Wednesday, April 8, 2015

Kewajipan Isteri Mentaati Suami

Hadis-hadis Sahih Menjelaskan Ketaatan Isteri Kepada Suaminya :

Hak suami yang menjadi kewajiban istri amatlah besar sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

لَوْ كُنْŰȘُ ŰąÙ…ِ۱ًۧ ŰŁَŰ­َŰŻًۧ ŰŁَنْ يَŰłْŰŹُŰŻَ Ù„ŰŁَŰ­َŰŻٍ Ù„ŰŁَمَ۱ْŰȘُ Ű§Ù„Ù†ِّŰłَۧۥَ ŰŁَنْ يَŰłْŰŹُŰŻْنَ Ù„ŰŁَŰČْوَۧۏِهِنَّ لِمَۧ ŰŹَŰčَلَ Ű§Ù„Ù„َّهُ لَهُمْ Űčَلَيْهِنَّ مِنَ Ű§Ù„ْŰ­َقِّ

“Seandainya aku memerintahkan seseorang untuk sujud pada yang lain, maka tentu aku akan memerintah para wanita untuk sujud pada suaminya karena Allah telah menjadikan begitu besarnya hak suami yang menjadi kewajiban istri” (HR. Abu Daud no. 2140, Tirmidzi no. 1159, Ibnu Majah no. 1852 dan Ahmad 4: 381. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Ketaatan seorang istri pada suami termasuk sebab yang menyebabkannya masuk surga. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Ű„ِ۰َۧ Ű”َلَّŰȘِ Ű§Ù„ْمَ۱ْŰŁَŰ©ُ ŰźَمْŰłَهَۧ وَŰ”َŰ§Ù…َŰȘْ ŰŽَهْ۱َهَۧ وَŰ­َفِŰžَŰȘْ فَ۱ْŰŹَهَۧ وَŰŁَŰ·َۧŰčَŰȘْ ŰČَوْŰŹَهَۧ قِيلَ لَهَۧ ۧۯْŰźُلِى Ű§Ù„ْŰŹَنَّŰ©َ مِنْ ŰŁَىِّ ŰŁَŰšْوَِۧۚ Ű§Ù„ْŰŹَنَّŰ©ِ ŰŽِŰŠْŰȘِ

Jika seorang wanita selalu menjaga shalat lima waktu, juga berpuasa sebulan (di bulan Ramadhan), serta betul-betul menjaga kemaluannya (dari perbuatan zina) dan benar-benar taat pada suaminya, maka dikatakan pada wanita yang memiliki sifat mulia ini, “Masuklah dalam surga melalui pintu mana saja yang engkau suka.” (HR. Ahmad 1: 191 dan Ibnu Hibban 9: 471. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata,

ÙˆÙ„ÙŠŰł Űčلى Ű§Ù„Ù…Ű±ŰŁŰ© ŰšŰčŰŻ Ű­Ù‚ Ű§Ù„Ù„Ù‡ ÙˆŰ±ŰłÙˆÙ„Ù‡ ŰŁÙˆŰŹŰš من Ű­Ù‚ Ű§Ù„ŰČÙˆŰŹ

“Tidak ada hak yang lebih wajib untuk ditunaikan seorang wanita –setelah hak Allah dan Rasul-Nya- daripada hak suami” (Majmu’ Al Fatawa, 32: 260)

Jika kewajiban istri pada suami adalah semulia itu, maka setiap wanita punya keharusan mengetahui hak-hak suami yang harus ia tunaikan.
Berikut adalah rincian mengenai hak suami yang menjadi kewajiban istri:

Pertama: Mentaati perintah suami
Istri yang taat pada suami, senang dipandang dan tidak membangkang yang membuat suami benci, itulah sebaik-baik wanita. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata,

قِيلَ لِ۱َŰłُولِ Ű§Ù„Ù„َّهِ Ű”َلَّى Ű§Ù„Ù„َّهُ Űčَلَيْهِ وَŰłَلَّمَ ŰŁَيُّ Ű§Ù„Ù†ِّŰłَۧۥِ Űźَيْ۱ٌ قَŰ§Ù„َ Ű§Ù„َّŰȘِي ŰȘَŰłُ۱ُّهُ Ű„ِ۰َۧ نَŰžَ۱َ وَŰȘُŰ·ِيŰčُهُ Ű„ِ۰َۧ ŰŁَمَ۱َ وَلَۧ ŰȘُŰźَŰ§Ù„ِفُهُ فِي نَفْŰłِهَۧ وَمَŰ§Ù„ِهَۧ Űšِمَۧ يَكْ۱َهُ

Pernah ditanyakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Siapakah wanita yang paling baik?” Jawab beliau, “Yaitu yang paling menyenangkan jika dilihat suaminya, mentaati suami jika diperintah, dan tidak menyelisihi suami pada diri dan hartanya sehingga membuat suami benci” (HR. An-Nasai no. 3231 dan Ahmad 2: 251. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih)
Begitu pula tempat seorang wanita di surga ataukah di neraka dilihat dari sikapnya terhadap suaminya, apakah ia taat ataukah durhaka.

Al Hushoin bin Mihshan menceritakan bahwa bibinya pernah datang ke tempat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam karena satu keperluan. Seselesainya dari keperluan tersebut, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepadanya,

ŰŁَ۰َۧŰȘُ ŰČَوْŰŹٍ ŰŁَنْŰȘِ؟ قَŰ§Ù„َŰȘْ: نَŰčَمْ. قَŰ§Ù„َ: كَيْفَ ŰŁَنْŰȘِ لَهُ؟ قَŰ§Ù„َŰȘْ: مَۧ ŰąÙ„ُوْهُ Ű„ِÙ„Ű§َّ مَۧ ŰčَŰŹَŰČْŰȘُ Űčَنْهُ. قَŰ§Ù„َ: فَŰ§Ù†ْŰžُ۱ِيْ ŰŁÙŠÙ†َ ŰŁَنْŰȘِ مِنْهُ، فَŰ„Ù†َّمَۧ هُوَ ŰŹَنَّŰȘُكِ وَنَۧ۱ُكِ

“Apakah engkau sudah bersuami?” Bibi Al-Hushain menjawab, “Sudah.” “Bagaimana (sikap) engkau terhadap suamimu?”, tanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lagi. Ia menjawab, “Aku tidak pernah mengurangi haknya kecuali dalam perkara yang aku tidak mampu.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Lihatlah di mana keberadaanmu dalam pergaulanmu dengan suamimu, karena suamimu adalah surga dan nerakamu.” (HR. Ahmad 4: 341 dan selainnya. Hadits ini shahih sebagaimana kata Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wa At Tarhib no. 1933)

Namun ketaatan istri pada suami tidaklah mutlak. Jika istri diperintah suami untuk tidak berjilbab, berdandan menor di hadapan pria lain, meninggalkan shalat lima waktu, atau bersetubuh di saat haidh, maka perintah dalam maksiat semacam ini tidak boleh ditaati. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Ù„Ű§َ Ű·َۧŰčَŰ©َ فِى مَŰčْŰ”ِيَŰ©ٍ ، Ű„ِنَّمَۧ Ű§Ù„Ű·َّۧŰčَŰ©ُ فِى Ű§Ù„ْمَŰčْ۱ُوفِ

“Tidak ada ketaatan dalam perkara maksiat. Ketaatan itu hanyalah dalam perkara yang ma’ruf (kebaikan).” (HR. Bukhari no. 7145 dan Muslim no. 1840)

Dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga memperingatkan,

Ù„Ű§َ Ű·َۧŰčَŰ©َ لِمَŰźْلُوْقٍ فِي مَŰčْŰ”ِيَŰ©ِ Ű§Ù„Ù„Ù‡ِ

“Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Allah.” (HR. Ahmad 1: 131. Sanad hadits ini shahih kata Syaikh Syu’aib Al Arnauth)
Kedua: Berdiam di rumah dan tidaklah keluar kecuali dengan izin suami
Allah Ta’ala berfirman,

وَقَ۱ْنَ فِي ŰšُيُوŰȘِكُنَّ وَلَۧ ŰȘَŰšَ۱َّŰŹْنَ ŰȘَŰšَ۱ُّŰŹَ Ű§Ù„ْŰŹَŰ§Ù‡ِلِيَّŰ©ِ Ű§Ù„ْŰŁُولَى

“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu” (QS. Al Ahzab: 33).

Seorang istri tidak boleh keluar dari rumahnya kecuali dengan izin suaminya. Baik si istri keluar untuk mengunjungi kedua orangtuanya ataupun untuk kebutuhan yang lain, sampaipun untuk keperluan shalat di masjid.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, “Tidak halal bagi seorang istri keluar dari rumah kecuali dengan izin suaminya.” Beliau juga berkata, “Bila si istri keluar rumah suami tanpa izinnya berarti ia telah berbuat nusyuz (pembangkangan), bermaksiat kepada Allah Ta’ala dan Rasul-Nya, serta pantas mendapatkan siksa.” (Majmu’ Al-Fatawa, 32: 281)

Ketiga: Taat pada suami ketika diajak ke ranjang

Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Ű„ِ۰َۧ ŰŻَŰčَۧ Ű§Ù„Ű±َّŰŹُلُ Ű§Ù…ْ۱َŰŁَŰȘَهُ Ű„ِلَى فِ۱َۧێِهِ فَŰŁَŰšَŰȘْ ŰŁَنْ ŰȘَŰŹِÙ‰ŰĄَ لَŰčَنَŰȘْهَۧ Ű§Ù„ْمَÙ„Ű§َŰŠِكَŰ©ُ Ű­َŰȘَّى ŰȘُŰ”ْŰšِŰ­َ

“Jika seorang pria mengajak istrinya ke ranjang, lantas si istri enggan memenuhinya, maka malaikat akan melaknatnya hingga waktu Shubuh” (HR. Bukhari no. 5193 dan Muslim no. 1436).
Dalam riwayat Muslim disebutkan dengan lafazh,

وَŰ§Ù„َّ۰ِي نَفْŰłِي ŰšِيَŰŻِهِ مَۧ مِنْ ۱َŰŹُلٍ يَŰŻْŰčُو Ű§Ù…ْ۱َŰŁَŰȘَهُ Ű„ِلَى فِ۱َۧێِهَۧ فَŰȘَŰŁْŰšَى Űčَلَيْهِ Ű„ِÙ„Ű§َّ كَŰ§Ù†َ Ű§Ù„َّ۰ِي فِي Ű§Ù„Űłَّمَۧۥِ Űłَِۧ۟Ű·ًۧ Űčَلَيْهَۧ Ű­َŰȘَّى يَ۱ْ۶َى Űčَنْهَۧ

“Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidaklah seorang suami memanggil istrinya ke tempat tidurnya lalu si istri menolak ajakan suaminya melainkan yang di langit (penduduk langit) murka pada istri tersebut sampai suaminya ridha kepadanya.” (HR. Muslim no. 1436)

Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Ini adalah dalil haramnya wanita enggan mendatangi ranjang jika tidak ada uzur. Termasuk haid bukanlah uzur karena suami masih bisa menikmati istri di atas kemaluannya” (Syarh Shahih Muslim, 10: 7). Namun jika istri ada halangan, seperti sakit atau kecapekan, maka itu termasuk uzur dan suami harus memaklumi hal ini.

Keempat: Tidak mengizinkan orang lain masuk rumah kecuali dengan izin suami

Pesan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada haji Wada’,

فَۧŰȘَّقُÙˆŰ§ Ű§Ù„Ù„َّهَ فِى Ű§Ù„Ù†ِّŰłَۧۥِ فَŰ„ِنَّكُمْ ŰŁَŰźَ۰ْŰȘُمُوهُنَّ ŰšِŰŁَمَŰ§Ù†ِ Ű§Ù„Ù„َّهِ وَۧ۳ْŰȘَŰ­ْلَلْŰȘُمْ فُ۱ُÙˆŰŹَهُنَّ ŰšِكَلِمَŰ©ِ Ű§Ù„Ù„َّهِ وَلَكُمْ Űčَلَيْهِنَّ ŰŁَنْ Ù„Ű§َ يُÙˆŰ·ِŰŠْنَ فُ۱ُŰŽَكُمْ ŰŁَŰ­َŰŻًۧ ŰȘَكْ۱َهُونَهُ

“Bertakwalah kalian dalam urusan para wanita (istri-istri kalian), karena sesungguhnya kalian mengambil mereka dengan amanah dari Allah dan kalian menghalalkan kemaluan mereka dengan kalimat Allah. Hak kalian atas mereka adalah mereka tidak boleh mengizinkan seorang pun yang tidak kalian sukai untuk menginjak permadani kalian” (HR. Muslim no. 1218)

Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Ù„Ű§َ يَŰ­ِلُّ لِلْمَ۱ْŰŁَŰ©ِ ŰŁَنْ ŰȘَŰ”ُومَ وَŰČَوْŰŹُهَۧ ŰŽَŰ§Ù‡ِŰŻٌ Ű„ِÙ„Ű§َّ ŰšِŰ„ِ۰ْنِهِ، وَÙ„Ű§َ ŰȘَŰŁْ۰َنَ فِى ŰšَيْŰȘِهِ Ű„ِÙ„Ű§َّ ŰšِŰ„ِ۰ْنِهِ ، وَمَۧ ŰŁَنْفَقَŰȘْ مِنْ نَفَقَŰ©ٍ Űčَنْ Űșَيْ۱ِ ŰŁَمْ۱ِهِ فَŰ„ِنَّهُ يُŰ€َŰŻَّى Ű„ِلَيْهِ ŰŽَŰ·ْ۱ُه

“Tidak halal bagi seorang isteri untuk berpuasa (sunnah), sedangkan suaminya ada kecuali dengan izinnya. Dan ia tidak boleh mengizinkan orang lain masuk rumah suami tanpa ijin darinya. Dan jika ia menafkahkan sesuatu tanpa ada perintah dari suami, maka suami mendapat setengah pahalanya”. (HR.  Bukhari no. 5195 dan Muslim no. 1026)
Dalam lafazh Ibnu Hibban disebutkan hadits dari Abu Hurairah,

Ù„Ű§َ ŰȘَŰŁْ۰َنُ Ű§Ù„Ù…َ۱ْŰŁَŰ©ُ فِي ŰšَيْŰȘِ ŰČَوْŰŹِهَۧ وَهُوَ ŰŽَŰ§Ù‡ِŰŻُ Ű„ِÙ„Ű§َّ ŰšِŰ„ِ۰ْنِهِ

“Tidak boleh seorang wanita mengizinkan seorang pun untuk masuk di rumah suaminya sedangkan suaminya ada melainkan dengan izin suaminya.” (HR. Ibnu Hibban 9: 476. Kata Syaikh Syu’aib Al Arnauth bahwa sanad hadits ini shahih sesuai syarat Muslim)

Hadits di atas dipahami jika tidak diketahui ridho suami ketika ada orang lain yang masuk. Adapun jika seandainya suami ridho dan asalnya membolehkan orang lain itu masuk, maka tidaklah masalah. (Lihat Shahih Fiqh Sunnah, 3: 193)
Kelima: Tidak berpuasa sunnah ketika suami ada kecuali dengan izin suami
Para fuqoha telah sepakat bahwa seorang wanita tidak diperkenankan untuk melaksanakan puasa sunnah melainkan dengan izin suaminya (Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah, 28: 99). Dalam hadits yang muttafaqun ‘alaih, dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Ù„Ű§َ يَŰ­ِلُّ لِلْمَ۱ْŰŁَŰ©ِ ŰŁَنْ ŰȘَŰ”ُومَ وَŰČَوْŰŹُهَۧ ŰŽَŰ§Ù‡ِŰŻٌ Ű„ِÙ„Ű§َّ ŰšِŰ„ِ۰ْنِهِ

“Tidaklah halal bagi seorang wanita untuk berpuasa sedangkan suaminya ada (tidak bepergian) kecuali dengan izin suaminya.” (HR. Bukhari no. 5195 dan Muslim no. 1026)
Dalam lafazh lainnya disebutkan,

Ù„Ű§َ ŰȘَŰ”ُومُ Ű§Ù„ْمَ۱ْŰŁَŰ©ُ وَŰšَŰčْلُهَۧ ŰŽَŰ§Ù‡ِŰŻٌ Ű„ِÙ„Ű§َّ ŰšِŰ„ِ۰ْنِهِ Űșَيْ۱َ ۱َمَ۶َŰ§Ù†َ

“Tidak boleh seorang wanita berpuasa selain puasa Ramadhan sedangkan suaminya sedang ada (tidak bepergian) kecuali dengan izin suaminya” (HR. Abu Daud no. 2458. An Nawawi dalam Al Majmu’ 6: 392 mengatakan, “Sanad riwayat ini shahih sesuai dengan syarat Bukhari dan Muslim”)

Ulama Syafi’iyah mengatakan bahwa yang dimaksud dengan izin bisa jadi dengan ridho suami. Ridho suami sudah sama dengan izinnya. (Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah, 28: 99)

Imam Nawawi rahimahullah menerangkan, “Larangan pada hadits di atas dimaksudkan untuk puasa tathowwu’ dan puasa sunnah yang tidak ditentukan waktunya. Menurut ulama Syafi’iyah, larangan yang dimaksudkan dalam hadits di atas adalah larangan haram.” (Syarh Shahih Muslim, 7: 115)

Al Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah mengatakan, “Yang dimaksud larangan puasa tanpa izin suami di sini adalah untuk puasa selain puasa di bulan Ramadhan. Adapun jika puasanya adalah wajib, dilakukan di luar Ramadhan dan waktunya masih lapang untuk menunaikannya, maka tetap harus dengan izin suami. … Hadits ini menunjukkan diharamkannya puasa yang dimaksudkan tanpa izin suami. Demikianlah pendapat mayoritas ulama.” (Fathul Bari, 9: 295)

Dalam Al Mawsu’ah Al Fiqhiyah disebutkan, “Jika seorang wanita menjalankan puasa (selain puasa Ramadhan) tanpa izin suaminya, puasanya tetap sah, namun ia telah melakukan keharaman. Demikian pendapat mayoritas fuqoha. Ulama Hanafiyah menganggapnya makruh tahrim. Ulama Syafi’iyah menyatakan seperti itu haram jika puasanya berulang kali. Akan tetapi jika puasanya tidak berulang kali (artinya, memiliki batasan waktu tertentu) seperti puasa ‘Arofah, puasa ‘Asyura, puasa enam hari di bulan Syawal, maka boleh dilakukan tanpa izin suami, kecuali jika memang suami melarangnya.” (Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah, 28: 99)

Jadi, puasa yang mesti dilakukan dengan izin suami ada dua macam: (1) puasa sunnah yang tidak memiliki batasan waktu tertentu (seperti puasa senin kamis[1]), (2) puasa wajib yang masih ada waktu longgar untuk melakukannya. Contoh dari yang kedua adalah qodho’ puasa yang waktunya masih longgar sampai Ramadhan berikutnya.  [Ini berarti kalau puasanya adalah puasa Syawal, maka boleh tanpa izin suami karena puasa Syawal adalah puasa yang memiliki batasan waktu tertentu hanya di bulan Syawal.]

Jika Suami Tidak di Tempat

Berdasarkan pemahaman dalil yang telah disebutkan, jika suami tidak di tempat, maka istri tidak perlu meminta izin pada suami ketika ingin melakukan puasa sunnah. Keadaan yang dimaksudkan seperti ketika suami sedang bersafar, sedang sakit, sedang berihrom atau suami sendiri sedang puasa (Lihat Fathul Bari, 9: 296 dan Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah, 28: 99) Kondisi sakit membuat suami tidak mungkin melakukan jima’ (hubungan badan). Keadaan ihrom terlarang untuk jima’, begitu pula ketika suami sedang puasa. Inilah yang dimaksud kondisi suami tidak di tempat.

Hikmah Mengapa Harus dengan Izin Suami

Ibnu Hajar Al Asqolani rahimahullah menerangkan, “Dalam hadits yang menerangkan masalah ini terdapat pelajaran bahwa menunaikan hak suami itu lebih utama daripada menjalankan kebaikan yang hukumnya sunnah. Karena menunaikan hak suami adalah suatu kewajiban. Menjalankan yang wajib tentu mesti didahulukan dari menjalankan ibadah yang sifatnya sunnah.” (Fathul Bari, 9/296)

Imam Nawawi rahimahullah menerangkan, “Sebab terlarangnya berpuasa tanpa izin suami di atas adalah karena suami memiliki hak untuk bersenang-senang (dengan bersetubuh, pen) bersama pasangannya setiap harinya. Hak suami ini tidak bisa ditunda karena sebab ia melakukan puasa sunnah atau melakukan puasa wajib yang masih bisa ditunda.” (Syarh Shahih Muslim, 7: 115)

Tuesday, April 7, 2015

Yaman- Penjelasan Apa Yang Sedang Berlaku .

PENJELASAN TENTANG APA YANG TERJADI DI YAMAN

Kejahatan Houtsi 2
Oleh:
Ustadz Agus Hasan Bashori, Lc.,M.Ag
(Penulis Buku-Buku Ahlussunnah dan Pemerhati Syiah)

ŰšŰłÙ… Ű§Ù„Ù„Ù‡ Ű§Ù„Ű±Ű­Ù…Ù† Ű§Ù„Ű±Ű­ÙŠÙ…

Buku Ahlul Bayt & SahabatSegala puji bagi Allah Tuhan semesta alam. Shalawat dan salam semoga tercurah untuk Rasulullahshallallahu ‘alayhi wasallam, yang membawa rahmat ke seluruh alam, beserta para keluarga, sahabat, dan umatnya yang setia hingga akhir zaman.
Amma ba’du:
Sebagai muslim Indonesia yang peduli dengan agama, masyarakat, dan negara, juga sebagai da’i dan penulis yang menggeluti tentang aliran Syiah, maka kami merasa terpanggil untuk memberikan penjelasan tentang apa yang terjadi di Yaman kepada kaum muslimin Indonesia. Hal ini kami lakukan mengingat:
  • Yaman memiliki kedudukan di hati Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alayhi wasallam, hingga beliau berdoa:
Ű§Ù„Ù„َّهُمَّ Űšَۧ۱ِكْ لَنَۧ فِي يَمَنِنَۧ
“Ya Allah berkahilah untuk kami dalam Yaman kami.” (HR. Bukhari dari ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma).
Dan Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam pun memuji penduduk Yaman dengan sabdanya:
ŰŁَŰȘَŰ§Ùƒُمْ ŰŁَهْلُ Ű§Ù„ْيَمَنِ هُمْ ŰŁَلْيَنُ قُلُÙˆŰšًۧ وَŰŁَ۱َقُّ ŰŁَفْŰŠِŰŻَŰ©ً Ű§Ù„ْŰ„ِيمَŰ§Ù†ُ يَمَŰ§Ù†ٍ وَŰ§Ù„ْŰ­ِكْمَŰ©ُ يَمَŰ§Ù†ِيَŰ©ٌ
“Telah datang kepada kalian penduduk Yaman, mereka orang yang jiwanya paling halus dan hatinya paling lembut. Iman itu Yamani dan hikmah itu Yamaniyyah.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah al-Yamani).
Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda demikian sebab orang-orang Yaman datang menjadi Anshar Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam. Oleh karena bening dan lembutnya hati itu mengantarkan pemiliknya kepada al-haqq, yaitu iman dan hikmah, maka hati mereka menjadi sumber iman dan hikmah, dan Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam menisbatkan iman dan hikmah kepada Yaman.
  • Mayoritas penduduk Yaman sama dengan kita di Indonesia, yaitu Ahlussunnah wal-Jama’ah. Meskipun ada Zaidiyyah namun mereka hidup rukun, tenang, saling berdampingan dan menghormati. Kemudian tiba-tiba mereka terseret ke dalam jurang pertikaian kemudian kesengsaraan perang setelah ada dakwah syiah Imamiyyah, Ja’fariyyah, Rafidhah. Kondisi yang sama ini -dengan adanya gerakan Syiah Imamiyyah, Ja’fariyyah, Rafidhah- membuat kami khawatir, apa yang terjadi di Yaman bisa terjadi di Indonesia jika kita tidak mengambil pelajaran dan bangsa kita terlambat menangani.
Di dalam penjelasan ini kami akan menerangkan 3 masalah besar:
  1. Mengapa terjadi perang di Yaman?
  2. Siapa sesungguhnya pemberontak al-Khoutsi itu? dan apa ideologi serta kejahatan mereka,
  3. dan bagaimana kita harus bersikap?
Mengapa Terjadi Perang di Yaman?
Buku Ahlul Bayt & Sahabat
Apa yang terjadi saat ini di Yaman merupakan akibat dan kelanjutan dari aktifitas gerakan dakwah Syiah di Yaman Utara. Awalnya dakwah Syiah pimpinan Badruddin al-Khutsi[1] ini berfaham Zaidiyyah Jarudiyyah, kemudian setelah pergi ke Iran dan menetap di sana (1994) berubah menjadi Syiah Imamiyyah Itsnay Asyariyyah atau Rafidhah. Kemudian berkembang meniru Hizbullah Lebanon, hingga memiliki milisi bersenjata bernama Anshar Allah, yang dibiayai oleh Iran dan dikenal degan “Khoutsiyyin”. Kelompok Syiah ini melakukan pemberontakan, peperangan, dan kejahatan-kejahatan yang banyak.
Kelompok bersenjata Khoutsi akhirnya berhasil menguasai kota Sha’dah pada tanggal 16 Januari 2014. Kemudian berhasil mengkudeta dan menguasai Sanaa, Ibu kota Yaman pada 21 september 2014. Keberhasilan kudeta ini didukung oleh Presiden Iran Hasan Rouhani dengan mengatakan bahwa itu adalah “keberanian dan sesuatu kesuksesan yang besar”.
Pada bulan Februari 2015, Presiden Yaman, Abd. Rabbuh Mansour Hadi melarikan diri ke Aden dari ibukota Sanaa. Sebelumnya dia telah disandera sebagai tahanan rumah oleh pemberontak Hautsi selama beberapa pekan. Pada bulan Maret 2015, Presiden Mansour Hadi mengumumkan pemindahan ibukota dan menjadikan kota Aden sebagai ibukota negaranya. Dia juga menyatakan bahwa ibukota Sanaa telah menjadi “kota yang diduduki” oleh pemberontak Syiah Khoutsi.
Pada tanggal 22 Maret 2015 pemberontak Syiah Khoutsi merebut Kota ketiga yaitu Taiz. Karena kejahatan Khoutsi yang sudah tidak bisa dibendung, akhirnya Presiden Yaman itu mengirim surat ke enam negara teluk. Surat yang sangat menyentuh. Presiden Mansour Hadi menceritakan kondisi Yaman yang sudah berada di ambang kehancuran, sehingga membutuhkan pertolongan dari “para saudaranya”. Presiden menuliskan suratnya dengan sapaan “al-Akh” (saudara) bagi para pemimpin negara Teluk.
Anda bisa simak suratnya di: http://goo.gl/1UlNx4.
Surat itu ditujukan kepada para pemimpin Negara Teluk, Arab Saudi, Uni Emirat, Bahrain, Oman, Kuwait, dan Qatar. Presiden Mansour mengungkapkan, beliau menulis surat itu dengan penuh kesedihan atas nasib yang menimpa negaranya. Beliau mengutip piagam PBB tentang hak pembelaan diri setiap bangsa, dari gangguan yang mengancam keselamatan negara, dan kesepakatan antar-negara Teluk untuk bersama-sama saling melindungi. Atas dasar ini, beliau mempersilakan para pemimpin negara Teluk untuk segara  mengatasi pemberontak Syiah Houthi di Yaman dengan kaffah wasail (semua sarana).
Maka pada hari Rabo malam Kamis, 25 maret 2015, negara-negara Teluk yang dipimpin Saudi Arabia melakukan gempuran terhadap posisi pemberontak Syiah Khoutsi. Lalu terjadilah perang hingga hari ini (6 April 2015).
Begitulah, berawal dari dakwah Syiah Imamiyyah, Itsnay Asyariyyah, Rafidhah hingga berakhir pada pemberontakan dan kesengsaraan bagi Negara Yaman serta negara-negara Ahlussunnah yang ada di sekitarnya.
Ideologi Pemberontak Al-Khoutsi
Buku Khilafah-226x300Pemberontak Houtsi berpaham Syiah Itsna Asyariyah atau Syiah 12 imam, atau Rafidhah. Ideologi pemberontak Houtsi ini sama dengan gerakan Syiah yang ada di Iran, Libanon, Irak, Bahrain, dan mayoritas Syiah yang ada di dunia. Bahkan sama dengan yang ada di Indonesia, hanya saja mereka yang ada di Indonesia sering menyebut dirinya dengan sebutan “Ahlulbait” atau “Jamaah Ahlulbait”.
Di antara ideologi Syiah ini adalah:
  • Ideologi imamah, yaitu keyakinan bahwa kepemimpinan setelah Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam wajib ditangan Ali bin Abi Thalib, berdasarkan nash (wahyu, wasiat atau pengangkatan langsung oleh Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam)
  • Menolak Abu Bakar-Umar dan Usman sebagai imam setelah Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam, sebab dalam keyakinan mereka bahwa ketiga khalifah sebelum Ali itu adalah tidak sah, zhalim, fasiq, dan kafir. Dengan demikian Syiah pun melaknat mereka bertiga.
  • Mencaci maki sahabat Thalah, Zubair, dan Muawiyah serta para sahabat Nabi yang lainradhiyallahu ‘anhum, karena dinilai telah kafir menentang Imam Ali radhiyallahu ‘anhu.
  • Mereka mengajarkan mencela dan melaknat Ahlulbait Nabi (istri-istri Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam) khususnya Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha.
  • Memprovokasi dan membangkitkan semangat pengikutnya untuk memerangi Ahlussunnah. Karena Ahlussunnah meridhai selain Ali sebagai imam dan khalifah, yaitu Abu Bakar, Umar, dan Utsman radhiallahu ‘anhum ajma’in.
  • Meyakini pemerintah yang sah sekarang ini hanyalah pemerintah imam Mahdi yang Ghaib atau pemerintah seorang wali al-faqih yang loyal kepada Imam Mahdi, yang disebut dengan istilah wilayatul faqih. Satu-satunya negara wilayatul faqih adalah Iran. Oleh karena itu mereka menyiapkan diri untuk membangkang dan menghadapi pemerintah di mana mereka berada.
  • Memuji-muji revolusi Khomeini dan Hizbullah Libanon. Mereka menjadikan keduanya sebagai teladan yang wajib dicontoh dalam gerakannya.
  • Bertaqiyyah dengan berkedok sebagai Zaidiyyah[2].
  • Menjadikan “anti Amerika dan Israel sebagai” slogan perjuangannya.
  • Meyakini al-Qur`an ini muharraf (sudah diubah-ubah) dan kurang.
  • Seorang pemimpin kelompok Anshar Allah al-Khoutsi yang bernama Abdul Karim al-Khiwani telah mengancam kota suci Makkah di musim haji yang akan datang.[3]

Kekejaman dan Kejahatan Pemberontak Syiah al-Khoutsi
Di antara kekejaman dan kejahatan kelompok Syiah Yaman ini adalah:
  1. Kejahatan Houtsi 1Menyerang kaum muslimin yang sedang merayakan shalad Idul Adhha.
  2. Membunuh 135.000 orang yang tidak bersalah.
  3. Menghancurkan 140 Masjid dan Madrasah Tahfizh al-Qur`an, serta membakar al-Quran.
  4. Mengusir lebih dari 800.000 penduduk
  5. Melakukan pelanggaran dan merusak lebih dari 2.000 rumah.
  6. Menutup sekolah-sekolah, pesantren dan perguruan tinggi termasuk Darul Hadits Dammaj, Universitas al-Iman, Darul Hikmah, al-Andalus dll.
  7. Mengejar dan Membunuh ratusan para imam dan ulama Ahllussunnah.
  8. Merusak dan menghancurkan gedung-gedung pemerintahan dan militer dan menjarah gudang senjata.[4]
Kesimpulan, Sikap, dan Harapan
  1. Berdasarkan kronologis kejadian dan bukti-bukti kesesatan, kekejaman, dan kejahatan pemberontak Syiah Khoutsi maka kami merasa bersyukur kepada Allah dengan adanya“’Ashifah al-Hazm” yaitu serangan militer yang resmi dan sah menurut agama dan konstitusi, dari negara-negara sunni Teluk pimpinan Saudi Arabia terhadap pemberontak Khoutsi Yaman, untuk menolong rakyat dan pemerintah Yaman yang terzhalimi, dan untuk menghentikan kejahatan pemberontak al-Khoutsi. Kami berdoa kepada Allah, semoga bertambah banyak negara-negara Islam yang mendukung untuk melumpuhkan pemberontak Syiah Khoutsi di Yaman.
  2. Kami berharap kepada bangsa Indonesia dan para pemimpin di negeri sunni terbesar ini agar menjadikan Yaman sebagai pelajaran, bahwa Syiah Rafidhah selalu mengawali revolusinya dengan dakwah, pendidikan, kebudayaan, termasuk sosial dan ekonomi, namun akhirnya pasti membentuk milisi bersenjata setelah terjadi bentrokan-bentrokan dan kekacauan.       Kami tidak ingin kekacauan, pembantaian, dan kehancuran yang terjadi di Yaman akan berulang terjadi di negeri yang kita cintai ini, Republik Indonesia.
Semoga penjelasan ini bermanfaat, dan para pemimpin kita diberi taufiq oleh Allah Swt untuk mengambil langkah-langkah yang tepat, guna menangkal bahaya besar yang akan ditimbulkan oleh berkembangnya ideologi Syiah Imamiyyah di negeri tercinta ini.
Wa Shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammad wal-hamdu lillah Rabbil ‘alamin. [*]
Malang, 6 April 2015
______________________
[1] Mempunyai anak Husain al-Khoutsi, Abdul Malik Al-Khoutsi Pendiri Partai Hizbul Haqq, dan Yahya al-Khoutsi. Husain al-Khoutsi adalah yang menemani ayahnya ke Iran kemudian dia ke Lebanon. Dia mendirikan al-Syabab al-Mukmin (Jama’ah al-Khoutsi) tahun 1991, maka dialah pendiri dan pemimpin gerakan Khoutsi yang pertama, dan terbunuh tahun 2004 karena menentang pemerintah Yaman. Kemudian pemimpin kedua adalah Abdul Malik ibn Badruddin al-Khoutsi, yang memimpin hingga saat ini.
[2] https://www.youtube.com/watch?v=bVi6JL7ZZxY.

Monday, April 6, 2015

Kelebihan Membaca Kalimah Hauqalah

Ketika badan berbaring tak berdaya karena sakit, akan tetapi lisan kita terkadang masih boleh digunakan. Oleh kerana itu sebaiknya lisan kita digunakan untuk berzikir, selain doa-doa kesembuhan dan kebaikan dunia-akhirat ada juga wirid selama sakit yang sering kita baca dan mudah diucapkan yaitu “Hauqalah” atau mengucapakan (Ù„Ű§ Ű­ÙˆÙ„ ÙˆÙ„Ű§ Ù‚ÙˆŰ© Ű„Ù„Ű§ ŰšŰ§Ù„Ù„Ù‡) “laa haula wala quwwata illa billah”. Boleh jadi dengan zikir ini kita diberikan kesembuhan dan kemudahan dunia-akhirat.

Beberapa Keutamaan hauqalah

Sebaiknya kami bawakan beberapa keutamaan hauqalah sebelumnya:

-Merupakan tabungan/simpanan untuk syurga

Rasulullah Shallalahu ’Alaihi  Wasallam bersabda,

يَۧ ŰčَŰšْŰŻَ Ű§Ù„Ù„َّهِ Űšْنَ قَيْŰłٍ ŰŁَÙ„Ű§َ ŰŁَŰŻُلُّكَ Űčَلَى كَنْŰČٍ مِنْ كُنُوŰČِ Ű§Ù„ْŰŹَنَّŰ©ِ ». فَقُلْŰȘُ Űšَلَى يَۧ ۱َŰłُولَ Ű§Ù„Ù„َّهِ. قَŰ§Ù„َ « قُلْ Ù„Ű§َ Ű­َوْلَ وَÙ„Ű§َ قُوَّŰ©َ Ű„ِÙ„Ű§َّ ŰšِŰ§Ù„Ù„َّهِ »

“Wahai Abdullah bin Qais, maukah engkau kuberitahu tentang salah satu tabungan/simpanan dari simpanan-simpanan surgawi? Abdullah bin Qais menjawab: ‘Tentu, wahai Rasulullah’. Ia bersabda: ‘Ucapkanlah laa haula wa laa quwwata illa billah’”[HR. Bukhari no.4205, Muslim no.7037]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata,

ŰŁÙ†َّ Ű§Ù„Ù†ŰšÙŠ Ű”Ù„Ù‰ Ű§Ù„Ù„Ù‡ Űčليه ÙˆŰłÙ„Ù… Ù‚Ű§Ù„:”هي كنŰČ Ù…Ù† كنوŰČ Ű§Ù„ŰŹÙ†Ű©” ÙˆŰ§Ù„ÙƒÙ†ŰČ Ù…Ű§Ù„ Ù…ŰŹŰȘمŰč Ù„Ű§ ÙŠŰ­ŰȘۧۏ Ű„Ù„Ù‰ ŰŹÙ…Űč؛ ÙˆŰ°Ù„Ùƒ ŰŁÙ†َّÙ‡Ű§ ŰȘŰȘŰ¶Ù…Ù† Ű§Ù„ŰȘوكل ÙˆŰ§Ù„Ű§ÙŰȘÙ‚Ű§Ű± Ű„Ù„Ù‰ Ű§Ù„Ù„Ù‡ ŰȘŰčŰ§Ù„Ù‰.

“Nabi Shallalahu ’Alaihi  Wasallam mengatakan “salah satu tabungan/simpanan dari simpanan-simpanan surgawi “, lafadz (Ű§Ù„ÙƒÙ†ŰČ) “al-Kanzu” maknanya adalah harta yang terkumpul dan tidak memerlukan  lafadz jamak (كنوŰČ), hal tersebut kerana hauqalah mengandung makna tawakkal dan iftiqar (memerlukan) Allah Ta’ala.”[Majmu’ Fatawa 13/321, Darul Wafa, cet. III, 1426 H, syamilah] 

-Merupakan salah satu dari pinta syurga

Rasulullah Shallalahu ’Alaihi  Wasallam berkata kepada Abu Musa radhiallahu ‘anhu,

ŰŁÙ„Ű§ ŰŁŰŻÙ„Ùƒ Űčلى ۚۧۚ من ŰŁŰšÙˆŰ§Űš Ű§Ù„ŰŹÙ†Ű© ؟ قلŰȘ ŰšÙ„Ù‰ ، Ù‚Ű§Ù„: Ù„Ű§ Ű­ÙˆÙ„ ÙˆÙ„Ű§ Ù‚ÙˆŰ© Ű„Ù„Ű§ ŰšŰ§Ù„Ù„Ù‡ )) ، Ű±ÙˆŰ§Ù‡ Ű§Ù„ŰȘŰ±Ù…Ű°ÙŠ ÙˆŰŁŰ­Ù…ŰŻ

“Maukah engkau aku tunjukkan salah satu dari pintu syurga? Aku berkata, ‘tentu’. Baginda bersabda, ‘ Laa haula wala quwwata illa billah”[HR. Tirmidzi dan Ahmad, dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Jami’ no.2610]

-Amalan yang dianjurkan untuk sering dibaca

Űčَنْ ŰŁَŰšِيْ ۰َ۱ٍّ قَŰ§Ù„َ: ŰŁَوْŰ”َŰ§Ù†ِيْ Űźَلِيْلِي ŰšِŰłَŰšْŰčٍ : ŰšِŰ­ُŰšِّ Ű§Ù„ْمَŰłَŰ§Ùƒِيْنِ وَŰŁَنْ ŰŁَŰŻْنُوَ مِنْهُمْ، وَŰŁَنْ ŰŁَنْŰžُ۱َ Ű„ِلَى مَنْ هُوَ ŰŁَŰłْفَلُ مِنِّي وَÙ„Ű§َ ŰŁَنْŰžُ۱َ Ű„ِلَى مَنْ هُوَ فَوقِيْ، وَŰŁَنْ ŰŁَŰ”ِلَ ۱َŰ­ِمِيْ وَŰ„ِنْ ŰŹَفَŰ§Ù†ِيْ، وَŰŁَنْ ŰŁُكْŰ«ِ۱َ مِنْ Ù„Ű§َ Ű­َوْلَ وَÙ„Ű§َ قُوَّŰ©َ Ű„ِÙ„Ű§َّ ŰšِŰ§Ù„Ù„Ù‡ِ، وَŰŁَنْ ŰŁَŰȘَكَلَّمَ Űšِمُ۱ِّ Ű§Ù„ْŰ­َقِّ، وَÙ„Ű§َ ŰȘَŰŁْŰźُ۰ْنِيْ فِي Ű§Ù„Ù„Ù‡ِ لَوْمَŰ©ُ Ù„Ű§َŰŠِمٍ، وَŰŁَنْ Ù„Ű§َ ŰŁَŰłْŰŁَلَ Ű§Ù„Ù†َّۧ۳َ ŰŽَيْŰŠًۧ.

Dari Abu Dzar Radhiallahu ‘anhu , ia berkata: “Kekasihku (Rasulullah) Shallallahu ‘Alaihi Wasallam berwasiat kepadaku dengan tujuh hal: (1) supaya aku mencintai orang-orang miskin dan dekat dengan mereka, (2) baginda memerintahkan aku agar aku melihat kepada orang yang berada di bawahku dan tidak melihat kepada orang yang berada di atasku, (3) beliau memerintahkan agar aku menyambung silaturahmiku meskipun mereka berlaku kasar kepadaku, (4) aku dianjurkan agar memperbanyak ucapan lĂą haulĂą walĂą quwwata illĂą billĂąh (tidak ada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah), (5) aku diperintah untuk mengatakan kebenaran meskipun pahit, (6) baginda berwasiat agar aku tidak takut celaan orang yang mencela dalam berdakwah kepada Allah, dan (7) baginda melarang aku agar tidak meminta-minta sesuatu pun kepada manusia”.[HR. Ahmad 5/159, dishahihkan oleh Al-Albani dalam Silsilah Shahihah no, 2166]

Hauqalah hendaknya sering-sering dibaca oleh orang sakit

Syaikh Abdullah bin AL-Jibrin rahimahullah ditanya,

Űł: ÙŠÙˆŰ”ÙŠ ŰšŰč۶ Ű§Ù„ŰČŰ§ŰŠŰ±ÙŠÙ† Ű§Ù„Ù…Ű±ÙŠŰ¶ ŰšŰ§Ù„Ű„ÙƒŰ«Ű§Ű± من Ű§Ù„Ű­ÙˆÙ‚Ù„Ű© ( Ù„Ű§ Ű­ÙˆÙ„ ÙˆÙ„Ű§ Ù‚ÙˆŰ© Ű„Ù„Ű§ ŰšŰ§Ù„Ù„Ù‡ ) فهل Ù„Ù†Ű§ ŰŁÙ† نŰčŰ±Ù من ÙŰ¶ÙŠÙ„ŰȘكم ŰŁÙ‡Ù…ÙŠŰ© Ù‡Ű°Ù‡ Ű§Ù„ÙƒÙ„Ù…Ű© وهل ÙˆŰ±ŰŻ ÙÙŠÙ‡Ű§ ŰŽÙŠŰĄ من Ű§Ù„ŰłÙ†Ű©؟

“Sebagian penjenguk orang yang sakit memberikan nasihat agar si sakit banyak-banyak membaca hauqalah (laa haula wala quwwata illa billah), apakah urgensi dari kalimat ini dan apakah terdapat dalam sunnah?”

Beliau menjawab,

نŰčم …ومŰčنى Ù‡Ű°Ù‡ Ű§Ù„ŰŹÙ…Ù„Ű© ۧŰčŰȘŰ±Ű§Ù Ű§Ù„Ű„Ù†ŰłŰ§Ù† ŰšŰčŰŹŰČه ÙˆŰ¶Űčفه Ű„Ù„Ű§ ŰŁÙ† يقويه Ű±ŰšÙ‡، ÙÙƒŰŁÙ†Ù‡ يقول: ÙŠŰ§ ۱ۚ Ù„ÙŠŰł لي Ű­ÙˆÙ„ ÙˆÙ„Ű§ ŰȘŰ­ÙˆÙ„ من Ű­Ű§Ù„ Ű„Ù„Ù‰ Ű­Ű§Ù„ ÙˆÙ„Ű§ Ù‚ŰŻŰ±Ű© لي Űčلى مŰČŰ§ÙˆÙ„Ű© Ű§Ù„ŰŁŰčÙ…Ű§Ù„ Ű„Ù„Ű§ ŰšÙƒ، ÙŰŁÙ†Ű§ Ù…Ű­ŰȘۧۏ Ű„Ù„Ù‰ ŰȘقويŰȘك ÙˆŰ„Ù…ŰŻŰ§ŰŻÙƒ، ÙÙÙŠÙ‡Ű§ Ű§Ù„ŰšŰ±Ű§ŰĄŰ© من Ű§Ù„Ű­ÙˆÙ„ ÙˆŰ§Ù„Ù‚ÙˆŰ©، ÙˆŰ„Ù† Ű§Ù„Ű±Űš ŰȘŰčŰ§Ù„Ù‰ هو Ű§Ù„Ű°ÙŠ يملك Ű°Ù„Ùƒ، ÙˆÙŠÙ…ŰŻ ŰčŰšŰ§ŰŻÙ‡ ŰšÙ…Ű§ يŰčينهم Űčلى ŰŁÙ…Ű± ŰŻÙ†ÙŠŰ§Ù‡Ù… ÙˆŰŻÙŠÙ†Ù‡Ù…، ÙˆŰ§Ù„Ù„Ù‡ ŰŁŰčلم ÙˆŰ”Ù„Ù‰ Ű§Ù„Ù„Ù‡ Űčلى Ù…Ű­Ù…ŰŻ ÙˆŰąÙ„Ù‡ ÙˆŰ”Ű­ŰšÙ‡ ÙˆŰłÙ„Ù….

“Ya…Makna kalimat ini (hauqalah) adalah pengakuan manusia akan tidak berdaya serta lemahnya dirinya dan berharap agar Rabb-nya memberikan kekuatan padanya, seakan-akan ia  (si sakit) berkata, ‘wahai Rabb-ku, hamba tidak memiliki daya dan tidak boleh mengubah keadaan, tidak pula memiliki upaya dalam melakukan amal kecuali dengan bantuan-Mu, Hamba memerlukan taufik dan bantuan-Mu. Dalam kalimat ini terdapat pengakuan ketidakmampuan dalam daya dan upaya kerana hanya Allah Ta’ala yang memilikinya. Ia membantu dan menolong hamba-Nnya dalam urusan agama dan dunia.”[Fatawa Asy-Syar’iyyah fii Masa’ilit Thibbiyah pertanyaan no. 4]

Penyakit yang diderita termasuk bahaya dan bahaya tersebut boleh dihilangkan dan diangkat, Makhul rahimahullah berkata,

)) Ù‚Ű§Ù„ Ù…ÙƒŰ­ÙˆÙ„ : فمن Ù‚Ű§Ù„ : (( Ù„Ű§ Ű­ÙˆÙ„ ÙˆÙ„Ű§ Ù‚ÙˆŰ© Ű„Ù„Ű§ ŰšŰ§Ù„Ù„Ù‡ ÙˆÙ„Ű§ Ù…Ù†ŰŹŰ§ من Ű§Ù„Ù„Ù‡ Ű„Ù„Ű§ Ű„Ù„ÙŠÙ‡ ، ÙƒŰŽÙ Ű§Ù„Ù„Ù‡ Űčنه ۳ۚŰčين ۚۧۚۧ من Ű§Ù„Ű¶Ű± ŰŁŰŻÙ†Ű§Ù‡Ű§ Ű§Ù„ÙÙ‚Ű± ))

“Barangsiapa yang mengucapkan ‘laa haula wala quwwata illa billah wala manjaa minallah illa ilaih’ maka Allah akan mengangkat darinya 70 pintu bahaya dan mencegah kefakiran darinya.[Diriwayatkan oleh Tirmidzi dan disahihkan oleh al-Hakim]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata,

وقول ” Ù„Ű§ Ű­ÙˆÙ„ ÙˆÙ„Ű§ Ù‚ÙˆŰ© Ű„Ù„Ű§ ŰšŰ§Ù„Ù„Ù‡ ” ÙŠÙˆŰŹŰš Ű§Ù„Ű„ŰčŰ§Ù†Ű© ؛ ÙˆÙ„Ù‡Ű°Ű§ ŰłÙ†Ù‡Ű§ Ű§Ù„Ù†ŰšÙŠ Ű”Ù„Ù‰ Ű§Ù„Ù„Ù‡ Űčليه ÙˆŰłÙ„Ù… ۄ۰ۧ Ù‚Ű§Ù„ Ű§Ù„Ù…Ű€Ű°Ù† : ” Ű­ÙŠ Űčلى Ű§Ù„Ű”Ù„Ű§Ű© . فيقول : Ű§Ù„Ù…ŰŹÙŠŰš : Ù„Ű§ Ű­ÙˆÙ„ ÙˆÙ„Ű§ Ù‚ÙˆŰ© Ű„Ù„Ű§ ŰšŰ§Ù„Ù„Ù‡ ÙŰ„Ű°Ű§ Ù‚Ű§Ù„ : Ű­ÙŠ Űčلى Ű§Ù„ÙÙ„Ű§Ű­ Ù‚Ű§Ù„ Ű§Ù„Ù…ŰŹÙŠŰš : Ù„Ű§ Ű­ÙˆÙ„ ÙˆÙ„Ű§ Ù‚ÙˆŰ© Ű„Ù„Ű§ ŰšŰ§Ù„Ù„Ù‡ “

“Ucapan laa haula wala quwwata illa billah, memberikan konsekuensi “i’anah” (bantuan), oleh kerana itu Rasulullah Shallalahu ’Alaihi  Wasallam  memberikan contoh jika muadzzin mengucapkan “hayya ‘alas solah”, maka dijawab, ‘laa haula wala quwwata illa billah’, jika muadzzin mengucapkan, ‘hayya ‘alal falah’, dijawab’ laa haula wala quwwata illa billah’ (minta bantuan kepada Allah Agar boleh melaksanakannya, pent)”[Majmu’ Fatawa 13/321, Darul Wafa, cet. III, 1426 H, syamilah]

Syaikh Abdurrazaq Al-Badr hafidzhullah berkata,

ŰŁÙ†َّÙ‡Ű§ ÙƒÙ„Ù…Ű© ۧ۳ŰȘŰčŰ§Ù†Ű© ŰšŰ§Ù„Ù„Ù‡ Ű§Ù„ŰčŰžÙŠÙ…، ÙŰ­Ű±ÙŠٌّ ŰšÙ‚Ű§ŰŠÙ„Ù‡Ű§ ÙˆŰ§Ù„Ù…Ű­Ű§ÙŰž ŰčÙ„ÙŠÙ‡Ű§ ŰŁÙ† ÙŠŰžÙŰ± ŰšŰčون Ű§Ù„Ù„Ù‡ له وŰȘوفيقه وŰȘŰłŰŻÙŠŰŻÙ‡

“Kalimat ini adalah permohonan bantuan kepada Allah yang Maha Agung, layak bagi pengucapnya dan menjaganya (wiridnya) agar ia berhasil dengan bantuan, taufik dan  petunjuk dari Allah.”[Dalalaatul Hauqalah Al-Aqdiyah,]

Demikianlan jika kita menjenguk orang sakit atau sedang ditimpa penyakit maka hendaknya memperbanyak membaca hauqalah.

 Wassalam.

Kemuskilan Agama : Dosa Dengan Allah SWT dan Dosa Sesama Manusia.

Soalan Ke Lapan Puluh Dua : Saya ada dua soalan minta ustaz tolong berikan jawapannya :

1) Adakah kita akan tetap diseksa atas dosa-dosa yang lalu walaupun kita telah bertaubat kepada Allah.?

2) Sekiranya kita pernah terambil barang orang lain disebabkan iman yang goyah kemudian berniat dan tersedar atas kesilapan dan ingin memulangkanya tetapi tidak tahu barang yang kita telah ambil kepunyaan siapa..Bagaimana cara untuk menyelesaikannya agar terlepas dari dosa lampau.?

Jawapan :

1. Dosa ada dua jenis iaitu dosa iaitu :

i. Dosa dengan Allah SWT : 

Dosa dengan Allah SWT apabila kita bertaubat akan diampunkan oleh Allah SWT.

Dari Anas bin Malik ra., ia berkata : Saya mendengar Rasulullah SAW. bersabda : Allah berfirman maksudnya : “Wahai anak Adam ( manusia ), sesungguhnya selama kamu berdoa dan mengaharap kepadaKu, Aku memberi keampunan kepadamu terhadap apa (dosa ) yang ada padamu dan Aku tidak memperdulikannya. Wahai anak Adam seandainya dosamu sampai ke langit kemudian kamu minta ampun kepadaKu maka Aku memberi ampun kepadamu dan Aku tidak memperdulikannya. Wahai anak Adaml, sesungguhnya apabila kamu datang kepadaKu dengan kesalahan sepenuh bumi kemudian kamu menjumpai Aku dengan tidak mensekutukan Aku dengan sesuatu niscaya Aku datang kepadamu dengan ampunan sepenuh bumi”. (Hadis Riwayat Tirmidzi).

Sabda Rasulullah SAW: “Orang yang bertaubat daripada dosa sepertilah orang yang tidak berdosa.” (Hadis Riwayat At Tabrani)

ii. Dosa sesama manusia.

Dosa dengan manusia kena selesaikan di dunia seperti maki hamun, mengumpat, memfitnah, memukul manusia, merampas hak orang, mencuri, hutang yang tak dibayar, tipu harta orang lain, ambil rasuah, mengsihir orang lain, membunuh orang dan lain-lain lagi.

Jika tidak selesai akan dibawa dimahkamah Allah di akhirat.nanti.

Rasulullah SAW bersabda maksudnya  : “Seorang mukmin akan dibebaskan dari api neraka, lalu mereka diberhentikan di atas jambatan (qanthrah) antara syurga dan neraka, mereka akan saling diqisas antata satu sama lainnya atas kezaliman mereka di dunia. Setelah mereka bersih dan terbebas dari segalanya, barulah mereka diizinkan masuk syurga. Demi Zat yang jiwa Muhammad di tangan-Nya, seorang diantara kalian lebih mengenal tempat tinggalnya di syurga daripada tempat tinggalnya di dunia”.(Hadis Riwayat Bukhari).

Jambatan (qanthrah) disini, bukan sirat yang letaknya di atas Neraka Jahannam. Jambatan ini dibentangkan setelah orang mukmin berjaya  melewati sirat  yang berada di atas Neraka Jahannam.

2. Jika terambil atau mencuri barang orang lain jika jumpa tuan punya yang lama kena pulangkan semula,tetapi jika tidak jumpa nilaikan harta tersebut dan gantikan dengan wang dan sedekahkan untuk amal jariah dan niatkan untuk orang yg kita ambil harta tadi. 

Rasulullah SAW. bersabda, “Barang siapa telah melakukan kezaliman kepada saudaranya, baik menyangkut harga diri/kehormatan atau harta, maka pada hari ini hendaklah ia meminta dibebaskan (dihalalkan) sebelum datang hari di mana tidak berguna lagi dinar dan dirham. Apabila (orang yang berbuat zalim itu) mempunyai amal kebaikan/kesolehan, maka kesolehannya akan diambil untuk saudaranya sebesar kezalimannya kepadanya. Dan apabila ia tidak mempunyai amal kebaikan, maka dosa amal buruk saudaranya itu akan ditimpakan kepada.” (Hadis Riwayat Bukhari).

Tafsir Surah Al-Kautsar Ayat 1-3

Firman Allah SWT :

Ű„ِنَّۧ ŰŁَŰčْŰ·َيْنَŰ§Ùƒَ Ű§Ù„ْكَوْŰ«َ۱َ (1)

Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak.(Surah Al-Kautsar (108) ayat 1)

Huraiannya : 

Orang-orang musyrik di Mekah dan Orang-orang munafik di Madinah mencemoohkan dan mencaci-maki Nabi sebagai berikut: 

a. Pengikut-pengikut Muhammad terdiri dari orang-orang biasa yang tidak mempunyai kedudukan, kalau agama yang dibawanya itu benar tentu yang menjadi pengikutnya pengikut-pengikutnya orang-orang mulia yang berkedudukan di antara mereka. Ucapan ini bukanlah suatu keanehan, karena kaum Nuh juga dahulu kala telah menyatakan yang demikian kepada nabi Nuh a.s.. sebagaimana firman Allah: 

ÙÙ‚Ű§Ù„ Ű§Ù„Ù…Ù„ŰŁ Ű§Ù„Ű°ÙŠÙ† ÙƒÙŰ±ÙˆŰ§ من قومه Ù…Ű§ Ù†Ű±Ű§Ùƒ Ű„Ù„Ű§ ۚێ۱ۧ Ù…Ű«Ù„Ù†Ű§ ÙˆÙ…Ű§ Ù†Ű±Ű§Ùƒ ۧŰȘŰšŰčك Ű„Ù„Ű§ Ű§Ù„Ű°ÙŠÙ† هم ŰŁŰ±Ű§Ű°Ù„Ù†Ű§ ŰšŰ§ŰŻÙŠ Ű§Ù„Ű±ŰŁÙŠ ÙˆÙ…Ű§ Ù†Ű±Ù‰ لكم ŰčÙ„ÙŠÙ†Ű§ من ÙŰ¶Ù„ ŰšÙ„ Ù†ŰžÙ†ÙƒÙ… ÙƒŰ§Ű°ŰšÙŠÙ†

Makasudnya, "Maka berkatalah pemimpin-pemimpin yang kafir dari kaumnnya: "Kami tidak melihat kamu, melainkan (sebagai) seorang manusia (biasa) seperti kami, dan kami tidak melihat orang-orang yang mengikuti kamu melainkan orang-orang yang hina dina di antara kami yang lekas percaya saja, dan kami tidak melihat kamu memiliki sesuatu kelebihan apapun atas kami, bahkan 'kami yakin bahwa kamu adalah orang-orang yang dusta". (Surah Hud ayat  27.

Sunatullah yang berlaku di antara hamba-hamba-Nya, bahawa mereka yang cepat menerima panggilan para rasul adalah orang-orang biasa, orang lemah karena mereka tidak takut kehilangan, karena mereka tidak mempunyai pangkat atau kedudukan yang ditakuti hilang. Dari itu pertentangan terus-menerus terjadi antara mereka dengan para rasul, tetapi Allah senantiasa membantu para rasul Nya dan menunjang dakwah mereka. 

Begitulah sikap penduduk Mekah terhadap dakwah Nabi SAW. pembesar-pembesar dan orang-orang yang berkedudukan tidak mau mengikuti Nabi karena benci kepada beliau dan terhadap orang-orang biasa yang menjadi pengikut beliau. 

b. Orang-orang Mekah bila melihat anak-anak Nabi meninggal dunia, mereka berkata, "Sebutan Muhammad akan lenyap dan dia akan mati punah". Mereka mengira bahwa kematian itu suatu kekurangan lalu mereka mengejek Nabi dan berusaha menjauhkan manusia dari Nabi SAW. 

C. Orang-orang Mekah bila melihat suatu musibah atau kesulitan yang menimpa pengikut-pengikut Nabi, mereka bergembira dan bersenang hati serta menunggu kehancuran mereka dan lenyapnya sebutan mereka, lalu kembalilah kepada mereka kedudukan mereka yang semula, yang telah diguncangkan oleh agama baru itu. 

Maka pada surah itu Allah menyampaikan kepada Rasul-Nya, bahwa tuduhan-tuduhan yang dilontarkan oleh orang-orang musyrik itu adalah suatu prasangka yang tidak ada artinya sama sekali. Namun semua itu adalah untuk membersihkan jiwa-jiwa yang masih dapat dipengaruhi oleh isu-isu tersebut dan untuk mematahkan tipu daya orang-orang musyrik, agar mereka mengetahui bahawa perjuangan Nabi SAW., pasti akan menang dan pengikut-pengikut beliau pasti akan bertambah ramai. 

Dalam ayat ini Allah menerangkan bahwa Dia telah memberi Nabi-Nya nikmat dan anugerah yang tidak dapat dihitung banyaknya dan tidak dapat dinilai tinggi mutunya, walaupun (orang musyrik) memandang hina dan tidak menghargai pemberian itu disebabkan kekurangan akal dan pengertian mereka. Pemberian itu berupa kenabian, agama yang benar, petunjuk-petunjuk dan jalan yang lurus yang membawa kepada kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat.

فَŰ”َلِّ لِ۱َŰšِّكَ وَŰ§Ù†ْŰ­َ۱ْ (2)

Maksudnya, "Maka dirikanlah solat kerana Tuhanmu; dan berkorbanlah.(Surah Al-Kautsar (108) ayat 2)

Huraiannya :

Dalam ayat ini Allah memerintahkan Nabi-Nya agar mengerjakan solat dan menyembelih haiwan korban kerana Allah semata-mata, kerana Dia sajalah yang mendidiknya dan melimpahkan karunia-Nya. 
Dalam ayat lain yang sama maksudnya Allah berfirman: 

قل Ű„Ù† Ű”Ù„Ű§ŰȘي ÙˆÙ†ŰłÙƒÙŠ ÙˆÙ…Ű­ÙŠŰ§ÙŠ ÙˆÙ…Ù…Ű§ŰȘي لله ۱ۚ Ű§Ù„ŰčŰ§Ù„Ù…ÙŠÙ† Ù„Ű§ ŰŽŰ±ÙŠÙƒ له ÙˆŰšŰ°Ù„Ùƒ ŰŁÙ…Ű±ŰȘ ÙˆŰŁÙ†Ű§ ŰŁÙˆÙ„ Ű§Ù„Ù…ŰłÙ„Ù…ÙŠÙ†

Maksudnya, "Katakanlah: "Sesungguhnya salatku, ibadatku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah. Tuhan semesta alam, tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)". 
(Surah Al An'am) ayat  162-163.)

Ű„ِنَّ ŰŽَŰ§Ù†ِŰŠَكَ هُوَ Ű§Ù„ْŰŁَŰšْŰȘَ۱ُ (3)

Maksudnya, "Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus.(Surah Al-Kautsar.(108) ayat 3)

Huraiannya :

Sesudah Allah menghibur dan menggembirakan Rasul-Nya serta memerintahkan supaya mensyukuri anugerah-anugerah-Nya dan sebagai kesempurnaan nikmat-Nya, maka Allah menjadikan musuh-musuh Nabi itu hina dan tidak percaya. Siapa saja yang membenci dan mencaci Nabi akan hilang pengaruhnya dan tidak ada kebahagiaan baginya di dunia dan di akhirat. 

Adapun Nabi dan pengikut-pengikutnya sebutan dan basil perjuangannya akan tetap akan berjaya sampai hari kiamat. 

Orang-orang yang mencaci Nabi, SAW bukanlah mereka tidak senang kepada pribadi Nabi, tetapi yang mereka benci dan tidak senang adalah petunjuk dan hikmah yang dibawa baginda, kerana baginda mencela kebodohan mereka dan mencaci berhala-berhala yang mereka sembah serta mengajak mereka untuk meninggalkan penyembahan berhala-berhala itu. 

Sungguh Allah telah menepati janji-Nya dengan menghinakan dan menjatuhkan martabat orang-orang yang mencaci Nabi,SAW sehingga nama mereka hanya diingat ketika membicarakan orang-orang jahat dan kejahatannya. Adapun kedudukan Nabi SAW. dan orang-orang yang menerima petunjuk baginda serta nama harum mereka diangkat setinggi-tingginya oleh Allah SWT sepanjang masa.

Amalan-amalan Untuk Mendapat Husnul Khatimah .

Sebaik-baik umur adalah umur yang panjang dan penuh dengan amal soleh. Dan seburuk-buruk umur menurut Allah SWT adalah yang panjang umurnya tetapi diisi dengan dosa dan maksiat kepada Allah.

Para ulama telah merumuskan bahawa terdapat sembilan perkara perlu dilakukan oleh seorang mukmin itu supaya di akhir hayatnya mereka dikurniakan husnul khatimah. Perkara-perkara tersebut adalah seperti berikut :

Pertama : Keadaan di akhir hayat seseorang bergantung kepada amalan sehari-hari. Oleh kerana itu, isilah hari-hari kita dengan selalu meningkatkan iman dan amal soleh.

Kedua : Selain berusaha untuk selalu meningkatkan ibadah fardu dan sunat, maka perlu memperbanyak amalan ihsan, iaitu amalan yang memberi kebaikan kepada orang ramai, baik berupa ajakan untuk kembali kepada Allah (dakwah ilallaah), menyebarkan ilmu, menyebarkan kasih sayang, menyebarkan amal soleh, dan selalu berpesan-pesan kepada yang hak dan berpesan -pesan pada kesabaran .

Ketiga : Tidak meminta mati kecuali kerana telah terjadi fitnah yang mengancam keselamatan diri dan agamanya.

Rasulullah SAW bersabda yang maksudnya: “ Jangan sesekali seseorang daripada kamu bercita-cita hendak mati kerana sesuatu bencana yang menimpanya; kalau keadaan mendesaknya meminta mati, maka hendaklah ia memohon dengan berkata : Ya Tuhanku, hidupkanlah daku selagi hidup itu lebih baik bagiku, dan matikanlah daku apabila mati itu lebih baik bagiku.” (Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim)

Keempat : Jangan sekali-kali berfikir untuk mengakhiri hidup dengan jalan pintas kerana adanya tekanan hidup yang berat. Orang yang mengakhiri hidupnya dengan jalan pintas (bunuh diri) tidak akan diterima amalnya dan dipastikan dia akan masuk neraka.

Firman Allah SWT yang bermaksud,"...Janganlah kamu berputus asa dari rahmat serta pertolongan Allah. Sesungguhnya tidak berputus asa dari rahmat dan pertolongan Allah itu melainkan kaum yang kafir". (Surah Yusuf ayat 87)

Kelima : Ajal adalah sebuah misteri, merupakan rahsia Allah. Ia datang secepat kilat, tetapi tidak datang-datang walaupun telah dinanti-nantikan setiap saat. Namun jika ajal telah datang, tidak boleh ditunda atau dimajukan walaupun sedetik.Buatlah persiapan sebaik mungkin sebelum meninggalkan dunia ini. Persiapan sebelum kematian adalah sentiasa beristighfar, sentiasa minta maaf sesama manusia, selesaikan semua hutang-hutang, jaga solat fardu berjemaah dimasjid, sedekah jariah, sebarkan ilmu yang bermanfaat dan melahirkan anak-anak yang soleh.

Keenam : Mengamalkan doa untuk dijadikan orang yang husnul-khatimah pada setiap akhir solat fardu.

Di antara doa-doa yang perlu diamalkan adalah :

هَŰšْ لِي Ű­ُكْمًۧ وَŰŁَلْŰ­ِقْنِي ŰšِŰ§Ù„Ű”َّŰ§Ù„ِŰ­ِينَ

Hablii hukmaw wa al hiqniy bish shoolihiin

Maksudnya, “Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku hikmah dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang soleh."
(Surah asy-Sy’araa, ayat 83)

Ű§Ù„Ù„Ù‡Ù… ۧۏŰčل ŰźÙŠŰ± ŰčÙ…Ű±ÙŠ ŰŁŰźŰ±Ù‡ و ŰźÙŠŰ± Űčملي ŰźÙˆŰ§ŰȘيمه و ŰźÙŠŰ± ŰŁÙŠŰ§Ù…ÙŠ يوم Ù„Ù‚Ű§ŰŠÙƒ

Allaahummaj’al khayra ‘umrii aakhirahu wa khayra ‘amalii khawaatiimahu wa khayra ayyaamii yawma lliqaa’ika Maksudnya, “Ya Allah jadikanlah sebaik-baik umurku pada ujungnya dan sebaik-baik amalku pada akhir hayatku, dan (jadikanlah) sebaik-baik hariku yaitu hari ketika aku bertemu dengan-Mu (di hari kiamat).” (Hadis riwayat Ibnus Sunny)

Ű§Ù„Ù„Ù‡Ù… ۧ۟ŰȘم Ù„Ù†Ű§ ŰšŰ­ŰłÙ€Ù† Ű§Ù„ŰźŰ§ŰȘÙ…Ű© ÙˆÙ„Ű§ ŰȘŰźŰȘم ŰčÙ„ÙŠÙ†Ű§ ŰšŰłÙ€ÙˆŰĄ Ű§Ù„ŰźŰ§ŰȘÙ…Ű©

Maksudnya, “Ya Allah, akhirilah hidup kami dengan husnul-khatimah (akhir yang baik), dan jangan Kau akhiri hidup kami dengan suu-ul-khatimah (akhir yang buruk).”

Ketujuh : Selalu menumbuhkan perasaan khauf dan rajaa (takut dan harap), iaitu takut akan tidak diampuninya dosa-dosanya dan berharap bahawa Allah SWT itu Maha Rahman dan Rahim yang akan selalu memberikan rahmat kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya.

Kelapan : Ketika sudah ada tanda-tanda akan dipanggil oleh Allah SWT perbanyaklah membaca kalimat toyyibah, Nabi SAW ada menyatakan siapa yang ucapan terakhirnya adalah Laa Ilaaha illallah orang itu dijamin masuk syurga.

Kesembilan : Sentiasa memperbanyakkan sedekah.

Sabda Rasulullah SAW yang bermaksud :“Sungguh sedekah itu akan memadamkan kemarahan Tuhan dan menghindarkan dari kematian yang buruk (Su’ul Khatimah).” (Hadis Riwayat al-Turmuzi)