Tuesday, February 9, 2016

Mencari Kebahagiaan Hidup :

Tidak diragukan lagi bahwa setiap insan pasti mendambakan (pada dirinya) kebahagiaan hidup atau kehidupan yang baik.

Namun pandangan masing-masing orang tentang kebahagiaan hidup itu berbeda-beda. Sebagian orang ada yang memandang bahwa ukuran kebahagiaan adalah keberhasilan dalam meraih dunia dengan segala kelezatan hidupnya. Padahal tidaklah demikian hakikatnya.

Allah Subhanallahu wa Ta’ala berfirman :

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالأنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآبِ (14)

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, Yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (QS Ali ‘Imran: 14)

Allah Subhanallahu wa Ta’ala berfirman :

اللَّهُ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَقْدِرُ وَفَرِحُوا بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا فِي الْآخِرَةِ إِلَّا مَتَاعٌ (26)

“Allah meluaskan rezeki dan menyempitkannya bagi siapa yang Dia kehendaki. Mereka bergembira dengan kehidupan dunia, padahal kehidupan dunia itu (dibanding dengan) kehidupan akhirat, hanyalah kesenangan (yang sedikit).” (QS Ar-Ra’d 26)

Inilah segolongan manusia yang sempit akal dan pandangannya. Mereka merasa heran dan kagum dengan kehidupan dunia dan mencukupkan semangat dirinya terhadap kehidupan dunia.

Keadaan mereka yang seperti ini disebabkan oleh:

Tidak ada pada dirinya keimanan kepada akhirat.


Atau beriman kepada akhirat namun tersibukkan dirinya dengan urusan dunia.
Sehingga kehidupannya adalah kehidupan yang rugi dan celaka, walaupun ia diberikan kemudahan oleh Allah Subhanallahu wa Ta’ala untuk meraih harta, perhiasan dan berbagai kelezatan dunia, namun hakikatnya dia sedang mengalami istidraj (keleluasaan) dari Allah Subhanallahu wa Ta’ala. Kemudian ia akan mengalami kerugian yang abadi.


Sebagaimana firman Allah Subhanallahu wa Ta’ala :

فَلَا تُعْجِبْكَ أَمْوٰلُهُمْ وَلَآ أَوْلٰدُهُمْ ۚ إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُعَذِّبَهُم بِهَا فِى الْحَيَوٰةِ الدُّنْيَا وَتَزْهَقَ أَنفُسُهُمْ وَهُمْ كٰفِرُونَ (55)

“Maka janganlah harta benda dan anak-anak mereka menarik hatimu. Sesungguhnya Allah menghendaki dengan (memberi) harta benda dan anak-anak itu untuk menyiksa mereka dalam kehidupan di dunia dan kelak akan melayang nyawa mereka, sedang mereka dalam keadaan kafir.” (QS At-Taubah 55)

Sebagian ulama ahli tafsir mengatakan tentang ayat di atas: “Janganlah kamu tertipu terhadap harta benda dan anak-anak (yang Allah berikan kepada) orang kafir di kehidupan dunia, hanya saja Allah menghendaki yang demikian, agar Dia mengadzab mereka di akhirat kelak.” Inilah yang dinamakan dengan istidraj. 

Allah Subhanallahu wa Ta’ala berfirman : 

أَيَحْسَبُونَ أَنَّمَا نُمِدُّهُمْ بِهِ مِنْ مَالٍ وَبَنِينَ (55) نُسَارِعُ لَهُمْ فِي الْخَيْرَاتِ بَل لَا يَشْعُرُونَ (56)

“Apakah mereka mengira bahwa harta dan anak-anak yang Kami berikan kepada mereka itu (berarti bahwa) Kami bersegera memberikan kebaikan-kebaikan kepada mereka? tidak, sebenarnya mereka tidak sadar.” (QS Al Mu’minun: 55-56)

Allah Subhanallahu wa Ta’ala memberikan dunia kepada siapa saja yang Allah cintai dan yang tidak Allah cintai. Namun, tidaklah Allah memberikan agama ini, kecuali kepada siapa yang Allah Subhanallahu wa Ta’ala cintai. Sebesar apapun seseorang diberikan kekayaan dunia, niscaya lambat laun ia yang akan meninggalkan dunia atau dunia yang akan meninggalkannya.

اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا وَفِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِّنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ (20)

“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megahan antara kamu serta berbangga-banggaan dengan banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.”
(QS Al Hadid: 20)


Mencari dunia terkait dengan keperluan hidup adalah sesuatu yang mulia jika dilakukan dalam rangka membantunya untuk taat kepada Allah. Karena dunia adalah ladang beramal untuk kehidupan di akhirat. Hanya saja, sikap yang tercela adalah menjadikan semangatnya yang tinggi untuk meraih dunia. Sehingga tidaklah ia mengarahkan pandangannya kecuali kepada dunia. Tidak peduli darimana ia mendapatkan harta dengan cara yang halal ataukah haram? Dialah sahabat dunia, yang telah menjadikan dunia sebagai tujuan utama dan semangat yang tinggi untuk mendapatkannya, dengan persangkaan bahwa dengannya akan tercapai kebahagiaan hidup.

Adapula yang memandang bahwa kebahagiaan hidup hanya bisa diraih dengan iman dan amal shalih dengan tetap mencari apa yang dibutuhkan dalam kehidupan dunia ini. Mereka mengatakan dalam doanya: “Wahai Rabb kami, berilah kami kebaikan di dunia dan akhirat dan lindungilah kami dari adzab neraka.” Mereka menggabungkan dalam doa mereka agar Allah memberikan kepada mereka kebaikan di dunia dan akhirat. Merekalah orang-orang yang akan mendapatkan kebahagiaan hidup.

Allah Subhanallahu wa Ta’ala berfirman :

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (97)

“Barangsiapa yang mengerjakan amal soleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, Maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS An Nahl 97)

Barangsiapa yang beramal soleh baik dari kalangan laki-laki atau perempuan dalam keadaan iman, maka Allah akan memberikan kepadanya kebahagiaaan hidup. Di dunia ia merasakan kebahagiaan hidup diatas iman, hatinya tenang, lapang dan senang. Mereka hidup dalam keadaan berzikir kepada Allah, merasakan kenikmatan dalam beribadah kepada Allah Subhanallahu wa Ta’ala.

Thursday, February 4, 2016

Jauhi Mengumpat Dan Mencerca Orang Lain


Ayat ini biasa kita dengar. Betul ke mengata depan-depan tak salah (tak berdosa)? Kalau kita lihat surah al Humazah ayat 1, 

Allah سبحانه وتعالى berfirman: 

وَيْلٌ لِّكُلِّ هُمَزَةٍ لُّمَزَةٍ [الهمزة : 1

Ertinya: Kecelakaan / lembah neraka bagi orang yang "HUMAZAH" dan "LUMAZAH"
(Surah al Humazah ayat 1)


Apa makna humazah dan lumazah?

1. Kata Ibnu Abbas:

عن ابن عباس أن الهمزة : الذي يغتاب واللمزة : العياب .
 

Ertinya: al Humazah itu yang mengumpat (dibelakang) dan al Lumazah itu yang mengaibkan.

2. Pendapat ulama' lain:

وقال أبو العالية والحسن ومجاهد وعطاء بن أبي رباح : الهمزة : الذي يغتاب ويطعن في وجه الرجل ، واللمزة : الذي يغتابه من خلفه إذا غاب

Kata Abu Al Aliah, al Hasan, Mujahid, Ata' bin Abi Rabah: al HUMAZAH ialah yang mengumpat dan mencerca di depan muka seseorang dan al LUMAZAH ialah yang mengumpat orang yang di belakangnya .

Jadi kalau mengikut tafsiran ulama, kata- kata: "SAYA TAK MENGUMPAT, SAYA KATA DEPAN-DEPAN" adalah tidak betul. Ini kerana kata di depan juga termasuk dalam kategori yang dilarang dalam Islam sebagaimana tafsiran surah al Humazah tadi. Semoga kita dapat memperbetulkan anggapan kita dan amalan kita.
Dipetik dari Tafsir al Qurtubi

Hati Sering Bolak-Balik

Punca Tiada Ketetapan Pada Hati.

1. Hati merupakan raja dalam struktur badan manusia.  (Hadis Riwayat al-Bukhari no, 52,Bab Iman. Muslim no.1599, Bab Jual Beli). 

Imam al-Qurtubi menceritakan kisah seorang Muazzin di Mesir yang telah murtad kerana ternoda dengan seorang gadis beragama Kristian, kemudian mereka berkahwin. Akibat dalam suatu kemalangan, lelaki itu mengakhiri hayatnya dalam keadaan hina, dalam agama Kristian.(Lihat Kitab al-Tazkirah: Bab Su'al-Katimah.)

Oleh itu, amatlah penting memohon kepada ketetapan hati agar sentiasa berada dalam rahmat-Nya, ketika hidup atau mati.

2. Daripada Anas berkata; Maka kami (Para Sahabat) berkata;

Wahai Rasulullah..! Kami telah beriman kepadamu dan kepada Wahyu yang engkau bawa, maka apakah engkau masih khuwatirkan kami?

Baginda Nabi SAW menjawab:

نَعَمْ إِنَّ الْقُلُوبَ بَيْنَ أُصْبُعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ يُقَلِّبُهَا
 

"Ya, sesungguhnya hati itu berada di antara jari-jari Allah ‘azza wajalla, Dialah yang membolak-balikkannya."
(HR. Ahmad; Ibnu ‘Adi berkata di dalamnya terdapat perawi yang bernama Abu Sufyan dan dia tidak mengapa.)

3. Dalam riwayat lain, Ummu Salamah r.ha berkata, doa ini merupakan DOA yang paling banyak dibaca oleh Nabi SAW.

اللَّهُمَّ مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ


"Ya Allah, yang membolak balikkan hati, tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu".
(Bacalah doa ini setiap kali solat Fardu dan solat-solat Sunat yang kita kerjakan)

(HR. Ahmad; dalam sanadnya terdapat “Syahar bin Hawsyab” dan dia didhaifkan para ulama)

4. Apkah punca hati itu berbolak-balik?

i. Memakan dari sumber haram dan subhah.
ii. Rendahnya keimanan kepada Allah dan jauh dari Allah.
iii. Sombong, riak dan takabur
iv. Dekatnya diri dengan maksiat.


Oleh kerana hati itu sentiasa dalam bolak-balik, "maka setiap ibadah yang dilakukan seperti solat, amalan-amalan sunat, puasa kita akan bermusim." Apatah lagi, untuk istiqamah dalam semuah ibadah yang dilakukan, umpama "Lalang Ditiup Angin).

Cara Allah SWT Memberi Rezeki Menurut Al-Quran


1— Rezeki yang dijamin oleh Allah SWT.

“Tidak suatu binatang (termasuk manusia) yang bergerak di atas bumi ini yang tidak dijamin oleh Allah rezekinya.”(QS. Hud: 6). 

2—Rezeki yang diperolehi sesuai dengan apa yang diusahakan.

“Tidaklah manusia mendapat apa-apa kecuali apa yang telah dikerjakannya” (QS. An-Najm: 39).

3—Rezeki sampingan bagi orang-orang pandai bersyukur.

"Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim: 7)

4—Rezeki istimewa dari arah yang tidak disangka-sangka bagi orang-orang yang bertakwa dan bertawakal pada Allah SWT.
.
“Barangsiapa yang bertaqwa kepadaا Allah  nescaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.
Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah nescaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang dikehendaki-Nya.
Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (QS.Ath-Thalaq:2-3)

— Peringkat rezeki yang keempat ini adalah rezeki yang istimewa, tidak semua orang boleh mampu mendapatnya. 

Rezeki ini akan Allah berikan dari arah yang tidak disangka-sangka. Mungkin disaat seseorang berada dalam keadaan yang sangat ia memerlukan.

9 Kreteria Wanita Cantik Menurut Al-Quran Dan Sunah


Ciri-ciri kecantikan seseorang wanita dari sudut Islam.

1. Sentiasa menjaga pandangan agar kelihatan sopan dan terpuji (surah an-Nur 24:31)

2. Tidak bergaul bebas dengan kaum lelaki ajnabi, kecantikan dipelihara tanpa dipertontonkan. (HR Bukhari)

3. Pembawaan diri sopan, tegas, dan bersahaja. (Surah al-Qasos:25)

4. Senantiasa bercakap dengan nada suara tidak di manja-manjakan dan tidak dilembut-lembutkanan (surah al-Ahzab:32)

5. Menjauh gaya tabarruj, penggayaan diri yg mengganggu fitnah lelaki hingga menarik kepada dirinya (surah al-ahzab:33)

6. Berpakaian membawa identiti wanita mukminah (surah al-Ahzab:59)

7. Senantiasa bersih dan berbau segar (HR Bukhari)

8. Tidak mengubah ciptaan Allah seperti pembedahan plastik, membuat tato, mencukur alis, dan sebagainya. (Surah an-Nisa:119, HR Bukhari, Muslim, Abu Daud, dan at-Thirmizi)

9. Tidak meniru penampilan kaum lelaki dari cara berpakaian, bercakap serta pembawaan diri (HR Ibnu Abbas)

Wednesday, January 27, 2016

Rujuk Dalam Islam.

Tidak ada seorang muslim pun yang ingin kehidupan rumah tangganya pecah. Segala cara dan kiat dicari untuk mempertahankan bahtera rumah tangga. Apabila tidak mungkin berbaikan kecuali dengan berpisah, maka apa boleh buat, langkah yang sulit dan getir itu pun harus diambil. Islam memberikan aturan yang indah dalam perkara ini dengan mensyariatkan talak (perceraian), rujuk (damai kembali bersatu), dan masa iddah menjadi tiga: dua dengan rujuk, yaitu talak satu dan dua serta satu tanpa rujuk, yaitu talak tiga atau talak ba’in, sebagaimana firman Allah,

الطَّلاَقُ مَرَّتَانِ فَإِمْسَاكٌ بِمَعْرُوفٍ أَوْ تَسْرِيحٌ بِإِحْسَانٍ

“Talak (yang dapat dirujuk) itu sebanyak dua kali. Setelah itu, boleh rujuk lagi dengan cara yang ma’ruf atau menceraikan dengan cara yang baik.” (Surah Al-Baqarah ayat 229)

Para ulama sepakat bahawa wujud saksi tidak disyariatkannya dalam perceraian, sebagaimana dijelaskan Imam Asy-Syaukani dalam kitab Nail Al-Authar, 6:267. Namun, para ulama masih berselisih tentang kewajiban adanya saksi dalam rujuk. Pendapat yang rajih dalam hal ini adalah yang berpendapat bahawa saksi tidak wajib ada, namun bila ada saksi maka itu yang lebih baik.

Para ulama, yang tidak mewajibkan saksi dalam rujuk, berselisih pendapat dalam cara rujuk yang diakui syariat. Ada yang menyatakan bahawa cukup dengan berhubungan suami-isteri, ada yang menyatakan bahwa harus dengan niat rujuk, dan ada yang menyatakan bahwa harus dengan ucapan. Pendapat yang rajih adalah bahwa rujuk dikatakan sah dengan adanya perbuatan atau perkataan yang menunjukan rujuknya disertakan dengan niat untuk rujuk kedua keadaan tersebut, baik dengan hubungan suami-isteri atau perkataan.

Islam mensyariatkan iddah (masa menunggu) agar si suami dapat meralat kembali talaknya, setelah hilang rasa marah dan tidak sukanya lalu muncul perasaan ingin memperbaiki bahteranya. Oleh kerana itu, si suami dilarang mengusir isterinya dari rumah, dan isteri yang dicerai dengan talak satu atau dua tersebut juga tidak boleh pergi untuk tinggal di luar rumahnya. Hal ini jelas ditegaskan Allah dalam firman-Nya,

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ إِذَا طَلَّقْتُمُ النِّسَاء فَطَلِّقُوهُنَّ لِعِدَّتِهِنَّ وَأَحْصُوا الْعِدَّةَ وَاتَّقُوا اللَّهَ رَبَّكُمْ لَا تُخْرِجُوهُنَّ مِن بُيُوتِهِنَّ وَلَا يَخْرُجْنَ إِلَّا أَن يَأْتِينَ بِفَاحِشَةٍ مُّبَيِّنَةٍ وَتِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ وَمَن يَتَعَدَّ حُدُودَ اللَّهِ فَقَدْ ظَلَمَ نَفْسَهُ لَا تَدْرِي لَعَلَّ اللَّهَ يُحْدِثُ بَعْدَ ذَلِكَ أَمْراً

“Wahai Nabi, apabila kamu menceraikan isteri-isterimu maka hendaklah kamu ceraikan mereka pada waktu mereka dapat (menghadapi) iddahnya (yang wajar), hitunglah waktu iddah itu serta bertakwalah kepada Allah, Rabbmu. Janganlah kamu keluarkan mereka dari rumah mereka dan janganlah mereka (diizinkan) keluar, kecuali kalau mereka mengerjakan perbuatan keji yang terang. Itulah batasan-batasan dari Allah. Barang siapa yang melanggar batasan-batasan Allah, sesungguhnya dia telah berbuat zalim terhadap dirinya sendiri. Kamu tidak mengetahui bahawa barangkali Allah mengadakan sesudah itu sesuatu hal yang baru.” (Surah Ath-Thalaq ayat 1)

Apabila Allah berikan rasa ingin rujuk pada hati si suami dalam masa iddah tersebut maka istri wajib menerimanya walaupun ia tidak suka. Namun, bila tidak ada rujuk sampai habis masa iddah-nya maka si wanita menjadi bebas dan tidak ada keterikatan dengan suaminya terdahulu itu.

Jika keduanya sepakat untuk kembali bersatu setelah itu maka pernikahan yang baru wajib untuk dilakukan . Hal ini merupakan kesepakatan para ulama, sebagaimana pernyataan Ibnu Hajar dalam Fathul Bari, “Para ulama telah bersepakat bahawa bila lelaki yang merdeka mencerai wanita yang merdeka setelah berhubungan suami isteri, baik talak satu atau dua, maka suami tersebut lebih berhak untuk rujuk kepadanya walaupun si wanita tidak suka. Apabila tidak rujuk sampai selesai masa iddahnya maka si wanita menjadi orang asing (ajnabiyah), sehingga tidak halal baginya, kecuali melalui pernikahan baru.”

Sunday, January 24, 2016

Batas-batas Pergaulan Di Antara Lelaki Dan Wanita Dalam Islam

Pengertian Pergaulan.

Pergaulan dalam bahasa Arab disebutkan ikhtilat berasal daripada kalimah “khalata yakhlutu khaltan” yang bererti bercampur.[Ibn Manzur, Lisan al-Arab, Jilid 9, hlm. 120-121.]

Maksud pergaulan (ikhtilat) dalam perbincangan ini ialah bergaul atau bercampur di antara lelaki dan perempuan ajnabi (yang sah kahwin) di satu tempat yakni berlaku interaksi dalam bentuk pandang-memandang atau perbuatan di antara seseorang dengan lain. Ertinya, ia berlaku antara tiga orang atau lebih. Ia berbeza dengan khalwat yang hanya terdiri dari dua orang sahaja.

Hukum Pergaulan Di Antara Lelaki Dan Wanita.

Hukum asal pergaulan antara lelaki dan perempuan ajnabi (harus nikah) adalah haram. Namun demikian, pengharaman ini tidak didasarkan kepada nas yang sarih kerana tiada nas sarih mengenai kes ini. Pengharamannya hanya diasaskan kepada hukum lain ynag pada asalnya dikhususkan bagi kaum wanita kerana dalam hukum-hukum terbabit terdapat unsur-unsur pergaulan antara lelaki dan perempuan ajnabi. Hukum-hukum yang dimaksudkan ialah; larangan berkhalwat dan musafir tanpa mahram, solat berjemaaah di masjid bagi wanita, hukum jihad bagi wanita-wanita dan hukum solat jumaat bagi wanita.

1. Larangan Berkhalwat dan Musafir tanpa mahram

Perempuan dilarang bermusafir bersendirian tanpa mahram dan dilarang berkhalwat dengan lelaki ajnabi (sah kawin dengannya).

Kedua-dua larangan ini didasarkan kepada hadis-hadis berikut:

i. Maksudnya: “Perempuan tidak harus musafir kecuali ada bersamanya mahram dan lelaki tidak harus masuk (dalam rumah) perempuan kecuali ada bersamanya mahram.”[Al- `Asqalani, Fath al-Bari bi Syarh al-Bukhari, Jilid 4, hlm. 72, 77.]

ii. Maksudnya: “Lelaki tidak harus berkhalwat dengan perempuan kecuali bersamanya mahram dan tidak harus musafir kecuali bersamanya mahram.”[Al-Nawawi, Sahih Muslim bi Syarh al-Nawawi, Jilid 9, hlm. 109.]

Hadis pertama melarang lelaki ajnabi berkhalwat dengan wanita di dalam bilik atau rumah. Hadis kedua pula melarang wanita keluar mengerjakan haji tanpa mahram. Kedua-dua hadis ini telah dijadikan oleh para fuqaha’[ Abd al-Karim Zaydan (Dr.), al-Mufassal fi Ahkam al-Mar’ah, jilid 3, hlm. 423.] Sebagai dalil pengharaman pergaulan lelaki dan perempuan; kerana kedua-duanya mengandungi unsur pergaulan.

Walau apapun, satu kesimpulan dapat dibuat iaitu pergaulan perempuan dengan lelaki bukan mahram adalah diharamkan. Namun, pengharaman ini bukanlah didasarkan kepada suatu nas Syarak yang sarih kerana tiada nas Syarak yang dengan jelas menyatakan demikian.

Pengharaman ini hanyalah didasarkan kepada pengharaman khalwat yang terdapat dalam hadis pertama di samping larangan bergaul yang boleh difahami dari larangan ke atas wanita mengerjakan haji tanpa mahram. Dengan kata lain, oleh kerana khalwat antara wanita dan lelaki bukan mahram diharamkan maka pergaulan antara wanita dan lelaki bukan mahram juga adalah haram.

Begitu juga, oleh kerana perempuan dilarang mengerjakan haji tanpa mahram kerana perbuatan itu mendedahkannya kepada pergaulan dengan lelaki maka semua bentuk pergaulan wanita dengan lelaki bukan mahram adalah haram.

Begitu juga hukum sebaliknya, iaitu oleh kerana wanita tidak haram berkhalwat dengan lelaki mahram kerana darurat,[Al-Nawawai, op.cit., hlm. 109.] maka juga tidak haram bergaul dengan lelaki mahram atas alasan darurat. Jelas di sini, hukum boleh dengan tidak boleh wanita bergaul dengan lelaki mahram adakah sinonim dengan hukum boleh dan tidak boleh dia berkhalwat dengan lelaki mahram, begitu juga boleh dan tidak boleh beliau musafir tanpa mahram.

2. Hukum Perempuan solat Jemaah di Masjid

Rujukan kedua bagi pengharaman pergaulan antara lelaki dan wanita ajnabi ialah keizinan bagi wanita melakukan solat jemaah di masjid. Solat jemaah di masjid digalakkan bagi kaum lelaki, tidak bagi kaum wanita. Malah sebaliknya solat wanita di rumahnya adalah lebih afdhal bagi mereka.

Keizinan bagi wanita solat berjemaah di masjid tidak mutlak. Ia diikat dengan berbagai syarat; keizinan suami atau wali, tidak memakai bau-bauan tidak berhias dan tidak bercampur gaul dengan lelaki semasa solat jemaah di dalam masjid. Syarak menentukan saf bagi wanita dalam solat jemaah mestilah di belakang saf lelaki. Penentuan ini sabit melalui nas hadis seperti yang dinyatakan oleh Abdullah bin `Abbas yang beliau mendirikan solat di sebelah Rasulullah s.a.w dan Aisyah r.a mendirikan solat bersama di belakang mereka. Beliau berdiri di sebelah kanan Rasulullah s.a.w. Mereka menunaikan solat bersama.[Abd al-Razzaq al-San`ani, al-Musannaf, Jilid 2, hlm. 407.]

Pensyaratan-pensyaratan yang dikenakan dalam kes wanita solat berjemaah dengan lelaki ini menunjukkan bahawa pergaulan antara lelaki dan wanita adalah haram. Lebih-lebih lagi jika dihalusi persoalan kedudukan saf bagi wanita; di belakang saf lelaki. Ertinya wanita tidak boleh berada dalam satu saf dengan lelaki. Kalau dalam solat yang suasananya penuh taqwa, jauh dari fitnah pun wanita tidak dibenarkan bergaul dalam satu saf dengan lelaki apatah lagi dalam situasi lain yang jauh lebih tidak taqwa dan lebih terdedah kepada fitnah, sudah tentu tegahan bergaul dalam keadaan itu lebih ditegah. Kesimpulannya, pengharaman pergaulan lelaki dan perempuan adalah dirujukkan kepada nas yang melarang wanita bergaul dalam satu saf sewaktu melakukan solat jemaah bersama lelaki di samping pensyaratan-pensyaratan lain. Ini bererti kebolehan berlaku pergaulan dengan wanita dan lelaki ajnabi adalah bergantung kepada pensyaratan boleh berlakunya solat jemaah wanita bersama lelaki. Dengan kata lain pergaulan wanita dan lelaki ajnabi bukan boleh secara mutlak, tetapi boleh dengan syarat-syarat yang ditentukan.

3. Hukum Wanita Turut Serta Dalam Perang Jihad

Rujukan ketiga bagi pergaulan wanita denga lelaki ajnabi ialah hukum wanita turut serta dalam perang jihad. Menurut hukum asal, wanita tidak wajib turut serta dalam perang jihad. Aisyah r.a pernah meminta izin daripada Rasulullah s.a.w untuk turut serta berjihad, tetapi Rasulullah SAW menyatakan bahawa jihad bagi wanita adalah mengerjan haji.

Dalam menghuraikan hadis ini, Ibn al-Battal menyatakan bahawa wanita tidak wajib berjihad di medan perang kerana mereka diwajibkan berhijab dan tidak boleh bergaul dengan lelaki.

Jelas dilihat bahawa Rasulullah s.a.w tidak mengizinkan Aisyah turut serta dalam perang jihad adalah kerana mereka ditegah bergaul dengan lelaki. Ertinya, kalau dalam keadaan perang jihad mempertahankan Islam, satu keadaan yang sangat kritikal kepada orang Islam dan agama Islam sendiri wanita tidak diizinkan bergaul, maka dalam kes-kes lain yang tidak mendesak adalah lebih tidak dibenarkan.

4. Wanita Tidak Wajib Solat Jumaat

Fuqaha’ sepakat mengatakan bahawa wanita tidak wajib menunaikan solat jumaat.[13] Mazhab Hanafi berpendapat sebab wanita tidak wajib solat jumaat ialah kerana wanita sibuk dengan urusan rumah tangga di samping mereka ditegah keluar bersama kaum lelaki dlam keadaan yang boleh membawa fitnah.[14] Alasan ini membawa erti bahawa hukum pergaulan antara wnaita dan lelaki ajnabi adalah haram.

Di awal perbincangan telah dinyatakan, tiada nas sarih yang secara langsung mengharamkan pergaulan perempuan dengan lelaki ajnabi. Namun demikian, dalam konteks ini kaedah al-Asl fi al-Asyia’ al-Ibahah, tidak dapat digunakan untuk menyatakan bahawa hukum asal pergaulan perempuan dan lelaki ajnabi adalah harus, kerana nas-nas yang dikemukakan di atas secara tidak langsung telah mengandungi unsur-unsur larangan dari pergaulan antara perempuan dan lelaki ajnabi. Oleh itu, keharusan yang mutlak dalam kes ini sudah tidak ada lagi.

Batas-batas Pergaulan Lelaki dan Wanita Yang Di Benarkan.

Perbincangan di atas telah menjelaskan bahawa hukum asal pergaulan antara lelaki dan perempuan adalah dilarang. Namun demikian, dalam keadaan atau situasi tertentu hukum tersebut berubah menjadi harus. Keadaan dan situasi yang dimaksudkan ialah darurah, hajat (keperluan), maslahat Syar’ie dan kebiasaan adat setempat.

1. Pergaulan Antara Lelaki Dan Perempuan Kerana Darurat

Dalam syarah Sahih Muslim, al-Imam al-Nawawi menyatakan bahawa tidak ada perbezaan hokum berkhalwat antara perempan dan lelaki ajnabi di dalam dan luar solat, kecuali dalam keadaan darurat. Sebagai contoh, situasi di mana seorang perempuan bersendirian dalam satu perjalanan yang mungkin mendedahkannya kepada bahaya. Keadaan ini membolehkan seorang lelaki ajnabi bersama dengannya sekadar untuk membantu dan melindungi daripada bahaya.

Penjelasan al-Nawawi menyakinkan bahwa pergaulan perempuan dan lelaki ajnabi yang dikategorikan sebagai darurat, atas tujuan memberikan perlindungan atau menyelamatkan perempuan terbabit daripada bahaya adalah diharuskan dengan syarat tidak ada tujuan-tujuan lain. Hukum uni adalah satu pengecualian dari hukumnya yang asal iaitu haram.

2. Pergaulan Antara Lelaki Dan Perempuan Kerana Keperluan

Pergaulan antara perempuan dan lelaki ajnabi kerana hajat (keperluan) Syar’ie adalah dibolehkan. Antara keperluan-keperluan Syar’ie ialah:

a. Pergaulan antara lelaki dan perempuan untuk mengurus muamalah maliyah (urusan harta)

Pergaulan antara lelaki dan perempuan untuk tujuan-tujuan seperti jualbeli dan aktiviti transaksi lain dibolehkan kerana tabiat urusan jenis ini memerlukan berlaku interaksi di antara dua pihak sebelum berlaku akad. Pergaulan semasa muamalah maliyah (urusan harta) dibolehkan dengan syarat menjaga batas-batas Syarak seperti pakaian menutup aurat, menundukkan pandangan dan percakapan biasa.[16]

b. Pergaulan antara lelaki dan perempuan semasa bekerja

Semasa melaksanakan kerja, pada kebiasaannya berlaku pergaulan di antara lelaki dan perempuan. Pergaulan ini dibolehkan dengan syarat-syarat kedua-dua pihak menjaga batas-batas Syarak seperti berpakaian menutup aurat, menundukkan pandangan, percakapan biasa yang tidak mengandungi unsur-unsur fitnah dan tidak berkhalwat. Khalifah `Umar al-Khattab pernah melantik al-Syafi, seorang perempuan sebagai pegawai penguatkuasa di pasar untuk memerhati supaya tidak berlaku penyelewengan.[17] Tabiat penguatkuasa di pasar menuntut pegawai tebabit bergaul dengan peniaga dan pembeli di pasar, lelaki dan perempuan. Perlantikan perempuan bekerja sebgai penguatkuasa menunjukkan pergaulan semasa kerja dibolehkan. Kalau pergaulan ini tidak dibolehkan pasti khalifah `Umar tidak melantik perempuan bekerja sebagai penguatkuasa kerana tabiat kerja tersebut menuntut berlakunya pergaulan.

c. Pergaulan di antara lelaki dan perempuan semasa menjadi saksi

Perempuan boleh bergaul dengan lelaki semasa menjadi saksi dalam kes-kes yang ditentukan oleh Syarak bahawa perempuan dibolehkan menjadi saksi seperti perempuan harus menjadi saksi dalam kes-kes harta dan hak-haknya.

d. Pergaulan di antara lelaki dna perempuan dalam kenderaan awam

Pergaulan di antara dalam kenderaan dibolehkan atas alasan ianya adalah keperluan yang mendesak. Namun demikian, keharusan ini tertakluk kepada Syarak bahawa perempuan keluar rumah bukan untuk tujuan yang tidak Syar’ie seperti berfoya-foya. Ia mestilah bertujuan Syar’ie seperti bekerja untuk menyara diri atau keluarga, menziarahi keluarga, pesakit dan sebagainya.

Di samping syarat-syarat di atas, batas-batas Syarak dalam pergaulan lelaki dan perempuan perlulah dijaga. Pakaian mestilah menutup aurat, pandangan ditundukkan dan percakapan berlaku secara biasa dan normal.

3. Pergaulan Mengikut Kebiasaan Adat Dalam Majlis-majlis

Pergaulan di antara lelaki dan perempuan dalam majlis seperti kenduri kendara kerana semperna sesuatu dibolehkan dengan syarat menjaga batas-batas Syarak seperti pakaian menutup aurat, tidak tabarruj, menundukkan pandangan, bercakap dengan suara biasa dan normal. Sekiranya batas-batas Syarak tersebut tidak dipatuhi pergaulan di antara lelaki dan perempuan tidak dibolehkan. Walau bagaimanapun, pengasingan tempat antara lelaki dan perempuan semasa makan dan lainnya dalam majlis-majlis ini adalah lebih baik. Ini didasarkan kepada kaedah “Sadd al-Zari’ah” (menutup pintu-pintu fitnah).

4. Pergaulan Di Antara Lelaki Perempuan Semasa Belajar

Dalam persoalan pergaulan di antara lelaki dan perempuan semasa belajar, sebenarnya tidak ada hadis yang secara langsung menyentuh persoalan ini, apakah ia dilarang atau dibolehkan. Bagaimanapun, ada sesetengah ulama’[19] berpendapat lelaki dan perempuan tidak boleh bergaul semasa belajar.Mereka berhujah dengan hadis Sa’id al-Khudri yang meriwayatkan:

Maksudnya: “Perempuan berkata kepada Nabi s.a.w.: Golongan lelaki mengatasi kami ke atas kamu (orang lelaki sentiasa bersamamu setiap hari mendengar hal-hal agama). Tentukan bagi kami satu hari bersamamu (untuk mendengar dan belajar) lalu baginda menentukan satu hari untuk bertemu(mengajar) golongan perempuan, maka baginda menasihati dan mengajar mereka. Di antara nasihat baginda kepada mereka: “Sesiapa di antara kaum golongan perempuan yang menyerahkan tiga anaknya (untuk perang jihad dan anak itu mati syahid) pasti anak-anak itu menjadi penghalangnya dari apai neraka. Seorang perempuan berkata kalau dua orang? Baginda bersabda: “walau dua orang”.

Bagi mereka hadis ini menunjukkan bahawa perempuan hendaklah diasingkan tempat belajar daripada lelaki. Sekiranya pergaulan di antara lelaki dan perempuan dibolehkan, pasti perempuan pada masa itu tidak meminta Nabi SAW .menentukan hari khusus bagi mereka untuk mempelajari ilmu. Begitu juga kalau pergaulan di antara lelaki dan perempuan semasa belajar dibolehkan, pasti Nabi s.a.w tidak mengkhususkan hari bagi perempuan.

Bagaimanapun, setelah hadis ini diteliti, didapati ia tidak jelas menunjukkan lelaki tidak boleh bercampur dengan perempuan semasa belajar. Buktinya, ungkapan “ghalabana ‘alaika al-rijal” (lelaki mengatasi kami ke atasmu). Maksudnya, secara tab’ie kaum lelaki setiap hari bersama Rasulullah SAW atas tabiat dan fungsi mereka sebagai lelaki. Oleh itu, mereka dapat mendengar dan mempelajari perkara-perkara berkaitan agama sedangkan perempuan tidak mampu berbuat demikian atas sifat dan fungsi mereka sebagai wanita. Oleh itu, perempuan meminta Rasulullah SAW menentukan hari khusus bagi mereka mempelajari agama. Ertinya, permohonan dibuat bukan kerana tegahan bergaul semasa belajar, tetapi atas dasar tabiat dan fungsi lelaki dan wanita yang berbeza. Ia menatijahkan peluang bagi wanita untuk bersama dengan Rasulullah s.a.w agak terbatas. Oleh itu, pengkhususan hari belajar bagi perempuan tidak menunjukkan pergaulan di antara lelaki dan perempuan semasa belajar dilarang. Jadi, hadis ini bukan hujah bagi pengharaman pergaulan antara lelaki dan wanita semasa belajar. Larangan tersebut mungkin lebih sesuai didasarkan kepada kaedah “Sadd al-Zari’ah” (menutup pintu-pintu yang boleh mendatangkan fitnah) kerana lelaki dan perempuan, terutama di peringkat awal remaja dan remaja banyak dipengaruhi oleh rangsangan seks. Dengan itu, pergaulan di antara lelaki dan perempuan semasa belajar pada peringkat ini boleh mendorongkan kepada perkara-perkara keburukan lebih banyak daripada kebajikan. Oleh itu, pengasingan tempat belajar di antara lelaki dan perempuan adalah didasarkan kepada “Sadd al-Zari’ah” bukan hadis di atas.

Selain dari penjelasan perenggan di atas, mereka yang mengatakan pergaulan lelaki dan wanita semasa belajar diharamkan berpendapat bahawa pergaulan antara lelaki dan perempuan semasa ziarah-menziarahi adalah dibolehkan dengan beberapa syarat. Mungkin sukar difahami kenapa pergaulan semasa ziarah dibolehkan dan pergaulan semasa belajar diharamkan, sedang suasana belajar lebih jauh daripada fitnah berbanding dengan suasana ziarah. Mungkin yang membezakan hanyalah ziarah dilakukan sekali sekala tetapi belajar mungkin lebih kerap, malah dalam konteks pendidikan formal, menengah atau tinggi ia berlaku setiap hari. Adapun, tegahan ke atasnya bukan dirujukkan kepada nas, tetapi kepada kaedah “Sadd al-Zari’ah”

Tata Cara Wuduk Menurut Al-Qur’an & As-Sunnah


Kita mulai dari kajian pertama ini yaitu Tata Cara Wuduk
 

1. Apabila seorang muslim mau berwuduk maka hendaknya ia berniat di dalam hatinya kemudian membaca “Bismillahirrahmanirrahim” sebab Rasulullah SAW bersabda “Tidak sah wuduk orang yg tidak menyebut nama Allah” . Dan apabila ia lupa maka tidaklah mengapa. Jika hanya mengucapkan “Bismillah” saja maka dianggap cukup.
 

2. Kemudian disunnahkan mencuci kedua telapak tangannya sebanyak tiga kali sebelum memulai wuduk. 

3. Kemudian berkumur-kumur .
 

4. Lalu menghirup air dgn hidung lalu mengeluarkannya.
 

Disunnahkan ketika menghirup air di lakukan dgn kuat kecuali jika dalam keadaan berpuasa maka ia tidak mengeraskannya krn dikhawatirkan air masuk ke dalam tenggorokan. Rasulullah bersabda “Keraskanlah di dalam menghirup air dgn hidung kecuali jika kamu sedang berpuasa.”
 

5. Lalu mencuci muka. Batas muka adl dari batas tumbuhnya rambut kepala bagian atas sampai dagu dan mulai dari batas telinga kanan hingga telinga kiri. Dan jika rambut yg ada pada muka tipis maka wajib dicuci hingga pada kulit dasarnya. Tetapi jika tebal maka wajib mencuci bagian atasnya saja namun disunnahkan mencelah-celahi rambut yg tebal tersebut. Kerana Rasulullah selalu mencelah-celahi jenggotnya di saat berwuduk.
 

6. Kemudian mencuci kedua tangan sampai siku krn Allah berfirman “dan kedua tanganmu hingga siku.” .
 

7. Kemudian mengusap kepala beserta kedua telinga satu kali dimulai dari bagian depan kepala lalu diusapkan ke belakang kepala lalu mengembalikannya ke depan kepala. Setelah itu langsung mengusap kedua telinga dgn air yg tersisa pada tangannya.
 

8. Lalu mencuci kedua kaki sampai kedua mata kaki krn Allah berfirman “dan kedua kakimu hingga dua mata kaki.” . Yang dimaksud mata kaki adalah benjolan yg ada di sebelah bawah betis. Kedua mata kaki tersebut wajib dicuci berbarengan dgn kaki. Orang yg tangan atau kakinya terpotong maka ia mencuci bagian yg tersisa yg wajib dicuci. Dan apabila tangan atau kakinya itu terpotong semua maka cukup mencuci bagian ujungnya saja.
 

Setelah selesai berwuduk mengucapkan :Sabda Rasullullah SAW maksudnya;

“Sesiapa yang mengambil wuduk dengan baik kemudian dia berkata, Asyhadu al laa ilaaha illAllah wahdahu laa syarikalah, wa asyhadu anna Muhammadan ‘Abdahu wa rasulluh, Allah hummaj ‘alni minat tawwaabin, waj’alni minal mutatohhiriin

(maksudnya: Aku bersaksi bahawa tiada Tuhan selain Allah esa (Tuhan) saja tiada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahawa Muhammad itu adalah hamba dan utusanNya. Allah jadikanlah aku dari kalangan orang yang banyak bertaubat dan jadikanlah aku dari kalangan orang yang menyucikan diri), akan dibuka untuknya kesemua lapan pintu-pintu syurga agar dia memasukinya dari mana dia suka.

(Hadis riwayat ImamTarmizi( 50) ; Sahih: Sahih Al-Tarmizi(55) dan Al-Nasai(148);Sahih:Sahih Al-Nasai(148))


Ketika berwuduk wajib mencuci anggota-anggota wuduknya secara berurutan tidak menunda pencucian salah satunya hingga yg sebelumnya kering. Hal ini berdasar hadits yg diriwayatkan Ibn Umar Zaid bin Sabit dan Abu Hurairah bahwa Nabi senantiasa berwudu secara berurutan kemudian beliau bersabda “Inilah cara berwudu di mana Allah tidak akan menerima shalat seseorang kecuali dgn wudu seperti ini.” .
 

Boleh mengelap anggota-anggota wudhu seusai berwuduk

Sunnah Wuduk
 

Disunnatkan bagi tiap muslim menggosok gigi sebelum memulai wudhunya krn Rasulullah bersabda “Sekiranya aku tidak memberatkan umatku niscaya aku perintah mere-ka bersiwak tiap kali akan berwudhu.” (Riwayat Ahmad dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam Al-Irwa’).
 

Disunnatkan pula mencuci kedua telapak tangan tiga kali sebelum berwudhu sebagaimana disebutkan di atas kecuali jika setelah bangun tidur maka hukumnya wajib mencucinya tiga kali sebelum berwudhu. Sebab boleh jadi kedua tangannya telah menyentuh kotoran di waktu tidurnya sedangkan ia tidak merasakannya. Rasulullah bersabda “Apabila seorang di antara kamu bangun tidur maka hendaknya tidak mencelupkan kedua tangannya di dalam bejana air sebelum mencucinya terlebih dahulu tiga kali krn sesungguhnya ia tidak mengetahui di mana tangannya berada .” .
 

Disunnatkan keras di dalam meng-hirup air dgn hidung sebagaimana dijelaskan di atas.
 

Disunnatkan bagi orang muslim mencelah-celahi jenggot jika tebal ketika membasuh muka .
 

Disunnatkan bagi orang muslim mencelah-celahi jari-jari tangan dan kaki di saat mencucinya krn Rasulullah bersabda “Celah-celahilah jari-jemari kamu.” .
 

Mencuci anggota wuduk yg kanan terlebih dahulu sebelum mencuci anggota wuduk yg kiri. Mencuci tangan kanan terlebih dahulu kemudian tangan kiri dan begitu pula mencuci kaki kanan sebelum mencuci kaki kiri.
 

Mencuci anggota-anggota wudhu dua atau tiga kali namun kepala cukup diusap satu kali usapan saja.
 

Tidak berlebih-lebihan dalam pemakaian air krn Rasulullah berwudhu dgn mencuci tiga kali lalu bersabda “Barangsiapa mencuci lbh maka ia telah berbuat kesalahan dan kezhaliman.” Hal-hal Yang Membatalkan Wudhu Wudhu seorang muslim batal krn hal-hal berikut ini
 

Keluarnya sesuatu dari qubul atau dubur baik berupa air kecil atau- pun air besar.
 

Keluar angin dari dubur .
 

Hilang akalnya baik krn gila pingsan mabuk atau krn tidur yg nyenyak hingga tidak menya-dari apa yg keluar darinya. Adapun tidur ringan yg tidak menghilangkan perasaan maka tidak membatalkan wudhu.
 

Menyentuh kemaluan dgn tangan dgn syhwt (**) apakah yg disentuh tersebut kemaluannya sendiri atau milik orang lain krn Rasulullah bersabda “Barangsiapa yg menyentuh kemaluannya hendaklah ia berwuduk.”.
 

Memakan daging unta krn ketika Rasulullah ditanya “Apakah kami harus berwudhu krn makan daging unta? Nabi menjawab Ya.” . Begitu pula memakan usus hati babat atau sumsumnya adl membatalkan wudhu krn hal tersebut sama dgn dagingnya. Adapun air susu unta tidak membatalkan wudhu krn Rasulullah SAW pernah menyuruh suatu kaum minum air susu unta dan tidak menyuruh mereka berwudlu sesudahnya . Untuk lbh berhati-hati maka sebaiknya berwuduk sesudah minum atau makan kuah daging unta.
 

Hal-hal yg haram dilakukan oleh yg tidak berwuduk.  Apabila seorang muslim berhadats kecil maka haram melakukan hal-hal berikut ini
 

Menyentuh mushaf Al-Qur’an krn Rasulullah mengatakan di dalam suratnya yg beliau kirimkan kepada penduduk negeri Yaman “Tidak boleh menyentuh Al-Qur’an selain orang yg suci.” . Adapun membaca Al-Qur’an dgn tidak menyentuhnya maka hal itu boleh dilakukan oleh orang yg berhadats kecil.
 

Mengerjakan solat. Orang yg berhadats tidak boleh melakukan solat kecuali setelah berwuduk terlebih dahulu krn Rasulullah bersabda “Allah tidak menerima solat yg dilakukan tanpa wuduk.” . Boleh bagi orang yg tidak berwuduk melakukan sujud tilawah atau sujud syukur krn keduanya bukan merupakan solat sekalipun lbh afdhalnya adl berwuduk sebelum melakukan sujud.
 

Melakukan thawaf. Orang yg berhadats kecil tidak boleh melakukan thawaf di Ka`bah sebelum berwuduk krn Rasulullah telah bersabda “Thawaf di Baitullah itu adl solat.” . Dan juga krn Nabi berwuduk terlebih dahulu sebelaum melakukan thawaf . Catatan Penting Untuk berwuduk tidak disyaratkan mencuci qubul atau dubur terlebih dahulu krn pencucian keduanya dilakukan sehabis buaang air dan hal tersebut tidak ada hubungannya dgn wuduk. Wallahu a’lam wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi washahbihi wa sallam. 

Rujukan :

1. Al-Qur’an Al-Karim dan Al-Hadits Kutubus-Sittah.

2. Diadaptasi dari “Tuntunan Shalat Menurut Al-Qur’an & As-Sunnah” Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al-Jibrin.

3. Al-Adzkaarun Nawawiyyah Muhyiddin Abi Zakaria bin Syaraf An-Nawawi.

4. Fiqhus-Sunnah Sayyid Sabiq.

5. Slat Empat Mazhab ‘Abdul Qadir Ar-Rahbawi.

Saturday, January 23, 2016

Nama Yang Baik Untuk Anak-anak Dalam Islam.

Jika kita nak letakkan nama untuk anak-anak carilah nama yg baik maksudnya, ringkas dan tidak terlalu panjang. Dua perkataan sudah memadai tak perlu nama anak-anak 3 perkataan atau 4 perkataan.Adalah menjadi hak anak dan kewajipan yang mesti dipenuhi oleh ibubapa memberikan nama yang baik kepada bayi yang baru dilahirkan. Memberikan seseorang nama-nama yang baik dan elok menjadi tuntutan Islam ..

Dalam satu majlis, seorang anak menemui Khalifah Umar dan bertanya mengenai hak seorang anak ke atas bapanya, beliau telah menjelaskan: “Memilih ibunya, memperelokkan namanya dan mengajarkan kepadanya al-Quran.”

Sebab itu setiap pemilihan, sebaik-baiknya ada tujuan dan dengan maksud yang boleh menjadi atau mengandungi doa, boleh dipercayai serta berkaitan pula dengan pembentukan sahsiah anak tersebut.
.
Kekal Sehingga Akhirat.

Islam menganjurkan pemilihan nama yang baik, kerana ia lambang identiti seseorang dan nama itulah ia akan dikenali sepanjang hayat dan menjadi sebutan sampai ke hari akhirat. Apabila orang memanggilnya dengan nama tersebut, maka pada sepanjang hayatnya, mereka seolah-olah berdoa untuk anak tersebut..

Seorang Muslim wajib percaya kepada hari kebangkitan dan perlu mengakui bahawa nama yang diberikan kepada anak di dunia akan kekal digunakan di akhirat.

Abu Darda ada meriwayatkan bahawa Rasulullah SAW bersabda:
إنَّكُمْ تُدْعَوْنَ يَوْمَ القِيامَةِ بأسْمائكُمْ وأسماءِ آبائِكُمْ فأحْسِنُوا أسْماءَكُمْ

“Sesungguhnya kamu akan diseru/dipanggil pada hari Kiamat nanti dengan nama-nama kamu dan juga nama bapa-bapa kamu, maka perelokkanlah nama-nama kamu.” (Hadis Riwayat Imam Abu Daud dari Abu Dardak r.a.)
.
Hari Memberi Nama

Disunatkan memberi nama kepada bayi pada hari ketujuh kelahirannya sebagaimana yang terdapat dalam sabda Rasulullah SAW;
كُلُّ غُلاَمٍ رَهِينٌ بِعَقِيقَةٍ تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ سَابِعِهِ، وَيُحْلَقُ وَيُسَمَّى

“Setiap anak kecil (bayi) dipertaruhkan dengan suatu aqiqah; disembelih untuknya pada hari ke tujuh, dicukur kepalanya dan diberi nama”. (Hadis Riwayat Imam Abu Daud, Tirmizi, an-Nasai dan Ibnu Majah dari Hasan r.a. dari Samurah bin Jundub r.a.).

Rasulullah SAW juga pernah memberi nama kepada bayi pada hari dilahirkan. Antaranya ialah hadis dari Abu Musa al-Asy’ari r.a. yang menceritakan;
وُلِدَ لِي غُلاَمٌ، فَأَتَيْتُ بِهِ النَّبِيَّ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- فَسَمَّاهُ: إِبْرَاهِيمَ، وَحَنَّكَهُ بِتَمْرَةٍ وَدَعَا لَهُ بِالْبَرَكَةِ

“Telah dilahirkan untukku seorang anak, lalu aku membawanya kepada Rasulullah SAW, maka baginda menamakannya Ibrahim dan baginda mentahniknya dengan sebiji buah tamar serta baginda mendoakan keberkatan untuknya.” (Hadis Riwayat Imam Bukhari dan Muslim).

Maka, adalah menjadi sunnah, menamakan bayi pada hari ketujuh atau pada hari ia dilahirkan. Imam Nawawi dalam al-Azkar menegaskan; “Yang menjadi sunnah ialah menamakan bayi pada hari ketujuh dari hari kelahirannya atau menamakannya pada hari kelahirannya”. Manakala Imam Bukhari menjelaskan; “Hadis-hadis yang menyebutkan hari kelahiran dimengertikan bagi orang yang tidak berniat melakukan aqiqah dan adapun hadis-hadis yang menyebutkan hari ketujuh, maka dimengertikan bagi orang yang ingin melakukan aqiqah bagi anaknya.”
.
Menamakan Bayi Yang Meninggal

Jika ditakdirkan bayi mati di dalam perut, gugur atau pun meninggal sewaktu dilahirkan, adalah disunatkan diberikan juga nama kepada mereka. Bersyukur dan terimalah dengan redha atas kematian ini kerana anak-anak yang meninggal sebelum umur baligh adalah mati syahid dan akan menjadi syafaat kepada ibubapanya di akhirat kelak..

Allah Ta’ala berfirman kepada Jibril, Alaihis Salaam: “Pergilah dan ambillah ayah-ayah mereka dan ibu-ibu mereka dari mana-mana sahaja mereka berada, lalu serahkanlah mereka kepada anak-anak mereka, kerana sesungguhnya aku benar-benar telah mengampuni dosa-dosa mereka dengan syafaat anak-anak mereka, dan masukkanlah mereka bersama-sama anak-anak mereka masing-masing ke dalam syurga. “
.
Panduan Memberi Nama Anak dalam Islam

Dalam masalah meletakkan nama ini, hendaklah diberi perhatian perkara-perkara berikut;.

a) Disunatkan memberi nama-nama yang baik dan elok kerana Rasulullah SAW bersabda;
إنَّكُمْ تُدْعَوْنَ يَوْمَ القِيامَةِ بأسْمائكُمْ وأسماءِ آبائِكُمْ فأحْسِنُوا أسْماءَكُمْ

“Sesungguhnya kamu semua akan diseru/dipanggil pada hari Kiamat dengan nama-nama kamu dan nama-nama bapa kamu. Oleh demikian, perelokkanlah nama-nama kamu.” (Riwayat Imam Abu Daud dari Abu Dardak r.a.).

b) Nama yang paling baik/paling elok ialah Abdullah dan Abdurrahman sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah SAW;
إنَّ أحَبَّ أسْمائكُمْ إلى اللّه عَزَّ وَجَلَّ عَبْدُ اللّه، وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ

“Sesungguhnya nama yang paling disukai oleh Allah dari nama-nama kamu ialah Abdullah dan Abdurrahman.” (Hadis Riwayat Imam Muslim dari Abdullah bin Umar r.a.).

c) Harus memberi nama sempena nama para Nabi seperti Ibrahim, Hud, Soleh, Muhammad dan sebagainya. Sebagaimana sedia dimaklumi bahawa, Rasulullah SAW telah menamakan salah seorang anaknya dengan nama Ibrahim.

i) Sabda Baginda SAW;
تَسَمَّوا بأسْماءِ الأنْبِياءِ، وَأحَبُّ الأسْماءِ إلى اللّه تَعالى عَبْدُ اللّه وَعَبْدُ الرَّحْمَن، وأصْدَقُها: حَارِثٌ وَهمَّامٌ، وأقْبَحُها: حَرْبٌ وَمُرَّةُ

“Berilah nama dengan nama-nama para Nabi. Nama yang paling disukai oleh Allah ialah Abdullah dan Abdurrahman. Nama yang paling tepat (dengan hakikat manusia) ialah Harith dan Hammam, dan nama yang paling buruk ialah Harb dan Murrah.” (Hadis Riwayat Abu Daud, an-Nasai dan lain-lain dari Abi Wahb al-Jusyami r.a.).

ii) Jabir bin Abdullah r.a. menceritakan; “Seorang lelaki dari kalangan kami baru memperolehi anak dan ia memberi nama anak itu ‘Muhammad’. Lalu kaumnya berkata kepadanya; ‘Kami tidak akan membiarkan kamu memberi nama dengan nama Rasulullah SAW. Maka lelaki ini pun pergi menemui Nabi SAW dengan membawa anaknya di atas belakangnya. Ia bertanya Nabi; “Ya Rasulullah, dilahirkan untukku anak dan aku menamakannya ‘Muhammad’, lalu kaumku berkata kepadaku; ‘Kami tidak akan membiar kamu menamakan dengan nama Muhammad.” Lantas Rasulullah SAW menjawab;
تَسَمَّوْا بِاسْمِي، وَلاَ تَكْتَنُوا بِكُنْيَتِي، فَإِنَّمَا أَنَا قَاسِمٌ، أَقْسِمُ بَيْنَكُمْ

“Berilah nama dengan namaku, akan tetapi jangan memanggil dengan panggilanku (iaitu Abul-Qasim) kerana sesungguhnya aku adalah Qasim (pembahagi) yang membahagi di antara kamu.” (Hadis Riwayat Imam Muslim)

Friday, January 15, 2016

Terdapat 10 Dalil Sahih Kenapa Lelaki Di Perintahkan Solat Berjemaah Di Masjid ?


1. Allah SWT yang langsung memerintahkan dalam al-Quran agar solat berjemaah.

Allah SWT berfirman,

وَأَقِيمُوا الصَّلاَةَ وَءَاتُوا الزَّكَاةَ وَارْكَعُوا مَعَ الرَّاكِعِينَ

“Dan dirikanlah solat, tunaikanlah zakat dan rukuklah beserta orang-orang yang rukuk.” (Surah Al-Baqarah ayat 43)

Ibnul Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah berkata,

، فلا بد لقوله { مع الراكعين } من فائدة أخرى وليست إلا فعلها مع جماعة المصلين والمعية تفيد ذلك

“Makna firman Allah “Rukuklah beserta orang-orang yang rukuk, faedahnya iaitu tidaklah dilakukan kecuali bersama jemaah yang solat dan bersama-sama.”[Ash-Shalatu wa hukmu tarikiha hal. 139-141]

2. Ketika perang berkecamuk, tetap diperintahkan solat berjemaah. Maka apalagi suasana aman dan tenteram. Dan ini perintah langsung dari Allah SWT dalam al-Quran

Allah SWT berfirman,

وَإِذَا كُنتَ فِيهِمْ فَأَقَمْتَ لَهُمُ الصَّلاَةَ فَلْتَقُمْ طَآئِفَةُُ مِّنْهُم مَّعَكَ وَلِيَأْخُذُوا أَسْلِحَتَهُمْ فَإِذَا سَجَدُوا فَلْيَكُونُوا مِن وَرَآئِكُمْ وَلْتَأْتِ طَآئِفَةٌ أُخْرَى لَمْ يُصَلُّوا فَلْيُصَلُّوا مَعَكَ وَلْيَأْخُذُوا حِذْرَهُمْ وَأَسْلِحَتَهُمْ وَدَّ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْ تَغْفُلُونَ عَنْ أَسْلِحَتِكُمْ وَأَمْتِعَتِكُمْ فَيَمِيلُونَ عَلَيْكُم مَّيْلَةً وَاحِدَةً وَلاَ جُنَاحَ عَلَيْكُمْ إِن كَانَ بِكُمْ أَذًى مِّن مَّطَرٍ أَوْ كُنتُم مَّرْضَى أَن تَضَعُوا أَسْلِحَتَكُمْ وَخُذُوا حِذْرَكُمْ إِنَّ اللهَ أَعَدَّ لِلْكَافِرِينَ عَذَابًا مُّهِينًا

“Dan apabila kamu berada di tengah-tengah mereka (sahabatmu) lalu kamu hendak mendirikan solat bersama-sama mereka, maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri (solat) besertamu dan menyandang senjata, kemudian apabila mereka (yang solat bersamamu) sujud (telah menyempurnakan satu rakaat), maka hendaklah mereka pindah dari belakangmu (untuk menghadapi musuh) dan hendaklah datang golongan yang kedua yang belum solat, lalu solatlah mereka denganmu.” (Surah An-Nisa’ ayat 102)

Ibnu Mundzir rahimahullah berkata,

ففي أمر الله بإقامة الجماعة في حال الخوف : دليل على أن ذلك في حال الأمن أوجب .

“Pada perintah Allah SWT untuk tetap menegakkan solat jemaah ketika takut (perang) adalah dalil bahawa solat berjemaah ketika keadaan aman lebih wajib lagi.”[Al- Ausath 4/135]

Ibnul Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah menjelaskan,

وفي هذا دليل على أن الجماعة فرض على الأعيان إذ لم يسقطها سبحانه عن الطائفة الثانية بفعل الأولى، ولو كانت الجماعة سنة لكان أولى الأعذار بسقوطها عذر الخوف، ولو كانت فرض كفاية لسقطت بفعل الطائفة الأولى …وأنه لم يرخص لهم في تركها حال الخوف

“Ayat ini merupakan dalil yang sangat jelas bahawa solat berjemaah hukumnya fardhu ain bukan hanya sunat atau fardhu kifayah, Seandainya hukumnya sunat tentu keadaan takut dari musuh adalah uzur yang utama. Juga bukan fardhu kifayah kerana Allah menggugurkan kewajiban berjemaah atas rombongan kedua dengan telah berjemaahnya rombongan pertama… dan Allah tidak memberi keringanan bagi mereka untuk meninggalkan solat berjemaah dalam keadaan ketakutan (perang).“[Kitab Solah hal. 138, Ibnu Qayyim]

3.Orang buta yang tidak ada penuntut ke masjid tetap di perintahkan solat berjemaah ke masjid jika mendengar azan, maka bagaimana yang matanya sihat?

Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dia berkata,

أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلٌ أَعْمَى فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهُ لَيْسَ لِي قَائِدٌ يَقُودُنِي إِلَى الْمَسْجِدِ فَسَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يُرَخِّصَ لَهُ فَيُصَلِّيَ فِي بَيْتِهِ فَرَخَّصَ لَهُ فَلَمَّا وَلَّى دَعَاهُ فَقَالَ هَلْ تَسْمَعُ النِّدَاءَ بِالصَّلَاةِ قَالَ نَعَمْ قَالَ فَأَجِبْ

“Seorang buta pernah menemui Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan berujar, “Wahai Rasulullah, saya tidak memiliki seseorang yang akan menuntunku ke masjid.” Lalu dia meminta keringanan kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam untuk solat di rumah, maka baginda pun memberikan keringanan kepadanya. Ketika orang itu beranjak pulang, baginda kembali bertanya, “Apakah engkau mendengar panggilan solat (azan)?” Laki-laki itu menjawab, “Ia.” Baginda bersabda, “Penuhilah seruan tersebut (hadiri jemaah solat).”
[HR. Muslim no. 653]

Dalam hadis yang lain iaitu, Ibnu Ummi Maktum (ia buta matanya). Dia berkata,

يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ الْمَدِينَةَ كَثِيرَةُ الْهَوَامِّ وَالسِّبَاعِ. فَقَالَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- « أَتَسْمَعُ حَىَّ عَلَى الصَّلاَةِ حَىَّ عَلَى الْفَلاَحِ فَحَىَّ هَلاَ ».

“Wahai Rasulullah, di Madinah banyak sekali tanaman dan binatang buas. Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Apakah kamu mendengar seruan azan hayya ‘alash solah, hayya ‘alal falah? Jika iya, penuhilah seruan azan tersebut”.”[HR. Abu Daud, Syaikh Al Albani mengatakan bahawa hadits ini sahih]

4.Wajib solat berjemaah di masjid jika mendengar azan

Sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam,

مَنْ سَمِعَ النِّدَاءَ فَلَمْ يَأْتِهِ فَلَا صَلَاةَ لَهُ إِلَّا مِنْ عُذْرٍ

“Barangsiapa yang mendengar azan lalu tidak mendatanginya, maka tidak ada solat baginya, kecuali bila ada uzur.” [HR. Abu Daud dan Ibnu Majah. disahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Misykat al-Mashabih: 1077 dan Irwa’ al-Ghalil no. 551]

5.Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memberikan ancaman kepada laki-laki yang tidak solat berjemaah di masjid dengan membakar rumah mereka.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,

إِنَّ أَثْقَلَ صَلَاةٍ عَلَى الْمُنَافِقِينَ صَلَاةُ الْعِشَاءِ وَصَلَاةُ الْفَجْرِ وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِيهِمَا لَأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوًا وَلَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ آمُرَ بِالصَّلَاةِ فَتُقَامَ ثُمَّ آمُرَ رَجُلًا فَيُصَلِّيَ بِالنَّاسِ ثُمَّ أَنْطَلِقَ مَعِي بِرِجَالٍ مَعَهُمْ حُزَمٌ مِنْ حَطَبٍ إِلَى قَوْمٍ لَا يَشْهَدُونَ الصَّلَاةَ فَأُحَرِّقَ عَلَيْهِمْ بُيُوتَهُمْ بِالنَّارِ

“Solat yang dirasakan paling berat bagi orang-orang munafik adalah solat Isya dan solat Subuh. Sekiranya mereka mengetahui keutamaannya, nescaya mereka akan mendatanginya sekalipun dengan merangkak. Sungguh aku berkeinginan untuk menyuruh seseorang sehingga solat didirikan, kemudian ku suruh seseorang mengimami manusia, lalu aku bersama beberapa orang membawa kayu bakar mendatangi suatu kaum yang tidak menghadiri solat, lantas aku bakar rumah-rumah mereka.”[HR. Al-Bukhari no. 141 dan Muslim no. 651]

Ibnu Mundzir rahimahullah berkata,

وفي اهتمامه بأن يحرق على قوم تخلفوا عن الصلاة بيوتهم أبين البيان على وجوب فرض الجماعة

“Keinginan baginda (membakar rumah) orang yang tidak ikut solat berjemaah di masjid merupakan dalil yang sangat jelas akan wajib ainnya solat berjemaah di masjid”[Al-Ausath 4/134]

6.Tidak solat berjemaah di masjid di anggap “munafik” oleh para sahabat.

Dari Abdullah bin Mas’ud radhiallahu anhu dia berkata:

وَلَقَدْ رَأَيْتُنَا وَمَا يَتَخَلَّفُ عَنْهَا إِلَّا مُنَافِقٌ مَعْلُومُ النِّفَاقِ وَلَقَدْ كَانَ الرَّجُلُ يُؤْتَى بِهِ يُهَادَى بَيْنَ الرَّجُلَيْنِ حَتَّى يُقَامَ فِي الصَّفِّ

“Menurut pendapat kami (para sahabat), tidaklah seseorang itu tidak hadir solat jemaah, melainkan dia seorang munafik yang sudah jelas kemunafikannya. Sungguh dahulu seseorang dari kami harus dipapah di antara dua orang hingga diberdirikan si saff (barisan) solat yang ada.”[HR. Muslim no. 654]

7.Solat berjemaah mendapat pahala lebih banyak.

Dalam satu riwayat 27 kali lebih banyak daripada solat bersendirian.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,

صَلَاةُ الْجَمَاعَةِ أَفْضَلُ مِنْ صَلَاةِ الْفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِينَ دَرَجَةً

“Solat berjemaah itu lebih utama daripada solat sendirian dengan 27 derajat.”[HR. Bukhari]

8.Keutamaan solat berjemaah yang banyak.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,

مَنْ صَلَّى الْعِشَاءَ فِي جَمَاعَةٍ كَانَ كَقِيَامِ نِصْفِ لَيْلَةٍ وَمَنْ صَلَّى الْعِشَاءَ وَالْفَجْرَ فِي جَمَاعَةٍ كَانَ كَقِيَامِ لَيْلَةٍ

“Barang siapa solat Isya dengan berjemaah, pahalanya seperti solat setengah malam. Barang siapa solat Isya dan Subuh dengan berjemaah, pahalanya seperti solat semalam penuh.”[Fathul Bari 2/154—157]

9. Tidak solat berjemaah akan dikuasai oleh syaitan.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,

مَا مِنْ ثَلَاثَةٍ فِي قَرْيَةٍ وَلَا بَدْوٍ لَا تُقَامُ فِيهِمْ الصَّلَاةُ إِلَّا قَدْ اسْتَحْوَذَ عَلَيْهِمْ الشَّيْطَانُ فَعَلَيْكَ بِالْجَمَاعَةِ فَإِنَّمَا يَأْكُلُ الذِّئْبُ الْقَاصِيَةَ

“Tidaklah tiga orang di suatu desa atau lembah yang tidak didirikan solat berjemaah di lingkungan mereka, melainkan syaitan telah menguasai mereka. Kerana itu tetaplah kalian (solat) berjemaah, kerana sesungguhnya serigala itu hanya akan menerkam kambing yang sendirian (jauh dari kawan-kawannya).”[HR. Abu Daud no. 547, An-Nasai no. 838, dan sanadnya dinyatakan hasan oleh An-Nawawi]

10. Amal yang pertama kali dihisab adalah solat, jika baik maka seluruh amal baik dan sebaliknya, apakah kita pilih solat yang sekadarnya saja atau meraih pahala tinggi dengan solat berjemaah?

Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,

إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ النَّاسُ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ أَعْمَالِهِمْ الصَّلَاةُ قَالَ يَقُولُ رَبُّنَا جَلَّ وَعَزَّ لِمَلَائِكَتِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ انْظُرُوا فِي صَلَاةِ عَبْدِي أَتَمَّهَا أَمْ نَقَصَهَا فَإِنْ كَانَتْ تَامَّةً كُتِبَتْ لَهُ تَامَّةً وَإِنْ كَانَ انْتَقَصَ مِنْهَا شَيْئًا قَالَ انْظُرُوا هَلْ لِعَبْدِي مِنْ تَطَوُّعٍ فَإِنْ كَانَ لَهُ تَطَوُّعٌ قَالَ أَتِمُّوا لِعَبْدِي فَرِيضَتَهُ مِنْ تَطَوُّعِهِ ثُمَّ تُؤْخَذُ الْأَعْمَالُ عَلَى ذَاكُمْ

“Sesungguhnya yang pertama kali akan dihisab dari amal perbuatan manusia pada hari kiamat adalah solatnya. Rabb kita Jalla Wa ‘Azza berfirman kepada para malaikat-Nya -padahal Dia lebih mengetahui, “Periksalah solat hamba-Ku, sempurnakah atau justru kurang?” Sekiranya sempurna, maka akan dituliskan baginya dengan sempurna, dan jika terdapat kekurangan maka Allah berfirman, “Periksalah lagi, apakah hamba-Ku memiliki amalan solat sunat?” Jikalau terdapat solat sunatnya, Allah berfirman, “Sempurnakanlah kekurangan yang ada pada solat wajib hamba-Ku itu dengan solat sunatnya.” Selanjutnya semua amal manusia akan dihisab dengan cara demikian.”[HR. Abu Daud no. 964, At-Tirmizi no. 413 dishahih oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 2571]

Khusus bagi yang mengaku mazhab Syafi’i (majoriti di Malaysia , Indonesia, Singapura dan Brunei), maka Imam Syafi’i mewajibkan solat berjemaah dan tidak memberi keringanan (rukshah).

Imam Asy Syafi’i rahimahullah berkata,

وأما الجماعة فلا ارخص في تركها إلا من عذر

“Adapun solat jemaah, aku tidaklah memberi keringanan bagi seorang pun untuk meninggalkannya kecuali bila ada uzur.”[Ash Shalah wa Hukmu Tarikiha hal. 107]

Sunday, January 3, 2016

Hukum Mendoakan Orang Bukan Islam.

Mendoakan orang bukan Islam boleh di huraikan kepada menjadi empat keadaan :

PERTAMA: Mendoakan agar mereka mendapatkan hidayah.

Para Ulama telah sepakat (Ijma’) akan bolehnya hal ini, diantara dalilnya adalah hadits berikut:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَدِمَ الطُّفَيْلُ وَأَصْحَابُهُ فَقَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّ دَوْسًا قَدْ كَفَرَتْ وَأَبَتْ، فَادْعُ اللَّهَ عَلَيْهَا! فَقِيلَ: هَلَكَتْ دَوْسٌ! فَقَالَ: اللَّهُمَّ اهْدِ دَوْسًا وَائْتِ بِهِمْ!ـ

Abu Hurairah -radliallahu anhu- mengatakan: (Suatu hari) At-Thufail dan para sahabatnya datang, mereka mengatakan: “ya Rasulullah, Kabilah Daus benar-benar telah kufur dan menolak (dakwah Islam), maka doakanlah keburukan untuk mereka! Maka ada yg mengatakan: “Mampuslah kabilah Daus”. Lalu baginda mengatakan: “Ya Allah, berikanlah hidayah kepada Kabilah Daus, dan datangkanlah mereka (kepadaku). (HR. Bukhari 2937 dan Muslim 2524, dg redaksi dari Imam Muslim)

Hadits berikut juga menunjukkan bolehnya mendoakan agar mereka mendapatkan hidayah:

عَنْ أَبِي مُوسَى رضي الله عنه، قَالَ: كَانَ الْيَهُودُ يَتَعَاطَسُونَ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَرْجُونَ أَنْ يَقُولَ لَهُمْ يَرْحَمُكُم اللَّهُ، فَيَقُولُ: يَهْدِيكُمُ اللَّهُ وَيُصْلِحُ بَالَكُمْ

Abu Musa -radliallahu anhu- mengatakan: “Dahulu Kaum Yahudi biasa berpura-pura bersin di dekat Nabi -Shallallahu Alaihi Wasallam-, mereka berharap baginda mahu mengucapkan doa untuk mereka “yarhamukallah (semoga Allah merahmati kalian)”, maka baginda mengatakan doa: “yahdikumullah wa yushlihabalakum (semoga Allah memberi hidayah kepada kalian, dan memperbaiki keadaan kalian)” (HR. Tirmidzi 2739 , dan yg lainnya, dishohihkan oleh Syeikh Albani)

KEDUA: Mendoakan kebaikan dalam perkara dunia.

Hal ini dibolehkan kerana adanya contoh dari Rasulullah -Shallallahu Alaihi Wasallam-… lihatlah dalam hadis di atas, baginda mendoakan kepada Kaum Yahudi:

يَهْدِيكُمُ اللَّهُ وَيُصْلِحُ بَالَكُمْ

“Semoga Allah memberi kalian hidayah, dan memperbaiki keadaan kalian”

Ada juga ikrar (persetujuan) Rasulullah –Shallallahu Alaihi Wasallam– dalam hal ini:

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الخُدْرِيِّ قَالَ: بَعَثَنَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي سَرِيَّةٍ فَنَزَلْنَا بِقَوْمٍ، فَسَأَلْنَاهُمُ القِرَى فَلَمْ يَقْرُونَا، فَلُدِغَ سَيِّدُهُمْ فَأَتَوْنَا فَقَالُوا: هَلْ فِيكُمْ مَنْ يَرْقِي مِنَ العَقْرَبِ؟ قُلْتُ: نَعَمْ أَنَا، وَلَكِنْ لاَ أَرْقِيهِ حَتَّى تُعْطُونَا غَنَمًا، قَالُوا: فَإِنَّا نُعْطِيكُمْ ثَلاَثِينَ شَاةً، فَقَبِلْنَا فَقَرَأْتُ عَلَيْهِ: الحَمْدُ لِلَّهِ سَبْعَ مَرَّاتٍ، فَبَرَأَ وَقَبَضْنَا الغَنَمَ، قَالَ: فَعَرَضَ فِي أَنْفُسِنَا مِنْهَا شَيْءٌ فَقُلْنَا: لاَ تَعْجَلُوا حَتَّى تَأْتُوا رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: فَلَمَّا قَدِمْنَا عَلَيْهِ ذَكَرْتُ لَهُ الَّذِي صَنَعْتُ، قَالَ: وَمَا عَلِمْتَ أَنَّهَا رُقْيَةٌ؟ اقْبِضُوا الغَنَمَ وَاضْرِبُوا لِي مَعَكُمْ بِسَهْمٍ

Abu Said al-Khudri mengatakan: (Suatu saat) Rasulullah -Shallallahu Alaihi Wasallam- menugaskan kami dalam Sariyyah (pasukan kecil), lalu kami singgah di suatu kaum, dan kami meminta mereka agar menjamu kami tapi mereka menolaknya. Lalu pemimpin mereka terkena sengatan haiwan, maka mereka mendatangi kami, dan mengatakan: “Adakah diantara kalian yg boleh meruqyah sakit kerana sengatan Kalajengking?”. Maka ku jawab: “Ya, aku boleh, tapi aku tidak akan meruqyahnya kecuali kalian memberi kami kambing”. Mereka mengatakan: “Kami akan memberikan 30 kambing kepada kalian”. Maka kami menerima tawaran itu, dan aku bacakan kepada (pemimpin)nya surat Alhamdulilah sebanyak 7 kali, maka ia pun sembuh, dan kami terima imbalan (30) kambing.

Abu Sa’id mengatakan: Lalu ada sesuatu yg mengganjal di hati kami (dari langkah ini), maka kami mengatakan: “Jangan tergesa-gesa (dengan upah kambing ini), sampai kalian mendatangi Rasulullah -Shallallahu Alaihi Wasallam-.

Abu sa’id mengatakan: Maka ketika kami mendatangi baginda, aku menyebutkan apa yg telah kulakukan. Baginda mengatakan: “Dari mana kau tahu, bahawa (Alfatihah) itu Ruqyah?, ambillah kambingnya dan berilah aku bagian darinya”. (HR. Tirmidzi [2063] dengan redaksi ini, kisah ini juga diriwayatkan di dalam shahih Bukhari [2276] dan shahih Muslim [2201]).

Hadits ini menjelaskan bolehnya kita me-ruqyah orang kafir agar sakitnya sembuh, dan ini merupakan bentuk dari tindakan mendoakan kebaikan untuk mereka dalam urusan dunia. Tidak salah kita mendoakan kesembuhan mereka jika mereka sakit.

Diantara dalil dalam masalah ini adalah dibolehkannya kita menjawab salamnya orang kafir, walaupun bolehnya hanya seringkas “wa’alaikum“, sebagaimana sabda Nabi –Shallallahu Alaihi Wasallam-:

إِذَا سَلَّمَ عَلَيْكُمْ أَهْلُ الكِتَابِ فَقُولُوا: وَعَلَيْكُمْ

“Jika seorang Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani) mengucapkan salam kepada kalian, maka jawablah dengan ucapan: “Wa’alaikum“. (HR. Bukhari [5788], dan Muslim [4024]).

Ada juga contoh dari salah seorang Sahabat Nabi dalam masalah ini:

عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ الْجُهَنِيِّ: أَنَّهُ مَرَّ بِرَجُلٍ هَيْئَتُهُ هَيْئَةُ مُسْلِمٍ، فَسَلَّمَ فَرَدَّ عَلَيْهِ: وَعَلَيْكَ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ. فَقَالَ لَهُ الْغُلَامُ: إِنَّهُ نَصْرَانِيٌّ! فَقَامَ عُقْبَةُ فَتَبِعَهُ حَتَّى أَدْرَكَهُ. فَقَالَ: إِنَّ رَحْمَةَ اللَّهِ وَبَرَكَاتَهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ، لَكِنْ أَطَالَ اللَّهُ حَيَاتَكَ، وَأَكْثَرَ مالك، وولدك

Uqbah bin Amir al-Juhani -radhiallahu anhu- menceritakan: bahawa dia pernah berpapasan dengan seseorang yang gayanya seperti muslim, lalu orang tersebut memberi salam kepadanya, maka ia pun menjawabnya dengan ucapan: “wa’alaika wa rahmatullah wabarakatuh”… Maka pelayannya mengatakan padanya: Dia itu seorang Nasrani!… Lalu Uqbah pun beranjak dan mengikutinya hingga ia mendapatkannya, maka ia mengatakan: “Sesungguhnya rahmat dan berkah Allah itu untuk Kaum Mukminin, akan tetapi semoga Allah memanjangkan umurmu, dan memperbanyak harta dan anakmu” (HR. Bukhori dalam kitabnya Adabul Mufrod 1/430, dan dihasankan oleh Syeikh Albani)

Banyak ulama yg memberi batasan: bahwa orang kafir yg didoakan kebaikan, harus bukan dalam kategori kafir harbi (yakni kafir yg memerangi Kaum Muslimin)… Dan ini sangatlah tepat… Syeikh Albani -rahimahullah- mengatakan:

ولكن لا بد أن يلاحظ الداعي أن لا يكون الكافر عدواً للمسلمين

Akan tetapi, orang yg mendoakan kebaikan harus memperhatikan, bahawa orang kafir tersebut bukanlah musuh (perang) bagi Kaum Muslimin. (Ta’liq Kitab Adab Mufrod 1/430).

KETIGA: Mendoakan agar dosa mereka diampuni, setelah mereka mati dalam keadaan kafir.

Para ulama telah sepakat (Ijma’) bahawa hal ini diharamkan:

قال النووي رحمه الله : وأما الصلاة على الكافر والدعاء له بالمغفرة فحرام بنص القرآن والإجماع

Imam Nawawi -rahimahullah- mengatakan: “Adapun menyolati orang kafir, dan mendoakan agar diampuni dosanya, maka ini merupakan perbuatan haram, berdasarkan nas al-Quran dan Ijma’. (al-Majmu’ 5/120).

وقال ابن تيمية رحمه الله: إن الاستغفار للكفار لا يجوز بالكتاب والسنَّة والإجماع

Ibnu Taimiyah -rahimahullah- juga mengatakan: Sesungguhnya memintakan maghfiroh untuk orang-orang kafir tidak dibolehkan, berdasarkan Al-Qur’an, Hadits, dan Ijma’. (Majmu’ul Fatawa 12/489)

Dan dalil paling tegas dalam masalah ini adalah firman Allah Ta’ala:

مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوا أُولِي قُرْبَى مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ

Maksudnya, "Tidak sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman, memintakan ampun (kepada Allah) untuk orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat(nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni (neraka) Jahim." (Surah at-Taubah ayat 113)

KEEMPAT: Mendoakan agar diampuni dosanya ketika mereka masih hidup.

Hal ini dibolehkan dengan Dalil hadits berikut:

قَالَ عَبْدُ اللَّهِ بن مسعود: كَأَنِّي أَنْظُرُ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَحْكِي نَبِيًّا مِنْ الْأَنْبِيَاءِ ضَرَبَهُ قَوْمُهُ فَأَدْمَوْهُ وَهُوَ يَمْسَحُ الدَّمَ عَنْ وَجْهِهِ وَيَقُولُ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِقَوْمِي فَإِنَّهُمْ لَا يَعْلَمُونَ

Abdullah bin Mas’ud mengatakan: “Seakan-akan aku sekarang melihat Nabi -Shallallahu Alaihi Wasallam- bercerita tentang seorang Nabi, yang dipukul oleh kaumnya hingga bercucur darah, dan ia mengusap darah tersebut dari wajahnya, tetapi ia tetap mengatakan: “Ya Allah, ampunilah kaumku, karena sesungguhnya mereka itu tidak tahu”. (HR. Bukhori 3477).

Memang Hadis ini tidak tegas mengatakan bahawa Nabi yang mendoakan ampunan tersebut adalah Nabi Muhammad –Shallallahu Alaihi Wasallam-… Namun ada riwayat lain yg tegas mengatakan bahawa doa tersebut juga diucapkan oleh Nabi kita Muhammad –Shallallahu Alaihi Wasallam– kepada kaumnya yg masih kafir:

عن سهل بن سعد قال: شهدت النبي – صلى الله عليه وسلم – حين كُسِرت رباعِيتُهُ وجُرح وجهه وهُشمت البيضة على رأسه، وإني لأعرف من يغسل الدم عن وجهه، ومن ينقل عليه الماء، وماذا جعل على جرحه حتى رقأ الدم؛ كانت فاطمة بنت محمد رسول الله – صلى الله عليه وسلم – له تغسل الدم عن وجهه، وعلي- رضي الله عنه- ينقل الماء إليها في مِجنَّةٍ، فلما غسلت الدم عن وجه أبيها أحرقت حصيراً، حتى إذا صارت رماداً أخذت من ذلك الرماد، فوضعته على وجهه حتى رقأ الدم، ثم قال يومئذ: اشتد غضب الله على قوم كلموا وجه رسول الله – صلى الله عليه وسلم. ثم مكث ساعة، ثم قال: اللهم! اغفر لقومي؛ فإنهم لا يعلمون

Sahal bin sa’ad mengatakan: Aku telah menyaksikan Nabi -Shallallahu Alaihi Wasallam- saat gigi serinya patah, wajahnya terluka, dan helm perang di kepalanya pecah… sungguh aku juga tahu siapa yg mencuci darah dari wajahnya, siapa yang mendatangkan air kepadanya, dan apa yang ditempatkan dilukanya hingga darahnya mampet… Adalah Fatimah puteri Muhammad utusan Allah yang mencuci darah dari wajah, dan Ali -radliallahu anhu- yang mendatangkan air dalam perisai… maka ketika Fatimah mencuci darah dari wajah ayahnya, dia membakar tikar, sehingga ketika telah menjadi abu, ia mengambil abu itu, lalu menaruhnya di wajah baginda, hingga darahnya mampet… ketika itu baginda mengatakan: “Telah memuncak kemurkaan Allah atas kaum yang melukai wajah Rasulullah”… lalu baginda diam sebentar, dan mengatakan: “Ya Allah ampunilah kaumku, kerana sesungguhnya mereka itu tidak tahu”. (HR. Tobaroni, dan Syeikh Albani dalam Silsilah Shohihah [7/531] mengatakan: Sanadnya Hasan atau Shohih).

Diantara dalil dalam masalah ini adalah Mafhum Mukholafah dari firman Allah berikut:

مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوا أُولِي قُرْبَى مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ (*) وَمَا كَانَ اسْتِغْفَارُ إِبْرَاهِيمَ لِأَبِيهِ إِلَّا عَنْ مَوْعِدَةٍ وَعَدَهَا إِيَّاهُ فَلَمَّا تَبَيَّنَ لَهُ أَنَّهُ عَدُوٌّ لِلَّهِ تَبَرَّأَ مِنْهُ إِنَّ إِبْرَاهِيمَ لَأَوَّاهٌ حَلِيمٌ

Tidak sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman, memintakan ampun (kepada Allah) untuk orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat(nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni (neraka) jahim. Dan permintaan ampun dari Ibrahim (kepada Allah) untuk bapanya, tidak lain hanyalah kerana suatu janji yang telah diikrarkannya kepada bapanya itu. Maka, tatkala jelas bagi Ibrahim bahawa bapanya itu adalah musuh Allah, maka Ibrahim berlepas diri dari padanya. Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun. (Surah at-Taubah ayat 113-114)

Ayat ini mengaitkan “larangan memintakan ampun untuk Kaum Musyrikin”, dengan keadaan “sesudah jelas bagi mereka bahawa orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka”. Sehingga sebelum jelas menjadi penghuni neraka, boleh di mintakan ampun… Dan telah shohih dari Ibnu Abbas, bahawa maksud dari firman Allah yg ertinya: “Maka, tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa bapanya itu adalah musuh Allah” adalah “setelah mati dalam keadaan kufur”. Sehingga sebelum kematiannya, masih boleh dimintakan ampun.

Berikut Atsar dari Ibnu Abbas tersebut:

عن سعيد بن جبير قال : توفى أبو رجل ، وكان يهوديا ، فلم يتبعه ابنه ، فذكر ذلك لابن عباس ، فقال ابن عباس : وما عليه، لو غسله ، واتبعه ، واستغفر له ما كان حيا… ثم قرأ ابن عباس (فلما تبين له أنه عدو لله تبرأ منه) * يقول : لما مات على كفره

Sa’id bin Jubair mengatakan: Ada salah seorang ayah meninggal, dan dia seorang Yahudi, sehingga putranya (yang muslim) tidak mengikuti (jenazah)nya, lalu hal itu diceritakan kepada Ibnu Abbas, maka beliau mengatakan: “Tidak sepatutnya ia melakukannya, (alangkah baiknya) apabila ia memandikannya, mengikuti (jenazah)nya, dan memintakan ampun baginya ketika masih hidup… kemudian Ibnu Abbas membaca ayat (yg artinya): “Maka, tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa bapanya itu adalah musuh Allah, ia pun berlepas diri darinya”, maksudnya: “ketika ia mati dalam keadaan kafir”. (Mushonnaf Abdurrozzaq 6/39).

Dan kesimpulan bolehnya memintakan ampun bagi orang-orang kafir selama masih hidup ini, juga banyak dinyatakan oleh para ulama, diantaranya:

Imam At-Thobari –rohimahulloh-, beliau mengatakan dalam tafsirnya:

وقد تأول قوم قول الله: {ما كان للنبي والذين آمنوا أن يستغفروا للمشركين ولو كانوا أولى قربى}… الآية، أن النهي من الله عن الاستغفار للمشركين بعد مماتهم، لقوله: {من بعد ما تبين لهم أنهم أصحاب الجحيم} وقالوا: ذلك لا يتبينه أحد إلا بأن يموت على كفره، وأما هو حي فلا سبيل إلى علم ذلك، فللمؤمنين أن يستغفروا لهم

Sekelompok ulama’ telah menafsiri firman Allah (yg ertinya): Tidak sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman, memintakan ampun (kepada Allah) untuk orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat(nya)… -hingga akhir ayat-; bahawa larangan dari Allah untuk memintakan ampun bagi kaum musyrikin adalah setelah matinya mereka (dalam keadaan kafir), kerana firman-Nya (yg ertinya): “sesudah jelas bagi mereka, bahawasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni (neraka) jahim”. Mereka mengatakan: “alasannya, kerana tidak ada yg boleh memastikan (bahawa dia ahli neraka), kecuali setelah ia mati dalam kekafirannya, adapun saat ia masih hidup, maka tidak ada yang boleh mengetahui hal itu, sehingga dibolehkan bagi Kaum Mukminin untuk memintakan ampun bagi mereka. (Tafsir Thobari 12/26)

Dan inilah pendapat yg dipilih oleh beliau dalam tafsirnya. (lihat Tafsir Thobari 12/28)

Imam Al-Qurtubi juga mengatakan dalam tafsirnya:

وَقَدْ قَالَ كَثِيرٌ مِنَ الْعُلَمَاءِ: لَا بَأْسَ أَنْ يَدْعُوَ الرَّجُلُ لِأَبَوَيْهِ الْكَافِرَيْنِ وَيَسْتَغْفِرَ لَهُمَا مَا دَامَا حَيَّيْنِ. فَأَمَّا مَنْ مَاتَ فَقَدِ انْقَطَعَ عَنْهُ الرَّجَاءُ فَلَا يُدْعَى لَهُ. قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ: كَانُوا يَسْتَغْفِرُونَ لِمَوْتَاهُمْ فَنَزَلَتْ فَأَمْسَكُوا عَنِ الِاسْتِغْفَارِ وَلَمْ يَنْهَهُمْ أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لِلْأَحْيَاءِ حَتَّى يَمُوتُوا

Banyak ulama mengatakan: "Tidak mengapa bagi seorang (muslim) mendoakan kedua orang tuanya yg kafir, dan memintakan ampun bagi keduanya selama mereka masih hidup. Adapun orang yg sudah meninggal, maka telah terputus harapan (untuk diampuni dosanya). Ibnu Abbas mengatakan: “Dahulu orang-orang memintakan ampun untuk orang-orang mati mereka, lalu turunlah ayat, maka mereka berhenti dari memintakan ampun. Namun mereka tidak dilarang untuk memintakan ampun bagi orang-orang yg masih hidup hingga mereka meninggal”. (Tafsir Qurtubi 10/400)

Inilah pendapat paling kuat dalam masalah ini, kerana bersandarkan dalil dari Al-Qur’an, Hadits, dan Perkataan Shahabat… Kerana banyak dari kalangan ulama, memilih pendapat ini… Namun ada dua hal yg perlu digaris bawahi di sini:

– Bahwa yg lebih afdhol adalah mendoakan orang yg kafir agar diberikan hidayah masuk Islam… Kerana inilah yang sering dilakukan oleh Nabi –Shallallahu Alaihi Wasallam-, dan inilah yg telah disepakati bolehnya oleh para ulama.

– Ampunan yg sempurna tidak akan diberikan kepada orang kafir, selama dia masih kafir… Sehingga erti dari doa meminta ampunan untuk mereka adalah: ampunan dari sebagian dosa selain kesyirikan dan kekafirannya, atau ampunan untuk semua dosanya dengan jalan diberi hidayah dahulu untuk masuk Islam.

Sekian… wallahu Ta’ala a’lam…