Sunday, June 20, 2010

Jauhi Sifat Sangka Buruk dan Hasad Dengki.

Sahabat yang dirahmati Allah,
Salah satu sifat mazmumah adalah sifat sangka buruk. Sangka buruk ini sering berkait rapat dengan rasa hasad, dengki atau cemburu. Ia amat-amat sukar dibuang namun wajiblah ia dimasukkan dalam senarai utama yang perlu kita usaha hindarinya sedaya upaya. Sekiranya sifat ini menjadi amalan kita maka dikhuatiri hati dan jiwa kita akan sakit dan berpenyakit. Penyakit inilah akan menghalang hidayah dan rahmat Allah s.w.t.

Berbagai prasangka buruk terhadap orang lain sering kali bersemayam di hati kita. Sebagian besarnya, tuduhan itu tidak dibangun di atas tanda atau bukti yang cukup. Sehingga yang terjadi adalah asal tuduh kepada saudaranya. 

Buruk sangka kepada orang lain atau yang dalam bahasa Arabnya disebut su`u zhan mungkin biasa atau bahkan sering hinggap di hati kita. .Yang parahnya, terkadang persangkaan kita tiada berdasar dan tidak beralasan. Memang semata-mata sifat kita suka curiga dan penuh sangka kepada orang lain, lalu kita membiarkan zhan tersebut bersemayam di dalam hati. Bahkan kita membicarakan serta menyampaikannya kepada orang lain. Padahal su`u zhan kepada sesama kaum muslimin tanpa ada bukti yang kukuh merupakan perkara yang terlarang. 

Demikian jelas ayatnya dalam Al-Qur`anil Karim, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ
“Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah oleh kalian kebanyakan dari persangkaan (zhan) karena sesungguhnya sebagian dari persangkaan itu merupakan dosa.”
(Surah Al-Hujurat: 12)

Sabda Rasulullah s.a.w yang bermaksud :
"Tiga perkara lazim yang sukar dibuang oleh umatku : mengganggap sial, hasad dengki dan bersangka buruk" lalu seorang lelaki bertanya : "Apakah yang boleh menghilangkannya wahai Rasulullah ?"
Jawab Nabi s.a.w : "Jika kamu datang perasaan hasad dengki beristighfar lah kamu kepada Allah, apabila kamu bersangka buruk, janganlah kamu membenarkan sangkaan itu, dan apabila kamu menganggap sial belaku, abaikan dan jangan endahkannya"
( Hadis Riwayat At-Tabrani)

Hidup kita tidak lekang dari disangka buruk dan menyangka buruk. Jika diri terlibat, kunci menanganinya adalah beristighfar dan taubat. Nabi s.a.w bersabda maksudnya : "Setiap anak Adam itu ada kesilapan ( berdosa) dan orang berdosa yang terbaik adalah mereka yang bertaubat" 
(Hadis Riwayat At-Tirmidzi) 

Terdapat sebuah lagi hadis yang mempunyai erti yang sama dengannya iaitu :-
Nabi s.a.w. bersabda yang bermaksud :
"Tiga perkara yang tidak seorang Muslim pun dapat melepaskan diri darinya; sial menyial, sangka buruk, hasad dengki; maka apabila kamu berasa ada sial, jangan kamu pulang dan mengendahkannya, bila kamu hasad, jangan melampau (hingga bertindak) , dan bila kamu bersangka jangan kamu membenarkannya"
 ( (Hadis Riwayat Musannaf Abd Razzak )

Setiap sangka buruk adalah haram dan berdosa ini disebabkan oleh perasaan cemburu, hasad, dengki dan berniat ingin menjatuhkan individu yang dijadikan sasarannya. Keadaan ini berlaku kerana disebabkan lahir dari jiwa dan minda seseorang yang kotor. Ia adalah refleski dirinya yang kerap bergelumang dengan kejahatan dan dosa. Atau dari jiwa yang tiada ikhlas dalam membuat sesuatu perkara.

Justeru, dalam mindanya kerap tergambar mustahil ada seseorang boleh berbuat atau bercakap baik kecuali mesti ada helah, agenda kepentingan diri dan muslihat di sebalik. Ia berfikiran demikian kerana demikianlah dirinya. Ia melihat orang lain sepertinya.

 Sahabat yang dimuliakan,
Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu pernah menyampaikan sebuah hadis Rasulullah s.a.w. bermaksud :
“Hati-hati kalian dari persangkaan yang buruk (zhan) karena zhan itu adalah ucapan yang paling dusta. Janganlah kalian mendengarkan ucapan orang lain dalam keadaan mereka tidak suka. Janganlah kalian mencari-cari aurat/cacat/cela orang lain. Jangan kalian berlomba-lomba untuk menguasai sesuatu. Janganlah kalian saling hasad, saling benci, dan saling membelakangi. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara sebagaimana yang Dia perintahkan. Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lain, maka janganlah ia menzalimi saudaranya, jangan pula tidak memberikan pertolongan kepada saudaranya dan jangan merendahkannya. Takwa itu di sini, takwa itu di sini.” Beliau mengisyaratkan (menunjuk) ke arah dadanya. “Cukuplah seseorang dari kejelekan bila ia merendahkan saudaranya sesama muslim. Setiap muslim terhadap muslim yang lain, haram darahnya, kehormatan dan hartanya. Sesungguhnya Allah tidak melihat ke tubuh-tubuh kalian, tidak pula ke rupa kalian akan tetapi ia melihat ke hati-hati dan amalan kalian.”
(Hadis Riwayat ِAl-Bukhari dan Muslim)

Al-Imam Al-Qurthubi rahimahullahu menyebutkan dari majoriti ulama dengan menukilkan dari Al-Mahdawi, bahwa zhan yang buruk terhadap orang yang zahirnya baik tidak dibolehkan. Sebaliknya, tidak berdosa berzhan yang buruk kepada orang yang zahirnya buruk.

Al-Imam An-Nawawi rahimahullahu berkata menjelaskan ucapan Al-Khaththabi tentang zhan yang dilarang dalam hadis ini, “Zhan yang diharamkan adalah zhan yang terus menetap pada diri seseorang, terus mendiami hatinya, bukan zhan yang sekadar terbetik di hati lalu hilang tanpa bersemayam di dalam hati. Karena zhan yang terakhir ini di luar kemampuan seseorang. Sebagaimana yang telah lewat dalam hadis bahwa Allah s.w.t. memaafkan umat ini dari apa yang terlintas di hatinya selama ia tidak mengucapkannya atau ia bersengaja” 

Sabda Nabi s.a.w yang bermaksdu :
“Sesungguhnya Allah memaafkan bagi umatku apa yang terlintas di jiwa mereka selama mereka tidak membicarakan atau melakukannya.” 
(Hadis Riwayar Bukhari)

Sahabat yang dihormati,
Seorang muslim yang secara zahir baik agamanya serta menjaga kehormatannya, tidaklah patut kita berzhan buruk. Bila sampai pada kita berita yang buruk tentangnya maka tidak sepatutnya kita lakukan kecuali tetap berbaik sangka kepadanya.kerana ditakuti kita telah menzalimi saudara kita bila kita terus mempercayainya kerana orang fasik atau munafik memang suka menyebarkan berita palsu atau membuat fitnah.

Akhirkata marilah sama-sama kita bermuhasabah dan sentiasa memperbaiki diri kita dan sentiasa berhati-hati di dalam kehidupan yang mencabar ini yang sentiasa di dedahkan dengan berita-berita sensasi yang belum pasti kesahaihnya. Jauhilah diri kita menjadi penyebar kepada berita-berita palsu dan fitnah kerana orang-orang yang dizalimi do'anya tidak ada hijab dengan Allah s.w.t.dan dihari akhirat nanti orang yang dizalimi dan di fitnah boleh mengambil amal-amal soleh yang kita lakukan.

2 comments:

Nurul said...

Saya minta copy ya. untuk membuat sebagai panduan.

Nurul said...

Saya minta copy ya. untuk membuat sebagai panduan.