Wednesday, July 8, 2015

Himpunan doa-doa dari hadis-hadis sahih yang di amalkan oleh Rasulullah SAW.:

Dengan nama Allah Yang bersama Nama-Nya sesuatu apa pun tidak akan celaka baik di bumi dan di langit. Dialah Maha Medengar lagi Maha Mengetahui

Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepadaMu seluruh kebaikan yang segera (dunia) dan yang tertunda (akhirat), kebaikan yang aku ketahui dan yang tidak aku ketahui.

Dan aku berlindung kepadaMu dari segala keburukan yang segera (dunia) dan yang tertunda (akhirat), yang aku ketahui dan yang tidak aku ketahui.

Aku meminta kepada-Mu kebaikan semua doa yang pernah diminta oleh hamba dan nabi-Mu, dan aku berlindung kepada-Mu dari keburukan, yang hamba dan nabi-Mu pernah berlindung darinya.

Aku memohon syurga kepadaMu dan segala perkataan dan perbuatan yang mendekatkan kepadanya. Aku berlindung kepadaMu dari neraka dan segala perkataan dan perbuatan yang mendekatkan kepadanya.

Ya Allah, ampunilah kesalahanku, kejahilanku, keberlebih-lebihan dalam perkaraku, dan apa yang Engkau lebih mengetahui daripadaku. Ya Allah, ampunilah diriku dalam kesungguhanku, kelalaianku, kesalahanku, kesengajaanku, dan semua itu adalah berasal dari sisiku. Ya Allah, ampunilah aku dari segala dosa yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan, segala dosa yang aku sembunyikan dan yang aku tampakkan, dan dosa yang Engkau lebih mengetahui daripadaku, Engkaulah Yang Maha Mendahulukan dan Yang mengakhirkan, dan Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu."

Aku meminta segala sesuatu yang telah Engkau takdirkan untukku, hendaklah Engkau jadikan kebaikan bagiku."

Aku berlindung pada kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan makhluk-Nya

Ya Allah, aku berlindung kepada Mu dari seksa Neraka Jahannam, dari seksa kubur, dari fitnah hidup dan mati, dan dari fitnah al-Masih Dajjal

Wahai Zat yang membolak-balikkan hati teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.”

Aku berlindung dengan kalimat Allah yang sempurna dari keburukan apa-apa yang Dia ciptakan.

Ya Allah sungguh aku berlindung kepadaMu dari kekufuran dan kefaqiran, Ya Allah sungguh aku berlindung kepadaMu dari azab kubur, tidak ada Ilah kecuali Engkau” 

Ya Allah! Tiada yang mendatangkan kebaikan melainkan Engkau, dan tiada yang menghilangkan keburukan melainkan Engkau, tiada upaya melainkan dengan Allah

Ya Allah! Sesungguhnya kami berlindung kepada-Mu agar tidak menyekutukan-Mu kepada sesuatu, sedang kami mengetahuinya, dan kami memohon ampun terhadap apa-apa yang tidak kami ketahuinya."

Sesungguhnya kita datang dari Allah dan kepadanya kita kembali, Ya Allah berikanlah ganjaran kerana musibah ini, berikanlah aku pengganti yang lebih baik daripadanya' 

Ya Allah, lindungi kami dari perasaan ketakutan dan kesedihan, jauhi kami dari sikap lemah dan malas, lindungi kami dari sifat penakut dan kedekut, bebaskan kami dari bebanan hutang dan penindasan orang"..

Aku memohon ampun kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya.

Aku berlindung pada kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan makhluk-Nya

Ya Allah! Sesungguhnya kami berlindung kepada-Mu agar tidak menyekutukan-Mu kepada sesuatu, sedang kami mengetahuinya, dan kami memohon ampun terhadap apa-apa yang tidak kami ketahuinya."

Ya Allah! Tiada yang mendatangkan kebaikan melainkan Engkau, dan tiada yang menghilangkan keburukan melainkan Engkau, tiada upaya melainkan dengan Allah) 

Aku redha Allah sebagai Rabb, Islam sebagai agama, dan Muhammad sebagai Rasul.

Ya Allah, sungguh aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rezeki yang halal dan amal yang diterima .

Ya Allah berikanlah kesehatan bagi badanku, bagi pendengaranku, bagi penglihatanku, dan tidak ada Ilah kecuali Engkau”

“Wahai Rabb Yang Maha Hidup, wahai Rabb Yang Berdiri Sendiri , dengan rahmat-Mu aku minta pertolongan, perbaikilah segala urusanku dan jangan diserahkan kepadaku sekali pun sekejap mata (tanpa mendapat pertolongan dari-Mu)

Ya Allah, aku berlindung dari keburukan yang telah aku perbuat dan keburukan yang belum aku perbuat." 

Ya Allah, aku berlindung kepadaMu dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyu’, dari nafsu yang tidak pernah kenyang, dan dari doa yang tidak dikabulkan.

Ya Allah, Engkau Tuhanku, tiada Tuhan kecuali Engkau. Engkau ciptakan aku dan aku adalah hamba-Mu. Aku berada di atas janjiMu, semampuku. Aku berlindung kepadaMu dari keburukan perbuatanku. Aku mengakui banyaknya nikmat (yang Engkau anugerahkan) kepadaku dan aku mengakui dosa-dosaku, maka ampunilah aku. Karena sesungguhnya tiada yang mengampuni dosa-dosa melainkan Engkau” 

Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu daripada kesusahan bala, hinanya kesengsaraan, keburukan qadak dan kegembiraan musuh (terhadap masaalahku)."

Ya Allah, perbaikilah agamaku kerana ia merupakan pangkal urusanku, perbaikilah duniaku kerana ia merupakan penghidupanku, perbaikilah akhiratku kerana ia merupakan tempat kembaliku, dan jadikanlah hidup sebagai kesempatan untuk menambah setiap kebaikanku, dan jadikanlah mati sebagai pelepas diriku dari setiap kejahatan.

Ya Allah, tidak ada kemudahan kecuali yang Engkau mudahkan. Dan Engkau menjadikan kesedihan (kesulitan) itu mudah, jika Engkau menghendakinya mudah.

Ya Allah, aku berlindung kepadaMu dari fitnah neraka dan azab neraka, serta dari keburukan kekayaan dan kefakiran

Ya Allah, tidak ada kemudahan kecuali yang Engkau mudahkan. Dan Engkau menjadikan kesedihan (kesulitan) itu mudah, jika Engkau menghendakinya mudah.

Ya Allah, Engkau Maha Pengampun dan Engkau mencintai orang yang meminta ampun, kerananya ampunlah aku.

Aamiin Ya Rabbal 'Alamin.

Monday, July 6, 2015

Air Rendaman Kurma

Minumlah Air Rendaman Kurma, Inilah yang Akan Terjadi Pada Tubuh Anda..

Buat sahabat yang lemah bertenaga. Saat Puasa..
Apa itu air Nabeez..?

Air nabeez adalah air rendaman (infused water) kurma / kismis (raisins). Kurma atau kismis di rendam dalam air masak semalaman (dalam wadah yang bertutup) dan diminum keesokkan paginya.

Sumber mengatakan: air nabeez ini merupakan kegemaran Rasulullah SAW. Nabi merendam beberapa butir kurma atau kismis (salah satunya) di dalam air untuk semalaman (dalam wadah bertutup) dan meminum air rendaman kurma tersebut diwaktu pagi hari. Airnya nabi minum & buah kurma yg sudah lembut, nabi telan sekali telan.

Ada beberapa hadis yang menyebutkan tentang cara membuat air nabeez ini, salah satunya riwayat dari Imam Muslim sebagai berikut :

Aisyah pernah ditanya tentang nabeez, kemudian ia memanggil seorang budak wanita asal Habasyah. “Bertanyalah kepada wanita ini!” Kata Aisyah. “Kerana ia dahulu pernah membuat nabeez untuk Rasulullah SAW,” tambahnya.

Lalu wanita asal Habasyah itu berkata, “Aku pernah membuat nabeez untuk beliau dalam sebuah kantung kulit pada malam hari. Kemudian aku mengikatnya dan menggantungnya. Lalu di pagi harinya beliau SAW meminumnya.”

Dari Aisyah dia berkata, “Kami biasa membuat perasan untuk Rasulullah SAW di dalam air minum yang bertali di atasnya, kami membuat rendaman di pagi hari dan meminumnya di petang hari, atau membuat rendaman di petang hari lalu meminumnya di pagi hari.” (H.R. Muslim)

Berbicara mengenai infused water. Orang barat baru sekarang faham dan baru mempopulerkan khasiat infuse water ini. Tetapi Nabi kita telah lama melakukan hal ini.

Dari segi kesehatan tubuh, buah kurma telah terbukti sebagai :

1. Pemberi & pemulih tenaga (inilah sebab mengapa kita disunahkan untuk memakan buah kurma pada saat berbuka puasa).

2. Tinggi kandungan fiber ~ menghilangkan kolestrol jahat yang terkumpul di dalam tubuh. Sangat bagus dalam menghilangkan sembelit (atau meredakan & memulihkan diri dari sembelit).

3. Pemberi zat besi yang sangat bagus.

4. Kaya akan pottassium ~ penting dalam menjaga jantung & menstabilkan tekanan darah.

Khasiat air nabeez

Air nabeez adalah minuman berakali, yang mampu menolong membuang kelebihan asam pada perut dan memulihkan sistem pencernaan tubuh. Juga membantu badan untuk menyingkirkan bahan2 toksin yang berbahaya didalam tubuh. Dalam kata lain berguna sebagai sebagai detox.

Disebabkan air nabeez tinggi akan kadar fiber, ia mampu membantu proses pencernaan yang baik & meningkatkan / menajamkan fikiran. Agar kita tidak mudah lupa.

Cara membuat air nabeez :

Rendamlah beberapa butir kurma (sebagusnya dalam bilangan ganjil) ke dalam air masak didalam segelas air. Alangkah baiknya dibuat pada waktu petang menjelang malam, dan pastikan gelas rendaman kurma tersebut tertutup rapat. Keesokkan paginya (+ 8-12 jam setelah perendaman), air rendaman baru boleh diminum & buah kurma hasil rendaman yang telah lembut itu, dimakan begitu sahaja.

Kurma yang baik digunakan untuk membuat air nabeez adalah kurma ajwa. Tapi kalau tidak ada kurma ajwa ~ boleh menggunakan buah kurma yang lainnya.

Kalau ingin membuat air nabeez dengan menggunakan buah kismis pun boleh. Caranya ambil segenggam kismis, kemudian direndam dalam segelas air. Dan dibiarkan semalaman seperti membuat air rendaman kurma.

Kalau ingin meminum air nabeez di waktu pagi hari, siapkan rendaman kurma / kismis pada petang menjelang malam. Dan kalo ingin meminum air nabeez di waktu malam, buatlah rendaman kurma / kismis di waktu pagi hari (+ 8 sehingga 12 jam perendaman).

Larangan dalam membuat air nabeez :

Hanya menggunakan salah satu daripada kedua buah-buahan (Kurma / Kismis) pada satu-satu waktu. Tidak boleh mencampurkan antara kurma & kismis dalam membuat air nabeez. Maksudya tidak boleh mencampurkan kedua buah tersebut dalam satu wadah.

Air nabeez bila tersimpan di dalam peti ais boleh bertahan 1 hingga 2 hari.

Tetapi dilarang meminum air rendaman kurma / kismis yang sudah memasuki lebih dari tiga hari. Ini disebabkan air rendaman kurma / kismis yang dibiarkan melebihi tiga hari terjadi proses fermentasi, yang menjadikan, air rendaman kismis / kurma tersebut menjadi arak, dan hukumnya haram untuk diminum.
Oleh kerana itu, lebih baik membuat air nabeez fresh daily.
Dalam meminum atau menikmati Air nabeez ini dapat ditambah dengan susu / yogurt untuk dijadikan smoothie juga.
Semoga bermanfaat..

Sunday, July 5, 2015

11 Amalan Ketika Berbuka Puasa Mengikut Sunah.

Ketika berbuka puasa sebenarnya terdapat berbagai amalan yang membawa kebaikan dan keberkatan. 

Terdapat 11 amalan yang sering di lupakan ketika berbuka

Pertama: Menyegerakan berbuka puasa.

Yang dimaksud menyegerakan berbuka puasa, bukan bermaksud kita berbuka sebelum waktunya. Namun yang dimaksud adalah ketika matahari telah tenggelam atau ditandai dengan dikumandangkannya azan Magrib, maka segeralah berbuka. Dan tidak perlu sampai selesai azan atau selesai solat Maghrib. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam bersabda,

لاَ يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْفِطْرَ

“Manusia akan senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka.” (HR. Bukhari no. 1957 dan Muslim no. 1098)

Dalam hadis yang lain disebutkan,

لَا تَزَالُ أُمَّتِى عَلَى سُنَّتِى مَا لَمْ تَنْتَظِرْ بِفِطْرِهَا النُجُوْمَ

“Umatku akan senantiasa berada di atas sunahku (ajaranku) selama tidak menunggu munculnya bintang untuk berbuka puasa.” (HR. Ibnu Hibban 8/277 dan Ibnu Khuzaimah 3/275, sanad shahih).

Kedua: Berbuka dengan rothb, tamr atau seteguk air.

Sebagaimana Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يُفْطِرُ عَلَى رُطَبَاتٍ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّىَ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ رُطَبَاتٌ فَعَلَى تَمَرَاتٍ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ حَسَا حَسَوَاتٍ مِنْ مَاءٍ

“Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam biasanya berbuka dengan rothb (kurma basah) sebelum menunaikan solat. Jika tidak ada rothb, maka baginda berbuka dengan tamr (kurma kering). Dan jika tidak ada yang demikian baginda berbuka dengan seteguk air.” (HR. Abu Daud no. 2356 dan Ahmad 3/164, hasan shahih)

Ketiga: Sebelum makan berbuka, ucapkanlah ‘bismillah’ agar tambah barokah.
Inilah yang dituntunkan dalam Islam agar makan kita menjadi barokah, ertinya menuai kebaikan yang banyak.

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا أَكَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَذْكُرِ اسْمَ اللَّهِ تَعَالَى فَإِنْ نَسِىَ أَنْ يَذْكُرَ اسْمَ اللَّهِ تَعَالَى فِى أَوَّلِهِ فَلْيَقُلْ بِسْمِ اللَّهِ أَوَّلَهُ وَآخِرَهُ

“Apabila salah seorang di antara kalian makan, maka hendaknya ia menyebut nama Allah Ta’ala (yaitu membaca ‘bismillah’). Jika ia lupa untuk menyebut nama Allah Ta’ala di awal, hendaklah ia mengucapkan: “Bismillaahi awwalahu wa aakhirohu (dengan nama Allah pada awal dan akhirnya)”.” (HR. Abu Daud no. 3767 dan At Tirmidzi no. 1858, hasan shahih)

Keempat: Berdo’a ketika berbuka “Dzahabazh zhoma-u …”

Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا أَفْطَرَ قَالَ « ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ وَثَبَتَ الأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ ».

“Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam ketika telah berbuka mengucapkan: ‘Dzahabazh zhoma’u wabtallatil ‘uruqu wa tsabatal ajru insya Allah (Ertinya: Rasa haus telah hilang dan urat-urat telah basah, dan pahala telah ditetapkan insya Allah)’.” (HR. Abu Daud no. 2357, hasan). 

Ketika ingin makan, tetap membaca ‘bismillah’ sebagaimana dituntunkan dalam penjelasan sebelumnya. Ketika berbuka, mulailah dengan membaca ‘bismillah’, lalu santaplah beberapa kurma, kemudian ucapkan do’a di atas ‘dzahabazh zhoma-u …’. Karena do’a di atas sebagaimana makna tekstual dari “إِذَا أَفْطَرَ “, bererti ketika setelah berbuka.

Catatan: Adapun do’a berbuka, “Allahumma laka shumtu wa ‘ala rizqika afthortu (Ya Allah, kepada-Mu aku berpuasa dan kepada-Mu aku berbuka)” Do’a ini berasal dari hadits hadits dho’if (lemah).  

Begitu pula do’a berbuka, “Allahumma laka shumtu wa bika aamantu wa ‘ala rizqika afthortu” (Ya Allah, kepada-Mu aku berpuasa dan kepada-Mu aku beriman, dan dengan rizki-Mu aku berbuka), Mula ‘Ali Al Qori mengatakan, “Tambahan “wa bika aamantu” adalah tambahan yang tidak diketahui sanadnya, walaupun makna do’a tersebut shahih. Sehingga cukup do’a shahih yang kami sebutkan di atas (dzahabazh zhomau …) yang hendaknya jadi pegangan dalam amalan.

Kelima: Berdoa secara umum ketika berbuka.mustajab di sisi Allah SWT.

Ketika berbuka adalah waktu mustajabnya do’a. Jadi janganlah seorang muslim melewatkannya. Manfaatkan masa tersebut untuk berdoa kepada Allah untuk urusan dunia dan akhirat. Sepuluh minit sebelum masuk waktu magrib berdoa dan mohon hajat masing-masing kepada Allah SWT.

Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,

ثَلاَثَةٌ لاَ تُرَدُّ دَعْوَتُهُمُ الإِمَامُ الْعَادِلُ وَالصَّائِمُ حِينَ يُفْطِرُ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ

“Ada tiga orang yang doanya tidak ditolak : (1) Pemimpin yang adil, (2) Orang yang berpuasa ketika dia berbuka, (3) Do’a orang yang di zalimi.” (HR. Tirmidzi no. 2526 dan Ibnu Hibban 16/396, shahih). 

Ketika berbuka adalah waktu terkabulnya doa kerana ketika itu orang yang berpuasa telah menyelesaikan ibadahnya dalam keadaan tunduk dan merendahkan diri (Lihat Tuhfatul Ahwadzi, 7: 194).

Keenam: Memberi makan untuk berbuka puasa.

Jika kita diberi kelebihan rezeki oleh Allah, manfaatkan waktu Ramadan untuk banyak-banyak bersedekah dan menderma, di antaranya adalah dengan memberi makan berbuka kerana pahalanya yang amat besar. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,

مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لاَ يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا

“Siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun juga.” (HR. Tirmidzi no. 807, Ibnu Majah no. 1746, dan Ahmad 5/192, hasan shahih)

Ketujuh: Mendoakan orang yang beri makan berbuka.

Ketika ada yang memberi kebaikan kepada kita, maka balaslah semisal ketika diberi makan berbuka. Jika kita tidak mampu membalas kebaikannya dengan memberi yang semisal, maka doakanlah ia.  Dari ‘Abdullah bin ‘Umar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَمَنْ صَنَعَ إِلَيْكُمْ مَعْرُوفًا فَكَافِئُوهُ فَإِنْ لَمْ تَجِدُوا مَا تُكَافِئُونَهُ فَادْعُوا لَهُ حَتَّى تَرَوْا أَنَّكُمْ قَدْ كَافَأْتُمُوهُ

“Barangsiapa yang memberi kebaikan untukmu, maka balaslah. Jika engkau tidak dapati sesuatu untuk membalas kebaikannya, maka doakanlah ia sampai engkau yakin engkau telah membalas kebaikannya.” (HR. Abu Daud no. 1672 dan Ibnu Hibban 8/199, shahih)

Ketika Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam diberi minum, baginda pun mengangkat kepalanya ke langit dan mengucapkan,

اللَّهُمَّ أَطْعِمْ مَنْ أَطْعَمَنِى وَأَسْقِ مَنْ أَسْقَانِى

“Allahumma ath’im man ath’amanii wa asqi man asqoonii” 

[Ya Allah, berilah ganti makanan kepada orang yang memberi makan kepadaku dan berilah minuman kepada orang yang memberi minuman kepadaku]” (HR. Muslim no. 2055)

Kedelapan: Ketika berbuka puasa di rumah orang lain mendoakan tuan rumah.

Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam ketika di berikan makanan oleh Sa’ad bin ‘Ubadah, baginda  mengucapkan,

أَفْطَرَ عِنْدَكُمُ الصَّائِمُونَ وَأَكَلَ طَعَامَكُمُ الأَبْرَارُ وَصَلَّتْ عَلَيْكُمُ الْمَلاَئِكَةُ

“Afthoro ‘indakumush shoo-imuuna wa akala tho’amakumul abroor wa shollat ‘alaikumul malaa-ikah

 [Orang-orang yang berpuasa berbuka di tempat kalian, orang-orang yang baik menyantap makanan kalian dan malaikat pun mendoakan agar kalian mendapat rahmat].” (HR. Abu Daud no. 3854 dan Ibnu Majah no. 1747 dan Ahmad 3/118, shahih)

Kesembilan: Ketika menikmati susu semasa berbuka puasa.

Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,

مَنْ أَطْعَمَهُ اللَّهُ الطَّعَامَ فَلْيَقُلِ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيهِ وَأَطْعِمْنَا خَيْرًا مِنْهُ. وَمَنْ سَقَاهُ اللَّهُ لَبَنًا فَلْيَقُلِ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيهِ وَزِدْنَا مِنْهُ

“Barang siapa yang Allah beri makan hendaknya ia berdoa: “Allaahumma baarik lanaa fiihi wa ath’imnaa khoiron minhu” 

(Ya Allah, berkahilah kami padanya dan berilah kami makan yang lebih baik darinya). 

Barang siapa yang Allah beri minum susu maka hendaknya ia berdoa: “Allaahumma baarik lanaa fiihi wa zidnaa minhu” 

(Ya Allah, berkahilah kami padanya dan tambahkanlah darinya). 

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam bersabda, “Tidak ada sesuatu yang boleh menggantikan makan dan minum selain susu.” (HR. Tirmidzi no. 3455, Abu Daud no. 3730, Ibnu Majah no. 3322, hasan)

Kesepuluh: Minum dengan tiga nafas dan membaca ‘bismillah’.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,

كان يشرب في ثلاثة أنفاس إذا أدنى الإناء إلى فيه سمى الله تعالى وإذا أخره حمد الله تعالى يفعل ذلك ثلاث مرات

“Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam biasa minum dengan tiga nafas. Jika wadah minuman didekati ke mulut baginda, baginda menyebut nama Allah Ta’ala. Jika selesai satu nafas, baginda bertahmid (memuji) Allah Ta’ala. Baginda lakukan seperti ini tiga kali.” (Shahih, As Silsilah Ash Shohihah no. 1277)

Kesebelas: Berdoa sesudah makan.

Di antara doa yang sahih yang dapat diamalkan dan memiliki keutamaan luar biasa adalah doa yang diajarkan dalam hadis berikut. 

Dari Mu’adz bin Anas, dari ayahnya ia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam bersabda,

مَنْ أَكَلَ طَعَامًا فَقَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِى أَطْعَمَنِى هَذَا وَرَزَقَنِيهِ مِنْ غَيْرِ حَوْلٍ مِنِّى وَلاَ قُوَّةٍ. غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barang siapa yang makan makanan kemudian mengucapkan: “Alhamdulillaahilladzii ath’amanii haadzaa wa rozaqoniihi min ghairi haulin minnii wa laa quwwatin” 

(Segala puji bagi Allah yang telah memberiku makanan ini, dan merezekikan kepadaku tanpa daya serta kekuatan dariku), maka diampuni dosanya yang telah lalu.” (HR. Tirmidzi no. 3458, hasan)

Namun jika mencukupkan dengan ucapan “alhamdulillah” setelah makan juga dibolehkan berdasarkan hadits Anas bin Malik, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,

إِنَّ اللَّهَ لَيَرْضَى عَنِ الْعَبْدِ أَنْ يَأْكُلَ الأَكْلَةَ فَيَحْمَدَهُ عَلَيْهَا أَوْ يَشْرَبَ الشَّرْبَةَ فَيَحْمَدَهُ عَلَيْهَا

“Sesungguhnya Allah Ta’ala sangat suka kepada hamba-Nya yang mengucapkan tahmid (alhamdulillah) sesudah makan dan minum” (HR. Muslim no. 2734) 

Imam an-Nawawi rahimahullah mengatakan, “Jika seseorang mencukupkan dengan bacaan “alhamdulillah” saja, maka itu sudah dikatakan menjalankan sunah.” (Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 17: 51)

Demikian beberapa amalan ketika berbuka puasa. Semoga sebelas perkara tersebut dapat kita amalkan di bulan Ramadan kita penuh dengan kebaikan dan keberkatan. Wallahu a'lam.

Saturday, July 4, 2015

Munajat Kepada Allah Di Sepuluh Malam Terakhir.

Sahabat yang di rahmati Allah,

Marilah sama-sama kita berdoa dan munajat kepada Allah SWT di 10 malam terakhir Ramadhan ini. Untuk mencari dan menghayati Lailatul Qadar, malam yang penuh berkah dan lebih baik dari 1000 bulan.

"Ya Allah ya Rabb kami. Ampunkan semua dosa-dosa kami yang telah kami lakukan secara sengaja atau tidak secara sengaja. Yang kami ketahui dan yang tidak kami ketahui. 

Kami adalah hamba-hamba-Mu yang lemah dan dhaif yang sentiasa melakukan kesalahan dan dosa, sentiasa melangar peraturan dan suruhan -Mu, yang selalu leka dan lalai untuk melaksanakan tanggungjawab dan kewajipan terhadap-Mu. Jika kami bersalah ampunkanlah kami , maafkanlah kami sesungguhnya Engkaulah Maha Pengampun dan Maha Pemaaf.

Ya Allah, dibulan Ramadhan yang penuh berkat ini rahmat dan pengampunan-Mu amat luas sekali kepada hamba-hamba-Mu yang berpuasa. Ya Allah terimalah ibadah puasa kami. Berikanlah kami rahmat-Mu, pengampunan-Mu dan bebaskanlah kami daripada siksaan api Neraka.

Ya Allah pilihlah kami semua untuk memasuki Syurga-Mu melalui pintu Ar-Rayyan khusus untuk orang-orang berpuasa.Pintu Ar-Rayyan hanya Kau peruntukkan bagi orang-orang berpuasa, bukan untuk lainnya. Bila pintu tersebut sudah dimasuki oleh seluruh rombongan ahli puasa Ramadhan, maka tak ada lagi yang boleh masuk ke dalamnya. Sesungguhnya bila Kau telah pilih kami memasuki Syurga dengan rahmat-Mu sebenarnya kami telah berjaya. Tunaikan hajat dan permohonan kami ini ya Allah.

Ya Allah, jika Engkau telah mentakdirkan kami tergolong di dalam golongan orang-orang yang bahagia dan berjaya di hari akhirat, maka tetaplah kami di dalam keadaan itu. Sebaliknya jika Engkau telah tetapkan kami di dalam golongan orang-orang yang celaka dan berdosa, hapuskanlah takdir itu dan masukkanlah kami ke dalam golongan orang-orang yang mendapat kebahagiaan dan keampunan-Mu.

Ya Allah ya Rabb kami, Kau berilah sihat sejahtera kepada kami , jauhkan kami daripada mala petaka bencana dan penyakit. Jauhkan kami daripada siksa kubur, siksa Neraka, fitnah hidup ada mati, pilihlah kami dapat menyebut kalimah Laillahai llallah  di akhir hayat kami dan mendapat husnul khatimah, jadikanlah lubang-lubang kubur kami adalah daripada taman-taman Syurga.

Ya Allah, Kau redhailah segala ilmu yang bermanfaat yang kami perolehi di masjid, surau dan amal maya ini, Kau berilah Taufik dan Hidayah-Mu, Kau berilah kepada kami kefahaman yang mendalam tentang Islam, Kau berikanlah kekuatan pada kami untuk mengamalkannya dan kemampuan pula untuk menyampaikannya pada orang lain.

Ya Allah Kau jadikanlah kami sahabat-sahabat yang mulia di dunia walaupun kami bertemu di alam maya dan jadikanlah kami sahabat-sahabat di hari akhirat, kami mohon ketika itu kami semua dapat berteduh dibawah naungan-Mu. Ketika itu tidak ada naungan yang lain melainkan naungan daripada-Mu.

Ya Allah, Kau satukanlah hati-hati kami dengan ikatan persaudaraan Islam, Kau pertemukanlah kami di dunia dan pertemukanlah kami di hari akhirat bersama hamba-hamba-Mu yang Kau redhai.

Jadikanlah hati –hati kami bertemu dan berpisah semata-mata untuk mencari keredhaan-Mu. Jadikanlah kami batu-bata untuk membina bangunan Islam, pilihlah kami untuk menjadi para dai’e-Mu untuk melaksanakan amal maaruf dan nahi mungkar.

Ya Allah bersihkan aqidah kami daripada syirik kepada-Mu, sucikan hati-hati kami daripada sifat hasad dengki, riak, sombong, bongkak, takbur, iri hati dan sifat-sifat keji yang Kau benci , dan tanamkan di dalam hati-hati kami sifat iman, taqwa, sabar, syukur, lemah lembut dan jadikan hati-hati kami memiliki sifat mahmudah.

Ya Allah pertemukanlah kami di malam Lailatul Qadar, malam yang penuh berkah dan malam yang lebih baik daripada beribadah 1000 bulan.Kurniakan kepada kami rahmat dan kasih sayang-Mu sehingga hati kami merasi tenteram di malam itu. 

Berikanlah tanda-tandanya dengan rasa gembira di hati kami sehingga mengalir air mata kami bila bertemu dengan  Malaikat Jibril dan Malaikat Rahmat yang turun di malam itu. Doa kami, " Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu’anni maksudnya : "Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf dan Engkau mencintai orang yang meminta maaf, kerananya maafkanlah aku."

Ya Allah ampunkan semua dosa-dosa kami, terimalah hajat dan permohonan kami yang sangat mengharapkan belas kasihan-Mu. Terimalah amal ibadah dan amal soleh kami yang kami lakukan semata-mata mencari keredhaan-Mu.

Kurniakan kami kebahagiaan di dunia dan kebahagiaan di hari akhirat dan jauhkan kami daripada seksaan api neraka. Aamiin Ya Rabbal 'Alamin.

Friday, July 3, 2015

Kelebihan Puasa Di Bulan Ramadan Melahirkan Takwa

Tafsir Surat Al Baqarah 183: “Berpuasa Hasilnya Adalah  Takwa”

Bulan Ramadan adalah bulan Al Quran. Semestinya di bulan Al Quran ini umat Islam hendaklah lebih bersemangat membaca serta merenungkan isi Al Qur’an Al Karim. Ya, perenungan isi Al Quran hendaknya mendapat menfaat yang besar dari aktiviti umat Islam di bulan yang mulia ini. Mengingat hanya dengan inilah umat Islam dapat mengembalikan peranan Al Qur’an sebagai pedoman hidup dan panduan menuju jalan yang benar.

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ

“Bulan Ramadan adalah bulan bulan diturunkannya Al Quran. Al Quran adalah petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil)” (Surah Al Baqarah ayat 185)

Usaha yang mulia ini boleh dimulai dari sebuah ayat yang sering dibacakan, dikumandangkan, bahkan dihafal oleh kaum muslimin, yaitu surat Al Baqarah ayat 183, yang membahas tentang ibadah puasa. Ayat yang mulia tersebut berbunyi:


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kamu bertakwa” (Surah Al Baqarah ayat 183)

Ayat ini mengandung banyak pelajaran berharga berkaitan dengan ibadah puasa. Mari kita perhatikan hikmah yang mendalam dibalik ayat yang mulia ini.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا

“Wahai orang-orang yang beriman”

Dari lafaz ini diketahui bahawa ayat ini turun di Madinah (atau ayat Madaniyyah), sedangkan yang diawali dengan yaa ayyuhan naas, atau yaa bani adam, adalah ayat makkiyyah atau diturunkan di Makkah [Lihat Al Itqan Fi Ulumil Qur’an karya Imam As Suyuthi, 55]

Imam Ath Thabari menyatakan bahawa maksud ayat ini adalah : “Wahai orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, membenarkan keduanya dan mengikrarkan keimanan kepada keduanya”[Jami’ Al Bayan Fii Ta’wiil Al Qur’an, 3/409]

Ibnu Katsir menafsirkan ayat ini: “Firman Allah Ta’ala ini ditujukan kepada orang-orang yang beriman dari umat manusia dan ini merupakan perintah untuk melaksanakan ibadah puasa”[Tafsir Qur’an Al Azhim Libni Katsir, 1/497]

Dari ayat ini kita melihat dengan jelas adanya kaitan antara puasa dengan keimanan seseorang. Allah Ta’ala memerintahkan puasa kepada orang-orang yang memiliki iman, dengan demikian Allah Ta’ala pun hanya menerima puasa dari jiwa-jiwa yang terdapat iman di dalamnya. Dan puasa juga merupakan tanda kesempurnaan keimanan seseorang.

Lalu, apakah iman itu?

Iman secara bahasa ertinya percaya atau membenarkan. Sebagaimana dalam ayat Al Qur’an:

وَمَا أَنْتَ بِمُؤْمِنٍ لَنَا وَلَوْ كُنَّا صَادِقِينَ

“Dan kamu sekali-kali tidak akan percaya kepada kami, sekalipun kami adalah orang-orang yang benar” (Surah Yusuf ayat 17)

Rasulullah Shallallahu ’Alaihi Wasallam menjelaskan makna iman dalam sebuah hadis:

الإيمان أن تؤمن بالله وملائكته وكتبه ورسله واليوم الآخر وتؤمن بالقدر خيره وشره

“Iman adalah engkau mengimani Allah, mengimani Malaikat-Nya, mengimani Kitab-kitab-Nya, mengimani para Rasul-Nya, mengimani hari kiamat, mengimani qadha' dan qadar, yang baik maupun yang buruk”[HR. Muslim no.102, 108]

Demikianlah enam Rukun Iman yang harus dimiliki oleh orang yang mengaku beriman. Maka orang enggan mempersembahkan ibadah kepada Allah semata, atau menyembah sesembahan lain selain Allah, perlu dipertanyakan kesempurnaan imannya. 

Orang yang enggan mengimana Muhammad adalah Rasulullah atau meninggalkan sunnahnya, mengada-adakan ibadah yang tidak beliau perintahkan, perlu dipertanyakan kesempurnaan imannya. Orang yang tidak percaya adanya Malaikat, tidak percaya datangnya kiamat, tidak percaya takdir, perlu dipertanyakan kesempurnaan imannya.
Namun jangan anda mengira bahwa iman itu sekedar percaya di dalam hati. 

Imam Asy Syafi’i menjelaskan:

وكان الإجماع من الصحابة والتابعين من بعدهم ممن أدركناهم أن الإيمان قول وعمل ونية ، لا يجزئ واحد من الثلاثة بالآخر

“Setahu saya, telah menjadi ijma para sahabat serta para tabi’in bahwa iman itu berupa perkataan, perbuatan, dan niat (perbuatan hati), jangan mengurangi salah satu pun dari tiga hal ini”[Syarh Ushul I’tiqad Ahlis Sunnah, 4/149]

Dengan demikian tidak dapat dibenarkan orang yang mengaku beriman namun enggan melaksanakan solat, enggan membayar zakat, dan amalan-amalan lahiriah lainnya. Atau wanita yang mengatakan “Walau saya tidak bertudung tutup aurat, yang penting hati saya berbersih dan ikhlas”. Jika imannya benar, tentu hati menjadi bersih dan ikhlas akan ditunjukkan juga secara lahiriah, yaitu memakai tudung dan baju yang menutup aurat dengan sempurna. Oleh kerana itu pula, puasa sebagai amalan lahiriah merupakan hasil daripada iman.

كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ

“Telah diwajibkan atas kamu berpuasa ”

Al Qurthubi menafsirkan ayat ini: “Sebagaimana Allah Ta’ala telah menyebutkan wajibnya qishash dan wasiat kepada orang-orang yang mukallaf pada ayat sebelumnya, Allah Ta’ala juga menyebutkan kewajiban puasa dan mewajibkannya kepada mereka. Tidak ada perselisihan pendapat mengenai wajibnya”[Al Jami’ Li Ahkam Al Qur’an, 2/272]

Namun ketahuilah, di awal perkembangan Islam, puasa belum diwajibkan melainkan hanya dianjurkan. Sebagaimana ditunjukkan oleh ayat:

فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ وَأَنْ تَصُومُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

“Maka barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan (puasa), maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui” (Surah Al Baqarah ayat 184)

Ibnu Katsir menjelaskan dengan panjang lebar tentang masalah ini, kemudian beliau menyatakan: “Kesimpulannya, penghapusan hukum (dianjurkannya puasa) benar adanya bagi orang bukan musafir dan sihat badannya, yaitu dengan diwajibkannya puasa berdasarkan ayat:

فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ

‘Barangsiapa di antara kamu hadir di bulan (Ramadan) itu, wajib baginya puasa‘ (Surah Al Baqarah ayat 185)”[Tafsir Qur’an Al Azhim Libni Katsir, 1/500]

Bertahapnya pewajiban ibadah puasa ini berjalan sesuai keadaan aqidah umat Islam ketika itu. Syaikh Ali Hasan Al Halabi -hafizhahullah- menyatakan: “Kewajiban puasa ditunda hingga tahun kedua Hijriah, yaitu ketika para sahabat telah mantap dalam bertauhid dan dalam mengagungkan syiar Islam. Perpindahan hukum ini dilakukan secara bertahap. Kerana awalnya mereka diberi pilihan untuk berpuasa atau tidak, namun tetap dianjurkan”[Shifatu Shaumin Nabi Fii Ramadhan, 1/21]

Dari hal ini terdapat sebuah pengajaran berharga bagi kita, bahawa ketaatan seorang hamba kepada Rabb-Nya berbanding lurus dengan sejauh mana ia menerapkan tauhid.

كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ

“Sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian”

Imam Al Alusi dalam tafsirnya menjelaskan: “Yang dimaksud dengan ‘orang-orang sebelum kalian’ adalah para Nabi sejak masa Nabi Adam ‘alaihissalam sampai sekarang, sebagaimana keumuman yang ditunjukkan dengan adanya isim maushul. Menurut Ibnu Abbas dan Mujahid, yang dimaksud di sini adalah Ahlul Kitab. Menurut Al Hasan, As Suddi, dan As Sya’bi yang dimaksud adalah kaum Nasrani.

Ayat ini menunjukkan adanya penekanan hukum, penambah semangat, serta melegakan hati lawan bicara (yaitu manusia). Kerana suatu perkara yang sulit itu jika sudah menjadi hal yang umum dilakukan orang banyak, akan menjadi hal yang biasa saja.

Adapun permisalan puasa umat Muhammad dengan umat sebelumnya, yaitu baik berupa sama-sama wajib hukumnya, atau sama waktu pelaksanaannya, atau juga sama kadarnya”[Ruuhul Ma’ani Fii Tafsiir Al Qu’ran Al Azhim, 2/121]

Beberapa riwayat menyatakan bahwa puasa umat sebelum umat Muhammad adalah disyariatkannya puasa tiga hari setiap bulannya, sebagaimana diterangkan oleh Ibnu Katsir dalam Tafsirnya: “Terdapat riwayat dari Muadz, Ibnu Mas’ud, Ibnu ‘Abbas, Atha’, Qatadah, Ad Dhahak bin Mazahim, yang menyatakan bahwa ibadah puasa awalnya hanya diwajibkan selama tiga hari setiap bulannya, kemudian hal itu di-nasakh dengan disyariatkannya puasa Ramadan. Dalam riwayat tersebut terdapat tambahan bahawa kewajiban puasa tiga hari setiap bulan sudah ada sejak zaman Nabi Nuh hingga akhirnya di-nasakh oleh Allah Ta’ala dengan puasa Ramadhan” [Tafsir Qur’an Al Azhim Libni Katsir, 1/497]

لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Agar kalian bertaqwa”

Kata la’alla dalam Al Qur’an memiliki beberapa makna, diantaranya ta’lil (alasan) dan tarajji ‘indal mukhathab (harapan dari sisi orang diajak bicara). Dengan makna ta’lil, dapat kita ertikan bahwa alasan diwajibkannya puasa adalah agar orang yang berpuasa mencapai derajat takwa. Dengan makna tarajji, dapat kita ertikan bahawa orang yang berpuasa berharap dengan perantaraan puasanya ia dapat menjadi orang yang bertakwa.

Imam At Thabari menafsirkan ayat ini: “Maksudnya adalah agar kalian bertaqwa (menjauhkan diri) dari makan, minum dan berjima’ dengan wanita ketika puasa”[Jami’ Al Bayan Fii Ta’wiil Al Qur’an, 3/413]

Imam Al Baghawi memperluas tafsiran tersebut dengan penjelasannya: “Maksudnya, mudah-mudahan kalian bertakwa kerana sebab puasa. Kerana puasa adalah wasilah menuju takwa. Sebab puasa dapat menundukkan nafsu dan mengalahkan syahwat. Sebagian ahli tafsir juga menyatakan, maksudnya: agar kalian waspada terhadap syahwat yang muncul dari makanan, minuman dan jima”  [Ma’alim At Tanziil, 1/196]

Dalam Tafsir Jalalain dijelaskan dengan ringkas: “Maksudnya, agar kalian bertaqwa dari maksiat. Sebab puasa dapat mengalahkan syahwat yang merupakan sumber maksiat” [Tafsir Al Jalalain, 1/189]

Yang menjadi pertanyaan sekarang, apakah takwa itu?

Secara bahasa arab, takwa berasal dari fi’il ittaqa-yattaqi, yang ertinya berhati-hati, waspada, takut. Bertakwa dari maksiat maksudnya waspada dan takut terjerumus dalam maksiat. Namun secara istilah, definisi takwa yang terindah adalah yang diungkapkan oleh Thalq Bin Habib Al’Anazi:

العَمَلُ بِطَاعَةِ اللهِ، عَلَى نُوْرٍ مِنَ اللهِ، رَجَاءَ ثَوَابِ اللهِ، وَتَرْكِ مَعَاصِي اللهِ، عَلَى نُوْرٍ مِنَ اللهِ، مَخَافَةَ عَذَابِ اللهِ

“Takwa adalah mengamalkan ketaatan kepada Allah dengan cahaya Allah (dalil), mengharap ampunan Allah, meninggalkan maksiat dengan cahaya Allah (dalil), dan takut terhadap adzab Allah”[Siyar A’lamin Nubala, 8/175]

Demikianlah sifat orang yang bertakwa. Orang yang bertakwa beribadah, bermuamalah, bergaul, mengerjakan kebaikan kerana ia teringat dalil yang menjanjikan ganjaran dari Allah Ta’ala, bukan atas dasar ikut-ikutan, tradisi, taklid buta, atau adat istiadat. Demikian juga orang bertakwa senantiasa takut mengerjakan hal yang dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya, kerana ia teringat dalil yang mengancam dengan azab yang mengerikan. Dari sini kita tahu bahawa ketakwaan tidak mungkin tercapai tanpa memiliki cahaya Allah, yaitu ilmu terhadap dalil Al Qur’an dan sunnah Nabi Shallallahu ’Alaihi Wasallam. Jika seseorang memenuhi kriteria ini, layaklah ia menjadi hamba yang mulia di sisi-Nya:

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

“Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah adalah orang yang paling bertaqwa di antara kalian” (Surah Al Hujurat ayat 13)

Setelah mengetahui makna takwa, periksalah penjelasan indah berikut ini dari Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di rahimahullah dalam tafsirnya, tentang keterkaitan antara puasa dengan ketakwaan belaiu berkata: 

“Puasa itu salah satu sebab terbesar menuju ketakwaan. Kerana orang yang berpuasa telah melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Selain itu, keterkaitan yang lebih luas lagi antara puasa dan ketakwaan:

Orang yang berpuasa menjauhkan diri dari yang diharamkan oleh Allah SWT berupa makan, minum jima’ dan semisalnya. Padahal jiwa manusia memiliki kecenderungan kepada semua itu. Ia meninggalkan semua itu demi mendekatkan diri kepada Allah, dan mengharap pahala dari-Nya. Ini semua merupakan bentuk takwa’

Orang yang berpuasa melatih dirinya untuk mendekatkan diri kepada Allah, dengan menjauhi hal-hal yang disukai oleh nafsunya, padahal sebetulnya ia mampu untuk makan, minum atau berjima tanpa diketahui orang, namun ia meninggalkannya kerana sadar bahawa Allah mengawasinya.

Puasa itu mempersempit gerak syaitan dalam aliran darah manusia, sehingga pengaruh syaitan melemah. Akibatnya maksiat dapat dikurangkan. Puasa itu secara umum dapat memperbanyak ketaatan kepada Allah SWT, dan ini merupakan tabiat orang yang bertakwa

Dengan puasa, orang kaya merasakan susahnya rasa lapar. Sehingga ia akan lebih peduli kepada orang-orang miskin yang kekurangan. Dan ini juga merupakan tabiat orang yang bertakwa”[Taisir Kariimir Rahman, 1/86]

Semoga puasa kita dapat menjadi saksi dihadapan Allah SWT tentang keimanan kita kepada-Nya. Dan semoga puasa kita mengantarkan kita menuju derajat takwa, menjadi hamba yang mulia di sisi Allah Ta’ala. Wallahu a'lam


(Tulisan ini di petik daripada tulisan Yulian Purnama)

Thursday, July 2, 2015

Doa Selepas Azan Mustajab Di Sisi Allah SWT

Kita hendaklah menyahut suara azan sepertimana azan itu dikumandangkan.Dalil:

Dari Abu Sa’id Al-Khudri ra ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Apabila kalian mendengar seruan (untuk solat), maka sahutlah (kalimat demi kalimat) sebagaimana yang dikumandangkan oleh muazin.” (Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim)

Dari Umar bin Khataab ra. Ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Apabila muazin mengumandangkan (kalimat azan) ‘Allahu akbar, Allahu akbar’ maka salah seorang dari kalian menyahut dengan ‘Allahu akbar, Allahu akbar.’ Kemudian ia mengumandangkan ‘Asyhadu allaa illaaha lllallaah’ disahut dengan ‘Asyhadu allaa illaaha lllallaah’. Kemudian ia mengumandangkan ‘Ash-hadu anna Muhammadan Rasool Allaah’ disahut dengan ‘Ash-hadu anna Muhammadan Rasool Allaah’. Kemudian ia mengumandangkan ‘Hayya ‘ala’l-salaah’ dan disahut dengan ‘Laa hawla wa laa quwwata illa Billaah’. Kemudian ia mengumandangkan ‘Hayya ‘ala’l-falaah’ disahut dengan ‘Laa hawla wa laa quwwata illa Billaah’ Kemudian dikumandangkan ‘Allaahu akbar, Allaahu akbar’ disahut dengan ‘Allaahu akbar, Allaahu akbar’ Kemudian ia kumandangkan ‘Laa ilaaha ill-Allaah’ disahut dengan ‘Laa ilaaha ill-Allaah’, Semuanya diucapkan dengan seikhlas hati, nescaya ia masuk syurga.” (Hadis Riwayat Muslim)

Dari Sahal bin Saad ra, ia berkata, “Rasulullah SAW bersabda, “Ada dua macam yang tidak ditolak iaitu doa ketika (berakhir) azan dan doa ketika peperangan berkecamuk sehingga berbaur sebahagian mereka kepada sebahagian yang lain.” (Hadis Riwayat Abu Daud dengan isnad Sahih)

Selepas azan dikumandangkan, kita disunatkan :

1. Berselawat kepada Rasulullah SAW.

Disunatkan berselawat kepada Rasulullah SAW bagi pendengar setelah selesai azan. Selepas itu baru berdoa memohon wasilah kepada Rasulullah SAW. daripada Abdullah bin Amru bin al-Ass bahawasanya beliau mendengar

Rasulullah SAW bersabda :

إذا سمعتم المؤذن فقولوا مثل ما يقول ثم صلوا على فإنه من صلى عليّ صلاة صلى الله عليه بها عشرا ثم سلوا لى الوسيلة فإنها منزلة فى الجنة لا        تنبغي إلا لعبد من عباد الله وأرجو أن أكون أنا هو فمن سأل لى الوسيلة حلت له الشفاعة.

Maksudnya :” Apabila kamu mendengar muazin, maka ucapkanlah seperti yang dia sebutkan dan kemudian hendaklah kamu berselawat ke atasku, ( kerana ) sesungguhnya sesiapa yang berselawat ke atasku dengan hanya satu selawat Allah akan merahmatinya dengan sepuluh kali ganda ( selawat tadi ) dan kemudian mintalah kepadaku Wasilah kerana ia adalah satu pangkat dalam syurga yang tidak akan dicapai melainkan oleh seorang sahaja daripada hamba-hamba Allah dan aku berharap akulah orang itu ( yang mendapat wasilah itu ), maka yang memohon kepadaku wasilah maka dapatlah baginya syafaat. ( Hadis Sahih Riwayat Muslim ).

2. Membaca doa selepas azan :

Dari Jabir bin Abdullah ra. Bahawasanya Rasulullah SAW  bersabda, “Sesiapa membaca: (‘Allaahumma Rabba haadhihi’l-da’wat il-taammah wa’l-salaat il-qaa’imah, aati Muhammadan il waseelata wa’l-fadeelah, wab’athhu maqaaman mahmoodan illadhi wa’adtah), nescaya tersedialah baginya syafaatku pada hari kiamat.” (Hadis Riwayat Bukhari)

3. Berdoa untuk keselamatan (keafiatan) di dunia dan akhirat.

Dari Anas ra., ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Doa antara azan dengan iqamah, tidak akan tertolak” (Hadis Riwayat Abu daud, Tirmidzi, An-Nasai, Ibnu Sunni dan lain-lain).


Tirmidzi mengatakan hadis ini hasan sahih. Menurut riwayat Tirmdzi ada tambahannya: “…….Mereka bertanya, “Apakah yang kami baca(ketika itu) wahai Rasulullah?” Baginda menjawab, “Mohonlah kepda Allah keselamatan (keafiatan) di dunia dan di akhirat.”




Kelebihan Membaca Surah Al-Mulk Di Waktu Malam.

Dalam beberapa kesempatan kita telah membahas tuntas surat Al Mulk berisi tafsir dan faedah berharga di dalamnya. Saat ini kami akan menghadirkan keutamaan surat Al Mulk. Akan kita saksikan nantinya bahawa surat Al Mulk memiliki fadhilah luar biasa yaitu untuk mencegah seksa kubur dan mudahnya mendapatkan syafa’at setelah kematian. 

Hadis Pertama

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ عَبَّاسٍ الْجُشَمِىِّ عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ  إِنَّ سُورَةً مِنَ الْقُرْآنِ ثَلاَثُونَ آيَةً شَفَعَتْ لِرَجُلٍ حَتَّى غُفِرَ لَهُ وَهِىَ سُورَةُ تَبَارَكَ الَّذِى بِيَدِهِ الْمُلْكُ

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Basysyar, telah menceritakan pada kami Muhammad bin Ja’far, telah menceritakan kepada kami Syu’bah, dari Qotadah, dari ‘Abbas Al Jusyamiy, dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Ada suatu surat dari al qur’an yang terdiri dari tiga puluh ayat dan dapat memberi syafa’at bagi yang membacanya, sampai dia diampuni, yaitu: “Tabaarakalladzii biyadihil mulku… (surat Al Mulk)” (HR. Tirmidzi no. 2891, Abu Daud no. 1400, Ibnu Majah no. 3786, dan Ahmad 2/299).

Asy Syaukani rahimahullah mengatakan, “’Abbas Al Jusyamiy tidak diketahui mendengar hadits dari Abu Hurairah. Akan tetapi Ibnu Hibban menyebutkan perowi tersebut dalam Ats Tsiqqot. Hadis tersebut memiliki syahid (penguat) dari hadis yang shahih dari Anas, dikeluarkan oleh Ath Thobroni dalam Al Kabir dengan sanad yang shahih.” (Nailul Author 2/227)

Penilaian hadis:

1. Abu ‘Isa Muhammad bin ‘Isa At Tirmidzi dalam Al Jaami’ Ash Shohih 

2. Sunan At Tirmidzi mengatakan bahwa hadits tersebut hasan.

3. Abul ‘Abbas Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ Al Fatawa (22/277) mengatakan bahwa hadits tersebut shahih.

4. Muhammad bin ‘Ali Asy Syaukani dalam Nailul Author (2/227) mengatakan bahwa hadis tersebut memiliki penguat dengan sanad yang shahih.

5. Syaikh Al Albani dalam Shahih Al Jaami’ (2091) mengatakan bahwa hadis tersebut hasan.

Hadis Kedua :

أخبرنا عبيد الله بن عبد الكريم وقال حدثنا محمد بن عبيد الله أبو ثابت المدني قال حدثنا بن أبي حازم عن سهيل بن أبي صالح عن عرفجة بن عبد الواحد عن عاصم بن أبي النجود عن زر عن عبد الله بن مسعود قال : من قرأ { تبارك الذي بيده الملك } كل ليلة منعه الله بها من عذاب القبر وكنا في عهد رسول الله صلى الله عليه و سلم نسميها المانعة وإنها في كتاب الله سورة من قرأ بها في كل ليلة فقد أكثر وأطاب

Telah menceritakan pada kami ‘Ubaidullah bin ‘Abdil Karim, ia berkata, telah menceritakan pada kami Muhammad bin ‘Ubaidillah Abu Tsabit Al Madini, ia berkata, telah menceritakan pada kami Ibnu Abi Hazim, dari Suhail bin Abi Sholih, dari ‘Arfajah bin ‘Abdul Wahid, dari ‘Ashim bin Abin Nujud, dari Zarr, dari ‘Abdullah bin Mas’ud, ia berkata, “Barangsiapa membaca “Tabarokalladzi bi yadihil mulk” (surat Al Mulk) setiap malam, maka Allah akan menghalanginya dari siksa kubur. Kami di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menamakan surat tersebut “al Mani’ah” (penghalang dari siksa kubur).  Dia adalah salah satu surat di dalam Kitabullah. Barangsiapa membacanya setiap malam, maka ia telah memperbanyak dan telah berbuat kebaikan.” (HR. An Nasai dalam Al Kabir 6/179 dan Al Hakim. Hakim mengatakan bahwa sanad hadits tersebut shahih)

Hadis Riwayat di atas mauquf, hanya perkataan ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu.

Penilaian hadis:

Hakim mengatakan bahwa sanad hadits tersebut shahih. Sebagaimana dinukilkan oleh Al Mundziri dalam At Targhib wa At Tarhib (2/294).

Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits tersebut hasan sebagaimana dalam Shahih At Targhib wa At Tarhib (1589).

Kesimpulan Pembahasan Hadis

Dari penjelasan di atas, dapat dilihat bahwa riwayat yang paling kuat yang membicarakan keutamaan surat Al Mulk adalah riwayat terakhir dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu. Riwayat tersebut bukanlah sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam, namun hanya perkataan Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu. Keutamaan surat Al Mulk yang disebutkan dalam riwayat Ibnu Mas’ud adalah:

Surat Al Mulk disebut dengan surat al Mani’ah, yaitu penghalang dari seksa kubur jika rajin membacanya di malam hari.

Membaca surat Al Mulk di malam hari adalah suatu kebaikan.
Catatan penting yang mesti diperhatikan:

Keutamaan surat ini boleh diperoleh jika seseorang rajin membacanya setiap malamnya, mengamalkan hukum-hukum yang terkandung di dalamnya, mengimani berbagai berita yang disampaikan di dalamnya.

Keterangan dari Para Ulama yang Duduk di Al Lajnah Ad Daimah (Komisi Fatwa Saudi Arabia)

Pertanyaan: Apakah surat Al Mulk (tabaarokalladzi bi yadihil mulk …) jika dibaca setiap malam akan memberi syafa’at ketika mati bagi orang yang membacanya?

Jawaban: Hadis yang membicarakan hal tersebut dikeluarkan oleh Abu Daud dalam sunannya dengan teks:

Telah menceritakan pada kami ‘Amr bin Marzuq, telah menceritakan pada kami Syu’bah, telah menceritakan pada kami Qotadah, dari ‘Abbas Al Jusyamiy, dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Ada suatu surat dari al Qur’an yang terdiri dari tiga puluh ayat dan dapat memberi syafa’at bagi yang membacanya, sampai dia diampuni, yaitu: “Tabaarakalladzii biyadihil mulku… (surat Al Mulk)”. Al Mundziri dalam mukhtashornya mengatakan bahwa hadits tersebut dikeluarkan oleh An Nasai dan Ibnu Majah. At Tirmidzi mengatakan bahwa hadits tersebut hasan. Akan tetapi, dalam sanadnya terdapat perowi yang dho’if.

Oleh kerana itu, diharapkan bagi siapa yang mengimani isi surat ini, menghafalkannya, mengharap wajah Allah dengan menarik pelajaran berharga di dalamnya serta mengamalkan hukum yang ada di dalamnya, semoga mendapatkan syafa’at kerana membacanya.


[Fatwa Al Lajnah Ad Daimah lil Buhuts Al ‘Ilmiyyah wal Ifta’, pertanyaan keenam dari fatwa no. 9604, 4/334-335. Yang menandatangani fatwa ini: Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz selaku ketua, Syaikh ‘Abdurrozaq ‘Afifi selaku wakil ketua, Syaikh ‘Abdullah bin Ghudayan selaku anggota]

Semoga kajian dari kami mengenai surat Al Mulk boleh menjadi ilmu yang bermanfaat.

Sunday, June 28, 2015

Kumpulan Doa Nabi SAW

Berikut beberapa doa yang dibaca Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Semoga boleh kita amalkan,

1. Ditetapkan hati dalam Iman

اَللَّهُمَّ يا مُصَرِّفَ الْقُلُوْبِ، صَرِّفْ قُلُوْبُنَا عَلَى دِينِكَ

“Wahai Tuhan yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku pada agamaMu.” (HR. Muslim 2654)

2. Ampunan dalam segala hal

اَللّهُمَّ اغْفِرْ لِيْ خَطِيْئَتِيْ، وَجَهْلِيْ، وَإِسْرَافِيْ فِي أَمْرِيْ، وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّيْ. اللّهُمَّ اغْفِرْ لِيْ جَدِّيْ وَهَزْلِيْ، وَخَطَئِيْ وَعَمْدِيْ، وَكُلُّ ذلِكَ عِنْدِيْ، اللّهُمَّ اغْفِرْ لِيْ مَا قَدَّمْتُ، وَمَا أَخَّرْتُ، وَمَا أَسْرَرْتُ، وَمَا أَعْلَنْتُ، وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّيْ، أَنْتَ الْمُقَدِّمُ، وَأَنْتَ الْمُؤَخِّرُ، وَأَنْتَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ.

“Ya Allah, ampunilah kesalahanku, kebodohanku, keberlebih-lebihan dalam perkaraku, dan apa yang Engkau lebih mengetahui daripadaku. Ya Allah, ampunilah diriku dalam kesungguhanku, kelalaianku, kesalahanku, kesengajaanku, dan semua itu adalah berasal dari sisiku. Ya Allah, ampunilah aku dari segala dosa yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan, segala dosa yang aku sembunyikan dan yang aku tampakkan, dan dosa yang Engkau lebih mengetahui daripadaku, Engkaulah Yang Maha Mendahulukan dan Yang mengakhirkan, dan Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu. (HR. Bukhari 6398 dan Muslim 2719).

3. Mohon Diperbaiki Segala Urusan

اَللَّـهُـَّم أَصْلِحْ لِي دِينِي الّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِي، وَأَصْلِحْ لِي دُنْيَايَ الّتِي فِيهَا مَعَاشِي، وَأَصْلِحْ لِي آخِرَتِي الّتِي فِيهَا مَعَادِي، وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لِي فِي كُلِّ خَيْرٍ، وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لِي مِنْ كُلِّ شَرٍّ

Ya Allah mohon kebaikan pada urusan agamaku karena itu adalah penjaga semua urusanku. Aku mohon kebaikan pada urusan duniaku karena itu tempat hidupku. Aku mohon kebaikan pada urusan akhiratku karena itu tempat kembaliku. Jadikanlah hidup ini tambahan kebaikan bagiku, dan jadikanlah kematianku waktu istirahat bagiku dari segala keburukan. (HR. Muslim 2720)

4. Perlindungan dari Fitnah Kaya dan Fitnah Miskin

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الكَسَلِ وَالهَرَمِ، وَالمَأْثَمِ وَالمَغْرَمِ، وَمِنْ فِتْنَةِ القَبْرِ، وَعَذَابِ القَبْرِ، وَمِنْ فِتْنَةِ النَّارِ وَعَذَابِ النَّارِ، وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الغِنَى، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الفَقْرِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الَمسِيحِ الدَّجَّال

Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kemalasan dan usia jompo, perbuatan dosa dan hutang, fitnah kubur dan azab kubur, fitnah neraka dan azab neraka, keburukan fitnah kekayaan; aku berlindung kepada-Mu dari fitnah kemiskinan dan aku berlindung kepada-Mu dari fitnah Masih Dajjal. (HR. Bukhari 6368)

5. Perlindungan Dicabutnya Nikmat Lahir Batin

اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيعِ سَخَطِكَ

Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari hilangnya kenikmatan yang telah Engkau berikan, dari berubahnya kesehatan yang telah Engkau anugerahkan, dari siksa-Mu yang datang secara tiba-tiba, dan dari segala kemurkaan-Mu. (HR. Muslim 2739).

6. Agar Dijauhkan dari Sifat Pengecut & Tidak Pikun

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْجُبْنِ، وَأَعُوذُ بِكَ أَنْ أُرَدَّ إِلَى أَرْذَلِ الْعُمُرِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الدُّنْيَا، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ

Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari sikap pengecut, aku berlindung kepada-Mu kepada serendah-rendahnya usia (pikun), aku berpindung kepada-Mu dari fitnah dunia, dan aku berlindung berlindung kepada-Mu dari adzab kubur. (HR. Bukhari 2822)

7. Berlindung dari Keburukan Amal

اللهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا عَمِلْتُ، وَشَرِّ مَا لَمْ أَعْمَلْ

Ya Allah, aku berlindung dari keburukan yang telah aku perbuat dan keburukan yang belum aku perbuat. (HR. Muslim 2716)

8. Agar Jiwanya Bertaqwa & Berlindung dari Ilmu yang tidak Manfaat

اللهُمَّ آتِ نَفْسِي تَقْوَاهَا، وَزَكِّهَا أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا، أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا، اللهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ، وَمِنْ قَلْبٍ لَا يَخْشَعُ، وَمِنْ نَفْسٍ لَا تَشْبَعُ، وَمِنْ دَعْوَةٍ لَا يُسْتَجَابُ لَهَا

Ya Allah karuniakan ketakwaan pada jiwaku. Sucikanlah ia, sesungguhnya Engkaulah sebaik-baik yang mensucikannya, Engkau-lah Yang Menjaga serta Melindunginya. Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari Ilmu yang tidak manfaat, hati yang tidak khusyu, dan doa yang tidak diijabahi. (HR. Muslim 2722).

9. Mohon Bisa Melihat Wajah Allah

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ لَذَّةَ النَّظَرِ إِلَى وَجْهِكَ، وَالشَّوْقَ إِلَى لِقَائِكَ فِي غَيْرِ ضَرَّاءَ مُضِرَّةٍ، وَلَا فِتْنَةٍ مُضِلَّةٍ

Ya Allah, Aku mohon kepada-Mu kenikmatan memandang wajah-Mu (di Surga), rindu bertemu dengan-Mu tanpa penderitaan yang membahayakan dan fitnah yang menyesatkan. (HR. Nasai 1305 dan dishahihkan al-Albani)

10. Dimudahkan Berbuat Baik & Mencintai Orang Miskin

اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ فِعْلَ الْخَيْرَاتِ وَتَرْكَ الْمُنْكَرَاتِ وَحُبَّ الْمَسَاكِينِ وَأَنْ تَغْفِرَ لِى وَتَرْحَمَنِى وَإِذَا أَرَدْتَ فِتْنَةَ قَوْمٍ فَتَوَفَّنِى غَيْرَ مَفْتُونٍ

Ya Allah, aku memohon kepada-Mu untuk mudah melakukan kebaikan dan meninggalkan kemungkaran serta aku memohon pada-Mu supaya bisa mencintai orang miskin,ampunilah (dosa-dosa)ku, rahmatilah saya, jika Engkau menginginkan untuk menguji suatu kaum maka wafatkanlah saya dalam keadaan tidak tenggelam dalam ujian. (HR. Tirmidzi no. 3235 dan Ahmad 5: 243, dan Dishahihkan al-Albani)

11. Mohon Agar Bisa Mencintai Orang yang Mencintai Allah

اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ حُبَّكَ وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّكَ وَحُبَّ عَمَلٍ يُقَرِّبُ إِلَى حُبِّكَ

Saya memohon agar dapat mencintai-Mu, mencintai orang-orang yang mencintai-Mu dan mencintai amal yang dapat mendekatkan diriku kepada cinta-Mu. (HR. Tirmidzi no. 3235 dan Ahmad 5: 243, dan Dishahihkan al-Albani).

12. Mohon Kebaikan dalam Segala Hal yang Pernah Diminta Nabi

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنَ الْخَيْرِ كُلِّهِ عَاجِلِهِ وَآجِلِهِ، مَا عَلِمْتُ مِنْهُ وَمَا لَمْ أَعْلَمْ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الشَّرِّ كُلِّهِ عَاجِلِهِ وَآجِلِهِ، مَا عَلِمْتُ مِنْهُ وَمَا لَمْ أَعْلَمْ، اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِ مَا سَأَلَكَ عَبْدُكَ وَنَبِيُّكَ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا عَاذَ بِهِ عَبْدُكَ وَنَبِيُّكَ، اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْجَنَّةَ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ أَوْ عَمَلٍ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ النَّارِ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ أَوْ عَمَلٍ، وَأَسْأَلُكَ أَنْ تَجْعَلَ كُلَّ قَضَاءٍ قَضَيْتَهُ لِي خَيْرًا

Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepadaMu seluruh kebaikan yang segera (dunia) dan yang tertunda (akhirat), kebaikan yang aku ketahui dan yang tidak aku ketahui. 


Dan aku berlindung kepadaMu dari segala keburukan yang segera (dunia) dan yang tertunda (akhirat), yang aku ketahui dan yang tidak aku ketahui.


Aku meminta kepada-Mu kebaikan semua doa yang pernah diminta oleh hamba dan nabi-Mu, dan aku berlindung kepada-Mu dari keburukan, yang hamba dan nabi-Mu pernah berlindung darinya.


Aku memohon surga kepadaMu dan segala perkataan dan perbuatan yang mendekatkan kepadanya. Aku berlindung kepadaMu dari neraka dan segala perkataan dan perbuatan yang mendekatkan kepadanya.


Aku meminta segala sesuatu yang telah Engkau takdirkan untukku, hendaklah Engkau jadikan kebaikan bagiku.


(HR. Ahmad 25019, Ibnu Majah 3846 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth)

Semoga bermanfaat.

Friday, June 26, 2015

Hadis sohih kelebihan Selawat ke atas nabi Muhammad SAW:

Hadith Sahih. Dari Abu Hurairah r.a. bahawa Rasulullah SAW. telah bersabda : “Bacalah selawat kepadaku kerana sesungguhnya bacaan selawat kamu semua dapat sampai kepadaku di mana saja kamu berada .” [ Sila rujuk HR Abu Daud, Riyadus Solihin, 1398, Sahih menurut Imam Nawawi ]

Hadith Sahih. Dari Abu Hurairah r.a. bahawa Rasulullah SAW. telah bersabda; “Tiada seseorang pun yang memberikan salam kepadaku (setelah kewafatanku),melainkan Allah mengembalikan rohku sehinggalah aku dapat menjawab salam orang itu.” [Sila rujuk HR Abu Daud dan Ahmad,Riyadus Solihin -1398,Sahih menurut Imam Nawawi ]

Hadith Sahih. Dari Abu Hurairah r.a. bahawa Rasulullah SAW telah bersabda : “sesiapa berselawat kepadaku sekali selawat, maka Allah akan berselawat ke atasnya sepuluh kali.” [Sila rujuk Sahih Muslim-0408]

Hadith Sahih. Dari Anas bin Malik r.a. berkata Rasulullah SAW. telah bersabda : “ Barangsiapa yang berselawat kepadaku satu kali, maka Allah berselawat kepadanya sepuluh kali dan akan dihapuskan daripadanya dosa dan diangkat baginya sepuluh darjat.” [Sila rujuk HR An-Nasaie-1271 ]

Hadith Sahih. Abdullah ibnu Masud r.a. berkata, Rasulullah SAW. telah bersabda : “Seutama-utama manusia dengan aku di hari kiamat ialah orang yang paling banyak berselawat kepadaku.” [Sila rujuk HR At-Tirmizi-0483 dan beliau berkata hadith ini adalah hasan Gharib. Riyadus Salihin -1395 ]

Hadith Sahih. Hussain bin Ali memberitakan daripada ayahnya Ali bin Abi Talib (semoga Allah meredhainya mereka berdua) bahawa Rasulullah (selawat Allah dan salam keatasnya) telah bersabda :”apakah tidak lebih baik aku khabarkan kepada kamu tentang orang yang dipandang sebagai manusia yang paling bakhil?”maka kami(para sahabat) menjawab : “Baik benar Rasulullah!” Maka Rasulullah (selawat Allah dan salam ke atasnya) meneruskan: “ Orang yang disebut namaku di hadapannya, maka tiada ia berselawat kepadaku, itulah manusia yang paling bakhil.!”

[Sila rujuk HR At-Tirmizi,Misykat Al-Masbih-3/299,no : 311.Riyadus Salihin -1440. Imam At-Tirmizi berkata hadith ini adalah sahih. Juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad,Ibnu Hibban dan Al-Hakim ]

Hadith Hasan. Ali bin Abi Talib (semoga Allah meredhainya) berkata : “Doa seseorang itu terdinding (terhalang) sehinggalah dia berselawat ke atas Rasulullah dan ahli keluarganya.”

[Sila rujuk kitab Al-Mu’jam Al-Ausat oleh Imam Ath-Thabrani. Hadith Hasan]

Hadith Sahih. Abu Hurairah (semoga Allah meredhainya) berkata,Rasulullah (selawat Allah dan salam keatasnya) telah bersabda : “Tiadalah suatu kaum berada di sesuatu majlis di mana mereka tidaklah menyebut nama Allah dan mereka tidak pula berselawat ke atas Nabi mereka.melainkan mereka pasti akan ditimpai padah(penyesalan). Maka jika Allah kehendaki ,Dia akan seksa mereka ; dan jika Dia kehendaki, Dia akan mengampunkan mereka.” [Sila rujuk HR At-Tirmizi-3440 ]

Di dalam satu riwayat yang lain ,hadith ini di akhiri dengan: “……..mereka akan ditimpa penyesalan di hari Kiamat; sekali pun mereka dapat memasuki syurga bagi pahala amalan-amalan lain yang mereka kerjakan.” [Sila rujuk Musnad Imam Ahmad. Disemak semula sebagai Sahih oleh Imam Al-Hakim, Adz-Dzahabi dan Al-Haitami]

Tuesday, June 23, 2015

Wadah Baru Malaysia Menggantikan PAS

Dr Dzulkefly Ahmad berkata penyingkiran mereka daripada kepimpinan tertinggi PAS menyebabkan satu wadah baharu yang lebih kukuh dan inklusif dibina untuk semua rakyat Malaysia. – Gambar fail The Malaysian Insider, 22 Jun, 2015.  

Dr Dzulkefly Ahmad berkata penyingkiran mereka daripada kepimpinan tertinggi PAS menyebabkan satu wadah baharu yang lebih kukuh dan inklusif dibina untuk semua rakyat Malaysia. – Gambar fail The Malaysian Insider, 22 Jun, 2015. 
Pemimpin PAS yang tewas dalam pemilihan PAS baru-baru ini menyifatkan kekalahan mereka secara blok dalam pemilihan itu menjadi "rahmat yang terselindung” apabila ia membuka ruang membina sesuatu lebih kukuh untuk Malaysia selepas ini.

Setiausaha jawatankuasa bertindak kumpulan 18 (G18) yang tewas itu, Dr Dzulkefly Ahmad berkata penyingkiran mereka menyebabkan satu wadah baharu yang lebih kukuh dan inklusif dibina untuk semua rakyat Malaysia.

"Sejak sekian lama kita bergaduh dalam PAS dengan pendekatan dan pandangan yang berbeza berhubung beberapa perkara, sekarang kita bebas untuk membentuk wadah baharu lebih inklusif untuk semua rakyat negara ini," katanya kepada The Malaysian Insider.


G18 mengadakan pertemuan pertama di Muar, Johor pada 16 Jun lalu dan membentuk jawatankuasa bertindak di kalangan mereka.

Bekas Timbalan Presiden PAS Mohamad Sabu yang gagal mempertahankan jawatannya dipilih sebagai pengerusi kumpulan ini sementara bekas Naib Presiden Salahudin Ayub dilantik menjadi timbalan manakala bekas Ketua Pemuda Suhaizan Kaiat sebagai penolong setiausahanya.

Semua ahli G18 yang lain dilantik sebagai ahli jawatankuasa (AJK) badan bertindak ini.
Dzulkefly berkata badan ini akan menggabungkan semua masyarakat sivil di negara ini terutama badan bukan kerajaan (NGO) Islam bagi membentuk satu wadah baharu politik Malaysia berteraskan Islam yang lebih progresif berbanding parti lama mereka.

"Kami yakin wadah ini akan lebih diterima masyarakat Malaysia kerana sifatnya yang inklusif dalam sebuah negara berbilang agama dan bangsa ini," katanya yang juga bekas ketua pegawai eksekutif Pusat Penyelidikan PAS itu.

Selain bersatu dengan PKR dan DAP, wadah baharu itu akan menghimpun semua NGO Islam di Malaysia yang mempunyai cita-cita sama.

Dzulkefly bagaimanapun berkata, beliau dan pimpinan G18 akan mengambil pendekatan tidak akan berkonfrontasi atau menjadikan parti lama mereka iaitu PAS sebagai musuh.

"Kita akan melihat masa depan dan cuba melupakan perbezaan pendapat kita dalam PAS. Kita akan membawa gagasan masa depan dan lupakan masalah lama kita," katanya.
Dzulkefly berkata, sepanjang Ramadan ini kumpulan berkenaan akan mengadakan mesyuarat bersama pertubuhan Islam dan bukan Islam serta pemimpin masyarkat di seluruh negara bagi menjelaskan peranan pergerakan itu.  

Pengumuman lanjut, katanya hanya akan dibuat selepas sambutan Aidilfitri dan selepas mendapat maklum balas daripada akar umbi serta pertubuhan yang berkaitan.

Menurut laporan, kumpulan itu juga merancang untuk menganjurkan pameran bergerak di seluruh negara dan akan menyokong kempen “Harapan Baru” atau “The New Hope and Dream” selepas sambutan Hari Raya Aidilfitri. – 22 Jun, 2015.