Tuesday, April 6, 2010

Wasiat Kelima Belas Nabi s.a.w. (Perihal Akhlak Yang Baik)

"Dari Abu Darda r.a. beliau berkata bahawa Rasulullah s.a.w. bersabda : "Tidak ada sesuatu yang lebih berat dalam timbangan amal seorang hamba pada hari qiyamat nanti melebihi dari akhlak yang baik. Sesungguhnya Allah tidak suka kepada orang yang jahat dan kotor perkataannya." 
(Hadis Riwayat Abu Daud dan At-Tirmidzi)
 
Dari Abu Hurairah r.a. beliau berkata bahawa Rasulullah s.a.w. ada bersabda : "Orang-orang Mukmin yang sempurna imannya adalah orang yang paling baik akhlaknya. Orang yang paling baik diantara kamu adalah orang yang paling baik terhadap keluarganya."
(Hadis Riwayat Abu Daud dan At-Tirmidzi)

Dari Jabir r.a. beliau berkata bahawa Rasulullah s.a.w. bersabda : "Bahawa orang yang aku suka diantara kamu dan paling dekat tempatnya denganku pada hari qiyamat nanti adalah orang yang paling baik akhlaknya di antara kamu. Orang yang paling kubenci di antara kamu dan paling jauh tempatnya denganku pada hari qiyamat nanti adalah orang yang paling banyak cakap di mana tidak teliti dalam bercakap dan mutafaikun" Para sahabat bertanya : "Siapakah mutafaihikun (tinggi diri) itu? Jawab Rasulullah s.a.w. :  "Iaitu orang-orang yang takbur (tinggi diri)."
(Hadis Riwayat At-Tirmidzi)





Sunday, April 4, 2010

Perkahwinan Adalah Amalan Sunnah Nabi s.a.w

Islam menggalakkan perkahwinwn yang sah kerana perkahwinan adalah amalan Sunnah Rasulullah s.a.w. Nabi s.a.w tidak mengaku umatnya apabila ada sesiapa yang tidak mahu berkahwin sedangkan ia mempunyai kemampuan dan perbelanjaan yang mencukupi. Terdapat beberapa sebab kenapa Islam menganjurkan perkahwinan . Perkara-perkara tersebut adalah seperti berikut :

1. Melengkapi agamanya.
Nabi s.a.w bersabda yang bermaksud :
“Barang siapa menikah, maka ia telah melengkapi separuh dari agamanya. Dan hendaklah ia bertaqwa kepada Allah dalam memelihara yang separuhnya lagi."
(Hadis Riwayat Thabrani dan Hakim).

2. Menjaga kehormatan diri.
Nabi s.a.w bersabda yang bermaksud :
“Wahai para pemuda! Barangsiapa di antara kalian berkemampuan untuk nikah, maka nikahlah, karena nikah itu lebih mudah menundukkan pandangan dan lebih menjaga farji (kemaluan). Dan barang siapa yang tidak mampu, maka hendaklah ia puasa, karena puasa itu dapat menjaga dirinya.
(Hadis Sahih Riwayat. Ahmad, Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Nasaiy, Darimi, Ibnu Jarud dan Baihaqi).

3. Senda guraunya suami-istri bukanlah perbuatan sia-sia.
“Segala sesuatu yang di dalamnya tidak mengandungi zikrullah merupakan perbuatan sia-sia, senda gurau, dan permainan, kecuali empat (perkara), yaitu senda gurau suami dengan istrinya, melatih kuda, berlatih memanah, dan mengajarkan renang.” (Buku Adab Az Zifaf Al Albani hal 245; Silsilah Al Ahadits Ash Shahihah no. 309).

 Hidup berkeluarga merupakan ladang meraih pahala…

4. Bersetubuh dengan istri termasuk sedekah.

Pernah ada beberapa sahabat Nabi s.a.w. berkata kepada beginda, “Wahai Rasulullah, orang-orang kaya telah banyak mengumpul pahala. Mereka boleh salat sebagaimana kami salat; mereka boleh berpuasa sebagaimana kami berpuasa; bahkan mereka boleh bersedekah dengan kelebihan harta mereka.” Beginda bersabda, “Bukankah Allah telah memberikan kepada kalian sesuatu yang boleh kalian sedekahkan? Pada tiap-tiap ucapan tasbih terdapat sedekah; pada tiap-tiap ucapan takbir terdapat sedekah; pada tiap-tiap ucapan tahlil terdapat sedekah; pada tiap-tiap ucapan tahmid terdapat sedekah; memerintahkan perbuatan baik adalah sedekah; mencegah perbuatan mungkar adalah sedekah; dan kalian bersetubuh dengan istri pun sedekah.”

Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, apabila salah seorang dari kami melampiaskan syahwatnya akan mendapatkan pahala?” Beginda menjawab, “Bagaimana menurut kalian bila nafsu syahwatnya itu dia salurkan pada tempat yang haram, apakah dia akan mendapatkan dosa dengan sebab perbuatannya itu?” (Mereka menjawab, “Ya, tentu.” Beginda bersabda : “Demikian pula bila dia salurkan syahwatnya itu pada tempat yang halal, dia pun akan mendapatkan pahala.” (Beginda kemudian menyebutkan beberapa hal lagi yang beginda padankan masing-masingnya dengan sebuah sedekah, lalu beliau bersabda, “Semua itu boleh digantikan cukup dengan salat dua raka’at Dhuha.”) (Buku Adab Az Zifaf Al Albani hal 125).

5. Adanya saling nasehat-menasehati.

6. Boleh berdakwah kepada orang yang dicintai

7. Pahala memberi contoh yang baik.
Nabi s.a.w bersabda yang bermaksud :
“Siapa saja yang pertama memberi contoh perilaku yang baik dalam Islam, maka ia mendapatkan pahala kebaikannya dan mendapatkan pahala orang-orang yang meniru perbuatannya itu tanpa dikurangi sedikit pun. Dan barang siapa yang pertama memberi contoh perilaku buruk dalam Islam, maka ia mendapatkan dosa kejahatan itu dan mendapatkan dosa orang yang meniru perbuatannya tanpa dikurangi sedikit pun.”
(Hadis Riwayat. Muslim, Buku Riyadush Shalihin Bab Orang yang pertama kali melakukan kebaikan atau kejahatan.)


8. Seorang suami memberikan nafkah, makan, minum, dan pakaian kepada istrinya dan keluarganya akan terhitung sedekah yang paling utama. Dan akan diganti oleh Allah, ini janji Allah.

Dari Abu Hurairah r.a., ia berkata: Rasulullah s.a.w, bersabda: “Satu dinar yang kamu nafkahkan di jalan Allah, satu dinar yang kamu nafkahkan untuk memerdekakan budak, satu dinar yang kamu berikan kepada orang miskin dan satu dinar yang kamu nafkahkan kepada keluargamu, maka yang paling besar pahalanya yaitu satu dinar yang kamu nafkahkan kepada keluargamu.”
(Hadis Riwayat Muslim, Buku Riyadush Shalihin Bab Memberi nafkah terhadap keluarga).

Dari Abu Abdullah (Abu Abdurrahman) Tsauban bin Bujdud., ia berkata: Rasulullah s.a.w. bersabda: “Dinar yang paling utama adalah dinar yang dinafkahkan seseorang kepada keluarganya, dinar yang dinafkahkan untuk kendaraan di jalan Allah, dan dinar yang dinafkahkan untuk membantu teman seperjuangan di jalan Allah.
(Hadis Riwayat. Muslim, Buku Riyadush Shalihin Bab Memberi nafkah terhadap keluarga).

Seorang suami lebih utama menafkahkan hartanya kepada keluarganya daripada kepada yang lain karena beberapa alasan, diantaranya adalah nafkahnya kepada keluarganya adalah kewajiban dia, dan nafkah itu akan menimbulkan kecintaan kepadanya.

Muawiyah bin Haidah RA., pernah bertanya kepada Rasulullah s.a.w.: "Wahai Rasulullah, apa hak istri terhadap salah seorang di antara kami?” Beginda menjawab dengan bersabda, “Berilah makan bila kamu makan dan berilah pakaian bila kamu berpakaian. Janganlah kamu merosakkan wajahnya, janganlah kamu memukulnya, dan janganlah kamu memisahkannya kecuali di dalam rumah. Bagaimana kamu akan berbuat begitu terhadapnya, sementara sebagian dari kamu telah bergaul dengan mereka, kecuali kalau hal itu telah dihalalkan terhadap mereka.” (Adab Az Zifaf Syaikh Albani hal 249).

Dari Sa’ad bin Abi Waqqash r.a, dalam hadis yang panjang yang kami tulis pada bab niat, ia berkata: Rasulullah s.a.w bersabda kepadanya: “Sesungguhnya apa saja yang kamu nafkahkan dengan maksud kamu mencari keredhaan Allah, niscaya kamu akan diberi pahala sampai apa saja yang kamu sediakan untuk istrimu.”
(Hadis Riwayat. Bukhari dan Muslim, Buku Riyadush Shalihin Bab Memberi nafkah terhadap keluarga).

Dari Abdullah bin Amr bin ‘Ash ra., ia berkata: Rasulullah s.a.w bersabda:
“Seseorang cukup dianggap berdosa apabila ia menyianyiakan orang yang harus diberi belanja
(Hadis Riwayat. Bukhari dan Muslim, Buku Riyadush Shalihin Bab Memberi nafkah terhadap keluarga).

Dan akan diganti oleh Allah, ini janji Allah.
Firman Allah s.w.t. yang bermaksud :
“Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan maka Allah akan menggantinya.”
(Surah Saba’ayat 39).


Nabi s.a.w  bersabda yang bermaksud : “Setiap pagi ada dua malaikat yang datang kepada seseorang, yang satu berdoa: “Ya Allah, berikanlah ganti kepada orang yang menafkahkan hartanya.” Dan yang lain berdoa: “Ya Allah, binasakanlah harta orang yang kikir.”
(Hadis Riwayat.Bukhari dan Muslim, Buku Riyadush Shalihin Bab Memberi nafkah terhadap keluarga).

9. Seorang lelaki yang mengawini janda yang mempunyai anak, bererti ikut memelihara anak yatim.

Janji Allah berupa pertolongan-Nya bagi mereka yang ingin berkahwin :

1.Firman Allah s.w.t. yang bermaksud : " Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian diantara kamu dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha Luas (Pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.
(Surah.An-Nur ayat 32)

2. Sabda Nabi s.a.w yang bermaksud : "Ada tiga golongan manusia yang berhak Allah tolong mereka, yaitu seorang mujahid fi sabilillah, seorang hamba yang menebus dirinya supaya merdeka dan seorang yang berkahwin karena ingin memelihara kehormatannya.
(Hadis Riwayat. Ahmad 2: 251, Nasaiy, Tirmidzi, Ibnu Majah)

Lima Maksiat Yang di Segerakan Balasannya.

Daripada Ibnu Omar r.a. berkata: Berhadap Rasulullah saw. kepada kami (pada suatu hari) kemudian beliau bersabda; "Wahai kaum Muhajirin, lima perkara kalau kamu telah dibalakan dengannya (kalau kamu telah mengerjakannya), maka tiada kebaikan lagi bagi kamu. Dan aku berlindung dengan Allah swt., semoga kamu tidak menemui masa itu. Perkara­-perkara itu ialah:

1. Tiada terzahir (nampak) perzinaan pada suatu kaum sehingga mereka berani berterus terang melakukannya, kecuali mereka akan ditimpa penyakit Tha'un yang cepat merebak di kalangan mereka, dan mereka akan ditimpa penyakit-penyakit yang belum pernah menimpa umat-umat yang telah lalu.

2. Dan tiada mereka mengurangkan sukatan dan timbangan, kecuali mereka akan dibalakan dengan kemarau dan susah mencari rezeki dan kezaliman daripada kalangan pepimpin mereka.

3. Dan tiada menahan mereka akan zakat harta benda kecuali ditahan untuk mereka air hujan dari langit. Jikalau tiada ada binatang (yang juga hidup diatas permukaan bumi ini) tentunya mereka tidak akan diberi hujan oleh Allah swt.

4. Dan tiada mereka mungkir akan janji Allah dan Rasulnya kecuali Allah akan menguasakan ke atas mereka musuh mereka, maka musuh itu merampas sebahagian daripada apa yang ada di tangan mereka.

5. Dan apabila pemimpin-pemimpin mereka tidak melaksanakan hukum Allah yang terkandung dalam al-Quran dan tidak mahu menjadikannya sebagai pilihan, maka (di saat ini) Allah akan menjadikan peperangan di kalangan mereka sendiri ". 

(Hadis Riwayat Ibnu Majah)

Keterangan :

Hadis di atas rnenerangkan bahawa:

1. Penyakit Thaun dan Aids adalah berpunca dari banyak berlaku perzinaan.

2. Kesukaran mencari rezeki dan kezaliman pimpinan adalah berpunca daripada rakyat yang mengurangkan sukatan dan timbangan.

3. Kemarau panjang adalah berpunca dari tidak megeluarkan zakat.

4. Kemampuan musuh mengambil sebahagian dari apa yang dimiliki oleh kaum Muslimin (sepeti hilangnya Tanah Pelastin dari tangan kaum Muslimin) adalah berpunca daripada mereka mengkhianati janji-ianji mereka kepada Allah swt.

5. Perang saudara yang berlaku di kalangan kaum Muslimin adalab berpunca daripada mengenepikan hukum­hukum Allah swt. dan tidak mahu menjadikan Al-Quran sebagai undang-undang di dalam kehidupan.

Saturday, April 3, 2010

Empat Puluh Nasihat Sayyidina Ali k.w.

Nasihat-nasihat tersebut adalah seperti berikut :

1. Pendapat seorang tua adalah lebiih baik daripada tenaga seorang muda.
2. Menyokong kesalahan adalah menindas kebenaran.
3. Kebesaran seseorang itu bergantung dengan qalbunya yang mana adalah hanya sekeping daging.
4. Mereka yang bersifat pertengahan dalam semua hal tidak akan menjadi miskin.
5. Jagailah ibubapamu, nescaya anak anakmu akan menjagai kamu.
6. Bakhil terhadap apa yang ditangan adalah tidak mempunyai kepercayaan terhadap Allah s.w.t.
7. Kekayaan seorang bakhil akan turun kepada ahli warisnya atau ke angin. Tidak ada yang lebih terpencil daripada seseorang bakhil.
8. Seorang arif adalah lebih baik daripada arif. Seorang jahat adalah lebih baik dari kejahatan.
9. Ilmu adalah lebih baik daripada kekayaan kerana kekayaan harus dijagai, sedangkan ilmu menjaga kamu.
10. Jagalah harta bendamu dengan mengeluarkan zakat dan angkatkan kesusahanmu dengan mendirikan solat.
11. Sifat menahan kemarahan adalah lebih mulia daripada membalas dendam.
12. Mengajar adalah belajar.
13. Berkhairatlah mengikut kemampuanmu dan janganlah menjadikan keluargamu hina dalam kemiskinan.
14. Insan terbahagi kepada tiga :
pertama : mereka yang mengenal Allah s.w.t.
kedua : mereka yang mencari kebenaran dan
ketiga : mereka yang tidak berpengetahuan dan tidak mencari kebenaran.
Golongan terakhir inilah yang paling rendah dan tidak baik sekali dan mereka akan ikut sebarang ketua dengan buta seperti kambing.
15. Insan tidak akan melihat kesalahan seorang yang bersifat tawadhu’ dan lemah.
16. Janganlah kamu takut kepada sesiapa melainkan dosamu terhadap Allah s.w.t.
17. Mereka yang mencari kesilapan dirinya sendiri adalah selamat daripada mencari kesilapan orang lain.
18. Harga diri seseorang itu adalah berdasarkan apa yang ia lakukan untuk memperbaiki dirinya.
19. Manusia sebenarnya sedang tidur tetapi akan bangun apabila ia mati.
20. Jika kamu mempunyai sepenuh keyakinan akan Al Haq dan kebenaran, nescaya keyakinanmu tetap tidak akan berubah walaupun terbuka rahsia rahsia kebenaran itu.
21. Allah s.w.t merahmati mereka yang kenal akan dirinya dan tidak melampaui batasnya.
22. Sifat seseorang itu tersembunyi disebalik lidahnya.
23. Seseorang yang membantu adalah sayapnya seseorang yang meminta.
24. Insan tidur diatas kematian anaknya tetapi tidak tidur diatas kehilangan hartanya.
25. Barangsiapa yang mencari apa yang tidak mengenainya nescaya hilang apa yang mengenainya.
26. Mereka yang mendengar orang yang mengumpat terdiri daripada golongan mereka yang mengumpat.
27. Kegelisahan adalah lebih sukar dari kesabaran.
28. Seorang yang hamba kepada syahwatnya adalah seorang yang lebih hina daripada seorang hamba kepada hamba.
29. Orang yang dengki, marah kepada orang yang tidak berdosa.
30. Putus harapan adalah satu kebebasan, mengharap (kepada manusia) adalah suatu kehambaan.
31. Sangkaan seorang yang berakal adalah suatu ramalan.
32. Seorang akan mendapat teladan diatas apa yang ia lihat.
33. Taat kepada perempuan (selain ibu) adalah kejahilan yang paling besar.
34. Kejahatan itu mengumpulkan kecelakaan yang memalukan.
35. Jika berharta, berniagalah dengan Allah s.w.t dengan bersedekah.
36. Janganlah kamu lihat siapa yang berkata tetapi lihatlah apa yang dikatakannya.
37. Tidak ada percintaan dengan sifat yang berpura pura.
38. Tidak ada pakaian yang lebih indah daripada keselamatan.
39. Kebiasaan lisan adalah apa yang telah dibiasakannya.
40. Jika kamu telah menguasai musuhmu, maafkanlah mereka, kerapa perbuatan itu adalah
syukur kepada kejayaan yang telah kamu perolehi.
 
(Dipetik dari kitab Nahjul Balagh oleh Sayyidina Ali k.w. dan kitab Al Bayan Wattabyeen oleh Al Imam Abu Othman Amru Ibn Bahr Al Jaahidh r.a.)

Friday, April 2, 2010

Wasiat Kedua belas Nabi s.a.w. (Perihal Rukun Islam)

Dari Muadz bin Jabal r.a. beliau berkata : Saya bersama Rasulullah dalam satu perjalanan. Suatu hari saya sangat dekat dengan beginda semasa kami berjalan dan aku berkata : "Wahai Rasulullah, khabarkanlah kepada saya tentang suatu amal yang dapat memasukkan saya ke dalam Syurga dan dapat menjauhkan saya daripada api Neraka."

 Rasulullah s.a.w. bersabda : 'Engkau telah menanyakan perkara besar di mana perkara itu akan menjadi mudah bagi orang yang dikehendaki oleh Allah s.w.t. Sembahlah Allah dan janganlah engkau menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dirikanlah solat, tunaikanlah zakat, puasa dalam bulan Ramadhan dan haji ke Baitullah.'

Kemudian baginda bersabda lagi : 'Sukakah engkau aku tunjukkan pintu-pintu kebaikan? .

Saya menjawab ; 'Suka wahai Rasulullah' .

Baginda pun bersabda ; 'Puasa itu perisai, sedekah itu dapat menghapuskan kesalahan sepertimana air dapat memadamkan api. Begitu pula halnya dengan solatnya seseorang. Begitu pula halnya dengan solatnya seseorang di tengah malam.

Dan baginda bacakan firman Allah s.w.t. :
'Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, sedang mereka berdo'a kepada Tuhan-Nya dengan rasa takut dan harap, dan mereka menafkahkan sebahagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka. Sesungguhnya tidak mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka iaitu (bermacam-macam nikmat) yang menyedapkan pandangan mata sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.'
(Surah As-Sajdah ayat 16-17)

Kemudian baginda bersabda : 'Sukakah engkau aku khabarkan tentang pokok, tiang dan puncak daripada semua perkara?'

Saya berkata : 'Suka wahai Rasulullah.'

Baginda bersabda : 'Pokok sesuatu perkara itu Islam, tiangnya adalah solat manakala puncaknya adalah jihad'.

Baginda bersabda lagi : 'Sukakah engkau aku khabarkan cara mengendalikan semua itu?'

Saya menjawab : 'Suka wahai Rasulullah'.

Baginda bersabda : 'Cukuplah engkau menjaga ini sambil memberi isyarat kepada lidahnya'.

Saya bertanya : 'Apakah kita akan ditanya setiap apa yang kita ucapkan?'

Baginda menjawab : 'Celakalah. Tiada tersungkur wajah-wajah manusia ke dalam Neraka melainkan kerana kurang menjaga perkataan-Nya (lidahnya)."

(Hadis Riwayat Ahmad, At-Tirmidzi, An-Nasai dan Ibnu Majah. At-Tirmidzi berkata, hadis ini hasan sahih)

Thursday, April 1, 2010

Wasiat Keempat Belas Nabi s.a.w. (Menjaga Solat)

Dar Abdullah bin Umar r.a. beliau berkata bahawa suatu hari Nabi s.a.w. menerangkan perihal solat, sabdanya yang bermaksud : "Sesiapa yang menjaga solat, maka dia akan mendapatkan cahaya, tanda bukti dan kemuliaan pada hari qiyamat nanti. Sesiapa yang tidak menjaga solat, dia tidak akan memperoleh cahaya, tanda bukti dan kemuliaan di mana pada hari qiyamat dia akan di kumpulkan bersama dengan Qarun, Firaun, Haman, dan Ubai bin Khalaf."
(Hadis Riwayat Ahmad dengan sanad yang baik)

Dari Anas r.a. beliau berkata : "Solat telah diwajibkan kepada Nabi s.a.w. pada malam baginda diisrakkan sebanyak lima puluh kali, kemudian dikurangkan sehingga menjadi lima kali (waktu), kemudian terdengar panggilan (seruan) : 'Hai Muhammad! Bahawa tidak mungkin dapat dirubah perkataan daripada-Ku itu. Dan dengan solat fardu lima waktu ini emgkau mendapat pahala lima puluh'."
(Hadis Riwayat Imam hadis yang lima, kecuali Abu Daud)

Dari Abu Qatadah r.a beliau berkata Nabi s.a.w. bersabda : "Allah s.w.t berfirman : 'Aku telah mewajibkan solat lima waktu atas umat engkau (Muhammad) dan Aku telah berjanji pada diri-Ku bahawa sesiapa yang menjaga solat lima waktu tersebut tepat pada waktunya. Aku akan memasukkannya ke dalam Syurga. Sesiapa yang tidak menjaga soalt, tidak ada ikatan perjanjian apapun antara Aku dengannya'."
(Hadis Riwayat Abu Daud)

Dari Abu Hurairah r.a. beliau berkata bahawa Nabi s.a.w. bersabda : "Apabila kamu perhatikan bahawa seandainya ada sungai di pintu masuk salah seorang di antara kamu kemudian setiap hari dia mandi lima kali. Masih adakah kotoran tertinggal padanya?" Para sahabat menjawab : "Tidak tertinggal kotoran sedikit pun." Rasulullah s.a.w bersabda : "Itulah contoh solat lima waktu di mana dengannya Allah hapuskan kesalahan-kesalahan."
(Hadis Riwayat Imam Hadis kecuali Abu Daud.)

Dari Amr bin Sa'id beliau berkata : Saya bersama Othman r.a. di mana semasa akan bersuci beliau (Othman) berkata : "Saya mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda : 'Tidaklah di katakan seorang Mulim melainkan tatkala datang waktu solat fardu segera dia menyempurnakan wudhu', khusyuk dan rukuknya, maka akan terhapus dosa-dosa setahun penuh sebelumnya kecuali dosa besar'."
(Hadis Riwayat Muslim)

Dari Othman bin Affan r.a. beliau berkata : Saya mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda : "Sesiapa solat Isyak dengan berjemaah seakan-akan dia melaksanakan solat setengah malam. Sesiapa melaksanakan solat subuh berjemaah maka seakan-akan dia melaksanakan solat satu malam penuh."
(Hadis Riwayat Muslim)

Dari Abu Musa r.a. beliau berkata Rasulullah s.a.w bersabda : "Sesiapa solat bardain (subuh dan asar) maka dia akan masuk Syurga."
(Hadia Riwayat Al-Bukhari dan Muslim).

Wednesday, March 31, 2010

Wasiat Ketiga belas Nabi s.a.w. (Berbakti Kepada Ibu Bapa)

Dari Abu Hurairah r.a. beliau berkata : Seorang lelaki datang kepada Rasulullah s.a.w dan bertanya : "Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak untuk saya pergauli dengan baik? Baginda menjawab : "Ibumu" Lelaki itu bertanya lagi ; " Kemudian siapa?" Nabi menjawab : " Ibumu." Lelaki itu bertanya lagi : " Kemudian siapa?". Nabi menjawab : " Ibumu." Lelaki itu bertanya lagi ; " Kemudian siapa?" Nabi menjawab : " Bapamu."
(Hadis Riwayat Al-Bukhari dan Muslim)

Dalam riwayat lain, dari Abu Hurairah, beliau berkata bahawa seorang lelaki bertanya ; "Wahai Rasulullah. siapakah orang yang paling berhak aku pergauli dengan baik?" Nabi menjawab : "Ibumu, lalu ibumu, lalu ibumu kemudian bapamu kemudian yang lebih dekat dan seterusnya."
(Hadis Riwayat Muslim)

Dari Abu Hurairah r.a. beliau berkata. Nabi s.a.w bersabda : "Hinalah seseorang, hinalah seseorang, hinalah seseorang iaitu orang yang mendapatkan kedua-dua orang tuanya atau salah seorang di antara keduanya telah tua namun pemeliharaannya ke atas mereka tidak menyebabkan dia masuk Syurga."
(Hadis Riwayat Muslim).

Tuesday, March 30, 2010

Bagaimana Mendapat Ketenangan Jiwa.

Sahabat yang dikasihi kerana Allah,
Betapa mahalnya harga ketenangan jiwa. Banyak yang mengorbankan apa saja untuk mendapatkannya. Namun, tak sedikit juga yang keliru. Lihat saja apabila seseorang ingin mendapatkan ketenangan jiwa, sangup menghabiskan masa berjam-jam untuk berhibur sambil mengambil minuman keras. Tak sedikit yang menghabiskan wang ribuan ringgit untuk mendapatkan pil penenang. Sementara, ketenangan yang diperolehi hanya sebentar saja. Akibatnya bukan ketenangan jiwa yang diperolehi tetapi kerosakan dan kehancuran yang diterima.

Kehidupan setiap hari dengan berbagai-bagai masaalah menyebabkan seseorang mendapat stress, risau, bimbang, gangguan emosi dan kemurungan. Kehidupan yang mencabar, keperluan dan tuntutan kehidupan yang meningkat, kos sara hidup yang tinggi kesemuanya menyumbang kepada keadaan jiwa yang tidak tenang dan memberikan tekanan jiwa yang amat membimbangkan. Apabila keadaan ini tak dapat dikawal dikhuatiri berbagai masaalah yang akan timbul, dan kadangkala boleh mengakibatkan seseorang itu bertindak diluar batasan manusia yang sihat. Contohnya faktor bunuh diri, penderaan seksual, penyiksaan fizikal terhadap kanak-kanak dan pembantu rumah, hinggakan ianya boleh sampai keperingkat membunuh orang lain.

Sahabat yang dimuliakan,
Hakikat sebenarnya, tak ada seorang pun boleh terlepas dari masaalah kehidupan. Itulah sunatullah yang berlaku di dunia. Kekayaan, pangkat dan kedudukan takkan mampu menghalanginya.

Namun, Islam memberikan penyelesaian terhadap tekanan hidup itu agar jiwa menjadi tenang. Tak ada istilah stress bagi seorang Mukmin. Persoalannya Islam telah memberikan penyelesaian untuk menghadapi tekanan hidup. Berikut adalah langkah-langkah yang boleh dilakukan untuk mendapat ketenangan jiwa:

1. Membaca dan mendengarkan kitab suci al-Qur'an :

Suatu ketika seseorang datang kepada Ibnu Mas’ud, salah seorang sahabat utama Rasulullah s.a.w.. Ia mengeluh, “Wahai Ibnu Mas’ud, nasihatilah aku dan berilah ubat bagi jiwaku yang gelisah ini. Hari-hariku penuh dengan perasaan tak tenteram, jiwaku gelisah, dan fikiranku kusut. Makan tak lalu, tidur pun tak lena," kata orang tersebut.

Ibnu Mas’ud menjawab, ”Kalau penyakit itu yang menimpamu, maka bawalah hatimu mengunjungi tiga tempat :

Pertama, tempat orang membaca al-Quran. Engkau baca al-Quran atau engkau dengar baik-baik orang yang membacanya.

Kedua, engkau pergi ke majlis ilmu yang mengingatkan hatimu kepada Allah. 

Ketiga, engkau cari waktu dan tempat yang sunyi, di sana engkau berkhalwat mengabdikan diri kepada Allah. 

Nasihat sahabat Nabi itu segera dilaksanakan orang tersebut. Sampai saja di rumah, segera ia berwudhu kemudian diambilnya al-Qur'an dan dibacanya dengan khusyuk. Selesai membaca, ia segera dapati hatinya memperoleh ketenteraman, dan jiwanya pun tenang. Fikirannya segar kembali, hidupnya terasa seronok kembali. Padahal, ia baru melaksanakan satu dari tiga nasihat yang disampaikan sahabat Rasulullah s.a.w tersebut.

2. Menyayangi orang miskin :

Rasulullah s.a.w memerintahkan kepada Muslim yang punya kelebihan harta untuk memberikan perhatian kepada orang miskin. Ternyata, sikap dermawan itu boleh mendatangkan ketenangan jiwa. Mengapa? Dalam sebuah hadis dijelaskan bahwa para Malaikat selalu mendoakan orang-orang dermawan:

Rasulullah s.a.w bersabda yang maksudnya :“Setiap pagi hari dua Malaikat senantiasa mendampingi setiap orang. Salah satunya mengucapkan do'a: ' Ya Allah! Berikanlah balasan kepada orang yang bersedekah. Dan Malaikat yang kedua pun berdo'a :' Ya Allah! Berikanlah kepada orang yang kedekut itu kebinasaan."

Dari hadis tersebut dapat disimpulkan bahwa orang yang dermawan itu memperoleh dua balasan. Pertama, ia mendapatkan ganjaran atas apa yang diberikannya kepada orang lain. Kedua, mendapatkan limpahan ketenangan jiwa dan belas kasihan dari Allah s.w.t.

3. Melihat orang yang di bawah, jangan lihat orang di atas :

Ketenangan jiwa akan diperoleh jika kita senantiasa bersyukur atas segala pemberian Allah s.w.t, meskipun nampak sedikit. Rasa syukur itu akan muncul bila kita senantiasa melihat orang-orang yang  lebih rendah taraf kehidupannya dari kita, baik dalam segi harta kekayaan,  tahap kesihatan, rupa paras, pekerjaan dan pendidikannya. Betapa ramai di dunia ini orang yang kurang bernasib baik. Rasa syukur itu selain mendatangkan ketenangan jiwa, juga akan mendapat ganjaran dari Allah s.w.t.

4. Menjaga perhubungan silaturahim :

Manusia adalah makhluk ciptaan Allah yang memerlukan perhubungan sesama manusia, untuk bantu membantu sesama mereka. Berbagai keperluan hidup tak mungkin diperolehi tanpa bantuan orang lain. Oleh itu, di dalam hadis Rasulullah s.a.w diperintahkan untuk tetap menjalin hubungan silaturahim, sekalipun terhadap orang yang melakukan permusuhan.

Rasulullah s.a.w. juga pernah bersabda bahwa silaturahmi dapat memanjangkan umur dan memurahkan rezeki . Hubungan yang baik di dalam keluarga, maupun dengan jiran tetangga akan mendatangkan ketenangan, kedamaian dan kemesraan. Hubungan yang baik itu juga akan menyelesaikan berbagai masaalah yang dihadapi oleh masyarakat.

5. Banyak mengucapkan kalimah "la hawla wa la quwwata illa billah."

Sumber ketenangan jiwa yang hakiki adalah bersumberkan dari Allah s.w.t. Oleh itu hendaklah kita selalu menghubungkan hati dengan Allah s.w.t. dalam semua keadaan, baik dalam keadaan senang maupun susah. Perhubungan yang  kuat dengan Allah s.w.t. akan membuat jiwa seseorang menjadi kuat, tak mudah diganggu gugat oleh sesiapa pun, apabila hati sentiasa mengingati Allah maka syaitan laknatullah tidak akan dapat mempengaruhi hati dan fikiran kita. 

6. Mengatakan kebenaran walaupun ianya pahit didengar :

Hidup ini harus dijaga agar senantiasa berada di atas jalan kebenaran. Kebenaran harus diperjuangan. Pelanggaran terhadap kebenaran akan mendatangkan kegelisahan. Ketenangan jiwa akan terbina apabila kita tidak melanggar nilai-nilai kebenaran. Sebaliknya, pelanggaran terhadap kebenaran akan berpengaruh terhadap ketenangan jiwa. Lihat saja orang-orang kerap berbuat maksiat, kehidupannya dipengaruhi kegelisahan.

7. Sentiasa berlapang dada terhadap kecaman orang lain asalkan yang kita lakukan benar-benar kerana Allah :

Salah satu faktor yang membuat jiwa seseorang tidak tenang adalah kerena selalu mengambil perhatian kecaman orang lain terhadap dirinya.  Sedangkan seseorang akan memiliki pendirian yang kuat jika berpegang kepada prinsip-prinsip yang datang dari Allah s.w.t. iaitu Islam sebagai cara hidup. Sekiranya kita ikuti apa yang berlaku di dunia sekarang ini, ianya akan menganggu ketenagan jiwa kita. 

8. Tidak meminta-minta kepada orang lain :

"Tangan di atas (memberi) lebih mulia dari tangan di bawah" adalah hadis Rasulullah s.a.w  yang memotivasi setiap mukmin untuk hidup berdikari. Tidak bergantung dan meminta-minta kepacla orang lain, kerana jiwanya akan kuat dan sikapnya lebih berani dalam menghadapi kehidupan. Sebaliknya, orang yang selalu meminta-minta menggambarkan jiwa yang lemah. Hal ini tentu membuat jiwanya tidak tenang.

9. Menjauhkan diri dari berhutang :

Dalam sebuah hadis Rasulullah s.a.w dengan tegas mengatakan yang bermaksud : “Janganlah engkau jadikan dirimu ketakutan setelah merasakan keamanan!”
(Para sahabat) bertanya:" Bagaimana boleh terjadi seperti itu!"
 Sabdanya :" Kerana hutang.”

Begitulah kenyataanya. Orang yang berhutang akan senantiasa bimbang dan risau, kerena ia akan didatangi oleh orang yang memberi hutang kepadanya. Inilah salah satu faktor yang membuat banyak orang mengalami tekanan jiwa. Rasulullah s.a.w juga mengatakan dalam hadisnya yang bermaksud : “Hendaklah kamu jauhi hutang, kerena hutang itu menjadi beban fikiran di malam hari dan rasa rendah diri di siang hari."

10. Selalu berfikiran positif :

Mengapa seseorang mudah stress dan jiwa tak tenang? Salah satu faktornya kerena ia selalu berfikiran negatif. Selalu mencela dan menyesali kekurangan diri. Padahal, setiap kita diberikan oleh Allah s.w.t. berbagai kelebihan. Ubahlah fikiran negatif itu menjadi positif. Ubahlah perasaan keluh kesah yang membuat muka berkerut, lemah badan dan kecewa dengan ucapan yang mengembirakan. Ucapan yang mengembirakan akan membuat kita mudah tersenyum, jiwa menjadi lebih bersemangat. Bukankah di balik kesulitan dan kegagalan ada hikmah yang boleh jadi pelajaran? Dan bukankah disebalik kesulitan ada kemudahan?

(Sumber dipetik dari tulisan Djasti Tanius)


Monday, March 29, 2010

Kelebihan Basmallah

Mukjizat di sebalik BASMALLAH :

BASMALLAH adalah sebutan atau nama singkat dari lafaz "BISMILLAHIR ROHMAANIR ROHIIM" yang bermaksud "Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang."

KELEBIHAN-KELEBIHAN BASMALLAH

1.Yang pertama ditulis qalam adalah BASMALLAH. Maka apabila kamu menulis sesuatu, maka tulislah BASMALLAH pada awalnya kerana BASMALLAH tertulis pada setiap wahyu yang Allah turunkan kepada Malaikat Jibrail a.s.

2.Firman Allah s.w.t dalam Hadis Qudsi yang bermaksud : "BASMALLAH untukmu dan umahmu, suruhlah mereka apabila memohon sesuatu dengan BASMALLAH. Aku tidak akan meninggalkannya sekejap mata pun sejak BASMALLAH diturunkan kepada Adam."

3.Tatkala BASMALLAH diturunkan ke dunia, maka semua awan berlari ke arah barat, angin terdiam, air laut bergelora, mendengarkan seluruh binatang dan terlempar semua syaitan.

4.Demi Allah dan keagungan-Nya, tidaklah BASMALLAH itu dibacakan pada orang sakit melainkan menjadi ubat untuknya dan tidaklah BASMALLAH dibacakan di atas sesuatu melainkan Allah beri berkat ke atasnya.

5.Barangsiapa yang ingin hidup bahagia dan mati syahid, maka bacalah BASMALLAH setiap kali memulakan sesuatu perkara yang baik.

6.Jumlah huruf dalam BASMALLAH ada 19 huruf dan malaikat penjaga Neraka ada 19 (QS.AL http://qs.al/ Muddatsir:30) .Ibnu Mas'ud berkata: "Sesiapa yang ingin Allah selamatkan dari 19 Malaikat Neraka maka bacalah BASMALLAH 19 kali setiap hari."

7.Tiap huruf BASMALLAH ada junnah (penjaga/khadam) hingga tiap huruf berkata, "Siapa yang membaca BASMALLAH maka kamilah kekuatannya dan kamilah kehebatannya. "

8.Barangsiapa yang memuliakan tulisan BASMALLAH nescaya Allah akan mengangkat namanya di Syurga yang sangat tinggi dan diampunkan segala dosa kedua orang tuanya.

9.Barangsiapa yang membaca BASMALLAH maka akan bertasbihlah segala gunung kepadanya.

10.Barangsiapa yang membaca BASMALLAH sebanyak 21 kali ketika hendak tidur, maka akan terpelihara dari gangguan syaitan, kecurian dan kebakaran, maut mendadak dan bala.


11.Barangsiapa yang membaca BASMALLAH sebanyak 50 kali dihadapan orang yang zalim, hinalah dan masuk ketakutan dalam hati si zalim serta naiklah keberanian dan kehebatan kepada si pembaca.

Sabda Rasulluah s.a.w. yang bermaksud : "Siapa yang menyampaikan satu ilmu dan orang yang mengamalkannya maka dia akan beroleh pahala walaupun sudah tiada...."

(Sumber dari website : Braderhud)

Sunday, March 28, 2010

Wasiat Kesebelas Nabi s.a.w. (Keutamaan Bertaubat Kepada Allah)

Dari Al-Aghari bin Yasar Al-Muzany r.a. beliau berkata : Rasulullah s.a.w. bersabda : "Wahai sekelian manusia, bertaubatlah kamu kepada Allah dan mintalah ampun kepada-Nya kerana aku bertaubat tidak kurang dari seratus kali dalam sehari."
(Hadis Riwayat Muslim)

Dari Abu Hurairah r.a., beliau berkata : Saya mendengar Rasulullah s.a.w bersabda :" Demi Allah, saya minta ampun kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya tidak kurang dari tujuh puluh kali sehari."
(Hadis Riwayat Al-Bukhari)

Dari Abi Hamzah, Anas bin Malik Al-Anshari, pelayan Rasulullah, beliau berkata : Rasulullah s.a.w. bersabda : "Allah lebih suka terhadap taubat hamba-Nya melebihi sukanya salah seorang di antara kamu yang kehilangan unta kemudian terjumpa di masa dia berada di tengah hutan belentara."
(Hadis Riwayat Al-Bukhari dan Muslim).

Dalam riwayat Muslim, hadis itu berbunyi :
"Allah lebih senang menerima taubat seorang hamba-Nya melebihi dari kesukaan orang yang berkenderaan di hutan di mana kenderaannya hilang padahal kenderaan itu pernah membawa bekal makanan dan minuman sehingga dia putus harapan untuk mendapatkannya kembali lalu duduk di bawah pokok dengan kecewa dan putus asa. Tiba-tiba ketika dia bangun dari tidurnya kenderaannya telah balik semula dihadapannya lengkap dengan perbekalannya. Maka segeralah dia memegang kendalinya sambil berkata : Ya Allah, Engkau Hambaku dan aku Rabb-Mu." Terlajak lidahnya kerana sangat gembira."

Dari Abi Musa, Abdullah Ibni Qais Al Asy'ari r.a berkata : Nabi s.a.w bersabda : "Bahawa Allah membentangkan pengampunan-Nya di waktu malam , supaya bertaubat orang yang berdosa di waktu siang. Dia membentangkan pengampunan-Nya di waktu siang supaya bertaubat orang yang berdosa di waktu malam sehingga matahari terbit dari sebelah barat."
(Hadis Riwayat Muslim)

Thursday, March 25, 2010

Muhasabah Diri Setiap Hari.


Sahabat yang dirahmati Allah,
Dari Syadad bin Aus r.a. berkata, Rasulullah s.a.w bersabda yang bermaksud : " Orang yang pandai adalah yang menghisab (menilai) dirinya sendiri serta beramal untuk kehidupan sesudah kematian. Sedangkan orang yang lemah adalah yang dirinya mengikuti hawa nafsunya serta berangan-angan terhadap Allah s.w.t.)
(HR. Imam Turmudzi, ia berkata, ‘Hadits ini adalah hadis hasan’)
 
Gambaran Umum Hadis.
Hadis di atas menggambakan hidup di dunia merupakan rangkaian dari sebuah perancangan dan tujuan besar seorang hamba, iaitu mencari keredhaan Rabbnya. Dan dalam menjalankan tujuan tersebut, seseorang tentunya harus memiliki matlamat (ghayah), perencanaan (ahdaf), strategi (takhtith), pelaksanaan (tatbiq) dan penilaian (muhasabah).

Perkara terakhir merupakan pembahasan utama yang dijelaskan oleh Rasulullah s.a.w. dalam hadis ini. Bahkan dengan jelas, Rasulullah s.a.w. mengaitkan muhasabah dengan kejayaan, sedangkan kegagalan akan berlaku apabila mengikuti hawa nafsu dan banyak angan-angan.
 
Sahabat yang dimuliakan,
Hadis di atas dimulakan oleh Rasulullah dengan sabdanya, "Orang yang pandai (berjaya) adalah yang menghisab (menilai) dirinya sendiri serta beramal untuk kehidupan setelah kematian." Ungkapan sederhana ini sungguh menggambarkan sebuah pandangan jauh yang harus dimiliki seorang Muslim.
Seorang Muslim tidak seharusnya hanya berwawasan sempit dan terbatas, sekedar pemenuhan keinginan untuk jangka waktu terdekat sahaja. Namun lebih dari itu, seorang Muslim harus memiliki pandangan dan perancangan untuk kehidupannya yang lebih kekal abadi. Kerana orang yang berjaya adalah yang mampu mengatur keinginan yang sementara demi keinginan jangka panjangnya.
 
Orang bertakwa adalah yang ‘rela’ mengorbankan keinginan duniawinya, demi tujuan yang lebih mulia, ‘kebahagian kehidupan ukhrawi.’
Dalam Al-Qur’an, Allah s.w.t. seringkali mengingatkan hamba-hamba-Nya mengenai matlamat besar ini, di antaranya adalah dalam al-Qur'an Surah Al-Hasyr ayat 18–19.
 
Muhasabah inilah yang digambarkan oleh Rasulullah s.a.w. sebagai kunci pertama dari kejayaan. Selain itu, Rasulullah s.a.w. juga menjelaskan kunci kejayaan yang kedua, iaitu tindakkan selepas muhasabah. Maknanya setelah muhasabah harus ada tindakan untuk memperbaikinya.
 
Dalam hal ini diisyaratkan oleh Rasulullah s.a.w. dengan sabdanya dalam hadis di atas dengan 'dan beramal untuk kehidupan sesudah kematian.’ Potongan hadis yang terakhir ini diungkapkan Rasulullah s.a.w. adalah penjelasan tentang muhasabah. Kerana muhasabah juga tidak akan memberi makna jika kita tidak memperbaikinya.
Terdapat hal menarik yang tersirat dari hadis di atas, khususnya dalam penjelasan Rasulullah s.a.w. mengenai kejayaan. Orang yang pandai senantiasa menilai terhadap amalnya, serta beramal untuk kehidupan jangka panjangnya iaitu kehidupan akhirat. Dan penilaian tersebut dilakukan untuk kepentingan dirinya, dalam rangka peningkatan kepribadiannya sendiri.
 
Sementara itu orang yang gagal disebut sebagai orang yang lemah kerana mengikuti hawa nafsunya, membiarkan hidupnya tidak memiliki matlamat, tidak memiliki perancangan, tidak ada tindakan dari perancangan.
 
Sedangkan orang yang lemah juga  memiliki banyak angan-angan dan khayalan, 'berangan-angan terhadap Allah.’ Maksudnya, adalah sebagaimana dikemukakan oleh Imam Al-Mubarakfuri dalam Tuhfatul Ahwadzi, sebagai berikut:" Dia (orang yang lemah), bersamaan dengan lemahnya ketaatannya kepada Allah dan selalu mengikuti hawa nafsunya, tidak pernah meminta ampun kepada Allah, bahkan selalu berangan-angan bahwa Allah akan mengampuni dosa-dosanya."
 
Kepentingan Muhasabah:
Imam Turmudzi setelah meriwayatkan hadits di atas, juga meriwayatkan ungkapan Umar bin Khattab dan juga ungkapan Maimun bin Mihran mengenai keperluan dari muhasabah.
 
1. Mengenai muhasabah, Umar r.a. mengemukakan:
"Hisablah (periksalah) diri kalian sebelum kalian dihisab, dan berhiaslah (bersiaplah) kalian untuk hari akhirat (yaumul hisab). Dan bahwasanya hisab itu akan menjadi ringan pada hari qiamat bagi orang yang menghisab dirinya di dunia."
 
Sebagai sahabat yang dikenal yang berpandangan jauh, Umar memahami benar kepentingan dari muhasabah ini. Pada kalimat terakhir pada ungkapan di atas, Umar mengatakan bahwa orang yang biasa menghisab dirinya akan meringankan hisabnya dihari akhirat kelak. Umar faham bahwa setiap insan akan dihisab, maka iapun memerintahkan agar kita menghisab diri kita sebelum mendapatkan hisab dari Allah s.w.t.
 
2. Sementara Maimun bin Mihran r.a. mengatakan:
"Seorang hamba tidak dikatakan bertakwa hingga ia menghisab dirinya sebagaimana dihisab pengikutnya dari mana makanan dan pakaiannya".
 
Maimun bin Mihran merupakan seorang tabiin yang cukup masyhur. Beliau wafat pada tahun 117 H. Beliau pun sangat memahami kepentingan muhasabah, sehingga beliau mengaitkan muhasabah dengan ketakwaan. Seseorang tidak dikatakan bertakwa, hingga menghisab dirinya sendiri. Kerena beliau melihat salah satu ciri orang yang bertakwa adalah orang yang senantiasa memereksa amal-amalnya. Dan orang yang bertakwa, pastilah memiliki matlamat, iaitu untuk mendapatkan redha Ilahi.
 
3. Keperluan lain dari muhasabah adalah kerena setiap orang kelak pada hari akhirat akan datang menghadap Allah s.w.t. secara sendiri-sendiri untuk mempertanggung jawabkan segala amal perbuatannya. Allah s.w.t. menjelaskan dalam Al-Qur’an yang maksdunya :  “Dan tiap-tiap mereka akan datang kepada Allah pada hari qiamat dengan sendiri-sendiri.”
(Surah Maryam ayat 95).
Aspek-Aspek Yang Perlu Kita Bermuhasabah :
Terdapat beberapa aspek yang perlu di muhasabah oleh setiap Muslim, agar ia menjadi orang yang pandai dan berjaya :
1.Aspek Ibadah
Pertama kali yang harus dinilai oleh setiap Muslim adalah aspek ibadah. Karena ibadah merupakan tujuan utama diciptakannya manusia di muka bumi ini. Firman Allah s.w.t. dalam Surah Adz-Dzaariyaat ayat 56, maksudnya, "Dan (ingatlah) Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan untuk mereka menyembah dan beribadat kepadaKu."

 2. Aspek Pekerjaan dan Rezeki.
Aspek kedua ini sering kali diambil ringan, atau bahkan ditinggalkan dan tidak dipedulikan oleh kebanyakan kaum muslimin. Kerena sebagian mereka menganggap bahwa aspek ini adalah urusan duniawi yang tidak memberikan pengaruh pada aspek ukhrawinya.
 
Sementara dalam sebuah hadis, "Dari Ibnu Mas’ud r.a dari Nabi Muhammad saw. bahawa beginda bersabda : ‘Tidak akan bergerak tapak kaki anak Adam pada hari kiamat, hingga ia ditanya tentang lima perkara; umurnya untuk apa dihabiskannya, masa mudanya, kemana dipergunakannya, hartanya dari mana ia memperolehnya dan ke mana dibelanjakannya, dan ilmunya sejauh mana diamalkannya ."
(Hadis Riwayat  Turmudzi).
 
3.Aspek Kehidupan Masyarakat Islam .
Aspek yang tidak kurang penting untuk dinilai adalah aspek kehidupan sosial, dalam hubungan muamalah, akhlak dan adab dengan sesama manusia. Kerena kenyataannya aspek ini juga sangat penting, sebagaimana yang digambarkan Rasulullah s.a.w. dalam sebuah hadis :
Dari Abu Hurairah r.a bahawa Nabi s.a.w. bersabda yang bermaksud :
“Tahukah kamu siapakah dia Orang Muflis?”
Sahabat-sahabat baginda menjawab :
“Orang Muflis di antara kami, ya Rasulullah ialah orang yang tidak ada wang ringgit dan tidak ada harta benda.”
Nabi s.a.w. bersabda yang bermaksud :
Sebenarnya Orang Muflis dari kalangan umatku ialah orang yang datang pada hari qiamat membawa sembahyang, puasa dan zakat , sedang datangnya itu dengan kesalahan memaki hamun orang ini, dan menuduh orang itu , memakan harta orang orang ini ,menumpah darah orang itu dan juga memukul orang . Maka akan di ambil dari amal kebajikannya serta di beri kepada orang ini dan orang itu , kemudian kiranya habis amal kebajikannya sebelum habis di bayar kesalahan-kesalahan yang di tanggungnya , akan di ambil pula dari kesalahan-kesalahan orang yang di aniayakannya serta di timpakan keatasnya , kemudian ia di humbankan kedalam neraka.”
(Hadis Riwayat Muslim dan Turmizi)

Kita perlu berhati-hati supaya tidak menjadi orang yang muflis sebagaimana digambarkan Rasulullah s.a.w. dalam hadits di atas. Datang ke akhirat dengan membawa pahala amal ibadah yang begitu banyak, namun bersamaan dengan itu, ia juga datang ke akhirat dengan membawa dosa yang bersangkut paut dengan orang lain secara negatif ; mencaci, mencela, menuduh, memfitnah, memakan harta tetangganya, mengadu domba dsb. Sehingga pahala kebaikannya habis untuk menutupi keburukannya. Bahkan kerena kebaikannya tidak cukup untuk menutupi keburukannya tersebut, maka dosa-dosa orang-orang yang dizaliminya tersebut diberikan pada dirinya. Hingga jadilah ia tidak memiliki apa-apa, selain hanya dosa dan dosa, akibatnya ia dicampakkan ke dalam api Neraka. Na’udzubillah min zalik.
 
4. Aspek Dakwah
Aspek ini sesungguhnya sangat luas untuk dibicarakan. Kerena menyangkut dakwah dalam segala aspek; sosial, politik, ekonomi, dan juga yang bersangkut paut dari da’wah itu sendiri mengajak orang pada kebersihan jiwa, akhlak yang mulia, memakmurkan masjid, menyempurnakan ibadah, melahirkan budi pekerti yang luhur, taat pada Allah, banyak istighfar dan taubat dsb.
 
Tetapi yang cukup penting dan perlu di ambil perhatian adakah kita telah bermuhasabah  aspek dakwah in, adakah kita telah melaksanakan tugas dan tanggungjawab yang besar ini iaitu amal maaruf dan nahi mungkar. Segala kekurangan dan kesilapan dalam kita menjalankan tugas ini perlulah dibaiki segera supaya kita dapat melaksanakan amanah ini. Allah s.w.t akan perhatikan adakah kita benar-benar telah menjalankan tugas dengan ikhlas dan jujur.

Tuesday, March 23, 2010

Perasaan Buruk Sangka (Su'u zan) Dengan Allah.

Allah s.w.t berfirman yang bermaksud : "Sedang segolongan yang lain yang hanya mementingkan diri sendiri, menyangka terhadap Allah dengan sangkaan yang tidak benar, seperti sangkaan orang jahiliah."
(Surah Ali-Imran ayat 154)

Allah s.w.t berfirman yang bermaksud : "Wahai orang yang beriman, jauhilah kebanyakan sangkaan (kecurigaan), kerana sebahagian dari sangkaan itu dosa."
(Surah al-Hujurat ayat 12)

Apa itu buruk sangka? Dalam bahasa yang mudah di fahami, buruk sangka membawa erti 'negative thinking'.
Allah s.w.t. berfirman yang bermaksud : " Dan kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan sahaja, sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikit pun berguna untuk mencapai kebenaran."
(Surah Yunus ayat 36)

Biasanya sangka buruk lahir daripada bukti yang tidak kukuh. Belum lagi disiasat dan mengetahui lebih lanjut, pelbagai spekulasi telah terbit.

Punca Buruk Sangka Kepada Allah :
1. Tidak yakin dengan kekuasaan dan kebesaran Allah s.w.t.

2. Tidak dapat menerima hakikat bahawa lumrah hidup manusia yang sentiasa diuji.

3. Ragu-ragu sama ada ibadahnya akan diterima Allah atau tidak.

Leburkan Buruk Sangka :
1. Berusaha menambah ilmu.

2. Jangan sekali-kali berprasangka buruk tanpa asas.

3. Pandang sisi baik dan lupakan sisi jahat.

4. Sekiranya tiada sisi baik pada seseorang, maka jangan tergesa-gesa membuat sebarang andaian negatif.

5. Mintalah perlindungan Allah daripada bisikan syaitan.

6. Sembunyi keburukan Muslim.

7. Mohon kepada Allah diberikan sangkaan yang baik.

Do'a Sa'id bin Jabir, "Ya Allah ya Tuhanku, sesungguhnya aku meminta kepada-Mu dan sebaik-baik sangkaan dengan-Mu."

(Sumber diambil dari Majalah Solusi  isu no. 17)

Perasaan Baik Sangka (Husnu zan) Dengan Allah.

Abu Hurairah r.a meriwayatkan bahawa Rasulullah s.a.w bersabda yang bermaksud : "Allah s.w.t berfirman, 'Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku kepada diri-Ku'."
(Hadis RiwayatAl-Bukhari)

Rasulullah s.a.w bersabda, maksudnya : "Janganlah kamu mati melainkan dalam keadaan kamu berbaik sangka dengan Allah."
(Hadis Riwayat Muslim)

Apakah maksud berbaik sangka dengan Allah? Berbaik sangka di sini adalah rasa takut dan harap yang saling bergandingan, ataupun rasa takut mengatasi rasa harap.

Dengan siapa kita perlu bersangka baik? Dengan Allah lebih utama dan sesama manusia, lebih-lebih lagi sesama Muslim.

Seorang hamba yang bersangka baik dengan Allah :
1. Apabila melakukan sebarang ibadah, dia bersangka baik bahawa Allah akan menerima ibadahnya itu dan membalas dengan sebaik-baik ganjaran pahala.

2. Apabila berdo'a dia tahu bahawa Allah akan memakbulkan do'anya.

3. Apabila dia berdosa , segera bertaubat dan bersangka baik bahawa Allah pasti menerima taubatnya dan mengampunkan dosanya.

4. Apabila ditimpa musibah, dia akan bersangka baik bahawa di sebalik ujian itu ada hikmahnya.

Reaksi seorang hamba yang bersangka baik sesama manusia lain.
1. Memandang seseorang dari sudut positif dan mengabaikan sisi negatif.

2. Tidak menyebarkan keburukan saudara seislam yang lain.

3. Nasihat menasihati andai ada kekurangan yang terserlah pada individu tersebut.

4. Saling mendo'akan kesejahteraan.

5. Mudah memaafkan.

Semoga hati-hati kita dilimpahi baik sangka dengan segala-galanya, baik sangka kepada Allah, sesama manusia dan terhadap segala peristiwa yang menimpa kita.

(Sumber dari Majalah Solusi isu No. 17)

Wasiat Kesepuluh Nabi s.a.w. (Keutamaan Puasa)

Dari Abu Ummah r.a. beliau berkata : Saya berkata, "Wahai Rasulullah, perintahkan kepadaku  untuk melakukan suatu perbuatan". Baginda bersabda : 'Kerjakanlah puasa kerana tidak ada amalan yang setanding dengannya'. Saya berkata : 'Wahai Rasulullah, perintahkan kepadaku untuk melakukan suatu perbuatan'. Baginda bersabda : 'Kerjakan puasa kerana tiada amalan yang setanding dengannya'. Saya berkata : 'Wahai Rasulullah, perintahkan kepadaku suatu perbuatan'. Baginda bersabda : 'Kerjakan puasa kerana tiada suatu amalan pun yang dapat menyamainya'." (Hadis Riwayat An-Nasai dan Ibnu Khusaimah)

Dari Abu Sa'id r.a., beliau berkata : Rasulullah s.a.w. bersabda maksudnya : " Tidaklan seorang hamba berpuasa sehari dimana dia berada di jalan Allah kecuali dengan berpuasa sehari itu Allah akan menjauhkan dirinya dari api Neraka sejauh perjalanan tujuh puluh musim."
(Hadis Riwayat Al-Bukhari, At-Tarmidzi dan An-Nasai)

Monday, March 22, 2010

Hati Yang Sakit

Hati yang sakit mengakibatkan pandangan dan tanggapan hati terhadap sesuatu tidak betul. Hati yang sakit menyebabkan kebenaran tidak dapat dilihat walaupun ianya merupakan satu kebenaran, hati yang sakit melihat kebatilan sebagai satu kebenaran, atau ia melemahkan pemahamannya terhadap sesuatu kebenaran lalu mematikan hatinya untuk menerima kebenaran.
 
Hati yang sakit menyebabkan hati membenci kebenaran yang memberi kebaikan kepadanya. Hati yang sakit menyukai kebatilan sedangkan kebatilan itu akan memudaratkannya. Hati yang sakit juga tidak tahu memilih antara kebenaran dan kebatilan, akhir cenderung kepada kebatilan kerana mengikut hati dan perasaan.

Justeru orang yang hatinya sakit sukar untuk melihat kebenaran sebagai kebenaran dan kebatilan sebagai kebatilan. Apabila melihat sesuatu dia akan melihat manusia yang melakukan atau kejadian semulajadi, lupa bahawa Allah s.w.t yang sebenarnya menjadikan tiap sesuatu. Apabila ditimpa bala dan bencana, mereka melihat manusia yang menyebabkan bala bencana tetapi mereka tidak nampak ia merupakan qada' dan qadar dari Ilahi.

Berbeza dengan orang yang hatinya sihat dengan cahaya keimana, mereka melihat semua perkara ada hikmahnya dan ditentukan oleh Allah s.w.t, pasrah dan redha menjadi hiasan hati, kehidupan yang bahagia sentiasi dimiliki.

Ù‚Ű§Ù„ Ű±ŰłÙˆÙ„ Ű§Ù„Ù„Ù‡ Ű”Ù„Ù‰ Ű§Ù„Ù„Ù‡ Űčليه ÙˆŰłÙ„Ù… Űčۏۚۧ Ù„ŰŁÙ…Ű± Ű§Ù„Ù…Ű€Ù…Ù† Ű„Ù† ŰŁÙ…Ű±Ù‡ كله ŰźÙŠŰ± Ű„Ù† ۣ۔ۧۚŰȘه ۳۱ۧۥ ŰŽÙƒŰ± ÙÙƒŰ§Ù† ŰźÙŠŰ±Ű§ له ÙˆŰ„Ù† ۣ۔ۧۚŰȘه ۶۱ۧۥ ۔ۚ۱ ÙˆÙƒŰ§Ù† ŰźÙŠŰ±Ű§ له ÙˆÙ„ÙŠŰł Ű°Ù„Ùƒ Ù„ŰŁŰ­ŰŻ Ű„Ù„Ű§ Ù„Ù„Ù…Ű€Ù…Ù†

Maksudnya;" Sungguh menghairankan urusan orang beriman, Semua urusannya baik, apabila mendapat nikmat kesenangan, ia bersyukur, maka baiklah baginya dan apabila ditimpa kesusahan, ia bersabar maka baik jugalah baginya. Dan sifat tersebut tidak ada melainkan bagi orang yang beriman."

Kebiasaannya orang yang hatinya sakit tidak merasa tenang, tidak merasa bahagia walaupun dikelilingi berbagai nikmat dan kemewahan, hatinya sentiasa gelisah dan keluh kesah dalam menghadapi kerenah kehidupan, kebiasaannya membuat sesuatu diluar dari kewajaran dan rasional. Hatinya penuh dengan macam-macam penyakit hati menyebabkan sakitnya bertambah parah.

Sebab-sebab hati sakit :

1.Lupakan Allah, lupa dari mengingati Allah, lupa bahawa Allah tidak alpa dari apa yang dilakukan oleh manusia, lupa bahawa Allah lah yang menentukan segalanya, lupakan Allah kerana kurang mengingati Allah, dan hati lebih terikat kepada perkara-perkara yang disukai selain Allah.

2.Lupakan perintah-perintah Allah kerana tidak suka kepadanya, mengutamakan keseronokan dan hatinya sentiasa terikat dengan dorongan nafsu syaitan.

3.Lupakan hari qiamat, tidak mengingati mati, kurang mengingati dosa dan pahala, kurang mengingati hari pembalasan, Syurga dan Neraka

Apabila ketiga-tiga sebab tadi terangkum dalam hati manusia maka beratlah untuk melakukan ibadah, sebaliknya ringan pula untuk melakukan dosa dan maksiat, mengutamakan urusan dunia dan meninggalkan urusan berkaitan akhirat, mendahulukan keinginan nafsu dan mengambil ringan perintah Allah, melampaui batasan-batasan agama, menjadi orang yang zalim dan mendahulukan keinginan diri dari kehendak Allah

Perkara-perkara yang boleh merosakkan hati :

1.Jahil agama.

2.Pergaulan dengan orang-orang yang hatinya sudah rosak, hatinya mati dan menjadikan mereka sebagai teman.

3.Suka berangan-angan dan berkhayal tentang sesuatu yang tak kan dapat dicapai.

4.Bergantung dengan selain daripada Allah s.w.t.

5.Banyak makan dan sentiasa memikirkan tentang makanan, tidak menghiraukan halal haram dalam urusan makanan.

6.Banyak tidur, orang yang banyak tidur mensia-siakan masa, pelupa dan pemala.

(Sumber dari usrahrasahati.blogspot.com)

Sunday, March 21, 2010

Dimana Hendak diperolehi Teman Sejati?

ANTARA kemanisan hidup ini apabila seseorang memiliki sahabat yang setia tanpa sebarang kepentingan. Namun hal yang seperti ini amat sukar untuk diperoleh di dunia ini, sekalipun ramai yang selalu mendakwa dia adalah sahabat setia kita. Kita tidak tahu sejauh manakah dakwaan itu sebelum adanya ujian yang sebenar.

Ramai yang pernah mendakwa sedemikian tetapi terbukti berbohong apabila ujian datang melanda. Bahkan banyak persahabatan dalam dunia ini pun terjadi di atas kepentingan tertentu. Maka tidak hairan jika ia akan berakhir disebabkan kepentingan tertentu jua. Bahkan ada persahabatan yang diasaskan di atas kejujuran namun berakhir disebabkan kepentingan.

Memiliki persahabatan yang jujur dalam erti kata sebenar adalah nikmat kehidupan. Namun ia sebenarnya sukar diperoleh secara meluas di alam maya ini melainkan dalam sejarah kehidupan golongan yang beriman dalam makna yang sebenar. Bahkan baginda Nabi s.a.w. menjamin bahawa sesiapa yang mempunyai sahabat tanpa kepentingan melainkan kerana Allah semata, maka dia akan mengecapi kemanisan iman. 

Sabda Rasulullah s.a.w. yang bermaksud : "Tiga perkara sesiapa yang ada padanya maka dia mendapati kemanisan iman. (pertama) Hendaklah Allah dan rasul-Nya lebih dicintai mengatasi selain keduanya. (kedua) Hendaklah dia mencintai seseorang, tidak dia cintainya kecuali kerana Allah. (ketiga) Hendaklah dia benci untuk kembali kepada kekufuran seperti mana dia benci untuk dicampakkan ke dalam neraka "
(Hadis riwayat al-Bukhari dan Muslim).

Manisnya tebu tidak dapat digambarkan oleh perkataan buat sesiapa yang tidak pernah merasanya. Manisnya iman, hanya pemiliknya dapat mengecapi kenikmatan dan kekhusyukannya. Dalam tiga ciri tersebut, baginda s.a.w. menyatakan bahawa dengan mencintai seseorang hanya kerana Allah, akan terasalah manisnya iman. Indahnya kemanisan iman hanya pemiliknya yang faham. Bagaimana mungkin kita dapat membina rasa cinta kepada seseorang kerana Allah semata?

Pastilah hubungan dan kasih sayang kita kepadanya mendapat keredaan Allah. Mungkin kerana dia orang yang dekat kepada Allah, atau dia boleh menjadi faktor kita dapat mendekatkan diri kepada Allah. Apabila perasaan yang seperti itu terbina, kita akan dapat berasa nikmatnya perasaan cintakan seseorang kerana Allah. Hanya hubungan yang seperti itulah yang membuahkan kesetiaan dan kejujuran yang tidak mampu dibeli oleh pangkat, kedudukan dan harta.

Hubungan persahabatan seperti itu tidak ada di alam gelora manusia yang berkawan dengan seseorang kerana kepentingan atau kedudukan atau harta. Firman Allah s.w.t. yang bermaksud : "Kalaulah engkau belanjakan segala (harta benda) yang ada di bumi, tidaklah engkau dapat menyatupadukan di antara jantung hati mereka, akan tetapi Allah telah menyatupadukan antara mereka. Sesungguhnya Dia Maha Berkuasa, lagi Maha Bijaksana"
 
Ia hanya wujud dalam alam persahabatan yang dibina atas nama iman dan Islam. Maka kita akan lihat kesetiaan antara para pejuang Islam yang ikhlas sepanjang sejarah penuh dengan ajaiban. Mereka hapuskan dalam diari hidup perkataan khianat, kebencian dan permusuhan dari belakang, lalu digantikan dengan “aku kasihkan engkau kerana Allah.” Kasih itu berkekalan semasa sahabatnya di puncak atau berada di bawah. Sama ada sahabatnya masih hidup, atau setelah meninggalkan dunia ini. Ini kerana tempat rujuk kasih mereka Maha Tinggi Lagi Tiada Kesudahan bagi-Nya, iaitu Allah s.w.t.

Lihatlah sahabah Nabi s.a.w. Zaid bin al-Dathinah apabila dia ditangkap oleh pemimpin Quraisy yang menentang Nabi s.a.w. lalu dibawa untuk dibunuh dan Abu Sufyan – ketika itu belum menganut Islam- bertanya kepadanya: “Wahai Zaid, aku bertanya engkau dengan nama Allah, tidakkah engkau suka Muhammad berada di tempat engkau sekarang, kami pancung kepalanya, dan engkau berada di samping keluargamu.”
 
Jawab Zaid: “Aku tidak suka Muhammad berada di mana dia berada sekarang, terkena duri sedangkan aku berada di samping keluargaku.” 
 
Kata Abu Sufyan: “Aku tidak pernah melihat seseorang mengasihi seseorang seperti kasihnya sahabat-sahabat Muhammad kepada Muhammad.” (Ibn Kathir, Al-Bidayah wa al-Nihayah, 4/75 Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah). 

Ya! Kasih yang mengharapkan hanya ganjaran Allah. Inilah kasih para pejuang yang sebenar antara mereka.

Persahabatan kerana Allah, memberi tanpa minta diganti, menyokong tanpa minta disanjung, memuji tidak kerana budi, berkorban tanpa menuntut ganjaran. Namun semuanya hanya mengharapkan kurniaan Allah jua yang menjadi punca kecintaan dan kasih sayang itu mekar antara satu sama lain. Sudah pastilah persahabatan itu dibina atas kebenaran yang sentiasa tunduk dan patuh kepada titah Allah dan Rasul-Nya. Alangkah indahnya suasana ini. Justeru itu Allah memuji golongan Muhajirin dan Ansar lalu dirakam kasih sayang antara mereka dalam al-Quran.

Firman Allah s.w.t. yang bermaksud : " Bagi golongan fakir yang berhijrah, yang mereka diusir dari kampung halaman dan harta benda mereka (kerana) mencari kurnia daripada Allah dan keredaan-Nya. Mereka menolong (agama) Allah dan Rasul-Nya. Mereka itulah orang-orang yang benar. Orang-orang yang telah mendiami kota (Madinah) dan telah beriman (Ansar) sebelum (kedatangan) mereka itu (Muhajirin), mereka mencintai orang berhijrah kepada mereka. Mereka tiada menaruh sebarang keinginan (balasan) dalam dada mereka terhadap apa- apa yang diberikan kepada Muhajirin. Mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka juga memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang- orang yang beruntung. Adapun orang- orang yang datang selepas mereka (Muhajirin dan Ansar), mereka berdoa: 'Ya Tuhan kami, berilah keampunan kepada kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Tuhan kami! Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang'."
(Surah al-Hasyar 8-10). 

Hanya insan-insan yang seperti ini sahaja yang akan berasa manisnya perjuangan yang mereka bawa. Ini kerana mereka jelas matlamat yang hendak dituju dan jalan yang hendaklah dilalui. Bebas dari kepentingan diri, yang tinggal hanya kepentingan cita-cita yang suci. Maka tidak ada cerita jatuh-menjatuh antara mereka kerana jawatan dan pangkat. Sebaliknya, sering ingin memberi kerana matlamat mereka adalah keredaan Allah. Ia tidak dicapai dengan tumpas-menumpas sesama pejuang yang betul niat dan tujuannya. Sebaliknya keredaan itu dicapai dengan sering tolong- menolong kerana Allah. Jika itu tidak ada, perjuangan itu untuk dunia semata dan pasti dalamnya penuh kepahitan walaupun pada zahir ada harta dan kemewahan.

Dalam hadis Nabi s.a.w bersabda maksudnya : "Sesungguhnya dari kalangan hamba-hamba Allah adanya golongan yang mereka bukan para nabi, atau para syahid. Namun para nabi dan para syahid cemburu kepada mereka pada hari kiamat disebabkan kedudukan mereka di sisi Allah. Para sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah! Beritahulah kami siapakah mereka?” Jawab Nabi: “Mereka itu golongan yang cinta-mencintai dengan roh Allah, tanpa ada hubungan kekeluargaan dan bukan kerana harta yang diidamkan. Demi Allah, sesungguhnya wajah-wajah mereka adalah cahaya, mereka berada atas cahaya. Mereka tidak takut pada saat manusia ketakutan, mereka tidak berdukacita ketika manusia berdukacita.” Lalu baginda membaca ayat al-Quran: (maksudnya) 'Ketahuilah sesungguhnya wali-wali Allah tiada ketakutan untuk mereka dan tidak pula mereka berdukacita'." 
(Hadis riwayat Abu Daud, dinilai sahih oleh al-Albani)

Inilah golongan yang dilindungi Allah pada hari kiamat. Di dunia mereka mendapat kenikmatan persahabatan yang jujur dan ikhlas, di akhirat mereka dilindungi Allah. Nilai persahabatan bukan pada wang atau peluang yang diberi. Atau kedudukan dan kerusi yang disogokkan. Semua itu tiada erti, jika ‘ada udang di sebalik mi’. Sesungguhnya senyuman ikhlas seorang sahabat sejati, lebih bererti dari dunia dan segala isinya, sehingga Nabi s.a.w. menyebut:" Senyumanmu buat wajah saudaramu itu adalah sedekah"
(Hadis riwayat al- Tirmizi, dinilai sahih oleh al-Albani).

Kita selalu dengar cerita pengkhianatan sesama sahabat dalam perniagaan, pekerjaan dan politik. Mendengarnya sahaja amat memeritkan, apatah lagi jiwa yang mengalaminya. Amat rapuhnya persahabatan jika dibina di atas kepentingan diri masing-masing. Ditikam oleh musuh, tidak seperit pedihnya seperti ditikam oleh sahabat yang rapat. Dirompak oleh perompak tidak sekecewa ditipu oleh rakan yang dipercaya. Dijatuh oleh lawan tidak sedahsyat direbahkan oleh teman seperjuangan.

Namun itu realiti dalam maya pada ini bagi hubungan sesama insan yang tidak dibina atas nama Tuhan. Jika ada pihak yang jujur dalam persahabatan, tetapi pengkhianatan berlaku bererti sama ada dia silap memilih teman, atau prinsip perjuangan. Maka dalam memilih sahabat, lihatlah hubungannya dengan Tuhan dan atas apa kita membina persahabatan dengannya.
 
Saya rasa dalam dunia perniagaan dan politik, persahabatan sejati amat sukar dicari. Bukan perniagaan atau politik itu kotor; kedua-duanya termasuk dalam ajaran Islam. Namun kedua bidang itu apabila tidak berpandukan ajaran Allah dan Rasul-Nya maka akan menjadi sangat rakus, biadab, penuh kepura-puraan, tidak berprinsip, tidak menghargai rakan dan taulan, bicara dan bahasanya penuh kemunafikan. Kepentingan diri masing-masing kadangkala bagai Tuhan yang disembah. Sanggup lakukan apa sahaja demi kepentingan diri, apa yang dia tidak akan lakukan jika perintah oleh Tuhan yang sebenar pun. Banyak perintah agama dia kata tidak mampu, namun jika ada kepentingan politik atau urus niaga lebih daripada itu dia sanggup lakukan.

Firman Allah dalam surah al-Jathiah, ayat 23: (maksudnya): "Bagaimana fikiranmu (Wahai Muhammad) terhadap orang yang menjadikan hawa nafsunya Tuhan (yang dipatuhinya), dan dia pula disesatkan oleh Allah kerana pengetahuan-Nya (tentang kekufuran mereka), dan ditutup pula atas pendengarannya dan jantungnya, serta diadakan lapisan penutup atas penglihatannya? Maka siapakah lagi yang dapat memberi hidayah petunjuk kepadanya sesudah Allah (menjadikannya berkeadaan demikian)? Oleh itu, mengapa kamu tidak mengingati?."

Betapa ramai orang politik yang dikelilingi para pengikutnya, lalu mereka hilang apabila kuasa tiada lagi. Pada hari dia berkuasa; semuanya menjerit dan memuja, seakan sanggup hidup dan mati bersama. Namun apabila dia tidak mampu lagi memberi harta, pangkat dan kedudukan, melintas pun belum tentu bersalaman. Telah banyak bukti hidup dan mati yang tidak dapat dihitung lagi. Bahkan ada yang sehingga mati tidak dikunjungi. Namun jika anda berharta, sehingga ke pusara ada yang masih tunjuk muka. Bukan kerana kenang jasa, tapi kenang apa yang boleh dipusaka.

Tanpa iman, tiada kasih sayang hakiki dalam persahabatan. Belum tentu ianya ikhlas dari hati sanubari. Mungkin diri anda atau perkara yang sama jika anda lakukan pada hari anda tiada kuasa atau harta, orang sama akan mencebik dan menghina anda. Tetapi dek penangan kuasa dan harta; rupa anda yang ‘biasa-biasa’ dikatakan lawa, pidato anda yang tidak sedap dikatakan hebat, pendapat anda yang kolot dikatakan maju, idea yang lapuk dikatakan bernas, pandangan yang lemah dikatakan berhikmah, penampilan yang tidak bermaya dikatakan bercahaya. Semuanya kerana ingin mengampu kuasa dan harta. Jika anda hidup dalam iklim sedemikian, percayalah persahabatan dan pengikut yang mendakwa setia semuanya bohong belaka. Anda hidup dalam alam khayalan seperti berkhayalnya seorang mabuk yang melihat wanita tua bagaikan gadis yang cantik menawan.

Carilah iman dan persahabatan atas dasar iman. Carilah prinsip perjuangan yang Allah reda, kita akan bertemu di sana sahabat-sahabat yang setia kerana Allah. Jika anda pernah merasai kemanisan iman dan persahabatan atas nama iman, anda akan tahu bahawa persahabatan palsu itu rasanya amat pahit dan meloyakan.

Lebih mendukacitakan Allah berfirman: (maksudnya) "Sahabat handai pada hari tersebut (kiamat) bermusuhan antara satu sama lain, kecuali golongan yang bertakwa."
(Surah al-Zukhruf: 67). 

Ya, seperti di dunia mereka melepaskan diri apabila hilang kepentingan yang dicari, di akhirat mereka bermusuhan apabila melihat azab Tuhan yang terhasil dari dosa persahabatan dan pakatan yang pernah mereka lakukan di dunia. Oh! Di mana hendak dicari teman yang sejati? Ya! Carilah perjuangan yang berprinsip dan diredai Allah, di dataran itulah kalian akan temui teman sejati.

(Sumber dipetik dari tulisan Dr. Mohd. Asri Zainul Abidin.)

Thursday, March 18, 2010

10 Kriteria Insan Soleh dan Rabbani.

Al-Imam as-Syahid Hassan Al-Banna dalam tarbiyah dan pembinaan insan telah menggariskan ciri-ciri insan soleh, iaitu insan yang menjadikan dirinya baik (berkualiti) dan mampu juga mengajak orang lain menjadi baik (soleh wa musleh). Menurut beliau, ada sepuluh kriteria insan soleh dan rabbani:


1. Akidah yang sejahtera
2. Ibadah yang soleh
3. Akhlak yang mantap
4. Ilmu pengetahuan yang luas lagi berhikmah
5. Tubuh badan yang sihat dan kuat
6. Kemampuan mengurus kehidupan
7. Pengurusan yang sistematik
8. Keupayaan berjuang melawan hawa nafsu
9. Pengurusan waktu yang berkualiti
10. Kebaikan yang boleh dimanfaatkan orang lain

Wednesday, March 17, 2010

Wasiat Allah Untuk Hamba-Nya.

"Wahai hambaKu telah Kuharamkan kezaliman keatas diriKu, dan Aku jadikan ia haram diantara kamu, maka janganlah kamu saling menzalimi. Wahai hambaKu, setiap dari kamu adalah orang yang sesat , kecuali orang yang telah ku berikan petunjuk. Maka mintalah petunjuk daripadaKu, nescaya Aku akan memberikan kamu hidayah.

"Wahai hambaKu, setiap dari kamu adalah orang yang lapar, kecuali orang yang telah Aku berikan makan. Maka mintalah makan daripadaKu , nescaya Aku akan memberikan engkau makan. Wahai hambaKu, setiap dari kamu adalah dari orang yang telanjang, kecuali orang yang telah Aku berikan pakaian,maka mintalah pakaian daripada Ku nescaya Aku akan memberikan kau pakaian.
 "Wahai hambaKu setiap darimu membuat kesalahan waktu siang dan malam, maka Akulah yang menghapuskan dosa keseluruhannya. Maka mintalah ampun kepada Ku nescaya Aku akan memberi keampunan kepadamu. Wahai hambaKu kamu tidak dapat dan tidak pula dapat berbuat sesuatu yang dapat merugikanKu dan tidak dapat berbuat sesuatu yang menguntungkanKu.

"Wahai hambaKu seandainya orang yang pertama dan terakhir dari kamu dan dari kalangan manusia ataupun jin, hati mereka bertakwa seperti seseorang yang paling bertakwa diantara kamu, tidaklah akan menambah KerajaanKu sedikit pun.

"Wahai hambaKu seandainya ada di antara kamu atau pun dikalangan manusia dan jin, hati mereka jahat seperti seorang yang paling jahat antara kamu tidaklah akan mengurangkan KerajaanKu sedikit pun.

'Wahai hambaKu jika orang -orang terdahulu dan terakhir diantara kamu, manusia dan jin, mereka berada dibumi yang satu kemudian mereka meminta kepadaKu lalu Aku penuhi setiap permintaan setiap orang, hal itu tidak akan mengurangkan sesuatu yang Aku miliki, melainkan sebagaimana sebatang jarum dimasukkan kedalam lautan.

"Wahai hambaKu, sesungguhnya semua itu adalah amal perbuatanmu, Aku mencatat semuanya, kemudian Aku membalasnya. Siapa saja yang mendapatkan kebaikan, hendaklah bersyukur kepada Allah dan siapa saja yang mendapatkan selain daripada itu,j anganlah dia menyalahkan melainkan menyalahkan diri sendiri."


Tuesday, March 16, 2010

Kriteria-kriteria Lelaki Soleh Seperti Yang di Maksudkan Oleh Al-Qur'an dan Al-Hadis.

1. Sentiasa taat kepada Allah s.w.t dan Rasullulah s.a.w.
2. Jihad Fisabilillah adalah matlamat dan program hudupnya.
3. Mati syahid adalah cita cita hidup yang tertinggi.
4. Sabar dalam menghadapi ujian dan cabaran dari Allah swt.
5. Ikhlas dalam beramal.
6. Kampung akhirat manjadi tujuan utama hidupnya.
7. Sangat takut kepada ujian Allah swt. dan ancamannya.
8. Selalu memohon ampun atas segala dosa-dosanya.
9. Zuhud dengan dunia tetapi tidak meninggalkannya.
10. Solat malam menjadi kebiasaannya.
11. Tawakal penuh kepada Allah s.w.t. dan tidak mengeluh kecuali kepada-Nya.
12. Selalu berinfaq samaada dalam keadaan lapang mahupun sempit.
13. Menerapkan nilai kasih sayang sesama Mukmin dan ukhwah diantara mereka.
14. Sangat kuat amar ma'aruf dan nahi munkarnya.
15. Sangat kuat memegang amanah, janji dan kerahsiaan.
16. Pemaaf dan lapang dada dalam menghadapi kebodohan manusia, sentiasa saling koreksi sesama ikhwan dan tawadhu' penuh kepada Allah s.w.t.
17. Kasih sayang dan penuh pengertian kepada keluarga.

Selain daripada ciri-ciri diatas, orang orang yang soleh juga merupakan insan- insan yang senantiasa mendapat ujian dan cubaan daripada Allah s.w.t. setelah para Nabi dan Rasul dan orang-orang yang mulia. Mereka menghadapi segala ujian tersebut dengan hati yang tabah dan tetap teguh dalam keimanan serta pendirian. Mereka tidak mudah menyerah kalah dari keganasan dan tekanan musuh.

Tugas tugas dan kewajipan lelaki soleh adalah :
1. Mencari nafkah ( belanja hidup) dengan jalan yang halal.
2. Berjihad Fisabilillah dengan harta dan jiwa-raga.
3. Melindungi dan membela kaum yang lemah dan tertindas.
4. Memimpin, mendidik dan berlaku adil terhadap isteri dan anak-anak.