Saturday, May 1, 2010

Menipu Adalah Dosa di Sisi Allah

Dalam Al-Qur'an sedikitnya ada 5 istilah perbuatan dosa yang mengakibatkan turunnya siksaan Allah. Istilah-istilah itu adalah:
1. al-Khati’ah (penyelewengan) yaitu melakukan perbuatan dosa yang dilakukan secara sengaja.
2. Al-Dzanb (perbuatan salah) seperti dosa perbuatan maksiat kepada Allah Swt.
3. Al-Sayyi’ah (perbuatan jelek) seperti tidak jujur terhadap diri sendiri maupun terhadap orang lain, sombong, bakhil, dan seterusnya.
4. Al-itsm (perbuatan dosa) yaitu perbuatan yang tidak dihalalkan (haram), seperti menipu.
5. Al-Fusq (kelur dari jalan yang benar) yaitu berbuat maksiat yang melanggar perintah Allah.

Rasulullah s.a.w. bersabda yang bermaksud :
“Apabila seorang mukmin melakukan dosa, hatinya akan ternoda oleh titik hitam. Apabila ia mau bertaubat dan tidak mengulangi perbuatan dosa lagi dan beristighfar, hatinya akan menjadi bersih kembali. Apabila berbuat tambah dosa, titik hitamnya juga tambah. Titik hitam itulah yang dimaksud dalam firman Allah: sekali-sekali tidak (demikian) sebenarnya yang mereka lakukan membuat noda hitam dalam hatinya
(HR. Ibn Majjah dan Imam Ahmad).

Dosa, dengan demikian, adalah sesuatu yang menyeleweng dari kebaikan seperti tidak jujur, menipu, mendengki, rasuah dan maksiat kepada Alla.w.t. Lalu, bagaimana mengetahui bahwa sesuatu telah menyeleweng dari kebaikan? Ada dua cara untuk mengetahuinya: dari nash (al-Quran dan al-Hadis) dan dari kriteria. Dari nash, tentu kita harus merujuk kepada keduanya untuk menghukum suatu perbuatan.

Tetapi, untuk menentukan perbuatan itu salah atau tidak selain dari nash adalah seperti hadis di bawah :
"Perbuatan baik adalah suatu perbuatan yang membuat jiwa tenteram dan membuat hati tenang. Perbuatan dosa adalah perbuatan yang menjadikan jiwa guncang dan hati bimbang, sekali pun kamu mendapatkan fatwa dari ahli fatwa (mufti)"
(HR. Imam Ahmad).

"Yang dinamakan dosa ialah sesuatu (perbuatan) yang menggelisahkan jiwa dan kamu tidak mau menampakkannya kepada orang lain."
(HR. Imam Ahmad)

Sebagaimana dijelaskan dalam kitab tahrir al-wasilah, yang berkenaan dengan tolak ukur dosa-dosa besar, dalam hal ini ulama' menyebutkan bahwa:
1. Dosa-dosa besar adalah yang tertulis dalam Al-Qur'an dan diriwayatkan untuk memberikan ancaman (atas pelakunya dengan) siksaan api Neraka..

2. Dosa-dosa yang dilarang oleh syariah atau hukum-hukum agama.

3. Adanya dalil-dalil yang menunjukan bahwa dosa tersebut lebih besar dari dosa-dosa lainya, seperti syirik, munafik, kufur, dan lain-lain sebagainya.

4. Akal yang menghukumi bahwa dosa tersebut adalah dosa besar.

5. Dalam pandangan kaum muslimin, berdasarkan hukum Allah, Al-Quran dan hadis, telah ditetapkan bahwa dosa tersebut termasuk di antara dosa-dosa besar.

6. Terdapat penjelasan dari Rasulullah s.a.w. dan para ulama' bahwa perbuatan tersebut termasuk di antara dosa-dosa besar yang harus dihindari.

Diantara dosa besar yang tercatat di dalam al-Quran adalah PEMIMPIN YANG MENIPU RAKYAT.

Pemimpin adalah mereka yang diberi amanah oleh rakyat untuk menjalankan pemerintahan dengan benar dan sesuai dengan hukum-hukum Allah maupun janji-janji politik seperti yang terdapat dalam "Manefesto yang diberikan kepada rakyat semasa kempen pilihanraya"

Amanah yang diberikan kepada mereka harus dikembalikan kepada rakyat berupa pembangunan, kesejahteraan, penghapusan kemiskinan, mengatasi buta huruf, keamanan negara, dan seterusnya, oleh kerana itu ini disebut sebagai hak-hak rakyat. Hak-hak rakyat ini harus dipenuhi oleh seorang pemimpin yang telah dipilih oleh rakyat.


Jika hak-hak rakyat tesebut tidak terpenuhi, maka sudah tentu pemimpin terebut sedang dan telah menipu rakyat. Dengan kos pembangunan hingga jutaan ringgit, dengan membaiki infrastruktur negara dan peruntukan untuk keselamatan dan meningkatkan taraf ekonomi rakyat maka pemimpin yang telah diberi amanah perlulah melaksanakan dengan jujur. Jauhkan daripada rasuah, membantu kroni dan kaum keluarga. Sekiranya peruntukan telah dikeluarkan tetapi  rakyat masih miskin, masih buta huruf, banyak pengangguran, jalan-jalan rusak dibiarkan, sistem pengangkutan awan tak sempurna, keamanan tidak wujud kerana kadar jenayah masih tinggi, sistem perparitan tak sempurna hingga membawa kepada banjir kilat dan sebagainya. Pembangunan demi untuk kemaslahatan rakyat perlulah diutamakan lebih daripada asyik berpolitik dan pergeseran sesama ahli-ahli politik lain. Jika pembangunan yang diperlukan ini tidak dilaksanakan dengan sempurna maka keadaan ini kita sebut sebagai merampas hak-hak rakyat.

Pemimpin manapun yang melakukan penyelewengan hak-hak rakyat tersebut, maka dia sedang dan telah melakukan PENIPUAN TERHADAP RAKYAT. Menipu rakyat adalah dosa besar yang tidak akan diampuni. Menipu rakyat sama dengan menipu ibu, bapak, nenek, datok, mertua, anak, rakan-rakan dan seluruh rakyat yang mempercayakan amanah mereka kepadanya. Menipu rakyat jelas tidak terampun dosanya kecuali rakyat memaafkan. Lalu, rakyat mana yang mau memaafkan pemimpin seperti ini, maka mereka akan bertanggungjawab dihadapan Allah di hari akhirat nanti.

Firman Allah s.w.t. yang bermaksud :
"Sesungguhnya dosa itu atas orang-orang yang berbuat aniaya kepada manusia dan melampui batas di muka bumi tanpa hak. Mereka itu mendapat siksa yang pedih."
(Qs Assyura:42)

"Dan janganlah kamu sekali-kali kamu (Muhammad ) mengira bahwa Allah lalai dari apa yang diperbuat oleh orang-orang menganiaya. Sesungguhnya Allah memberi tangguh kepada mereka sampai hari yang pada waktu itu mata (mereka ) terbelalak."
(Qs. Ibrahim:42)

Sabda Nabi s.a.w. yang bermaksud :
Manusia yang paling berat sisksanya dihari kiamat nanti adalah (siksaan) bagi pemimpin atau penguasa yang aniaya (tidak adil).
(HR. Tabrani dan Abdullah ibn Mas’ud )

"Siapa saja pemimpin yang mencurangi rakyatnya, maka ia akan masuk Neraka"
(HR. Tabrani)

"Celakalah para penguasa, celakalah para pemimpin, dan celakalah orang-orang pembawa amanat. Sungguh banyak orang-orang yang berangan-angan kecurangan-kecurangan mereka tergantung di atas bintang tsurayya. Mereka akan disiksa karena mereka dahulu tidak mau melakukan sesuatu yang diamanatkan kepada mereka"
(HR. Ahmad)