.
Hal lain yang boleh dilakukan antara lelaki dan perempuan yang mahram adalah memandang anggota tubuh wanita selain antara pusar dan lutut, di haruskan bermusafir bersama. bersama,
2. HUKUM JABAT TANGAN DENGAN WANITA BUKAN MAHRAM
Wanita yang bukan mahram ada dua macam. Perempuan tua dan perempuan muda. Kedunya memiliki kedudukan hukum yang berbeza dalam berjabatan tangan.
2.a. HUKUM JABAT TANGAN DENGAN WANITA TUA BUKAN MAHRAM
Bersalaman dengan wanita tua hukumnya harus dengan syarat
(a) perempuan itu sudah tidak menarik dan tidak tertarik lawan jenis;
(b) kedua belah pihaktidak terasa syahwat (nafsu). Berjabat tangan dengan anak erempuan kecil hukumnya sama dengan perempuan tua.
Abu Bakar--khalifah pertama--biasa bersalaman dengan perempuan tua.
Namun, menurut madzhab Syafi'i, hukumnya tetap haram. ٍ
2.b. HUKUM JABAT TANGAN DENGAN WANITA MUDA BUKAN MAHRAM
Bersalaman dengan perempuan bukan mahram yang masih muda haram secara mutlak dan disepakati oleh madzhab yang empat (Syafi'i, Maliki, Hanafi, Hanbali).
Menurut madzhab Hanbali:
Haram berjabatan tangan dengan wanita bukan mahram yang masih muda, walaupun memakai kain penghalang (ha'il). Berdasarkan sebuh hadis sahih riwayat Tabrani dan Baihaqi Nabi bersabda: "Memasukkan tangan ke besi yang panas itu lebih baik daripada menyentuh perempuan yang tidak halal (bukan mahram atau isteri)" Bersalaman merupakan bagian dari bersentuhan.
Sebuah hadis dari Aisyah menyatakan bahawa tidak telapak tangan Nabi tidak pernah menyentuh tangan perempuan lain sama sekali. Nabi berkata pada para perempuan apabila hendak membaiat mereka, "Aku akan membaiat kalian dengan kata-kata."
Dalam Sahih Bukhari hadis no. 6674 Aisyah berkata bahwa Nabi tidak pernah menyentuh tangan perempuan selain isterinya.
Menurut Madzhab Syafi'i:
Imam Nawawi berkata: perempuan yang haram dilihat, maka haram disentuh. Boleh memandang perempuan hanya apabila hendak melamarnya. Tapi tetap tidak boleh menyentuhnya.
Nabi SAW tidak pernah menyentuh tangan wanita saat membaiat
Ada hadis riwayat Ummu Athiyah yang terkesan seakan-akan Nabi pernah memegang tangan perempuan saat membaiat mereka. Anggapan itu tidak betul. Hadits riwayat Ummu Athiyah tersebut menceritakan bahwa Nabi mengutus Umat bin Khatab membaiat sekelompok perempuan Anshar. Umar kemudian membaiat mereka dari luar pintu atau luar rumah sedang perempuan itu berada dalam rumah. Di situ tidak disebut secara jelas apakah tangan Umar menyentuh atau tidak. Di samping itu, Ibnu Hajar pensyarah Sahih Bukhari menyatakan bahwa kesaksian Ummu Athiyah tersebut tertolak dengan hadits Aisyah.[Fathul Bari VIII/4888].
Sebagian ulama menafsiri hadis Ummu Athiyah itu dengan sahnya baiat dengan bersalaman yang memakai penghalang.
3. PENDAPAT YUSUF QARDHAWI MENGENAI JABAT TANGAN DENGAN WANITA BUKAN MAHRAM
Dr. Yusuf Qaradawi mempunyai pandangan yang agak berbeza dalam soal jabat tangan dengan perempuan bukan mahram. Menurut Qardhawi, hukum bersalaman dengan perempuan bukan mahram adalah makruh @ tidak haram dengan syarat:
(a) Tidak ada syahwat;
(b) Aman dari atau tidak ada fitnah. Apabila dikuatirkan terjadi fitnah dari salah satu pihak atau bangkitnya syahwat, maka hukumnya haram. Bahkan, bersalaman dengan perempuan mahram pun, kalau membangkitkan syahwat, hukumnya haram. Seperti bersalaman dengan ibu mertua, ibu saudara, isteri ayah, dan lain-lain yang termasuk dari perempuan mahram.
(c) Hendaknya bersalaman dengan singkat.[Yusuf Al Qaradawi, Fatawa Mu'ashirah, hlm. 291-302.]
Yusuf Qardhawi membahas aspek hukum secara mendalam sebelum sampai pada kesimpulan di atas. Termasuk dalam menganalisa dasar-dasar dari Quran dan hadis. .
4. HUKUM JABAT TANGAN DENGAN WANITA BUKAN MAHRAM MENURUT MADZHAB 4 (EMPAT)
Berikut pendapat para ulama 4 (empat) madzhab atau madzahib al-arba'ah mengenai hukum berjatan tangan atau salaman antara laki-laki dan wanita bukan mahram (muhrim)
1. Madzhab Hanafi berdasarkan pendapat Ibnu Najim yang mengatakan bahwa tidak boleh menyentuh wajah dan telapak tangan perempuan walaupun aman dari syahwat kerana adanya keharaman dan tidak adanya darurat (keperluan mendesak) (Al Bahr Ar-Raiq VIII/219).
ÙŰ§Ù Ű§ŰšÙ ÙŰŹÙÙ
:
ÙÙۧ ÙŰŹÙŰČ ÙÙ ŰŁÙ ÙÙ
Űł ÙŰŹÙÙۧ ÙÙۧ ÙÙÙۧ ÙŰ„Ù ŰŁÙ
Ù Ű§ÙŰŽÙÙŰ© ÙÙŰŹÙŰŻ ۧÙÙ
Ű۱Ù
ÙÙۧÙŰčۯۧÙ
ۧÙ۶۱Ù۱۩ .
" ۧÙŰšŰ۱ ۧÙŰ±Ű§ŰŠÙ " ( 8 / 219 )
2. Madzhab Maliki. Muhammad bin Ahmad berkata tidak boleh menyentuh wajah dan telapak tangan peremuan bukan mahram tanpa (kain) penghalang (Minah al-Jalil ala Syarh Mukhtasar Khalil I/223).
ÙŰ§Ù Ù
ŰÙ
ŰŻ ŰšÙ ŰŁŰÙ
ŰŻ ( ŰčÙÙŰŽ ) :
ÙÙۧ ÙŰŹÙŰČ ÙÙŰŁŰŹÙŰšÙ ÙÙ
Űł ÙŰŹÙ Ű§ÙŰŁŰŹÙŰšÙŰ© ÙÙۧ ÙÙÙÙۧ ، ÙÙۧ ÙŰŹÙŰČ ÙÙÙ
ۧ Ù۶Űč ÙÙÙ ŰčÙÙ ÙÙÙۧ ŰšÙۧ ŰŰ§ŰŠÙ ، ÙۧÙŰȘ Űčۧۊێ۩ Ű±Ű¶Ù Ű§ÙÙÙ ŰȘŰčۧÙÙ ŰčÙÙۧ " Ù
ۧ ۚۧÙŰč ۧÙÙŰšÙ Ű”ÙÙ Ű§ÙÙÙ ŰčÙÙÙ ÙŰłÙÙ
ۧÙ
۱ۣ۩ ۚ۔ÙŰŰ© ۧÙÙŰŻ ÙŰ· Ű„ÙÙ
ۧ ÙۧÙŰȘ Ù
ۚۧÙŰčŰȘÙ Ű”ÙÙ Ű§ÙÙÙ ŰčÙÙÙ ÙŰłÙÙ
ۧÙÙ۳ۧۥ ۚۧÙÙÙۧÙ
" ، ÙÙÙ Ű±ÙۧÙŰ© " Ù
ۧ Ù
ŰłŰȘ ÙŰŻÙ ÙŰŻ ۧÙ
۱ۣ۩ ÙŰ„ÙÙ
ۧ ÙŰ§Ù ÙۚۧÙŰčÙÙ ŰšŰ§ÙÙÙۧÙ
" .
3. Madzhab Syafi'i. Menurut Imam Nawawi hukumnya haram berjabat tangan dengan wanita bukan mahram (Al-Majmuk IV/515). Imam Waliuddin Al-Iraqi mengatakan bahawa Nabi tidak pernah menyentuh perempuan yang selain isteri-isterinya baik saat membaiat atau situasi lain. Apabila Nabi yang sudah terpelihara dari berbagai macam keraguan tidak melakukannya, maka yang lain semestinya lebih dari itu (tidak melakukan jabat tangan) (Tarhut Tatsrib VII/45-46).
ÙÙŰ§Ù ÙÙÙ Ű§ÙŰŻÙÙ Ű§ÙŰč۱ۧÙÙ :
ÙÙÙÙ : ŰŁÙÙ ŰčÙÙÙ Ű§ÙŰ”Ùۧ۩ ÙۧÙŰłÙۧÙ
ÙÙ
ŰȘÙ
Űł ÙŰŻÙ ÙŰ· ÙŰŻ ۧÙ
۱ۣ۩ ŰșÙ۱ ŰČÙۏۧŰȘÙ ÙÙ
ۧ Ù
ÙÙŰȘ ÙÙ
ÙÙÙ ، Ùۧ ÙÙ Ù
ۚۧÙŰčŰ© ، ÙÙۧ ÙÙ ŰșÙ۱Ùۧ ، Ùۄ۰ۧ ÙÙ
ÙÙŰčÙ ÙÙ Ű°ÙÙ Ù
Űč ŰčŰ”Ù
ŰȘÙ ÙۧÙŰȘÙۧۥ ۧÙ۱Ùۚ۩ ÙÙ ŰÙÙ : ÙŰșÙŰ±Ù ŰŁÙÙÙ ŰšŰ°ÙÙ ، ÙۧÙ۞ۧÙ۱ ŰŁÙÙ ÙŰ§Ù ÙÙ
ŰȘÙŰč Ù
Ù Ű°ÙÙ ÙŰȘŰ۱ÙÙ
Ù ŰčÙÙÙ ؛ ÙŰ„ÙÙ ÙÙ
ÙُŰčŰŻَّ ŰŹÙۧŰČÙ Ù
Ù ŰźŰ”Ű§ŰŠŰ”Ù ، ÙÙŰŻ ÙŰ§Ù Ű§ÙÙÙÙۧۥ Ù
Ù ŰŁŰ”ŰۧۚÙۧ ÙŰșÙ۱ÙÙ
: Ű„ÙÙ ÙŰ۱Ù
Ù
Űł ۧÙŰŁŰŹÙŰšÙŰ© ÙÙÙ ÙÙ ŰșÙ۱ ŰčÙ۱ŰȘÙۧ ÙۧÙÙŰŹÙ ، ÙŰ„Ù Ű§ŰźŰȘÙÙÙۧ ÙÙ ŰŹÙۧŰČ Ű§ÙÙ۞۱ ŰÙŰ« Ùۧ ŰŽÙÙŰ© ÙÙۧ ŰźÙÙ ÙŰȘÙŰ©، ÙŰȘŰ۱ÙÙ
ۧÙÙ
Űł ŰąÙŰŻ Ù
Ù ŰȘŰ۱ÙÙ
ۧÙÙ۞۱ ، ÙÙ
ŰÙ Ű§ÙŰȘŰ۱ÙÙ
Ù
ۧ ۄ۰ۧ ÙÙ
ŰȘŰŻŰč Ù۰ÙÙ Ű¶Ű±Ù۱۩ ÙŰ„Ù ÙŰ§Ù Ű¶Ű±Ù۱۩ ÙŰȘŰ·ŰšÙŰš ÙÙ۔ۯ ÙŰۏۧÙ
Ű© ÙÙÙŰč ۶۱۳ ÙÙŰÙ ŰčÙÙ ÙÙŰÙÙۧ Ù
Ù
ۧ Ùۧ ÙÙŰŹŰŻ ۧÙ
۱ۣ۩ ŰȘÙŰčÙÙ ŰŹŰ§ŰČ ÙÙŰ±ŰŹÙ Ű§ÙŰŁŰŹÙŰšÙ ÙŰčÙÙ ÙÙ۶۱Ù۱۩ .
4. Mdzhab Hanbali. Hukumnya haram berjabat tangan (Al-Adab Asy-Syar'iyyah II/257).
ÙÙŰ§Ù Ű§ŰšÙ Ù
ÙÙŰ :
ÙŰłŰŠÙ ŰŁŰšÙ Űčۚۯ ۧÙÙÙ – ŰŁÙ Ű§ÙŰ„Ù
ۧÙ
ŰŁŰÙ
ŰŻ – ŰčÙ Ű§ÙŰ±ŰŹÙ Ù۔ۧÙŰ Ű§ÙÙ
۱ۣ۩ ÙŰ§Ù : Ùۧ ÙŰŽŰŻŰŻ ÙÙÙ ŰŹŰŻŰ§ً ، ÙÙŰȘ : ÙÙ۔ۧÙŰÙۧ ۚ۫ÙŰšÙ ؟ ÙŰ§Ù : Ùۧ ...
ÙۧÙŰȘŰ۱ÙÙ
ۧ۟ŰȘÙۧ۱ ۧÙŰŽÙŰź ŰȘÙÙ Ű§ÙŰŻÙÙ ، ÙŰčÙÙ ŰšŰŁÙ Ű§ÙÙ
ÙۧÙ
۳۩ ŰŁŰšÙŰș Ù
Ù Ű§ÙÙ۞۱ )
Rasulullah SAW bersabda yang bermaksud: “Tiga golongan yang Allah tidak akan lihat (bermakna tiada bantuan daripada dikenakan azab) mereka pada hari kiamat: Si penderhaka kepada ibu bapa, si perempuan yang menyerupai lelaki dan si lelaki dayus.” (Hadis Riwayat Ahmad dan Al-Nasaie)
Dayus disebutkan dalam beberapa riwayat athar dan hadis yang lain iaitu daripada Ammar bin Yasir berkata, dia mendengar daripada Rasulullah SAW berkata: “Tiga golongan yang tidak akan memasuki syurga sampai bila-bila iaitu si dayus, si wanita yang menyerupai lelaki dan orang yang ketagih arak.” Lalu sahabat berkata: “Wahai Rasulullah, kami telah faham erti orang yang ketagih arak, tetapi apakah itu dayus?” Berkata Nabi: “Iaitu orang yang tidak mempedulikan siapa yang masuk bertemu dengan ahlinya (isteri dan anak-anaknya).” (Hadis Riwayat Al-Tabrani: Majma az-Zawaid, 4/327)
Daripada hadis di atas, maksud lelaki dayus adalah si suami atau bapa yang langsung tiada perasaan risau dengan siapa isteri dan anaknya bersama dan bertemu. Malah, ada yang membiarkan sahaja isteri dan anak perempuannya dipegang lelaki lain.
Soalan yang sama daripada sahabat mengenai siapakah dayus? Lalu jawab Nabi SAW, maksudnya: “Apakah dayus itu wahai Rasulullah?” Jawab Nabi: “Iaitu seseorang (lelaki) yang membiarkan kejahatan (zina, membuka aurat, bergaul bebas) dilakukan oleh ahlinya (isteri dan keluarganya).” (Hadis Riwayat Al-Tabrani dan Al-Baihaqi).
Tafsiran golongan ulama berkenaan istilah dayus adalah “Seseorang yang tidak ada perasaan cemburu (kerana iman) terhadap ahlinya (isteri dan anak-anaknya).”
Imam Al-‘Aini berkata: “Cemburu lawannya dayus.” Berkata pula Al-Nuhas, “Cemburu (iaitu lawan kepada dayus) adalah seorang lelaki itu melindungi isterinya dan kaum kerabatnya daripada ditemui dan dilihat (auratnya) oleh lelaki bukan mahram."
Disebut dalam kitab Faidhul Qadir, maksudnya: “Seolah-olah takrif dayus itu membawa erti kehinaan (kepada si lelaki) apabila dia melihat kemungkaran (dilakukan) oleh isteri dan ahli keluarganya dia tidak mengubahnya.”
Al-Munawi mencatatkan kata-kata Imam Ibn Qayyim berkenaan dayus: "Sesungguhnya asal dalam agama adalah perlunya rasa ambil berat atau kecemburuan (terhadap ahli keluarga), dan barang siapa yang tiada perasaan ini maka itulah tanda tiada agama dalam dirinya, kerana perasaan cemburu ini menjaga hati dan menjaga anggota sehingga jauh daripada kejahatan dan perkara keji. Tanpanya hati akan mati maka matilah juga sensitiviti anggota (terhadap perkara haram), sehingga menyebabkan tiadanya kekuatan untuk menolak kejahatan dan menghindarkannya sama sekali." (Faidhul Qadir, Al-Munawi, 3/430)
Dayus adalah dosa besar
Ulama Islam juga bersetuju untuk mengkategorikan dayus ini dalam bab dosa besar, sehingga disebutkan dalam satu athar, maksudnya: “Allah telah melaknat lelaki dayus (laknat bermakna ia adalah dosa besar dan kerana itu wajiblah dipisahkan suami itu daripada isterinya dan diharamkan bergaul dengannya)."
Walaupun ia bukanlah satu fatwa yang dipakai secara meluas, tetapi ia cukup untuk menunjukkan betapa tegasnya sebahagian ulama dalam hal kedayusan lelaki. Petikan ini pula menunjukkan lebih dahsyatnya takrif golongan ulama mengenai erti dayus dan istilah yang hampir dengannya, maksudnya: “Al-Qawwad (istilah yang disamakan dengan dayus) di sisi umum ulama adalah ’orang tengah’ kepada zina.”
Imam al-Zahabi berkata, maksudnya: "Dayus, iaitu lelaki yang mengetahui perkara keji dilakukan oleh ahlinya dan dia sekadar senyap dan tiada rasa cemburu (atau ingin bertindak), dan termasuk juga ertinya adalah sesiapa yang meletakkan tangannya kepada seorang wanita yang tidak halal baginya dengan syahwat.” (Al-kabair, 1/45)
Cemburu dituntut Islam
Ada isteri yang menyalahkan suami kerana terlalu cemburu. Sebenarnya, kita perlu fahami bahawa ia adalah tuntutan Islam dan menunjukkan suami yang bertanggungjawab.
Bergembiralah si suami yang memperoleh isteri solehah. Ini kerana, tanpa sebarang campur tangan dan nasihat daripada suami, isteri sudah pandai menjaga aurat, maruah dan dirinya.
Rasulullah SAW bersabda yang bermaksud: "Daripada tanda kebahagiaan anak Adam adalah memperoleh wanita solehah (isteri dan anak).” (Hadis Riwayat Ahmad, no 1445, 1/168)
Jika seorang bapa mengetahui perbuatan ‘ringan-ringan’ anak perempuan atau lelaki mereka dan membiarkannya, maka dia adalah dayus. Ingin saya tegaskan, seorang wanita dan lelaki yang telah ‘ringan-ringan’ atau terlanjur sebelum kahwin dan tanpa taubat yang sebenar-benarnya, sudah pastilah rumah tangga mereka akan goyah.
Kemungkinan besar apabila telah berumah tangga, si suami atau isteri ini akan terjebak juga dengan perbuatan ‘ringan-ringan’ dengan orang lain. Hanya dengan bertaubat nasuha dapat menghalang aktiviti mungkar itu daripada melepasi alam rumah tangga mereka.
Jika hal ini dibiarkan, ia akan merebak pula kepada anak mereka, seterusnya kepada zuriat mereka. Awas! Dalam hal ini, semua suami dan bapa perlu bertindak bagi mengelakkan diri mereka daripada dianggap sebagai dayus. Jagalah zuriat anda. Suami juga patut sekali sekala menyemak telefon bimbit dan beg isteri untuk memastikan tiada yang diragui.
Mungkin ada isteri yang curang ini dapat menyembunyikan dosanya, tetapi sepandai-pandai tupai melompat akhirnya akan tertangkap jua. Cemburu seorang suami dan ayah adalah wajib bagi mereka, demi menjaga maruah dan kehormatan isteri serta anaknya.
Diriwayatkan bagaimana satu peristiwa pada zaman Nabi Muhammad SAW, maksudnya: "Berkata Ubadah bin Somit r.a: Jika aku nampak ada lelaki yang sibuk bersama isteri ku, nescaya akan ku pukulnya dengan pedang ku, maka disampaikan kepada Nabi akan kata-kata Sa’ad tadi, lalu Nabi memberi jawapan: “Adakah kamu kagum dengan sifat cemburu (untuk agama) yang dipunyai oleh Sa’ad?
Demi Allah, aku lebih kuat cemburu (ambil endah dan benci demi agama) berbandingnya, malah Allah lebih cemburu daripada ku, kerana kecemburuan Allah itulah maka diharamkan setiap perkara keji yang ternyata dan tersembunyi.” (Hadis Riwayat Al-Bukhari dan Muslim).
Lihat betapa Allah SWT dan Rasul-Nya menginginkan golongan suami dan ayah mempunyai sifat pelindung kepada ahli keluarga daripada melakukan sebarang perkara keji dan mungkar.
Lelaki menjadi dayus apabila:
1. Membiarkan kecantikan aurat dan bentuk tubuh isterinya dinikmati oleh lelaki lain selama mereka bekerja atau di luar rumah.
2. Membiarkan isterinya pulang lewat, serta tidak diketahui bersama siapa, serta apa yang dibuatnya ketika dia bekerja.
3. Membiarkan aurat isteri dan anak perempuan dewasanya terdedah (terselak kain) ketika menaiki apa jua kenderaan.
4. Membiarkan anak perempuan berdua-duaan dengan lelaki yang bukan mahramnya.
5. Membiarkan anak perempuan berdua-duaan dengan pasangan yang bukan mahramnya di rumah. Kononnya, ibu bapa mereka sporting dan memahami.
6. Menyuruh, mengarahkan dan berbangga dengan anak perempuan dan isteri memakai pakaian yang menjolok mata di luar rumah.
7. Membiarkan anak perempuan menyertai akademi hiburan yang boleh mempamerkan kecantikan mereka kepada jutaan manusia bukan mahram.
8. Membiarkan isteri atau anaknya menjadi pelakon dan membiarkan mereka berpelukan dengan lelaki lain. Kononnya atas dasar seni dan lakonan semata-mata. Adakah semasa berlakon, nafsu seorang lelaki itu akan hilang? Tidak sekali-sekali!
9. Membiarkan isteri bekerja dan keluar rumah tanpa menutup aurat dengan sempurna.
Rasulullah SAW bersabda “Sesiapa yang mati dibunuh kerana mempertahan kan ahli keluarganya, maka ia adalah mati syahid.” (Hadis Riwayat Ahmad)
Soalan Ke Tujuh Puluh : Bolehkah ustaz jelaskan adab-adab bercakap supaya seseorang muslim itu boleh mengelakkan diri daripada mendapat dosa kerana percakapannya. Dalam hadis nabi ada menjelaskan bahawa salah satu yang banyak memasukkan manusia ke dalam neraka adalah kerana lidahnya (percakapannya) yang tidak dapat di kawal.
Jawapan :
Adab Bercakap Dalam Islam
1- Semua perkataan mestilah membawa kebaikan.
Nabi SAW bersabda maksudnya, "Sesiapa yang beriman kpd Allah dan hari akhirat, maka hendaklah berkata baik atau lebih baik dia diam" (HR Bukhari dan Muslim)
2- Bercakap mestilah jelas dan benar.
Aisyah berkata: "Bahawasanya Rasulullah SAW itu selalu jelas sehingga difahami oleh semua yang mendengarnya." (HR Abu Daud)
3- Seimbang dan menjauhi sikap berdolak-dalih.
Sabda Nabi SAW maksudnya, "Sesungguhnya orang yang paling aku benci dan paling jauh dariku di hari kiamat ialah orang yang banyak bercakap dan bersikap sombong dan bercakap." (HR Tirmizi-hadis Hassan)
4- Menghindari banyak bercakap, kerana ditakuti membosankan orang yang mendengarnya.
Hadis riwayat Wail : Adalah Ibnu Masud sentiasa mengajar kami setiap Khamis, maka berkata seorang lelaki, Wahai Abu Abdul Rahman (gelaran kepada Ibnu Masud) kamu mahu mengajar kami pada setiap hari? Ibnu Masud menjawab: Sesungguhnya tiada yang dapat menghalangku memenuhi keinginanmu, hanya aku khuatir membosankan kalian, kerana aku pernah meminta yang demikian daripada Rasulullah SAW dan baginda menjawab: aku khuatir membosankan kamu. " (HR Muttafaq alaih)
5- Menghindari daripada menyatakan yang batil.
Sabda Rasulullah SAW yang bermaksud, "Sesungguhnya seorang hamba mengucapkan satu kata yang diredahai Allah yang ia tidak mengira yang akan mendapatkan sedemikian sehingga dicatat oleh Allah keredaanNya bagi orang tersebut hingga hari kiamat. Dan lelaki mengucapkan satu kata yang dikurkai Allah yg tidak dikiranya akan demikian, maka Allah akan mencatat yang demikian hingga kiamat." (HR Tirmizi, katanya hadis hassan sahih. Juga riwayat Ibnu Majah)
6- Mengulangi kata-kata yang penting, jika diperlukan.
Anas berkata apabila Nabi SAW bercakap, maka baginda akan mengulanginya sampai 3 kali sehingga semua yang mendengar menjadi faham dan apabila baginda mendatangi rumah seseorang maka baginda akan mengucap salam 3 kali." (HR Bukhari)
7- Menjauhi perdebatan sengit.
Sabda Rasulullah SAW maksudnya, "Tidak sesat sesuatu kaum setelah mendapat hidayah, melainkan kerana terlalu banyak berdebat." (HR Ahmad dan Tamizi)
8- Menjauhi kata keji, mencela dan melaknat.
Sabda Rasulullah SAW maksudnya, "Bukanlah seorang mukmin jika ia suka mencela, melaknat dan berkata-kat keji. " (HR Tarmizi dan Sanadnya Sahih)
9- Menghindari banyak kelakar.
Sabda Rasulullah SAW maksudnya, "Sesungguhnya seburuk-buruk orang di sisi Allah di hari akhirat ialah orang yang suka membuat manusia lain ketawa." (HR Bukhari)
10- Menghina atau aibkan orang lain.
Sabda Rasulullah SAW yang bermaksud, "Jika seseorang menceritakan satu hal padamu lalu ia pergi, maka ceritanya itu menjadi amanah bagimu untuk menjaganya." (HR Abu Daud dan Tarmizi)
11- Menghindari dusta.
Sabda Rasulullah SAW maksudnya, "Tanda-tanda munafik ada 3: Jika bercakap, ia berdusta, jika ia berjanji ia mungkiri dan jika ia diberi amanah, ia khianat." (HR Bukhari)
12- Menghindari ghibah (umpat mengumpat) dan adu domba.
Sabda Rasulullah SAW maksudnya, "Janganlah kamu saling mendengki, dan janganlah kamu saling benci dan janganlah kamu saling berkata-kata keji dan janganlah kamu saling berpaling muka dan janganlah kamu saling umpat mengumpat (ghibah) dengan yang lain dan jadilah hamba Allah yang bersaudara." (HR Muttafaq Alaih)
Ayat-ayat al-Quran menjelaskan perintah Allah SWT supaya menjaga percakapan.
Kita dikurniakan mulut untuk berkata-kata. Namun bagi setiap perkataan yang diperkatakan pasti ada kesannya kepada orang lain dan kepada diri kita sendiri. Oleh itu, kita haruslah berhati-hati dengan percakapan kita. Allah S.W.T berfirman dalam Surah Qaaf, ayat17-18 :-
Firman Allah SWT maksudnya, "Semasa dua malaikat (yang mengawal dan menjaganya) menerima dan menulis segala perkataan dan perbuatannya; yang satu duduk di sebelah kanannya, dan yang satu lagi di sebelah kirinya. Tidak ada sebarang perkataan yang dilafazkannya (atau perbuatan yang dilakukannya) melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang sentiasa sedia (menerima dan menulisnya). (Surah Qaaf ayat 17-18)
Soalan Ke Enam Puluh Sembilan : Biasanya orang bersedekah dengan wang ringgit atau harta. Bolehkan ustaz jelaskan apakah jenis-jenis sedekah yang boleh di lakukan oleh seseorang selain daripada memberikan wang ringgit kerana orang miskin yang tak ada harta boleh juga mendapat pahala sedekah.?
Jawapan :
Kita digalakkan memberi sedekah dengan harta atau wang ringgit untuk membantu fakir miskin, anak-anak yatim, ibu tunggal yang dhaif, golongan oku, pembinaan masjid atau surau, bantuan pelajaran untuk pelajar-pelajar yang kurang berkemampuan, pembinaan sekolah-sekolah agama, tahfiz dan madrasah dan untuk pembiayaan majlis-majlis ilmu dan pengajian al-Qur'an.
Walau bagaimana pun bagi golongan yang tidak berkemampuan dan tidak berharta, mereka masih boleh bersedekah melalui hati (niat), lisan dan perbuatan.
Rasulullah SAW. ada menyatakan dalam hadis-hadisnya bahawa sedekah itu boleh di bahagikan kepada tiga jenis iaitu sedekah dengan hati, lisan dan perbuatan.
Pertama sedekah dengan hati :
Niat yang ikhlas dalam apa jua pekerjaan.
Sabda Nabi SAW. yang bermaksud, "Seorang hamba yang dikurniakan Allah ilmu dan niat yang ikhlas, ia berkata, 'Seandainya aku memiliki harta, nescaya aku akan beramal sebagaimana yang diperbuat oleh si polan (golongan yang diberikah harta dan ilmu).' Dengan niatnya tersebut, maka pahala kedua-dua hamba ini sama."
(Hadis Riwayat Tirmizi).
Nabi SAW bersabda: ” Seorang hamba dihadapkan pada hari kiamat membawa hasanah sebesar bukit, lalu ada seruan;' Siapa yang pernah di aniaya oleh fulan boleh datang untuk dibayar'. Maka datanglah beberapa orang lalu mengambil bahagiannya sehingga tiada tinggal satu pun dari hasanah yang banyak itu, sehingga hamba itu menjadi bingung, lalu Tuhan berkata kepadanya: 'Untuk mu ada simpanan pada Ku yang tidak Aku perlihatkan kepada malaikat atau seorang pun dari makhluk Ku,' lalu ia bertanya:' Apakah itu'. Jawab Tuhan: Ia itu niatmu, yang kau selalu niat akan berbuat kebaikan, Aku tulis untuk mu berlipat ganda, tujuh puluh lipat ganda.' "
Daripada Umar ibn al-Katthab r.a. beliau berkata: Aku mendengar Rasulullah SAW.bersabda maksudnya : "Bahawa sesungguhnya setiap amalan itu bergantung kepada niat, dan bahawa sesungguhnya bagi setiap orang apa yang dia niatkan.."
(Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim)
Hadis diatas menjelaskan keazaman seseorang yang ingin bersedekah sekiranya ditakdirkan memiliki harta seperti orang kaya tersebut.maka pahalanya adalah sama walau pun dia tak mampu lagi melaksanakan niat-niatnya yang baik itu.
Kedua sedekah dengan lisan :
Berzikir seperti tasbih, tahmid, tahlil dan takbir.
Sabda Nabi SAW. yang bermaksud, "Setiap tasbih adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, setiap tahlil adalah sedekah dan setiap takbir adalah sedekah..."
(Hadis Riwayat Muslim)
Sabda Nabi SAW. lagi yang bermaksud, "Perkataan yang baik adalah sedekah."
(Hadis Riwayat Bukhari)
Antara ucapan yang baik yang dianggap sebagai sedekah adalah memberi salam, mengajak manusia ke arah kebaikan dan mencegah dari kemungkaran, berlemah lembut sewaktu bercakap dan tidak menguris hati orang lain.
Ketiga sedekah dengan perbuatan :
1. Senyuman, adalah sedekah.
(ŰȘَŰšَŰłُّÙ
ُÙَ ÙِÙ ÙَŰŹْÙِ ŰŁَŰźِÙÙَ Ű”َŰŻَÙَŰ©ٌ (۱ÙŰ§Ù Ű§ÙŰȘ۱Ù
۰Ù
Nabi SAW bersabda maksudnya, “Senyum manismu dihadapan saudaramu adalah shadaqah” (HR. Tirmidzi)
2. Daripada Abu Dzar r.a., Rasulullah SAW bersabda: “Hendaklah masing-masing di antara kamu setiap pagi bersedekah untuk setiap ruas tulang badanmu. Maka tiap kali bacaan tasbih adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, setiap tahlil adalah sedekah, dan setiap takbir adalah sedekah. Menyuruh kebaikan adalah sedekah, mencegah keburukan juga adalah sedekah. Dan sebagai ganti daripada itu semua, cukuplah mengamalkan dua rakaat solat Dhuha.” (Hadis Riwayat Ahmad, Muslim dan Abu Daud)
3. Membuang atau mengalihkan sesuatu yang menghalangi jalan.Rasulullah SAW bersabda “Seseorang lelaki menemui ranting yang berduri di tengah jalan (yang dilaluinya), lalu ia berkata (kepada dirinya sendiri), “Demi Allah, aku benar-benar akan menjauhkan (membuang) duri ini agar tidak mengganggu orang-orang muslim”, kerana itu dia dimasukkan ke syurga.(Hadis Riwayat Muslim)
Membuang duri atau benda yang menyakitkan (seperti kaca, paku) dijalanan adalah satu sedekah.
Daripada Ibnu Abbas, Nabi bersabda “…..dan membuang bahaya di atas jalan adalah sedekah“
4. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu,ia mengatakan, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, ”Setiap persendian manusia ada sedekahnya setiap hari di mana matahari terbit di dalamnya, kamu mendamaikan di antara dua orang adalah sedekah,kamu membantu seseorang untuk menaikkannya di atas kendaraannya atau mengangkatkan barangnya di atasnya adalah sedekah, kalimat yang baik adalah sedekah, pada tiap-tiap langkah yang kamu tempuh menuju solat adalah sedekah, dan kamu membuang gangguan dari jalan adalah sedekah.”(HR.al-Bukhari ,no.2989 dan Muslim, no 1009)
5. Menunjukkan jalan kepada orang yang sesat serta membantu orang buta.
6. Memberi minum kepada sesama makhluk tidak kira samaada manusia atau binatang.
7. Memberi pinjaman wang atau menangguhkan bayaran balik pinjaman sekiranya orang yang meminjam tidak mampu membayar dalam tempoh yang sepatutnya dilangsaikan hutang tersebut.
8. Mengajarkan ilmu.
9. Menanam apa jua pokok atau tanaman, kemudian dimakan oleh makhluk Allah..
Oleh itu janganlah bertangguh-tangguh untuk bersedekah, walau pun dengan sumbangan seringgit, dengan niat yang baik, dengan kata-kata yang baik dan senyuman kerana sesungguhnya syaitan akan menghalang anak Adam dari melaksanakan amalan sedekah ini.
Surat yang diwasiatkan oleh seorang ibu untuk diberikan kepada anaknya yang telah lama tidak datang menjenguknya di hospital. Menurut anaknya, dia ada tugasan di luar negara sedangkan dia tahu ketika itu ibu dia sedang sakit tenat. Sebelumnya pun dia jarang datang melawat ibu ini, tetapi meninggalkan bayaran yang banyak kepada pihak hospital untuk menjaga ibunya yang sedang sakit dan cacat itu…
Ibu ini yang sangat rindu akan anaknya telah meminta seorang jururawat di situ untuk menuliskan surat ini dan menyampaikan kepada anaknya ketika dia telah meninggal dunia.
Isi kandungan surat tersebut berbunyi :
"Anakku yang tercinta, ibu sangat sedih kerana surat ini menjadi perantara komunikasi antara kita, tetapi inilah satu-satunya cara yang ada pada ibu, yang memungkinkan bagi ibu untuk memberitahu kamu tentang perkara-perkara yang harus kamu dengar dari ibu sebelum ibu meninggalkan dunia yang fana ini.
Anakku, semenjak kamu menipu dan membawa ibu masuk ke rumah sakit ini, walaupun ibu tidak mahu… ibu jarang melihatmu melainkan sekali sekala sahaja, oleh itu biarlah ibu berbicara melalui surat ini dan kamu akan meneliti setiap patah perkataannya tanpa boleh memotong satu ayatpun darinya.
Anakku tercinta… ketika surat ini sampai kepadamu bererti ibu telah meninggalkan kehidupan ini.
Wahai anakku, sesungguhnya ibu dapat merasakan akan pergi dalam waktu dekat, doktor telah memberitahu bahawa keadaan kesihatan ibu semakin lemah… ibu memerlukan tambahan darah dalam jumlah yang banyak… tetapi kamu tiada disisi ibu…
ibu cuba menolakkannya kerana tiada darah ganti kerana kamu masih lagi belum datang menjenguk ibu, dan ibu dapat merasakan kehadiran malaikat maut yang selalu datang untuk menjalankan tugasnya namun ibu tidak tahu bila, namun ibu pasti ianya hampir…
Wahai anakku, jangan kamu anggap bahawa dengan kata-kata ini, ibu berusaha untuk menarik simpatimu agar datang menziarahi ibu disini. Tidak, bukan itu tujuan dan maksud ibu, karena ibu telah wasiatkan kepada pembawa surat ini agar tidak menyerahkannya kepadamu kecuali setelah ibu meninggalkan kehidupan ini menghadap Allah yang Esa. Karena ibu tahu bahawasanya selama ibu masih hidup kamu tidak akan membacanya, kamu sibuk dengan kesibukan duniamu, dan ibu berharap kamu akan membacanya setelah kematian ibu.
Kerana ibu tahu, ketika ibu sudah mati, ibu tidak akan menyusahkan kamu lagi, kerana ketika ibu ada didunia inipun seperti tiada apa-apa erti bagi kamu anakku. Tapi ketahuilah anakku, ibu sangat teringin untuk melihat wajah anak ibu buat kali terakhirnya sebelum mata ibu tertutup rapat. Sebenarnya ibu amat rindukan kamu.
Anakku yang ibu sayang… ibu amat berduka disaat-saat akhir hidup ibu, ibu bersendirian tanpa ditemani oleh kamu. Setelah ayah tiada, kita hanya hidup berdua… sehinggalah kamu dewasa dan berjaya. Kejayaan dan rakan-rakan niaga kamu telah mengambil alih tempat ibu. Ibu sudah tidak penting bagi kamu, ya… kamu sudah besar… kamu sudah berjaya… kamu sudah kaya…
kamu malu punya ibu seperti dan secacat ini. duit yang kamu hantar hanya seperti bayaran kepada ibu membesarkan kamu. ibu lebih rela tidak makan asalkan dapat bersama kamu anakku. ibu lebih mengenyangkan jiwa ibu ini.
Ibu ingin seperti ibu-ibu yang lain, dikala ibu telah tidak mampu untuk berdiri lagi, kamu ada untuk mengambilkan wudhu’ untuk ibu… ibu mahu kamu menyarungkan telekung buat ibu… tapi sayang… itu bukan lagi menjadi tugasmu setelah kamu mengenal erti hidup dalam kemewahan bersama rakan-rakanmu.
Dan yang paling penting anakku sayang, ibu mahu mendengar suaramu berbisik ke telinga ibu akan khalimah suci sebelum roh dan jasab ibu berpisah. Ibu juga ingin kamu bersama mentalkinkan ibu serta mendo’kan rahmat dan pengampunan Allah untuk ibu…
Sesungguhnya kematian ditempat ini tidak ada harganya.. karena si sakit tidak lebih dari pengisi tempat tidur yang akan kosong untuk diisi pada hari berikutnya oleh pesakitan lain, menanti gilirannya diatas papan penantian!
Anakku, sesungguhnya ibu ingin mema’afkanmu.. ibu nantikan wajahmu setiap hari untuk datang menggengam erat tangan ibu sambil menciumnya… “Ma’afkan saya Ibu” suara yang sangat ibu nantikan…
Tapi malang, hingga surat ini kamu baca, kamu lebih mengutamakan keseronokan hidupmu dari bersama ibu yang telah tua dan sakit ini..
tahukah kamu anakku sayang, walaupun begitu, ibu telah maafkan kamu dan boleh melupakan segalanya kerana itulah kasih sayang seorang ibu yang tiada penamatnya… namun, ibu tidak pasti walaupun ibu telah memaafkankamu, bahawa kamu akan selamat dari azab Allah sebagai anak yang mendurhai kedua ibu ayahnya… Allah itu tidak pernah lupa dan tidak tidur…
Satu pesan ibu… bertaubatlah anakku… kembalilah kepada Allah SWT.
Ibumu yang terluka
Apakah semua tanda E code haram?
Bahan campuran makanan yang dikatakan dari lemak babi ber kod ‘E’, pernah menjadi isu pada tahun 2007 yang lalu. Ianya bermula dari tersebarnya email yang kononnya dari Dr. M. Anjad Khan iaitu rakan kepada Syeikh Sahib, seorang pegawai di Badan Pengawasan Ubat & Makanan (POM) di Pegal, Perancis yang membuat kajian keatas bahan campuran makanan ber kod ‘E’ itu. Kepada sesiapa yang belum pernah membaca email tersebut, korang boleh baca di sini...
Baru-baru ini, cerita mengenai bahan campuran makanan ‘E-Codes‘ ini sekali lagi tersebar dan menjadi salah satu isu dinegara kita. Ini bermakna sudah lebih kurang 3 tahun, kes mengenai kandungan campuran makanan bertanda ‘E -Code‘ masih menjadi tanda tanya kepada kita sebagai seorang pengguna. Malah ada yang menuding jari mempertikaikan tugas JAKIM dan tidak kurang juga yang mempertikaikan status negara kita sebagai Negara Islam. Dibawah ini terdapat senarai ‘E-Codes‘ yang dikatakan mempunyai campuran lemak babi.
E100, E110, E120, E140, E141, E153, E160, E161, E210, E213, E214, E216, E234, E252, E270, E280, E300, E301, E325, E326, E327, E334, E335, E336, E337, E422, E430, E431, E432, E433, E434, E435, E436, E440, E441, E470, E471, E472, E473, E474, E475, E476, E477, E478, E481, E482, E483, E491, E492, E493, E494, E495, E542, E570, E572, E631, E635, E904, E920
Walaubagaimana pun, agak menghairankan juga bila makanan ringan yang banyak terdapat dipasaran dikatakan mempunyai campuran lemak babi gara-gara mempunyai bahan campuran salah satu dari kod diatas. Sedangkan makanan ringan tersebut mempunyai logo ‘Halal JAKIM’. Disebabkan rasa ragu mengenai isu ‘E-Codes‘ ini, saya telah mengambil keputusan untuk membuat ‘research’ mengenai ‘E-Codes‘ yang dikatakan mempunyai campuran lemak babi ini. Antara yang saya temui adalah salah satu aduan yang dibuat di laman web Portal E-Halal mengenai email Dr. M. Anjad Khan pada tahun 2007 yang lalu.
Logo Halal JAKIM :
Menurut pihak JAKIM mengenai kod-kod E seperti yang disenaraikan, merupakan kod-kod yang digunakan di Europe. Ia terdiri daripada emulsifier, bahan pengawet, pewarna dan lain-lain. Ia boleh dibahagikan kepada dua. Satu kumpulan diketegorikan sebagai tidak kritikal dan sebahagian dikelompokkan sebagai kritikal. bahan-bahan yang tidak kritikal merupakan dari sumber chemical dan tumbuh-tumbuhan. contonya adalah seperti berikut:
Bahan pewarna E100: merupakan dari sumber tumbuhan.
E110: dari sumber chemical
E120: dari summer serangga
E140: dari sumber tumbuhan
E141: dari sumber tumbuhan Bahan pengawet
E210: benzoic acid dari sumber tumbuhan dan chemical.
E213: calcium benzoate; dari sumber tumbuhan dan chemical.
E214: Ethyl 4-hydroxybenzoate; dari sumber tumbuhan dan chemical.
E216: Propyl 4- hydroxybenzoate; dari sumber tumbuhan dan chemical.
E234: Nisin; dari sumber microbe.
E280: Propionic Acid dari sumber chemical.
Kumpulan yang kedua merupakan bahan-bahan yang kritikal. ia berkemungkinan dari sumber yang tidak halal. ia perlu dikaji sumber asalnya. contohnya adalah seperti berikut:
Bahan pewarna E153: carbon black.. Ia berkemungkinan dari sumber haiwan Emulsifier
E422: Lecithin. Ia berkemungkinan dari sumber haiwan.
E432: polysorbate 20. Ia berkemungkinan dari sumber haiwan.
E433: polysorbate 80. Ia berkemungkinan dari sumber haiwan.
E434: polysorbate 40. Ia berkemungkinan dari sumber haiwan.
E435: polysorbate 60. Ia berkemungkinan dari sumber haiwan.
E436: polysorbate 65. Ia berkemungkinan dari sumber haiwan.
E470: Ia berkemungkinan dari sumber haiwan.
E471: Ia berkemungkinan dari sumber haiwan.
E472: Ia berkemungkinan dari sumber haiwan.
E473: Ia berkemungkinan dari sumber haiwan.
E474: Ia berkemungkinan dari sumber haiwan.
E475: Ia berkemungkinan dari sumber haiwan.
E476: Ia berkemungkinan dari sumber haiwan.
Bagi produk-produk yang mendapat pengesahan JAKIM dan badan-badan yang diiktiraf bahan-bahan kritikal tersebut akan diperiksa dahulu sebelum disahkan halal. Pihak JAKIM nasihat kepada pengguna islam yang bijak agar memilih makanan yang mendapat pengesahan halal JAKIM atau badan-badan islam yang diikhtiraf.
Manakala dibawah ini pula, adalah jawapan dari pihak UKM mengenai isu ini pada 9 Dec 2009.
Saya dah semak dan didapati tidak semua senarai E-codes itu diperbuat daripada terbitan lemak haiwan/babi. Sebagai orang Islam, tidak tidak boleh mengambil apa-apa maklumat bulat-bulat begitu saja tanpa ditentukan kesahihannya. Kita tidak mahu umat Islam dianggap “bodoh” dan mudah “diomong-omongkan” dengan perkara sebegini.
Sebagai contoh untuk additives dengan kod E100 adalah merujuk kepada curcumin, iaitu pewarna kuning semulajdi yang diambil daripada rizom kunyit (Curcuma longa), E110 adalah pewarna turuan Sunset Yellow FCF, Orange Yellow S, E120 = Cochineal, Carminic acid, Carmines, E140 = Chlorophylls and Chlorophyllins dan banyak lagi yang salah yang tidak ada kena mengena dengan lemak/minyak, apatah lagi lemak babi. Kesimpulannya, umat Islam perlulah berilmu agar kita tak mudah diperdaya dan “dipermainkan” oleh musuh-musuh Islam.
Maksud saya adalah tidak semua bahan tambah (additives) itu diperbuat daripada lemak/minyak dan terbitannya. Untuk menjawab soalan saudari tentang yang mana satu kod E yang mengandungi lemak babi (sepatutnya yang tepat adalah lemak haiwan), eloklah saya jelaskan dengan ringkas disini utk mengelakkan kekeliruan. Sebenarnya bahan tambah yang menjadi kerisauan pengguna Islam ialah bahan tambah dalam kategori pengemulsi (emulsifiers) dengan kod E400-E499. Sistem makanan (termasuk ubat-ubatan) lazimnya terdiri daripada bahan yang larut air (hidrofilik = suka air) dan larut lemak (lipofilik = suka lemak).
Kedua-dua bahan/ramuan ini tidak boleh terlarut campur; seperti yang kita tahu minyak dan air tak bercampur. Agar kedua-duanya boleh bercampur, maka pengemulsi ditambahkan. Ingat semasa membuat kek, kita mencampurkan kuning telur ke dalam adunan tepung/marjerin.
Kenapa? Kuning telur mengandungi pengemulsi semulajadi dipanggil lecithin. Dalam industri makanan, ahli sains telah mensintesis (membuat) pengemulsi sintetik dengan menggabungkan bahan hidrofilik (gula, gliserol) dengan lipofilik (lemak, minyak, asid lemak). Maka terhasillah produk seperti monoasilgliserol (monoacylglycerols, MAG), diasilgliserol (diacylglycerol, DAG) dan terbitan keduanya; ester gula-asid lemak dan ester poligliserol-asid lemak. gliserol dan asid lemak diperolehi daripada pemecahan (hidrolisis) lemak dan minyak.
Lemak dan minyak pula boleh bersumberkan sumber haiwan (lemak babi – lard, lemak lembu – beef tallow, minyak ikan) dan tumbuhan (minyak sayuran seperti sawit, soya, jagung, bunga matahari, kelapa, koko dsb). Kerisauan tentang halal/haram timbul sekiranya lemak haiwan digunakan. Walau bagaimanapun, pilihan sama ada menggunakan minyak/lemak daripada sumber haiwan atau tumbuhan adalah berdasarkan kepada pertimbangan ekonomi dan kebolehdapatan sesuatu sumber tersebut di kawasan tertentu. Di Malaysia, sudah tentulah sumber lemak/minyak itu daripada sawit, ditempat lain mungkin minyak zaitun, soya, lemak lembu atau lemak babi.
Kita janganlah cepat panik apabila dikemukakan berita sedemikian. Benarkan saya menjelasakan sedikit. Umum tahu bahawa haiwan ternakan/buruan digunakan untuk makanan (daging, susu). Tetapi hasil daripada kemajuan sains dan teknologi, bahan buangan seperti lemak serta kolagen (collagen) daripada kulit dan tulang telah digunakan sebagai bahan mula untuk menghasilkan bahan berfungsi seperti pengemulsi (emulsifiers) daripada lemak dan pemekat/penstabil daripada kolagen. Hormon dan enzim dari kelenjar endokrina dan penghadzaman juga boleh digunakan untuk tujuan perubatan dan teknologi makanan.
Munfaat ini TIDAK TERHAD kepada haiwan babi sahaja, haiwan ternakan lain seperti lembu, kambing, ayam-itik (poultry) dan ikan juga boleh digunakan. Di Malaysia sudah semestinyalah lemak itu diperolehi daripada minyak sawit. Perlu diingat bahawa bahan buangan (lemak, kolagen) tidak digunakan dalam bentuk asalnya tetapi perlu melalui proses pengubahsuaian (modification). Dalam kes ini kolagen dihurai/hidrolisis separa untuk menjadi gelatin; manakala lemak dipecahkan menjadi asid lemak (fatty acids) dan gliserol (glycerol).
Mengikut konsep ISTIHALAH (transformation) yang digunapakai oleh mazhab Maliki dan Hambali, sesuatu bahan baru (produk) itu dianggag suci apabila ciri-cirinya berbeza sama sekali dengan ciri-ciri bahan mula, dengan syarat agen transformasi adalah halal. Dalam hal kolagen dan lemak, agen transformasi adalah asid atau enzim atau kedua-duanya.
Enzim industri pada masa ini dihasilkan daripada mikrob melalui teknik DNA rekombinan (recombinant DNA) dan kejuruteraan genetik (genetic engineering). DiMalaysia , kita adalah penganut mazhab Syafie, dan perkara seumpama ini tak dibenarkan. Sekiranya timbul isu halal/haram sebegini, eloklah kita tanyakan kepada pembekal produk itu sendiri, atau dapatkan pengesahan/kepastian daripada Institut Penyelidikan HalalMalaysia di UPM, Serdang. Sekian dimaklumkan.
Senarai E-codes yang kononnya mengandungi lemak babi didapati tidak benar. Kami termasuk Muslim brothers daripada India dan US dah cuba mencari penulisnya yang kononnya Dr. M Amjad Khan daripada Medical Research Institute (yang mana satu? sbb ada banyak MRI di USA), dan ternyata beliau TIDAK WUJUD. Dingatkan bahawa artikel yang kononnya ditulis oleh beliau adalah PALSU, lebih merupakan satu propaganda pihak tertentu untuk menakut dan memperbodohkan orang Islam.
Untuk menentukan sumber apa, kita perlu menyemak dan mendapatkan kepastian/deklarasi daripada pengeluar/pengilang. Cara lain adalah dengan menggunakan kaedah bioteknologi seperti yang dibangunkan oleh Institut Penyelidikan HalalMalaysia di UPM. Oleh yang demikian, saya tak dapat menjawab soalan saudari dengan tepat, kecualilah kita telah pasti bahawa komponen lipofilik sesuatu pengemulsi itu diperolehi daripada minyak tumbuhan..
School of Chemical Sciences and Food Technology
Faculty of Science and Technology
Universiti Kebangsaan Malaysia
mamot@ukm.my
Setiap makhluk diciptakan Allah berpasang-pasangan. Begitu juga Allah SWT. menciptakan manusia ada lelaki dan wanita. Kedua-duanya saling memerlukan antara satu sama lain.Oleh itu Islam menggalakkan umatnya mengikat tali perkahwinan yang sah supaya akan melahirkan zuriat keturunan. Nabi SAW merasa bangga apabila melihat umatnya ramai di hari akhirat nanti, berbondong-bondong masuk ke Syurga. Perkahwinan adalah Sunnah Nabi SAW dan baginda tidak mengaku sebagai umatnya apabila ada di kalangan mereka enggan berkahwin tanpa mempunyai alasan yang dibenarkan oleh syarak.
Persoalannya adalah bagaimana seorang Muslimah dapat mengenalpasti ciri Muslim sebelum nikah, kerana ia diperintahkan untuk menundukkan pandangan (shaddul bashar) terhadap lelaki? Seorang yang solehah akan tetap menjaga ketinggian akhlak dan mengelakkan perhubungan yang tidak diizinkan syarak.
Berikut adalah antara perkenalan yang perlu dan cara pendekatan yang dapat dilaksanakan :
1. Mengetahui akhlak dan tingkahlaku Muslim dalam kehidupan harian.
Kehidupan harian yang dilalui setiap individu yang beriman dan beramal soleh digambarkan melaliu ciri-ciri berikut iaitu :
a. Ibadah yang khusyu'
b. Berpakaian menutup aurat yang sempurna
c. Cara percakapannya tidak suka mencarut dan maki hamun.
d. Menjaga pandangannya (tidak melingas matanya memandang, terutamanya melihat wanita yang bukan mahramnya).
e. Bergaul dengan semua muslim ecara yang sopan.
Pengamatan ini boleh dilakukan melalui pertanyaan kepada siapa yang mengenalinya.Harus diingat bahawa pengamatan ini hendaklah dilakukan dengan cermat, jangan sampai diketahui oleh Muslim itu,
2. Melihat keadaan rumah tangga keluarga lelaki,
Hal ini adalah dibolehkan, semasa bertunang. Ia dapat dilakukan semasa menziarahi kedua orang tua lelaki bakal tunangnya dengan mahramnya. Ketika ini juga ia boleh menanyakan lebih lanjut mengenai lelaki itu pada ahli keluarganya. Biasanya jika ia berasal dari keturunan yang baik dan taat agama akan melahirkan anak-anak yg soleh. Tetapi, harus juga diingat ada juga lelaki soleh yang berasal dari keluarga yang kurang taat pada ajaran agama.
3. Bagi wanita Muslimah yang memahami bahawa tanggungjawab terhadap agamanya tidak dipisah dengan usaha dakwah dan merasakan tidak mencukupi melalui dua perkenalan di atas, maka eloklah ditinjau juga setakat mana penglibatan lelaki itu dan peranannya dalam kegiatan dakwah Islam.
Bagi ibu bapa yang baik dan taat beragama, dasar pemilihan dan urusan jodoh anaknya berdasarkan agama yang utama. Namun bagi yang lalai dan silau dengan kilauan harta dan pangkat dunia faktor agama bukan lagi neraca pertimbangannya. Penjodohan dengan dorongan aspek duniawi sangat menyalahi ajaran Islam dan wajib ditolak.
Sekiranya ibu bapa kita tergolong dalam golongan yang tidak menjadikan nilai agama sebagai tunggak dalam perjodohan anaknya maka adalah wajar mendapatkan bantuan mereka yang membimbing dalam pendidikan Islamnya sebagai orang tengah. Melalui kaedah ini adalah lebih baik dan terpelihara dari unsur kerosakan akhlak seperti percintaan sebelum pernikahan yang mendekati zina (bertemu janji berdua-duaan sebelum pernikahan).
Menurut al-Qur'an, wanita ideal mempunyai kriteria adalah seperti berikut :
Firman Allah SAW. yang bermaksud, "... Wanita yang baik (solehah) adalah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri di belakang suaminya, oleh kerana Allah telah memelihara mereka." (Surah An-Nisa' ayat 34)
Seorang Muslimah yang benar-benar taat pada Allah SWT tidak akan mengambil mudah soal jodoh, dia perlu pastikan bakal suaminya adalah seorang yang kuat pegangan agamanya, seorang yang lemah lembut, tegas dalam kebenaran, dan bukan seorang lelaki yang bebas dan suka berpoya-poya
Apa yang lazim diajarkan di dalam kitab-kitab atau kelas-kelas pengajian Fardu ‘Ain di Malaysia ialah wujud perbezaan dalam sifat solat lelaki dan perempuan.
Umpamanya bagi perempuan apabila mengangkat tangan ketika Takbir hendaklah merapatkan tangan dan ketiaknya. Sedangkan bagi lelaki hendaklah merenggangkan tangan dari ketiaknya. Ketika sujud pula kaum perempuan hendaklah merapatkan pahanya kepada perutnya serta tangannya pula dirapatkan kepada rusuk. Sedangkan bagi lelaki dijauhkan pahanya dari perut serta tangannya direnggangkan dari rusuk kiri dan kanan.
Sepanjang kajian tidak wujud hadis yang sahih menunjukkan ada perbezaan antara tatacara solat lelaki dan perempuan kerana seluruh umat Islam hanya wajib mencontohi tatacara solat Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam. Menurut al-Albani rahimahullah [Muhammad Nashiruddin al-Albani, Sifat Shalat Nabi, ms. 239.]
Tidak terdapat keterangan dari sunah yang menerangkan adanya cara-cara khusus untuk perempuan yang berbeza dengan cara yang berlaku untuk lelaki. Bahkan sabda Nabi Salallahu 'Alaihi Wasallam: Solatlah kamu sekalian sebagaimana kamu melihat aku bersolat.[Sahih: Dikeluarkan oleh al-Bukhari dalam Shahihnya, hadis no. 631.]
Berlaku secara umum dan mencakupi kaum perempuan. Ibrahim al-Nakha’i menyatakan:
ŰȘَÙْŰčَÙُ ۧÙْÙ
َ۱َۣŰ©ِ ÙِÙ Ű§ÙŰ”َّÙَۧŰ©ِ ÙَÙ
َۧ ÙَÙْŰčَÙُ ۧÙ۱َّŰŹُÙُ.
Dalam solat, wanita mengerjakannya sama dengan cara yang dilakukan oleh lelaki.[Hadis Riwayat ini disebut oleh al-Albani dalam Sifat Shalat Nabi (Maktabah al-Ma‘arif, Riyadh 1996), ms. 189 dan beliau menyandarkannya kepada Ibn Abi Syaibah (1/75/2) dan mensahihkan sanadnya. Akan tetapi semakan saya kepada kitab al-Musannaf, hadis no. 2788 oleh Ibn Abi Syaibah mendapati lafaz yang ada di dalamnya ialah:
ŰȘَÙْŰčُŰŻُ ۧÙْÙ
َ۱ْŰŁَŰ©ُ ÙِÙ Ű§ÙŰ”َّÙَۧŰ©ِ ÙَÙ
َۧ ÙَÙْŰčُŰŻُ ۧÙ۱َّŰŹُÙُ.
Kaum wanita duduk dalam solat sebagaimana duduknya kaum lelaki. [ Ummu al-Darda’ merupakan seorang tabi’iyyah (mereka yang tidak sempat berjumpa Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam tetapi hanya berjumpa dengan para sahabat radhiallahu 'anhum). Beliau merupakan isteri kepada Abu al-Darda’ radhiallahu 'anh seorang sahabat Nabi shalallahu 'alaihi wasallam. Ummu al-Darda’ terkenal sebagai seorang perempuan yang ahli fiqh.]
al-Albani rahimahullah juga telah membawa sebuah riwayat dari al-Bukhari dalam kitabnya al-Tarikh al-Saghir, mukasurat 95 dari Ummu al-Darda’[4] berbunyi:
ŰŁَََÙَÙَۧ ÙَۧÙَŰȘْ ŰȘَŰŹْÙِŰłُ ÙِÙ Ű”َÙَۧŰȘِÙَۧ ŰŹِÙْŰłَŰ©َ ۧÙ۱َّŰŹُÙِ, ÙَÙَۧÙَŰȘْ ÙَÙِÙْÙَŰ©ً.
Sesungguhnya (Ummu Darda’) dalam solat, duduk seperti cara duduk lelaki,
padahal beliau seorang perempuan yang ahli fiqh.
Selanjutnya kita akan membicarakan kedua-dua tatacara solat yang dikatakan terdapat perbezaan antara lelaki dan perempuan iaitu cara mengangkat takbir dan sujud. Dalam membahaskan hal ini penulis mengambil kesempatan untuk mendedahkan secara ringkas kepada para pembaca beberapa gerakan dalam solat yang sahih datangnya dari Nabi Muhammad shalallahu 'alaihi wasallam.
Tatacara Takbir Dalam Solat
Berkaitan dengan tatacara mengangkat takbir al-Syafi’i rahimahullah dalam kitabnya al-Umm telah meriwayatkan hadis berikut:
ŰčَÙْ ŰłَۧÙِÙ
ِ ŰšْÙِ ŰčَŰšْŰŻِ ۧÙÙَّÙِ ŰčَÙْ ŰŁَŰšِÙÙِ ŰŁَÙَّ ۱َŰłُÙÙَ ۧÙÙَّÙِ Ű”َÙَّÙ Ű§ÙÙَّÙُ ŰčَÙَÙْÙِ ÙَŰłَÙَّÙ
َ
ÙَۧÙَ Ùَ۱ْÙَŰčُ ÙَŰŻَÙْÙِ Űَ۰ْÙَ Ù
َÙْÙِŰšَÙْÙِ Ű„ِ۰َۧ ۧÙْŰȘَŰȘَŰَ ۧÙŰ”َّÙَۧŰ©َ ÙَŰ„ِ۰َۧ ÙَŰšَّ۱َ ÙِÙ۱ُّÙُÙŰčِ
ÙَŰ„ِ۰َۧ ۱َÙَŰčَ ۱َŰŁْŰłَÙُ Ù
ِÙْ ۧÙ۱ُّÙُÙŰčِ ۱َÙَŰčَÙُÙ
َۧ Ùَ۰َÙِÙَ ŰŁَÙْ۶ًۧ
ÙَÙَۧÙَ ŰłَÙ
ِŰčَ ۧÙÙَّÙُ ÙِÙ
َÙْ ŰَÙ
ِŰŻَÙُ ۱َŰšَّÙَۧ ÙَÙَÙَ ۧÙْŰَÙ
ْŰŻُ
ÙَÙَۧÙَ Ùَۧ ÙَÙْŰčَÙُ ۰َÙِÙَ ÙِÙ Ű§ÙŰłُّŰŹُÙŰŻِ.
Dari Salim bin Abdullah, dari bapanya bahawa Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam biasa mengangkat kedua tangannya sejajar dengan kedua bahunya apabila (takbir) membuka (memulai) solat, dan apabila takbir rukuk.
Apabila mengangkat kepala dari rukuk, baginda juga mengangkat kedua tangannya seperti itu sambil mengucapkan ‘Sami’Allahu liman hamidah rabbana walakal hamdu’ dan baginda tidak melakukan demikian saat sujud.[Sahih: Dikeluarkan oleh al-Bukhari dalam Shahihnya, hadis no. 735.]
Menurut al-Syafi’i rahimahullah: Dengan (hadis) inilah kami mengatakan, maka kami menyuruh setiap orang yang mengerjakan solat, baik dia imam atau makmum atau solat sendiri-sendiri, lelaki atau perempuan, bahawa mengangkat dua tangannya apabila memulai solat (ketika takbiratul ihram), apabila takbir untuk rukuk dan apabila mengangkat kepala dari rukuk. Adalah kesemua tiga golongan yang disebutkan tadi mengangkat tangannya setentang dengan bahu.[Al-Syafi’i, al-Umm (Kitab Induk), jld.1, ms. 248.]
Jelas al-Syafi’i rahimahullah sendiri tidak membezakan tatacara mengangkat takbir dalam solat antara lelaki dan perempuan. Oleh itu ketika melakukan takbir dalam solat maka hendaklah diangkat kedua-dua tangan dengan membuka jari-jari lurus ke atas dengan tidak menggenggamnya sejajar dengan bahu. Adakalanya Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam mengangkat tangannya ketika takbir setentang dengan hujung kedua telinga sebagaimana yang diperjelaskan oleh Malik bin al-Huwairith radhiallahu’anh:
ŰŁَÙَّ ۱َŰłُÙÙَ ۧÙÙَّÙِ Ű”َÙَّÙ Ű§ÙÙَّÙُ ŰčَÙَÙْÙِ ÙَŰłَÙَّÙ
َ
ÙَۧÙَ Ű„ِ۰َۧ ÙَŰšَّ۱َ ۱َÙَŰčَ ÙَŰŻَÙْÙِ ŰَŰȘَّÙ ÙُŰَۧ۰ِÙَ ŰšِÙِÙ
َۧ ŰŁُ۰ُÙَÙْÙِ ŰšِÙِÙ
َۧ Ùُ۱ُÙŰčَ ŰŁُ۰ُÙَÙْÙِ.
Sesungguhnya Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam apabila bertakbir (dalam solat) diangkat kedua tangannya sehingga sejajar dengan hujung kedua telinganya.[Sahih: Dikeluarkan oleh Muslim dalam Shahihnya, hadis no. 391.]
Walaubagaimanapun al-Syafi’i rahimahullah lebih cenderung kepada mensejajarkan tangan dengan bahu.[Silalah rujuk kitab beliau bertajuk al-Umm (Kitab Induk), Bab Mengangkat Dua Tangan Pada Takbir Dalam Shalat, jld.1, ms. 248.]
Disyari’atkan juga untuk mengangkat tangan ketika berdiri dari rakaat kedua setelah membaca tasyahhud awal:
ŰčَÙْ ÙَۧÙِŰčٍ ŰŁَÙَّ ْۧۚÙَ ŰčُÙ
َ۱َ ÙَۧÙَ Ű„ِ۰َۧ ŰŻَŰźَÙَ ÙِÙ Ű§ÙŰ”َÙَۧŰ©ِ ÙَŰšَّ۱َ Ùَ۱َÙَŰčَ ÙَŰŻَÙْÙِ
ÙَŰ„ِ۰َۧ ۱َÙَŰčَ ۱َÙَŰčَ ÙَŰŻَÙْÙِ ÙَŰ„ِ۰َۧ ÙَۧÙَ ŰłَÙ
ِŰčَ ۧÙÙَّÙُ ÙِÙ
َÙْ ŰَÙ
ِŰŻَÙُ ۱َÙَŰčَ ÙَŰŻَÙْÙِ
ÙَŰ„ِ۰َۧ ÙَۧÙ
َ Ù
ِÙْ ۧÙ۱َّÙْŰčَŰȘَÙْÙِ ۱َÙَŰčَ ÙَŰŻَÙْÙِ Ùَ۱َÙَŰčَ
۰َÙِÙَ ْۧۚÙُ ŰčُÙ
َ۱َ Ű„ِÙَÙ ÙَŰšِÙِّ ۧÙÙَّÙِ Ű”َÙَّÙ Ű§ÙÙَّÙُ ŰčَÙَÙْÙِ ÙَŰłَÙَّÙ
َ.
Dari Nafi’ bahawa Ibnu ‘Umar apabila masuk dalam (memulai) solat,
dia bertakbir dan mengangkat kedua tangannya, apabila rukuk dia mengangkat kedua tangannya, apabila mengucapkan ‘Sami’Allahu liman hamidah’ dia mengangkat kedua tangannya, dan apabila berdiri dari rakaat kedua dia mengangkat kedua tangannya. Ibnu ‘Umar menisbatkan hal itu kepada Nabi shalallahu 'alaihi wasallam.[Sahih: Dikeluarkan oleh al-Bukhari dalam Shahihnya, hadis no. 739.]
Tatacara Sujud Dalam Solat
Berkenaan dengan tatacara sujud pula al-Syafi’i rahimahullah berkata:
Saya menyukai bagi orang yang sujud, bahawa dia bertakhwiyah. Takhwiyah itu adalah mengangkat (menjarakkan) dadanya dari kedua pahanya. Dan bahawa dia merenggangkan dua sikunya dan dua lengannya dari dua lambungnya (rusuknya). Sehingga apabila tidak ada padanya yang menutup bahagian bawah dua bahunya, nescaya terlihatlah warna dua ketiaknya. Tidak dia mempertemukan kedua-dua lututnya. Dia merenggangkan kedua-dua kakinya [Disyari’atkan juga untuk merapatkan kedua tumit kakinya (tetapi tetap merenggangkan kedua lutut) ketika bersujud sebagaimana hadis yang diriwayatkan oleh al-Thahawi, Ibnu Khuzaimah dan al-Hakim.Sila rujuk Sifat Shalat Nabi oleh Muhammad Nashiruddin al-Albani, ms. 174.]
Dia meninggikan punggungnya dan tidak membengkukkannya (iaitu meluruskan bahagian belakang)
Perhatikan sekali lagi bahawa al-Syafi’i tidak membezakan tatacara sujud antara lelaki dan wanita. Seterusnya mari kita lihat beberapa hadis Nabi shalallahu 'alaihi wasallam berkaitan dengan tatacara sujud yang mencakupi kaum lelaki dan perempuan.
ŰčَÙْ ŰčَŰšْŰŻِ ۧÙÙَّÙِ ŰšْÙِ Ù
َۧÙِÙٍ ْۧۚÙِ ŰšُŰَÙْÙَŰ©َ ŰŁَÙَّ ۧÙÙَّŰšِÙَّ Ű”َÙَّÙ Ű§ÙÙَّÙُ ŰčَÙَÙْÙِ ÙَŰłَÙَّÙ
َ
ÙَۧÙَ Ű„ِ۰َۧ Ű”َÙَّÙ Ùَ۱َŰŹَ ŰšَÙْÙَ ÙَŰŻَÙْÙِ ŰَŰȘَّÙ ÙَŰšْŰŻُÙَ ŰšَÙَۧ۶ُ Ű„ِŰšْŰ·َÙْÙِ.
Dari ‘Abdullah bin Malik bin Buhainah bahawasanya Nabi shalallahu 'alaihi wasallam apabila bersolat, baginda merenggangkan antara kedua tangannya hingga nampak warna putih ketiaknya.[Sahih: Dikeluarkan oleh al-Bukhari dalam Shahihnya, hadis no. 807.]
Menurut Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah “merenggangkan antara kedua tangannya” bermaksud bermaksud: “Menjauhkan tangan dari sisi badan (rusuk) yang ada di dekatnya.”[ Ibnu Hajar al-Asqalani, Fathul Baari, jld. 4, ms. 624.]
Beliau melanjutkan bahawa jarak ukuran jauhnya renggangan tersebut adalah sekiranya anak kambing yang kecil melalui dicelah renggangan tersebut nescaya ia boleh melepasinya.
Di samping itu hendaklah kita juga mengangkat lengan serta siku kita ketika sujud dan membiarkan hanya kedua tapak tangan yang terletak di tanah. Nabi shalallahu 'alaihi wasallam menyamakan orang yang meletakkan keseluruhan siku, lengan serta tapak tangan ke tanah seperti sujudnya binatang buas. ‘Aishah radhiallahu’anha berkata:
ÙَÙَÙْÙَÙ ŰŁَÙْ ÙَÙْŰȘَ۱ِŰŽَ ۧÙ۱َّŰŹُÙُ ۰ِ۱َۧŰčَÙْÙِ ۧÙْŰȘِ۱َۧێَ ۧÙŰłَّŰšُŰčِ.
Dan (baginda shalallahu 'alaihi wasallam) melarang seseorang (dalam sujud) membentang kedua lengannya seperti binatang buas.[Sahih: Dikeluarkan oleh Muslim dalam Shahihnya, hadis no. 498.]
Al-Barra’ radhiallahu’anh juga telah berkata:
ÙَۧÙَ ۱َŰłُÙÙُ ۧÙÙَّÙِ Ű”َÙَّÙ Ű§ÙÙَّÙُ ŰčَÙَÙْÙِ ÙَŰłَÙَّÙ
َ:
Ű„ِ۰َۧ ŰłَŰŹَŰŻْŰȘَ Ùَ۶َŰčْ ÙَÙَّÙْÙَ Ùَۧ۱ْÙَŰčْ Ù
ِ۱ْÙَÙَÙْÙَ.
Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam bersabda: “Apabila engkau sujud, maka letakkanlah kedua telapak tanganmu serta angkat kedua sikumu.”[Sahih: Dikeluarkan oleh Muslim dalam Shahihnya, hadis no. 494.]
Hendaklah ketika sujud tujuh anggota badan mengenai tanah, lantai atau sejadah yang digunakan untuk bersolat. Tujuh anggota badan tersebut adalah:
Dahi dan hidung yang dikira sebagai satu anggota.
Dua telapak tangan.
Dua lutut.
Dua hujung jari-jari di kedua kaki.
Ini sebagaimana diperjelaskan oleh Ibnu ‘Abbas radhiallahu’anh:
ÙَۧÙَ ۧÙÙَّŰšِÙُّ Ű”َÙَّÙ Ű§ÙÙَّÙُ ŰčَÙَÙْÙِ ÙَŰłَÙَّÙ
َ:
ŰŁُÙ
ِ۱ْŰȘُ ŰŁَÙْ ŰŁَŰłْŰŹُŰŻَ ŰčَÙَÙ ŰłَŰšْŰčَŰ©ِ ŰŁَŰčْŰžُÙ
ٍ ŰčَÙَÙ Ű§ÙْŰŹَŰšْÙَŰ©ِ
ÙَŰŁَŰŽَۧ۱َ ŰšِÙَŰŻِÙِ ŰčَÙَÙ ŰŁَÙْÙِÙِ ÙَۧÙْÙَŰŻَÙْÙِ ÙَۧÙ۱ُّÙْŰšَŰȘَÙْÙِ ÙَŰŁَŰ·ْ۱َۧÙِ ۧÙْÙَŰŻَÙ
َÙْÙِ.
Nabi shalallahu 'alaihi wasallam bersabda: “Aku diperintahkan untuk sujud menggunakan (di atas) tujuh tulang; di atas dahi[18] (dan baginda mengisyaratkan pada hidungnya), dua tangan, dua lutut dan hujung jari-jari kedua kaki.”[Sahih: Dikeluarkan oleh al-Bukhari dalam Shahihnya, hadis no. 812.]
Kewajipan Thuma’ninah Ketika Sujud
Seperkara lagi yang sering diabaikan ketika bersujud (termasuk ketika rukuk, i’tidal dan duduk antara dua sujud) adalah thuma’ninah. Thuma’ninah adalah tidak melakukan gerakan dalam solat ketika rukuk, i’tidal, sujud dan duduk antara dua sujud sehingga dapat berada dalam posisi tersebut secara sempurna, tenang dan tidak tergesa-gesa. Setengah ulama’ memberi batas waktu yang diperlukan untuk thuma’ninah adalah seperti tiga kali membaca ‘subhaana rabbiyal azhiim’ ketika rukuk dan sujud dan tidak sah sekiranya kurang dari itu. Namun sebahagian ulama’ lagi berpendapat bahawa thuma’ninah adalah menyempurnakan posisi badan sesuai dengan sunnah Rasul shalallahu 'alaihi wasallam dalam gerakan ketika rukuk, i’tidal, sujud dan duduk antara dua sujud dalam keadaan yang tenang.
[Sila rujuk perbahasan Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah dalam Fathul Baari, jld.4, ms. 582.]
Penulis berpendapat thuma’ninah sebenarnya adalah gabungan kedua-dua pendapat di atas. Wallahu’alam. Dalil disyari’atkan thuma’ninah adalah hadis dari Abu Hurairah radhiallahu’anh, dia berkata:
ŰŁَÙَّ ۧÙÙَّŰšِÙَّ Ű”َÙَّÙ Ű§ÙÙَّÙُ ŰčَÙَÙْÙِ ÙَŰłَÙَّÙ
َ ŰŻَŰźَÙَ ۧÙْÙ
َŰłْŰŹِŰŻَ ÙَŰŻَŰźَÙَ ۱َŰŹُÙٌ ÙَŰ”َÙَّÙ
Ű«ُÙ
َّ ŰŹَۧۥَ ÙَŰłَÙَّÙ
َ ŰčَÙَÙ Ű§ÙÙَّŰšِÙِّ Ű”َÙَّÙ Ű§ÙÙَّÙُ ŰčَÙَÙْÙِ ÙَŰłَÙَّÙ
َ
Ùَ۱َŰŻَّ ۧÙÙَّŰšِÙُّ Ű”َÙَّÙ Ű§ÙÙَّÙُ ŰčَÙَÙْÙِ ÙَŰłَÙَّÙ
َ ŰčَÙَÙْÙِ ۧÙŰłَّÙَۧÙ
َ
ÙَÙَۧÙَ: ۧ۱ْŰŹِŰčْ ÙَŰ”َÙِّ ÙَŰ„ِÙَّÙَ ÙَÙ
ْ ŰȘُŰ”َÙِّ.
ÙَŰ”َÙَّÙ Ű«ُÙ
َّ ŰŹَۧۥَ ÙَŰłَÙَّÙ
َ ŰčَÙَÙ Ű§ÙÙَّŰšِÙِّ Ű”َÙَّÙ Ű§ÙÙَّÙُ ŰčَÙَÙْÙِ ÙَŰłَÙَّÙ
َ
ÙَÙَۧÙَ: ۧ۱ْŰŹِŰčْ ÙَŰ”َÙِّ ÙَŰ„ِÙَّÙَ ÙَÙ
ْ ŰȘُŰ”َÙِّ Ű«َÙَۧŰ«ًۧ.
ÙَÙَۧÙَ: ÙَۧÙَّ۰ِÙ ŰšَŰčَŰ«َÙَ ŰšِۧÙْŰَÙِّ ÙَÙ
َۧ ŰŁُŰْŰłِÙُ ŰșَÙْ۱َÙُ ÙَŰčَÙِّÙ
ْÙِÙ.
ÙَۧÙَ: Ű„ِ۰َۧ ÙُÙ
ْŰȘَ Ű„ِÙَÙ Ű§ÙŰ”َÙَۧŰ©ِ ÙَÙَŰšِّ۱ْ Ű«ُÙ
َّ ۧÙْ۱َŰŁْ Ù
َۧ ŰȘَÙَŰłَّ۱َ Ù
َŰčَÙَ Ù
ِÙْ ۧÙْÙُ۱ْŰąÙِ
Ű«ُÙ
َّ ۧ۱ْÙَŰčْ ŰَŰȘَّÙ ŰȘَŰ·ْÙ
َŰŠِÙَّ ۱َۧÙِŰčًۧ Ű«ُÙ
َّ ۧ۱ْÙَŰčْ ŰَŰȘَّÙ ŰȘَŰčْŰȘَŰŻِÙَ ÙَۧۊِÙ
ًۧ
Ű«ُÙ
َّ ۧ۳ْŰŹُŰŻْ ŰَŰȘَّÙ ŰȘَŰ·ْÙ
َŰŠِÙَّ ŰłَۧۏِŰŻًۧ Ű«ُÙ
َّ ۧ۱ْÙَŰčْ ŰَŰȘَّÙ ŰȘَŰ·ْÙ
َŰŠِÙَّ ŰŹَۧÙِŰłًۧ Ű«ُÙ
َّ ۧ۳ْŰŹُŰŻْ
ŰَŰȘَّÙ ŰȘَŰ·ْÙ
َŰŠِÙَّ ŰłَۧۏِŰŻًۧ Ű«ُÙ
َّ ۧÙْŰčَÙْ ۰َÙِÙَ ÙِÙ Ű”َÙَۧŰȘِÙَ ÙُÙِّÙَۧ.
Bahawa Nabi shalallahu 'alaihi wasallam masuk masjid dan masuk pula seorang lelaki lalu melakukan solat. Kemudian dia datang dan memberi salam kepada Nabi shalallahu 'alaihi wasallam. Namun Nabi shalallahu 'alaihi wasallam tidak membalas salamnya lalu bersabda: “Kembalilah dan solatlah, kerana sesungguhnya engkau belum bersolat.”
Maka dia pun solat sekali lagi. Kemudian dia datang lagi dan memberi salam kepada Nabi shalallahu 'alaihi wasallam, maka baginda bersabda: “Kembalilah dan solatlah, kerana sesungguhnya engkau belum bersolat (dan ini berulang sehingga tiga kali).”
Lelaki itu berkata: “Demi zat yang mengutusmu dengan kebenaran, aku tidak dapat melakukan yang lebih baik dari itu, maka ajarkanlah aku.”
Baginda shalallahu 'alaihi wasallam bersabda: “Apabila engkau berdiri untuk solat maka takbirlah, kemudian bacalah yang mudah bagimu dari al-Qur’an.
Kemudian rukuklah hingga engkau tenang (thuma’ninah) dalam rukuk,
kemudian bangkitlah (i’tidal) hingga engkau tegak (lurus) berdiri.
Kemudian sujudlah hingga engkau tenang (thuma’ninah) dalam sujud,
lalu bangkitlah hingga engkau tenang (thuma’ninah) dalam duduk (duduk antara dua sujud). Kemudian sujudlah hingga engkau tenang (thuma’ninah) dalam sujud. Lakukan demikian dalam semua solatmu.”[Sahih: Dikeluarkan oleh al-Bukhari dalam Shahihnya, hadis no. 793.]
Menurut Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah:
“Hadis dalam bab ini (Imam al-Bukhari menamakan bab ini ‘Perintah Nabi shalallahu 'alaihi wasallam Kepada Orang Yang Tidak Menyempurnakan Rukuk Agar Mengulangi Solatnya’) dijadikan dalil bahawa thuma’ninah pada rukun-rukun solat adalah wajib hukumnya, dan ini adalah pendapat jumhur (majoriti) ulama’.”[Ibnu Hajar al-Asqalani, Fathul Baari, jld. 4, ms. 582.]
Oleh itu wajib bagi seluruh umat Islam memerhatikan kesempurnaan thuma’ninah ketika sujud dalam solat dengan melakukannya secara tenang dan sesuai dengan gerakan yang diajar sendiri oleh Nabi shalallahu 'alaihi wasallam melalui hadis baginda yang sahih sebagaimana yang telah penulis bentangkan di atas.
Demikianlah beberapa contoh pergerakan dalam solat yang Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam anjurkan secara umum kepada semua umatnya tanpa membezakan kaum lelaki mahupun perempuan. Pendapat yang paling benar dalam hal ini adalah tidak ada perbezaan dalam gerakan ketika solat antara lelaki dan perempuan. Penulis juga ingin tekankan kepentingan menjaga thuma’ninah dalam solat.